
Gin Wijaya pergi ke kamar mandi yang letaknya di sebelah taman bermain, mencuci noda keringat dengan tangan, dan kemudian air.
“Mengapa Mrs. Shinta pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Apa ada sesuatu yang mendesak?”
Sebelum matahari terbenam, kelas* sudah berakhir. Akhirnya berakhir juga tugas untuk menjaga Sarah untuk hari ini, karena kelas sudah berakhir, pulang. Di waktu berikutnya Gin Wijaya juga berharap tidak akan ada masalah, seperti hari ini. Sedangkan untuk konfliknya dengan Dikky, itu tidak dianggap masalah.
Berjalan pulang sendirian\, sedangkan untuk kelas *** Meimei belum berakhir\,dari pesan yang dikirim melalui smartphone\, bahwa masih ada ekstrakulikuler.
Melihat minimarket di pinggir jalan di dekat gang******\, pergi masuk\, melihat gadis****** di kasir. Abaikan terus berjalan ke rak daging. Saat melihat harga\, $ 5 per pon\, sejalan dengan nafsu makan\, membeli dua puluh potongan besar. Lalu masih perlu sayur mayur organik yang tidak disebutkan merknya\, dan aneka bumbu. Kalau di ingat dengan benar\, masih ada beberapa bumbu dasar yang sebelumnya di beli oleh Meimei yang cantik\, dan jelita. Jadi jangan terlalu membeli banyak. Pergi ke kasir!
“Bungkus semua.”
“Emm.. apakah anda ingin menggunakan uang tunai atau...”
“Gesek” Gin Wijaya dengan tegas menyela\, mengulurkan kartu dengan logo*****.
Gadis ****** di kasir menatap\, segera menerima\, dan menjalankan sesuai dengan prosedur. Setelah selesai mengemas\, dan mengesek kartu dengan logo*****\, segera bergegas pulang dengan kantong plastik kiri-kanan.
Pintu sudah di perbaiki kemarin sore, oleh tukang reparasi.
Gin Wijaya memasuki pintu dengan membawa tas besar\, dan kecil\, dan mulai melakukan rutinitas memasak sesuatu\, untuk dirinya sendiri\, setelah sekian lama\, dia sangat lapar\, oke. Tidak mau salah pada perutnya\, dan dengan sabar memasak pasta daging sapi****\, selama setengah jam lebih\, aromanya meluap\, Waauww. Hmmm. ketika Meimei sampai di rumah\, pesan takeaway saja\, karena semua ini milikku.
“Dagingnya tidak diisi air, seharusnya enak.”
Faktanya\, membeli daging sapi tanpa injeksi air yang sama dengan peluang memenangkan *****. Setelah makan besar\, mangkuk tidak bersih\, dan mereka semua jatuh ke wastafel\, menggigit gigi\, duduk di sofa di ruang tamu sambil menonton TV*****. Hal-hal mencuci mangkuk\, serahkan pada Meimei\, jika tidak keberatan. Sebenarnya dia seperti istri yang baik berbudi luhur\, jika dipikir dengan seksama. Lupakan!
Stasiun TV****\, aku tidak menonton sesuatu yang bagus sekarang ini.
****-TV adalah orang yang melaporkan nomor lotere yang salah\, dan harus kehilangan sejumlah besar uang. Seorang pria tua tampan paruh baya berjambul berbicara tentang serangan ******* baru-baru ini di *****. Dari waktu ke waktu\, tayangan langsung muncul.
Hanya ada satu stasiun TV****\, dan beberapa gadis-gadis muda sibuk memutar pinggul yang*****\, dan menari ******.
Tak lama kemudian Meimei pulang dengan keadaan lesu, memesan takeaway, dan malam ini tidak ada yang menarik, mengerjakan beberapa PR, dan.... Istirahat.
Pukul 09:45 Pm.
Tetapi tiba-tiba mata Gin Wijaya berkelip keemasan, saat ingin menutupi tubuhnya dengan selimut, fragmen-fragmen misterius masuk dalam pikirannya. Ramalan!
Gin Wijaya dapat meramalkan orang-orang yang pernah dekat dengannya, atau orang yang hanya berjalan mendekat maupun melewatinya. Mampu meramalkan marabahaya yang akan datang, tanpa memerlukan media sebagai perantara.
Ekspresi Gin Wijaya segera menjadi muram, melempar selimut ke samping, dan segera bangkit dari tempat tidur. Berganti pakaian lengkap, dan yang penting jangan lupa memakai jaket.
Keluar dari kamar, menoleh ke arah kamar Meimei yang cantik, dan jelita. Melihat sekilas bahwa pintu sudah tertutup, seharusnya sudah tidur, oke.
Keluar dari apartemen, menuju tempat parkir. Menekan remote pada gantungan kunci mobil sport silver.
Bip... Bip...Bip...
Ketika pintu mobil terbuka secara otomatis, bergegas duduk, mengencangkan ikat pinggang, pintu tertutup, dan nyalakan mobil.
Brummm... Brummm... Meraung!
Mobil Sport Silver bergegas meluncur!
*****
Pada saat ini, langit di Shimpony berubah, dan hujan deras mulai turun di langit.
Gin Wijaya melihat pemandangan regresif ini, dari dalam mobil.
Menghabiskan sekitar delapan menit sekarang\, dan akhirnya menemukan posisi ***** melalui fragmen-fragmen yang dijelajahi dalam pikiran.
Berbelok, meluncur dengan gerakan veteran.
Melihat papan nama besar di pinggir jalan ‘Digoyang **** KTV’.
Mencicit!
Mobil sport silver menepi, membanting setir, menggunakan Drift Skill, meluncur ke arah tempat parkir area.
Setelah berhenti\, dia keluar dari mobil sport silver\, dan berlari ke pintu ‘Digoyang **** KTV di tengah hujan.
Gin Wijaya melihat layar smartphone sesaat, dan setelah beberapa saat merenung, simpan kembali di saku jaket.
“Halo Mr.., KTV kami saat ini tutup, dan belum dibuka.”
Ketika Gin Wijaya hendak masuk ke dalam KTV dihentikan oleh pramusaji.
Wajah Gin Wijaya menjadi gelap: “Aku di sini untuk mencari seseorang. Seorang Wanita**** datang tadi malam\, dan dia belum keluar.”
Mata pramusaji berkedip dengan sedikit panik, namun dengan cepat menenangkan diri, dan menyembunyikannya: “Mr... Maaf, KTV Kami tutup, pada jam enam pagi dan ditutup jam enam sore. Jadi temanmu seharusnya tidak ada di sini sekarang.”
Gin Wijaya mendengus dingin, mempengaruhi lingkungan sekitar, tetapi hanya sesaat. Menunjuk ke tanda di samping, dan mencibir: “Oh... Apakah kamu berpikir bahwa aku ini buta? Kamu harus tahu bagaimana membaca....”
Di papan nama tertulis buka 24 jam.
Sungguh alasan konyol\, Wajah pramusaji menggigil berubah muram\, dan dengan panik bertepuk tangan*****.
Pop... Pop... Pop...
Mendengarkan hal itu beberapa orang dengan ekspresi garang segera berkumpul di sekitar.
“Hei.. Anak muda, jangan membuat masalah di sini. Aku bilang tidak ada orang yang kamu cari, sebaiknya pergi dari sini. Lebih cepat, lebih baik...”
Melihat orang-orang ini, tidak berpengaruh sama sekali pada Gin Wijaya, dan sepertinya benar, orang itu dalam masalah sekarang ini.
Gin Wijaya mendekati pramusaji dengan langka demi langkah tenang, lalu berkata: “Jangan bertele-tele, katakan saja di mana wanita itu.”
Pramusaji melihat ekspresi Gin Wijaya, kali ini lebih berani karena banyak orang di sisinya, mencibir, dan melambaikan ke orang di sebelahnya: “Aku berkata, orang yang kamu cari tidak di sini. Apakah ada masalah dengan pendengaranmu.”
Orang-orang itu mulai dengan mengambil botol kaca, tongkat kayu yang entah dari mana, dan kursi di samping mereka, dan bergegas menuju Gin Wijaya, menakut-nakuti.
Bang! Arghh!
Bang! Arghh!
Bang! Arghh!
Bang! Arghh!
.........
Bang! Arghh!.... tabrakan!...
Setelah serangkaian suara tabrakan yang keras disertai jeritan dramatis\, sekitar beberapa detik kemudian\, beberapa orang hampir terbaring di konter dengan pose yang persis sama\, di sekitar tubuh mereka ada tongkat kayu yang rusak\, kursi dalam kondisi ***** maupun pecahan botol kaca bir yang tersebar di lantai.
Gin Wijaya menjepit leher pramusaji saat ini dengan tangan kanannya yang dingin.
“Bagaimana dengan sekarang? Aku bertanya padamu untuk terakhir kalinya, di mana wanita itu?”
Wajah pramusaji telah lama menjadi pucat\, karena kerutan tenggorokannya\, sudah merasa agak sesak nafas. Dia tidak menyangka orang-orang itu dapat dikalahkan dengan*****.
“Baik,... Aku... Aku akan bicara... Aku akan bicara... Tolong lepaskan dulu...”
Melepaskan cengkraman tangannya, Gin Wijaya menyipitkan matanya, dan pramusaji itu jatuh ke lantai, dalam kondisi terengah-engah di sana. Mengambil nafas dalam-dalam, lalu keluarkan.
“Ayo cepatlah bicara, jangan tunda kesabaranku.” Kata Gin Wijaya dengan ekspresi dingin.
Alasan kenapa masih perlu bertanya\, karena fragmen-fragmen dari hasil ramalan\, entah kenapa tidak sepenuhnya lengkap\, hanya tahu koordinatnya saja\, dan hal-hal yang terjadi *****.
Hal ini seperti orang yang mencari alamat rumah**** hanya dengan bergantung GPS\, pastinya masih perlu bertanya pada orang yang dijumpai.
Agar tidak membuang-buang waktu. Kenapa tidak bertanya kepada orang yang tahu, oke.
“Lima... Lantai lima. Kotak 1212.” Pramusaji itu memandang Gin Wijaya dengan ketakutan, punggungnya basah oleh keringat dingin. Oh sialan, benar-benar menakutkan orang ini.
Tidak menempatkan di matanya, Gin Wijaya berbalik, dan berjalan menuju lantai lima.
Klik! Klik!...
Menginjak pecahan kaca yang tersebar dengan sepatu, pergi tanpa melihat ke belakang.
Pramusaji yang dalam kondisi***** bersandar di dinding sebelahnya\, berdiri perlahan\, mengeluarkan smartphone dari dalam saku\, dan melakukan panggilan....