
Dalam dua menit\, kepala panas Meimei telah turun\, menjadi suhu normal. Gin Wijaya menghela nafas\, menarik lengannya kembali. Sekarang kondisi telah stabil\, dan*****
Setelah menangani semuanya, Gin Wijaya memandang Meimei yang telah tertidur.
Pergi dari kamar ini\, melepas pakaian yang basah\, dan kemudian mengenakan pakaian bersih. Lalu pergi*****.
*******
Digoyang*****KTV.
Bisnis yang sebelumnya****\, kini perlahan-lahan berjalan kembali\, dan bos pemilik KTV tidak memilih untuk melapor ke polisi\, karena jika melapor ke polisi\, reputasi KTV akan terpengaruh ke depannya.
Dua jenazah itu dibawa pergi oleh orang-orang yang terlihat seperti petugas*****.
SUV Hitam pekat di lantai bawah.
“Lakukan seperti biasa. Jangan ada yang tertinggal.”
Pria berkacamata **** duduk di kursi penumpang\, lalu berkata sungguh-sungguh kepada orang yang membuka pintu di belakangnya: “Mayat sudah ditemukan\, keduanya memiliki metode pembunuhan yang sama. Hancurkan wajah hingga berdarah\, tulang retak\, dan leher dipelintir mati dengan teknik yang sangat profesional\, serta tidak meninggalkan bukti bahkan tanpa sidik jari.....”
Setelah berbicara panjang lebar pria itu mengeluarkan foto siswa SMA*****\, dan foto pria****. Itu Gin Wijaya dengan senyum di mulutnya tidak membahayakan hewan\, dan manusia. Sedangkan foto yang kedua\, jika Gin Wijaya yang melihatnya sendiri akan segera berkata ‘Johan’.
Mendesah agak panjang, pria itu berkata: “Rencana pemberantasan kita, sepertinya jauh merepotkan dari yang kita kira. Jika tebakkanku tidak salah, yang membunuh kedua orang kita adalah orang yang bernama Johan, karena sebelumnya dia telah membunuh sepuluh orang dari kita dengan rapi tanpa bukti, dan sekarang dua lagi, jadi total dua belas orang kita telah gugur. Sedangkan untuk siswa SMA ini, tidak akan berani melakukannya. Sebelumnya dia hanya melukai rekan-rekan kita, yang kini masih berada di penjara.”
********
Meimei yang cantik\, dan jelita merasakan cairan mengalir di mulutnya\, aroma samar terhirup ke hidungnya\, dan bahu tebal di belakangnya\, memberi perasaan hangat\, dan *****.
Membuka matanya perlahan, dan melihat Gin Wijaya samar-samar yang tergantung di hadapan matanya, memegang bubur di tangannya, dengan lembut memberinya makan gigitan demi gigitan dengan sendok.
“Bangun, gadis bau. Minumlah bubur ini, aku membuatnya dengan kerja keras tanpa mengeluh, dan yang paling menyebalkan membutuhkan waktu lama untuk memasaknya.”
Pupil Meimei perlahan menjadi jelas, dan wajahnya sedikit memerah.
“Siapa yang kamu panggil gadis bau, jangan bicarakan omong kosong.”
Saat ini, benar-benar bersandar di pelukannya, dan dia memberi makan bubur itu sedikit demi sedikit.
“Hai... Astaga kenapa wajahmu memerah lagi? Apakah kamu demam lagi?” Gin Wijaya mengerutkan kening, dan menekankan telapak tangan pada dahi Meimei.
Meimei terkejut\, baru setelah itu dia menyadari bahwa saat ini di kamarnya\, dan di luar masih gelap\, disertai hujan deras. Hei... Hal ini benar-benar memalukan\, pria ini masuk ke kamar****.
Meimei menenangkan diri\, kemudian memeriksa diri sendiri\, dia terkejut menemukan bahwa dia telah berganti piayama. Ini jelas bukan piayama yang dia pakai sebelumnya. Jangan bilang*****\, memikirkannya saja ******\, membuatku malu.
Meimei memberanikan diri untuk bertanya, berbisik: “Kamu... Kamu...”
“Ada apa, bicaralah!” Kata Gin Wijaya acuh tak acuh.
“Tidak... tidak.. lupakan saja.” Pada akhirnya Meimei tidak berani bertanya setelah tanggapan acuh tak acuh Gin Wijaya.
Mengembungkan pipinya, dan cemberut. Mendorong Gin Wijaya menjauh perlahan, segera bersembunyi di bawah selimut, dan melotot pada Gin Wijaya dengan kesal.
Gin Wijaya hanya mengangkat bahu, dan berkata: “Sepertinya kamu sudah jauh lebih baik sekarang. Kamu bisa makan sendiri. Aku merasa lelah!”
Meletakan mangkuk bubur, berdiri, dan berbalik.
“Tunggu, tetap di sini. Aku akan makan jika kamu tetap berada di sini.”
“Baiklah, namun kamu harus makan dengan cepat.”
“Oke, asalkan kamu tidak pergi.” Meimei menekankan nadanya.
Meimei menundukkan kepala dan mulai memakan bubur dengan perlahan, serta mulai membayangkan apa yang dilakukan Gin Wijaya sebelumnya. Hehehehehe.....
********
Huu... huu... huu...
Pukul 03:01 Am, di luar masih hujan deras.
Mata perlahan terbuka, Gin Wijaya melihat sekitar agak gelap, tirai di jendela sedikit terbuka. Merasa ada yang menindihnya, melihat bahwa ada gadis bau yang memeluknya seperti bantal guling. Untungnya tidak ada insiden air liur lagi, mendorongnya ke samping secara perlahan.
Memeriksa Meimei sejenak\, sepertinya sudah tidak demam lagi. Gin Wijaya pergi ke kamar mandi untuk mencuci\, setelah itu pergi ke dapur untuk memasak mie instant. Sudah lama sekali tidak makan***.
Selesai makan, berbaring di sofa panjang, memejamkan mata hingga tertidur lagi.
Waktu berlalu, terasa hanya sesaat.
“Gin... Bangun,.. cepat bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.” Teriak Meimei sangat keras membuat Gin Wijaya bangun.
Pagi hari seperti biasa pesan takeaway. Selesai sarapan pergi membawa payung\, karena di luar masih hujan. Dan tidak lupa untuk menunggu Sarah turun\, karena dia tidak membiarkan para pengawalnya menjemputnya kali ini\, benar-benar merepotkan ketika harus mengawasi\, dan melindungi sampai sekolah. Meimei telah menjadi gadis yang baik untuk waktu yang lama. Tentu saja mengerti tentang tugas*****.
Hari ini di kelas sangat membosankan\, karena aku sudah tahu itu. Sebenarnya untuk orang yang cerdas****\, sekolah itu hanya sebagai formalitas saja. Mendesah\, melirik ke belakang\, terlihat Sarah sangat serius dalam belajar\, itu sangat bagus. Lanjutkan!
Bel kelas terakhir berbunyi pada sore hari.
Gin Wijaya melihat Sarah berjalan keluar dari pintu kelas, dan bergegas mengikutinya: “Hai... Sarah maukah pulang bersamaku.”
Sarah menatap dengan jijik, mendengus berjalan dengan cepat: “Siapa yang ingin pulang bersamamu.”
Di luar masih turun hujan, di gerbang sekolah, mobil pengawal sudah berhenti di luar.
Karena hujan yang deras ini, Sarah tidak menolak, jadi dia meminta pengawalnya untuk mengirimnya dirinya pulang.
Hari ini Meimei yang cantik, dan jelita masih mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.
Berdiri di gerbang sekolah, Gin Wijaya sedang berpikir, akhir-akhir ini merasa bosan. Setelah berpikir keras, sebuah ide muncul di benaknya: “Bagaimana jika membeli laptop atau Desktop?”
Pulang dengan payung di tangan, untuk mengambil mobil sport silvernya, dan pergi....
Mobil Sport Silver melaju tanpa hambatan di jalan raya\, menepi saat melihat *****\, dan berbelok perlahan ke area parkir. Turun dari mobil\, bergegas memasuki toko komputer*****\, di pintu masuk ada juga tanda toko komputer **** yang berkedip-kedip dengan kata-kata layanan 24 jam.
Sebenarnya pembelian online dapat di lakukan\, hanya saja Gin Wijaya ingin melihat dengan matanya sendiri di tempat. Di toko online\, anda hanya dapat melihat gambar atau fotonya saja\, itu terlalu****** tidak mempuaskan keingintahuan.
Masuk ke dalam, melihat para pelayan toko yang berbaring karena bosan di atas meja.
“Beli Laptop.” Gin Wijaya mengetuk meja, saat ini dia sudah memutuskan untuk membeli laptop, lebih praktis di bawa ke mana-mana. Sedangkan Desktop terlalu merepotkan.
Seorang pelayan pria dengan malas mengangkat kepalanya, dan melirik Gin Wijaya, lalu menunjuk dengan lemah, ke arah rak di sana, dan berkata: “Laptop ada di sana!.”
Nadanya sedikit malas\, seolah-olah orang ini mengalami *****.
“Saya ingin membeli laptop dengan performa terbaik di sini.” Gin Wijaya tidak terlalu peduli dengan situasi orang itu.
Pelayan itu langsung tertawa. Mengangkat kepalanya, dan menepuk meja, dan berkata: “Kamu terlihat seorang siswa, berhentilah membuat masalah, kami adalah toko merek di sini. Kamu mungkin tidak mampu membeli Laptop terbaik.”
Kemarin ada seorang siswa yang juga menanyakan hal yang sama\, dan pelayan sangat antusias menyambut\, tetapi pada akhirnya siswa tersebut tidak berniat membeli. Hal itu membuat pelayan ***** malas.
Pelayan di sebelahnya hanya menahan senyuman.