
Secerah cahaya! Gemuruh! Boom! Menggelegar! Boom!
Komunitas Blue Hand menengah-ke atas (perumahan)
Malam yang gelap, berangin, gerimis disertai petir yang menggelegar. Suasana suram, tetapi sangat nyaman untuk tidur di dalam kamar dengan penutup telinga dan bersembunyi di balik selimut.
Sungguh nyaman!
Ah ... amazing!
Bang! Bang!
Ketukan pintu berulang-ulang dan disertai teriakan, "Gin ... apakah kamu di rumah? Ini aku Meimei. Tolong segera buka pintunya ..."
Bang! Bang!
Meski Gin Wijaya memakai penutup telinga, tetap masih terdengar.
"Oh, sial! Kenapa saat jam tidur, ada tamu datang?" keluh Gin Wijaya sambil meregang tubuh. Membuang selimut, segera bangkit dari tempat tidur dan melepas penutup telinga, serta tidak lupa memakai sandal. Berjalan cepat, menyalakan lampu dan segera berjalan ke lobi.
"Gin, cepatlah, tolong buka pintunya!" Meimei memiliki wajah pucat dan ketakutan. Ketika melihat secerah cahaya, Meimei segera menutup telinganya.
Gemuruh! Boom! Di langit.
Pintu terbuka, dia melihat gadis dengan rambut agak basah berdiri di hadapan.
"Apa yang kamu lakukan? Ini sudah malam di mana orang-orang tidur nyenyak."
Sebelum membuka pintu, Gin Wijaya telah melihat jam di dinding, tepat pukul 11:30 pm. Hati penuh keluhan dan marah, tapi tidak diekspresikan.
Terlihat tenang dan santai.
"Maafkan aku, Gin. Tapi aku benar-benar takut di rumah sendirian. Ijinkan aku menginap di rumahmu semalam saja. Oke ..." Meimei yang terlihat pucat segera membalas, tidak menunggu persetujuan dan segera masuk ke dalam.
Berlari menuju kamar.
〣( ºΔº )〣
Gin Wijaya: ???
Melihat Gadis itu berlari menuju kamar, Gin Wijaya memiliki garis-garis hitam dan menggelengkan kepala.
"Sialan, Meimei apakah ibumu tidak pulang malam ini?"
Menutup pintu dan mengunci, kemudian menuju kamar, membutuhkan alasan yang jelas.
Meimei berumur 19 tahun, gadis yang terlihat baik dan ceria, berambut panjang seperti ibunya Meibing yang usianya 39 tahunan. Untuk ayah Meimei, sejauh ini belum pernah melihatnya. Tidak pernah menyebut, jadi Gin Wijaya tidak bertanya.
Tinggal di komunitas yang sama dengan Gin Wijaya, hanya berjarak tiga meter dari pekarangan. Sebagai tetangga yang ramah, Meimei sering berkunjung. Membantu memasak dan teman bicara. Karena Gin Wijaya yatim piatu, Meimei tampak lebih berani.
Gin Wijaya selalu menganggap Meimei sebagai adik perempuannya. Memiliki adik perempuan juga bukan hal buruk.
Sesampainya di kamar, melihat Meimei yang sudah meringkuk di bawah selimut, mau tidak mau bertanya, "Meimei, tolong beri aku penjelasan. Kenapa kamu datang malam-malam begini?"
Meimei menoleh berkata dengan cepat, "Ibuku berkata melalui telepon. Bahwa tidak akan pulang malam ini. Pulang dari lembur kerja lalu menginap di hotel terdekat, karena sudah terlalu malam. Jadi ibuku mempercayakan diriku padamu. Tolong bertanggungjawablah, aku takut tinggal di rumah sendirian dan takut suara guntur. Tolong pinjamkan aku penutup telinga ... “
⁄(⁄ ⁄•⁄ω⁄•⁄ ⁄)⁄
Astaga, bisakah kamu bicara perlahan?
Apakah rumahku tempat penitipan anak?
Ibumu bahkan tidak menyapaku melalui telepon?
Gin Wijaya sebenarnya ingin bertanya tetapi terlalu malas. Rasa kantuk membuatnya tidak tahan lagi. Mengambil dan melempar penutup telinga kepada Meimei, mematikan lampu, melepas sandal, lalu segera menerobos ke bawah selimut di samping. Berbaring membelakangi dan menutup mata.
Lupakan segala hal!
Meimei mendengus mengingatkan, "Ingat jaga jarak aman! Jika kamu berani menyentuhku, aku akan melaporkan kepada ibuku."
Kemudian Meimei tersenyum penuh kemenangan dan tidak takut sendirian lagi. Sebenarnya Meimei menyukai Gin Wijaya, hanya saja sering diabaikan, dan hanya dianggap sebagai adik perempuan. Hal itu membuatnya kesal dan selalu berusaha menarik perhatian. Ketika melihat ekspresi acuh tak acuh Gin Wijaya, dia selalu memiliki keinginan untuk memukulinya. Benar-benar menyebalkan.
Hanya menahan di hati.
Malam berlalu cepat dan tidak terjadi hal-hal yang perlu dipertanyakan.
Keesokan hari, kicauan burung pipit saling bertautan, sinar matahari bersinar terang. Cahaya menembus celah gorden dan menerangi wajah Gin Wijaya.
Menguap, meregangkan tubuh, dan memiliki keinginan untuk bangkit, tetapi ada tangan yang memeluknya dari belakang.
Menoleh ke belakangan mengerutu merasa kesal, "Gadis ini, mengambil keuntungan pada saat ada peluang. Bahkan air liurnya membasahi bantalku. Huh ... "
Lima belas menit kemudian, kembali ke kamar, dan dia melihat Meimei masih tidur terlelap, namun dengan bantal yang semakin basah karena air liur.
(╯°□°)╯︵ ┻━┻
Melihat hal ini ada rasa untuk melepar meja ke arahnya.
Menggelengkan kepala, dia hanya menahan amarah dalam hati. Melihat jam digital kecil di samping tempat tidur telah menunjukkan pukul 06:45 am. Berganti pakaian dari piyama menjadi pakaian olahraga. Hari libur luangkan waktu untuk jogging, hal itu telah menjadi kebiasaan bagi Gin Wijaya di hari-hari santai.
Hari cerah, jalan masih sangat basah. Jogging santai menghindari setiap kubangan air, kadang harus melompati, kadang berlari zig-zag, dll.
Berlari santai mengelilingi komunitas, dia tidak lupa menyapa orang-orang yang jogging.
Itu juga hal yang baik memberi kesan ramah di mata masyarakat. Membantu nenek/kakek menyeberang jalan sungguh mulia, melempar batu ke anak anjing agar penuh amarah, dan melarikan diri dengan cepat saat dikejar sungguh menambah adrenalin dan kesenangan, telah menjadi rutinitas.
Butuh waktu 2 jam, sebelum akhirnya kembali ke rumah.
Rumah di Komunitas Blue Hand menengah-ke atas, relatif sederhana untuk keluarga, dengan bahan bangunan berkualitas, untuk desain dapat di konsultasikan kepada yang bertanggungjawab. Hal tersebut juga tertera pada brosur pembelian maupun iklan di internet.
Lupakan saja!
Sesampainya di rumah, Gin Wijaya masuk ke lobi di mana ada aroma masakan yang memenuhi udara. Mengendus beberapa kali untuk menebak, apa yang di masak?
Aroma ini familiar!
Namun alangkah baiknya bertanya kepada pihak yang bersangkutan, dan dia berjalan ke arah dapur, "Meimei, apa yang sedang kamu masak?"
"Soup Cakar Ayam Pedas kesukaanmu," tanggapan Meimei tanpa menoleh kebelakang, tangan memegang sendok. Meniup, menyesap, mencicipi rasa, apakah sudah sesuai atau belum rasanya?
"Rasanya, Ok!" kata Meimei lulus.
Ceguk!
Berdiri di samping, Gin Wijaya menelan air ludah saat melihat Meimei mencicipi. Pasti masakan terasa enak, lihat saja ekspresi gadis ini.
(๏_๏)
Melihat hal itu, Meimei tidak puas bergeser menjauh, "Pergi sana untuk mandi, kamu bau keringat!"
"Haha ... maaf, aku akan mandi dulu. Salahkan kamu, aroma masakan membuatku lupa. Hahaha ... " Gin Wijaya menggaruk kepala, lalu berbalik berjalan pergi takut amarah Meimei meletus seperti gunung berapi.
Melihat punggung Gin Wijaya raut wajah Meimei berganti senyum indah.
Bagi laki-laki normal mandi tidak butuh waktu lama. Selesai mandi, dia melempar pakaian kotornya ke kotak khusus pakaian kotor di belakang rumah. Karyawan laundry secara rutin akan mengambil pakaian kotor tersebut. Besok pakaian akan dikirim dengan keadaan bersih dan dikemas rapi (berupa paket).
Well, alasan berlangganan laundry karena dia malas mencuci sendiri dan yang penting tidak merasa malu.
Berpakaian kasual untuk hari yang santai. Sampai di meja makan, dia menarik kursi lalu duduk.
"Selamat pagi Meimei kecil!" salam santai Gin Wijaya.
"Pagi!" balas Meimei tanpa ekspresi.
Melihat Meimei sibuk menyiapkan peralatan makan dan makanan di atas meja, Gin Wijaya tidak bisa tidak bertanya, "Apa perlu bantuan?"
"Tidak perlu. Kamu nanti yang mencuci piring."
"Ok, kesepakatan, hal itu tidak masalahku," Gin Wijaya menjilat bibir tidak sabar untuk makan.
Setelah beres, Meimei segera duduk di seberang melihat tingkah lucu Gin Wijaya, lalu tersenyum dan berkata, " Mari kita makan."
(๑و•̀ω•́)
"Ok," menyesap Soup Ayam Pedas dan mengacungkan jempol, "Enak, lebih enak dari yang minggu lalu."
(´ ▽`).。o♡
Pujian itu membuat memerah, Meimei tersipu malu mengalihkan pandangan dan segera tenang, kemudian memarahi seperti gunung meletus.
"Berhenti omong kosong saat kamu makan makanan. Makan saja dan jangan bicara ... !"
(ノ゚Д゚)
〣( ºΔº )〣
Astaga!
Melihat ekspresi itu yang berubah dengan cepat, dan seperti halnya membalik buku, Gin Wijaya merasa takut.
Jika tidak tahan, aku khawatir makanan yang sedang kukunyah akan disemprotkan ke wajah cantik itu.