The Richman And Powerful

The Richman And Powerful
Episode 2: Pergi Ke Pantai!



Sarapan pagi bersama Meimei membuatku merasakan suasana keluarga yang sudah lama tak kurasakan.


Setelah selesai sarapan, Gin Wijaya pergi mencuci piring dengan bantuan mesin pencuci piring automatis. Akhirnya, ada waktu luang untuk membaca novel online. Pergi ke kamar untuk mengambil smartphone, dia melihat bar baterai 100 persen, segera cabut kabel pengisian.


"Sepertinya, aku mengingat sesuatu!" menggaruk dagu yang tidak gatal, Gin Wijaya memikirkan.


(๏_๏)


Dia melihat ke tempat tidur, sepertinya ada yang hilang! Yaitu bantal! Sepertinya bantal sudah di evakuasi entah ke mana oleh Meimei.


"Alangkah baiknya tidak bertanya padanya. Meimei tentu akan merasa malu jika aku bertanya padanya, dan kemudian berlari pulang tanpa melihat ke belakang. Hahaha ... pasti terlihat lucu ... lupakan, berhenti berkhayal!"


Smartphone ada digenggaman, lalu dia pergi ke lobi dan duduk di sofa.


Terasa sepi, suasana inilah yang aku suka.


"Seperti Meimei, sudah pulang ke rumah. Datang tak diundang, pulang tak di antar seperti jalangkung. Hahaha ..." berhenti tertawa, akhirnya dapat bersantai dengan damai, dan dapat mulai membaca novel langganan.


Kedamaian tidak berlangsung lama ketika ...


(ノ゚Д゚)


"Gin, ayo kita pergi ke pantai, untuk bermain. Aku merasa bosan jika terus tinggal di rumah!"


Di luar Meimei berteriak dengan penuh semangat, dan tidak lupa meminum sebotol air mineral untuk membasahi tenggorokan, lalu berteriak lagi, "Menurut ramalan cuaca hari ini, hari ini sangat cerah dengan sedikit awan. Jika kamu tidak percaya lihatlah sendiri di berita. "


Σ( ° △ °|||)


"Sialan, gadis ini datang lagi. Apakah ibunya tidak pulang? Kedamaianku direnggut lagi oleh seorang gadis bau. Benar-benar hari yang buruk, sangat menjengkelkan, " Gin Wijaya menggelengkan kepala penuh keluhan di hati yang terdalam.


Aku ingin menjalani hidup yang tenang!


Tidak berani mengeluh pada Bibi Meibing terkait tingkahlaku putrinya, karena selama ini sudah dianggap ibu sendiri.


Jika keinginannya tidak segera terpenuhi, gadis bau itu akan melapor kepada ibunya bahwa “Aku dilecehkan oleh Gin ... “ ancaman yang mematikan, membuat orang sakit kepala.


Cara-cara jahat tidak tahu malu itu, tolong jangan ditiru.


Setelah dipikir-pikir dengan seksama pergi ke pantai bukanlah hal yang buruk, anda dapat melihat gadis-gadis bikini.


Bagi Gin Wijaya, mereka yang memakai bikini sama dengan hanya memakai pakaian dalam.


Pantai ataupun kolam renang, menjadi tempat bagi kaum wanita dapat pamer pakaian dalam. Bagi pria berpuas dirilah di tempat itu...


Di tempat umum yang bukan tempat rekreasi sejenis itu, melihat, mengintip. Jika ketahuan harap Hati-hati, bonus tamparan di wajah cap lima jari, atau tuduhan... beberapa Wanita memang rumit... lupakan saja! Ada pro dan kontra. Anda harus memiliki ketahanan diri yang kuat.


"Tunggu sebentar, aku akan bersiap-siap," balas Gin Wijaya bergegas.


Meimei menunggu di garasi dengan tangan di pinggul, bersandar pada mobil sport berwarna silver milik Gin Wijaya, sambil melihat jam tangan dari waktu ke waktu, dan wajah cemberut imut. Di lantai marmer ada ransel berwarna pink, bermotif kelinci lucu menggemaskan favorit gadis-gadis, dan merupakan produk terlaris di toko online bulan ini. Di dalam ransel tentu berisi hal-hal pribadi.


Jangan tanya!


Lupakan, jangan menebak!


Lima menit kemudian, Gin Wijaya datang dengan membawa ransel kecil di punggungnya. Dia memakai pakaian pantai bermotif batik awan cerah biru laut, baju lengan pendek, celana pendek, dan sepasang sandal di kaki, serta kaca mata hitam diselipkan disaku baju.


"Siap, mari berangkat!"


(。’▽’。)♡


"Tampan," Meimei berkata tanpa sadar saat melihat hal itu.


Gin Wijaya juga melihat penampilan gadis bau dan mengangguk, "Bagus."


Meimei mengenakan kemeja kasual, rok mini, dan sepasang sandal pantai. Hal tersebut masih akan berubah saat tiba di pantai dan mengubahnya menjadi bikini.


Menekan remote, pintu bagasi mobil terbuka. Kedua ransel dimasukan. Pintu mobil kedua sisi juga dibuka, mereka kemudian masuk dan duduk, serta  tidak lupa mengikat sabuk pengaman. Semua pintu mobil menutup secara otomatis, Gin Wijaya nyalakan mobilnya.


Boom! Boom! Vroomm!


Meraung beberapa kali, mesin mobil perlu pemanasan sebelum berangkat ke pantai. Ketika merasa sudah cukup, Gin Wijaya segera memacu mobil sport silver ke jalan, melesat seperti anak panah, namun segera mengurangi kecepatan. Dilarang berkendara cepat di jalan komunitas.


Setelah keluar dari gerbang Komunitas Blue Hand menengah-ke atas, mobil sport silver tancap gas.


Boom! Meraung! Vroomm!


Mobil sport melaju dengan cepat dan menyalip banyak kendaraan di depan. Di dalam mobil mengobrol santai, hingga pada akhirnya tak terasa sampai di tujuan. Berkendara ke tempat parkir. Keluar dari mobil dan tidak lupa membawa hal-hal yang perlu dibawa. Mereka berjalan bahu membahu menuju pintu masuk.


Tiket di beli secara online sebelumnya. Proses sangat cepat.


Tunjukkan kode tiket kepada petugas, setelah verifikasi selesai, mereka dipersilahkan masuk, dan dipersilahkan menikmati fasilitas yang tersedia. Setiap orang mendapat kunci loker.


Tolong, jangan tebak!


"Oke," Gin Wijaya mengangguk tak peduli, dan memiliki bisnisnya sendiri menuju nomor loker yang sesuai dengan nomor kunci. Pencarian tidaklah lama dan ditemukan. Membuka loker memasukkan ransel ke dalam, kemudian tutup.


●︿●


“Simpan kunci, dan jangan sampai dihilangkan. Jika kehilangan, segera hubungi Petugas: XXX XXX XXXX XXX, dan bawa kartu identitas anda!” kalimat itu tertera di muka pintu loker.


Well, jangan sampai hilang kunci loker, Gin Wijaya mengingatkan diri sendiri dalam hati.


"Gin, maaf karena telah membuatmu menunggu lama," Meimei berjalan sambil menyisir rambut dengan jari-jari rampingnya.


Tebar pesona!


"Tidak masalah, mari pergi bersama," balas Gin Wijaya berbalik.


"Hei, dasar kayu, kenapa terburu-terburu. Bagaimana pendapatmu tentang penampilanku," Melihat respon kayu busuk acuh tak acuh itu membuat Meimei tidak puas, rasanya ingin membakar kayu busuk itu di kompor.


Melihat bikini itu dengan ekspresi serius dan berpendapat.


"Bagus, seperti super model pada majalah."


"Kamu, kamu ... ******** ... jangan bandingkan aku dengan mereka ..."(╯°□°)╯


Gin Wijaya: ???


Sial, bukankah aku memujimu?


Kenapa marah?


Super model, semua harus cantik, memikat minat banyak pria. Apa yang salah?


(。•́︿•̀。)


"Aku akan mengabaikanmu ..." Meimei cemberut berjalan mendahului. Dasar pria kayu!


Melihat punggung belakang itu, Gin Wijaya segera menyusul dan berkata, "Ayolah, jangan marah. Bagaimana jika aku belikan Es Krim?"


"Aku, benci, benci kamu. Siapa juga yang ingin kamu membelikan Es Krim? Aku tak peduli!" Meimei marah.


Melihat gadis bau itu terlihat marah, Gin Wijaya hanya bisa berkompromi.


"Well, kalau begitu cepat katakan! Apa yang kamu inginkan?"


"Bagus, kalau begitu bantu oleskan tabir surya di punggungku," jawab Meimei dengan lugas. Menyerahkan tas kecil ke Gin Wijaya. Berlari ke arah kursi pantai yang tidak ditempati, dan terutama memilih yang jauh dari kerumunan.


Gin Wijaya segera menyusul dan melihat Meimei yang telah bersiap, posisi tengkurap. Duduk di samping mengeluarkan Tabir Surya merek luar negeri yang tidak disebutkan namanya.


Melepas kait tali perisai  yang berada di punggung dengan cepat dan gesit. Tentu tunjukkan profesionalitas anda.


Saat merasakan tali perisainya di lepas, Meimei merasa gugup.


Sial pria tak tahu malu, melepas tanpa bertanya terlebih dahulu!


Dimana sopan santunmu?


Gin Wijaya tidak memikirkan apa yang dipikirkan gadis bau. Segera mengoleskan Tabir Surya dengan cepat dan merata. Setelah selesai, kait itu di pasang kembali, "Sudah selesai."


Meimei sepertinya tidak mendengar, seolah-olah terjebak dalam ilusi, menikmati sensasi ketika punggung digosok, hingga menyadari perasaan itu telah hilang, dan menoleh melihat Gin Wijaya dalam keadaan diam menatapnya, "Apa yang kamu lakukan? Kenapa berhenti?"


"Bukankah aku sudah bilang kalau sudah selesai! Apakah kamu tidak mendengar?"


(ノ゚Д゚)


"Siapa yang peduli dengan apa yang kamu katakan, cepat gosok lagi ..." tanggapan Meimei berwajah lurus dan tidak peduli. Yang dipedulikannya, tolong gosok kembali punggungku.


⁄(⁄ ⁄•⁄ω⁄•⁄ ⁄)⁄


Sialan, kenapa tidak pergi ke tempat spa saja sana?


Apakah kamu tidak peduli dengan perasaan orang yang tidak tertarik menggosok punggungmu?


Jelas, kamu mengabaikan HAM.


Di saat hati yang terdalam merasa sedih.


Boom! Boom! Boom!


Tiga kali ledakan berturut-turut meledakan sebuah restoran, api merah dan asap gelap mengepul begitu terlihat mendominasi, seolah-olah mengamuk melahap restoran seutuhnya.