
“Apakah menyenangkan membuat seorang gadis menangis? Kenapa kamu tidak ngajakku bermain juga? Aku juga ingin merasakan kesenangan, oke.”
Sebuah suara datang dari luar, itu sangat santai, oke.
Σ( ° △ °|||) Σ (゚Д゚;)
Semua orang yang bersenjata di dalam ruangan tercengang, ada kepanikan di mata mereka.
Bam!
“Uh...”
Sebelum mereka bereaksi, sesosok tubuh muncul di hadapan salah satu pria berpakaian hitam barisan depan, tersungkur setelah menerima tendangan lutut, dan tanpa mengucapkan sepatah kata, meraih pistol di tangannya.
Orang-orang lainnya kembali tersadar, dan segera bereaksi, mengarahkan pistol mereka ke arah Gin Wijaya, tidak peduli dengan keadaan rekan yang telah tersungkur, lalu menembak secara acak.
Piu... Piu... Piu.....
Gin Wijaya bergegas dengan cepat meraih orang yang tersungkur dengan kekuatannya, dan jadikan perisai daging, lalu tidak segan-segan membalas tembakan, dengan pistol di tangannya.
Piu... Piu... Piu...
Tembakan berhenti.
Semua orang berpakaian hitam jatuh ke lantai dengan genangan darah besar di lantai, dan Gin Wijaya tidak peduli dengan mereka, apakah masih hidup atau mati, menepuk pria berpakaian hitam yang dijadikan perisai daging di depannya, dan berkata: “ Oh... Tidak kenal ampun, tidak berbelaskasih, dan bahkan tidak peduli dengan rekan sendiri, bagus sekali.”
“Kamu... bukankah kamu sudah mati? “Bos Darwin menatap Gin Wijaya dari atas ke bawah dengan ngeri, dan kemudian melihat pada noda darah di bawah kusen pintu.
Gin Wijaya menembak langsung ke kusen pintu, dalam sekejap pintu yang rusak itu runtuh, dan di sana bisa dilihat ada botol anggur merah yang pecah.
Ternyata... Oh... Ternyata... Noda darah yang mereka kira itu, menjadi cairan anggur merah yang berdifusi saat pecah.
Gin Wijaya tersenyum, menatap Bos Darwin, dan mengarahkan pistol ke arahnya: “Sepertinya kamu tidak pandai dalam menyambut tamu, dan bahkan berani menolak untuk bersulang anggur merah yang aku bawa. Tsk... Tsk... Aku merasa malu.”
Omong kosong! Sialan!
Tanpa sadar Bos Darwin bersembunyi di belakang Sarah Bazooxa, dan pistol di tangannya mengarah ke kepala gadis ini.
Σ(⊙▽⊙")
“Kamu... sebaiknya jangan datang, atau kamu ingin kepala gadis ini berlubang.” Tubuh Bos Darwin bergetar saat berbicara.
Saat ini, Sarah Bazooxa tidak memiliki rasa takut sedikit pun, sebaliknya memandang Gin Wijaya dengan senyum di wajahnya.
Ternyata... dia masih hidup.
⁄(⁄ ⁄•⁄ω⁄•⁄ ⁄)⁄
Gin Wijaya memiliki garis-garis hitam di wajahnya, ketika melihat ekspresi Sarah Bazooxa. Kenapa kamu tersenyum padaku, pada situasi yang tegang ini?
Menghela nafas, dan menggelengkan kepalanya: “Hal yang paling menyebalkan adalah orang yang mengancamku, dengan seorang gadis, dan terutama gadis tetangga sebelah...”
Dalam sekejap, atmosfer di sekitar mengalami pendinginan yang tidak dijelas.
Hal ini membuat Sarah Bazooxa memandang Gin Wijaya dengan rasa takut, bulu kudunya merinding tidak dijelaskan. Aku merasa tidak ingin menjadi tetangganya lagi!
Sedangkan Bos Darwin yang ditargetkan, bahkan lebih buruk, berwajah pucat, dan keringat dingin membasahi dahi, dan punggungnya.
Sialan, kenapa rasanya menakutkan sekali!
“Ingin mati, atau turunkan senjatamu, dan menyerahlah.” Suara dingin Gin Wijaya datang.
Kalimat itu bergema di benak Bos Darwin, menatap pemuda itu dengan ekspresi heran, rasanya aneh seolah-olah panggilan dari jurang maut, dan samar-samar melihat ada aura gelap di sekitar Gin Wijaya. Apakah itu ilusi? Rasanya sangat menakutkan!
Tubuh gemetar terus-menerus, ketakutan menguasai benaknya, dan saat ini tidak memiliki pemikiran untuk melawan, dan terus menatap Gin Wijaya.
Piu...
“Arghh... Tanganku.. Arghh... Sialan.. sakit sekali!” Pistol di tangan Bos Darwin jatuh ke lantai, saat pergelangan tangannya di tembak Gin Wijaya.
Step! Bam!
Bang!
Oh... Sakit. Batuk... Batuk...
Jatuh, bersandar pada dinding, Bos Darwin batuk beberapa suap darah merah.
Σ( ° △ °|||)
Sarah Bazooxa tidak tahu harus berekspresi apa, hal itu terlalu cepat, dan hanya terlihat sekilas.
Gin Wijaya berjalan menuju Bos Darwin selangkah demi selangkah, setiap langkah ini membuat Bos Darwin merasa seperti menginjak hatinya sendiri, memberi perasaan sesak. Hei... tendangan itu membuat Bos Darwin sesak...
( ̄へ ̄)
“Oh.. . kamu belum mati, aku pikir sudah berakhir, hei... sepertinya kamu cukup tangguh. Lalu bagaimana kamu ingin mati? Katakan jika itu perlu...” Gin Wijaya membungkuk, dan memasukan moncong pisol ke dalam mulut Bos Darwin.
Hal itu membuat nafas Bos Darwin terengah-engah, menjadi berat, dan lebih berat: “Ohh.. Biarkan aku pergi... biarkan aku pergi... Aku mohon...“Bos Darwin berkata tidak jelas, ketika mulutnya di isi moncong pistol, semangatnya sudah di ambang keruntuhan, atau kehancuran.
“Ayo kita lakukan, apakah surga membiarkanmu hidup.” Suara Gin Wijaya jatuh, dan menarik pelatuk pistolnya.
Klik!
Mata Bos Darwin memelototi, dan mata bergulir jatuh pingsan, di lantai.
“Astaga kamu beruntung, ternyata pelurunya sudah habis. Tsk... Tsk... Bahkan jatuh pingsan saat terakhir, benar-benar tidak seru.” Gin Wijaya tersenyum, dan membuang pistol di tangannya.
Setelah ini mungkin jiwanya telah runtuh, yang terburuk menjadi gila. Bagi sebagian orang yang tidak terlalu kuat dalam spiritnya, suasana horor yang represif ini, dapat membuatnya spiritnya berada di ambang keruntuhan. Lupakan saja, mungkin setelah sadarkan diri orang ini tidak lagi menjadi orang normal seutuhnya.
“Hei... Mungkin menjadi pintar itu merepotkan, bukankah aku sudah memberitahumu, atau mungkin kamu belum jelas, tetaplah jujur tinggal di apartemen, Oke. Bagaimana jika aku tidak datang tepat waktu? Apakah aku harus melihat pemandangan terbuka? Hei... sepertinya kamu belum tahu di mana harus meletakan kehidupan kecilmu itu.” Gin Wijaya berkata dengan nada acuh tak acuh, saat di hadapan Sarah Bazooxa, melihat dari atas hingga ke bawah. Sialan orang ini benar-benar sulit di atur.
Meskipun kata-kata itu terdengar acuh tak acuh, Sarah Bazooxa tahu bahwa dirinya sedang dimarahi, tidak berani menatap Gin Wijaya, dan menundukkan kepala karena takut.
Atmosfer di sekitar masih terasa tidak nyaman, hal-hal ini membuat orang di sekitarnya merasa sedikit takut.
⁄(⁄ ⁄•⁄ω⁄•⁄ ⁄)⁄
‘Oh... Seperti aku lupa menutupi niat membunuhku.’ Pikir Gin Wijaya dalam hati.
Sesaat kemudian Sarah Bazooxa merasa tubuhnya menjadi lebih ringan, seolah-olah tekanan gravitasi berkurang.
“Kamu gin, bisakah kamu melepaskan tali di tubuhku. “Kata Sarah Bazooxa, namun matanya tertuju pada pasangan yang saat ini menyusut di sudut ruangan.
Hei... Orang ini masih memikirkan orang lain di saat seperti ini.
Gin Wijaya segera melepas tali yang mengikat tubuh Sarah Bazooxa, dan berkata: “Apakah mereka temanmu yang telah menipumu?”
Setelah tali terlepas, Sarah Bazooxa segera berdiri, agak susah berjalan, karena tubuhnya agak kaku, sebelumnya telah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, tetapi gagal. Sekarang semua ototnya terasa kaku.
Memaksakan diri untuk berjalan, menatap temannya itu, menggigit bibirnya, dan tubuhnya bergetar, bertanya: “Sophie, kenapa... kenapa kamu menjadi seperti ini...”
Temannya itu bernama Sophie, saat ini sedang memeluk lututnya dengan lengannya, meringkuk dengan tubuhnya, tubuhnya bergetar, seolah-olah menahan sesuatu.
Sedangkan pemuda di sebelahnya menyusut ketakutan, memegang bingkisan kecil di tangannya.
Melihat itu, Gin Wijaya berjalan mendekat ke arah pemuda itu, dan tanpa sepatah kata pun, merebut benda di tangannya, dan membukanya untuk melihat isinya. Ternyata bubuk putih.
“Hei... Sangat buruk, ini jelas metamfetamina (Sabu-sabu) dengan kemurnian tertinggi. Huh, sepertinya temanmu telah kecanduan hal ini.”
“Hei... apa yang kamu lakukan, kembalikan itu padaku, cepat berikan. Itu milikku.” Melihat bingkisan kesayangannya di sambar orang lain, pemuda itu bergegas dengan liar. Tidak peduli seberapa horornya Gin Wijaya saat ini. Itu milikku... Kembalikan!
Tendangan kaki kiri Gin Wijaya menyambut dengan ramah pemuda itu, hingga terbang keluar, dan menabrak dinding, pingsan di sana.
“Apa? Sophie... Kenapa kamu... Sejak kapan kamu menyentuh benda semacam ini! Kamu sudah dewasa, dan seharusnya kamu tahu bahayanya benda seperti itu. Bagaimana mungkin...” Sarah Bazooxa memandangnya dengan ekspresi tidak percaya. Meskipun sebelumnya telah memiliki dugaan, ketika melihat bingkisan aneh itu, hanya saja ketika mendengar faktanya, masih sulit untuk di percaya, dan tidak bisa menahan kejutan.
Sophie tidak tahu harus berkata apa, menundukkan kepalanya, namun tiba-tiba tubuhnya mengejang, mengatupkan giginya,dan mengepalkan tangan. Hanya berlangsung beberapa detik, dan sudah tidak tahan lagi, karena kebutuhan fisiknya mengalahkan tekatnya. Mengangkat kepalanya, melihat bingkisan yang masih di tangan Gin Wijaya. Menelan ludah, dan bergegas menuju Gin Wijaya.
Gin Wijaya menggelengkan kepala, dan tangannya terulur meraih kepala Sophie untuk mencegahnya terus mendekat. Sebenarnya ada keinginan untuk langsung menendangnya hingga terbang, tetapi sepertinya masih ada sedikit hati nurani.
Kedua tangan Sophie yang pendek melambai-lambai ingin meraih bingkisan kecil itu. “Kakak yang baik... Tolong beri aku sedikit saja. selama kamu memberiku sedikit, aku dapat bermain denganmu. Kamu dapat bermain seperti apa yang kamu inginkan, terserah kamu ingin berapa putaran.”