
“Hei.. Itu masalah, aku lupa membawa powerbank, bagaimana kalau kamu mengajariku di lain waktu.” Nindy menatap dengan penuh harapan.
Oh... Tatapan itu membuat orang tidak tertahankan.
“Baiklah jika ada waktu lain.” Gin Wijaya bangkit, mengantri untuk mandi.
Waktu demi waktu, akhirnya gilirannya untuk mandi.
Setelah mandi, Gin Wijaya dikirim ke sebuah kamar oleh Ibu Laras dengan penuh semangat.
“Nak Gin, ini kamarmu malam ini. Sebenarnya tidak banyak lilin di setiap kamar, hanya ada satu atau dua di setiap kamar, jadi...” Ibu Laras yang baik, menceritakan semuanya, mungkin seperti seorang ibu, hanya saja hal-hal tidak dipahami oleh Gin Wijaya yang yatim piatu sejak kecil, dan setelah bicara, dia memasang senyum misterius, yang tidak di mengerti Gin Wijaya. Lupakan!
Gin Wijaya berbaring di tempat tidur, aroma bubuk cuci yang tidak diketahui merknya menjadi pelengkap yang tidak terelakan. Mungkin karena pemadaman listrik, lingkungan gelap memberi perasaan tenang kepada Gin Wijaya. Rasa kantuk mulai terasa, melepas pakaian yang tidak perlu, mengenakan sepasang celana, naik ke tempat tidur, dan mematikan lilin yang berada di sampingnya. Aku harap tidur dengan damai. Suara hujan masih terdengar di luar, untungnya guntur tidak terus menggelegar.
Setelah beberapa saat, sosok gelap mendekat perlahan di sisi tempat tidur, seolah-olah meraba-raba sesuatu. Apakah pencuri? Ini tidak baik... Gin Wijaya secara naluri segera melompat, dan melemparkan bayangan gelap ke bawah, dan menekan lawannya, sehingga lawan tidak dapat membebaskan diri. Rasakan ini penjahat! Kamu sudah terkunci!
Om...
Tiba-tiba pintu kamar di dorong terbuka, dan cahaya terang dari lampu senter smartphone menerangi ruangan itu.
“Oh.. Maafkan aku, anggap saja aku baru lewat.” Nindy melihat pemandangan di ruangan itu sedikit malu, dan berbalik.
Hei... Masalah.
Kedua orang saling memandang, dan suara nafas saling menampar wajah. Nindy bergegas keluar dari kamar, dan tidak lupa menutup pintu, lalu kegelapan ruangan pulih kembali.
Laras berkata dengan suara suram, datang dari bawah: “Gin..., Kamu sekarang bisa turun dariku.”
Mengendus aroma gel mandi, Gin Wijaya hanya bisa menelan ludah, dan segera menjauh dengan perlahan.
“Masalah ini...”
“Gin..., Kenapa kamu bisa dikamarku..,” Kata Laras datang dengan niat membunuh, ruangan terasa lebih dingin.
Oh...
Gin Wijaya segera berkata: “Itu, ibumu yang mengatur agar aku tidur di kamar ini, dan aku juga tidak tahu jika ini kamarmu. Untuk hal yang aku lakukan barusan, itu karena naluri, lalu siapa juga yang menyuruhmu untuk berjalan tanpa menyalakan lilin, atau membawa smartphone! Jadi aku tidak bersalah, oke! Aku bahkan berpikir kamu seorang pencuri.”
“Smartphoneku kehabisan daya, jadi sekarang salahku? Cepat nyalakan lilin untukku.” Perintah Laras dengan nada kesal.
Gin Wijaya benar-benar tidak berdaya, kemudian merayap untuk menyalakan lilin di ruangan.
Setelah itu tatapan Gin Wijaya berhenti pada Laras dengan tatapan kosong.
Tubuh itu mengenakan kemeja putih tipis, dan aroma samar menampar hidung Gin Wijaya.
“Hei.. Apa yang kamu lihat.” Laras marah seolah-olah gunung berapi meletus.
Gin Wijaya mengangkat bahu, tidak peduli.
Laras pergi meninggalkan kamar tanpa menutup pintu, lalu terjadi pertengkaran sengit terjadi diluar.
“Bu, apa yang sebenarnya kamu lakukan, kenapa juga membiarkan Gin... tidur di kamarku.”
“Apakah dia bukan pacarmu, normal tidur di kamarmu!” Kata Ibu Laras tidak bersalah.
“Tetapi bu, biarpun dia pacarku, aku tidak ingin sekamar dengannya, apakah kamu tidak khawatir jika putrimu dimanfaatkan olehnya.”
“Mengambil manfaat atau keuntungan? Ini pertama kalinya aku mendengar bahwa seseorang bisa memanfaatkan putriku, Laras. Ibu bukanlah seorang barang atik tua. Sebenarnya, aku tidak merasa keberatan jika... Ibu belum terlalu tua sekarang, jadi aku bisa membawakanmu sesuatu, anak.”
“Ibu, kenapa kamu berpikir begitu? Aku tidak peduli, bagaimanapun caranya aku tidak ingin tinggal sekamar dengannya.”
*****
Tak lama kemudian pertengkaran itu akhirnya mereda. Laras memakai pakaian kasual, masuk dengan ekspresi tidak senang, dan melempar selimut ke orang menyebalkan itu.
“Kamu sebaiknya tidur di lantai saja.” Kata Laras dengan nada perintah.
Tidak ada yang meniup lilin, untuk menghindari hal-hal yang tidak perlu.
Pha...Pha... Pha...
Laras yang telah berbaring di tempat tidur, mengerutkan kening, duduk, dan melihat sekeliling dengan penasaran. Suara apa itu?
“Gin..., Kamu belum tidurkan? Apa kamu mendengar sesuatu?
Gin Wijaya tentu saja mendengarnya, sedikit tersenyum, itu datang dari kamar sebelah, sepertinya paman tertua, dan bibi tertua, membuat suara tempat tidur bergetar.
Baguslah, ternyata paman itu langsung mengujinya. Doakan saja semua berjalan lancar!
Laras memperhatikan senyum celaka di wajah Gin Wijaya dengan waspada, itu sangat jahat: “Kenapa kamu tersenyum seperti itu?”
“Hei.. Aku sebenarnya sedang malas berbicara denganmu. Suara itu seharusnya hanya paman, dan bibi yang sedang bekerja keras.”
Mendengar kata-kata Gin Wijaya itu, tentu Laras bukan orang bodoh, dan bereaksi dengan suara rendah: “Pembohong! Pergi mati!”
Setelah berkata, Laras segera mengubur kepalanya, tidak dia sangka paman dan bibi akan memulai...
Mereka sebenarnya juga tahu, jika keduanya telah mendambakan anak-anak selama bertahun-tahun, hingga membuatnya cemas, seperti halnya sekarang.
Hal yang terburuk adalah ada pria di sini. OMG... di kamarnya.
Hal-hal dipikiran mulai berantakan, berguling kesana kemari selama lebih setengah jam, dan sulit sekali untuk tidur.
Sungguh berbahaya, jika Gin Wijaya menjadi penyerang! Hei... Tidak dapat dipungkiri jika aku terlihat cantik, oke!
Tiba-tiba terdengar suara berat, dengkuran rendah!
Hei...
Hal itu mengganggu pikiran Laras.
Melihat bahwa Gin Wijaya sudah tertidur di sana, mungkin karena posisinya yang tidak benar, sudut mulutnya meneteskan air liur.
Laras yang melihat ini memiliki garis-garis hitam di wajahnya, dan menghela nafas lega. Semua kekhawatirannya tidak perlu,tetapi entah mengapa merasa bahwa dia telah dihina secara mendalam, ada rasa kehilangan sesaat, saat mengetahui semuanya aman-aman saja.
******
Keesokan paginya.
Laras bangun, meregangkan tubuhnya, dan melihat ke dalam ruangan, tidak ada orang lain di ruangan ini kecuali dirinya sendiri. Selimut sudah terlipat di atas meja.
Bang! Bang!
Ketukan pintu terdengar, pintu tersebut di dorong terbuka.
Ibu Laras mengulurkan kepalanya ke dalam, dia mengerutkan kening, dan menatap putrinya yang masih terbaring di tempat tidur: “Hei...Orang muda harus selalu ingat untuk menahan diri selama melempar di malam hari. Beristirahatlah dengan baik!”
Mata Ibu Laras memiliki tatapan bahagia, saat menegur putrinya.
“Bu, apa yang sedang kamu bicarakan, itu bukan kami, itu sebelah tadi malam...” Laras tahu bahwa ibunya telah salah paham.
Bagaimana mungkin Ibu Laras mempercayainya, tidak perlu mendengar penjelasan Laras, dan langsung menutup pintu kamar, tanpa meninggalkan sepatah katapun pada akhirnya.
“Oh... Tidak... Ini jelas masalah... Bu.. tunggu... Biar aku jelaskan...” Kata Laras dengan ekspresi tertekan.
Membuka pintu kembali, dan Ibu Laras berkata: “Nak Gin, adalah pria yang baik, dia bangun pagi-pagi untuk memasak sarapan di lantai bawah. Dan kamu segera bangun, gadis sebesar itu masih terbaring di tempat tidur sepagi ini. Cepat bangun!”
Setelah itu Ibu Laras berbalik pergi setelah menutup pintu.
Laras merasa kesal, menggaruk rambutnya hingga menjadi acak-acakan, mengambil bantal, dan membantingnya, memukulinya, seolah-olah itu penampilan Gin Wijaya yang sialan, murahan, terimalah ratusan pululan berat ini.
Lima belas menit kemudian, Laras yang telah selesai mencuci dirinya sendiri turun ke bawah, dan segera mencium aroma yang menggugah selera. Lihat saja Nindy yang sedang duduk itu, memakan dengan panik hidangan di atas meja. Sialan...