
Bergegas ke luar kotak, Gin Wijaya mendengar suara langkah kaki datang dari kejauhan, semakin jelas. Saat berjalan Gin Wijaya merasa kesal: “Cepat datang, selesaikan dengan cepat. Lalu aku bisa membawa orang itu pergi dari sini.”
Di hadapan, melihat dua orang berjas kulit hitam yang berjarak sekitar sepuluh meter atau sebelas meter. Menatap kedua orang itu dengan tatapan malas.
“Ayo datang, dan selesaikan dengan cepat.”
Saat berikutnya, Gin Wijaya bereaksi cepat pindah ke samping, bersembunyi.
Piu...piu... piu...
Ada beberapa lubang yang ditinggalkan oleh peluru, di tempat dia berdiri.
“Tsk.. Tsk... Kalian tampil dengan baik ketika membawa pistol dengan peredam di moncongnya. Mari kita akhir...” Sudut mulut Gin Wijaya sedikit terangkat.
Jaket hitam, dengan kaca mata, pistol di tangannya, dan peredam di bagian moncong pistol. Tindakkan mereka tidak dapat mempengaruhi Gin Wijaya, namun berjalan dengan hati-hati layaknya seorang profesional.
“Gin Wijaya. Aku tidak menyangka kamu ada di sini, dan membuat masalah. Sebelumnya kamu pernah mengganggu bisnis kami.” Pria berkaca mata mengarahkan pistol ke titik buta tempat Gin Wijaya bersembunyi.
“Heh... Bagaimana kamu mengenalku, dan bisnis apa yang kamu lakukan?”Balas Gin Wijaya, karena penasaran, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?
“Hei... Sebenarnya, ini pertama kalinya kita bertemu. Tetapi kamu telah membuat rekan-rekanku masuk penjara. Dan aku mulai menyelidiki siapa yang berani membuat masalah dengan bisnis kami, ternyata orang itu adalah Gin Wijaya. Sekarang, keluarlah dari persembunyianmu. Biarkan kamu mati.” Pria berkaca mata berkata dengan marah.
Gin Wijaya mulai memilah-milah pikiran, sambil memakai sarung tangan di kedua tangannya, dan tiba-tiba berkata dengan nada mengejek: “Apakah rekan-rekanmu pembajak keluarga Bazooxa? Sungguh kebetulan sekali, hal ini akan menjadi menarik.”
“Menarik! Apa maksudmu? Sialan.” Pria berkaca mata bingung dengan maksud kata-kata dari Gin Wijaya.
Namun Gin Wijaya tidak menanggapi.
Pria jaket hitam lainnya mempercepat langkahnya, karena tidak mendengar suara Gin Wijaya lagi, dan bergerak menuju sudut selangkah demi selangkah.
Jari-jari pada pelatuk bersiap untuk mengerahkan kekuatan.
Ketika objek muncul di hadapan mereka, dan mereka akan segera membunuh dengan pistol di tangan.
Saat ini hanya suara tetesan hujan yang datang dari luar, dan tidak ada suara lain di tempat.
Pria jaket hitam hanya berjarak dua setengah meter dari titik buta saat ini. Dapat dikatakan bahwa selama dia membuat langkah besar ke depan, dia dapat melihat Gin Wijaya, di belakang titik buta!
Pria berkaca mata memberi isyarat dengan matanya ke pria jaket hitam untuk maju, dan dia akan berdiri.
Pria jaket hitam itu mengangguk, dan melompat keluar, mengarahkan pistolnya ke sudut yang mati.
Saat ingin menembak\, tubuhnya berhenti\, ekspresi wajah*****. Pria berkaca mata yang agak jauh tidak bisa tidak bertanya: “Ada apa?”
Pria jaket hitam meletakan pistolnya, menunjuk ke titik buta yang berukuran hampir empat setengah meter persegi, dan berkata: “Hei... dia sudah pergi!”
“Aneh, sebelumnya aku melihat orang itu melompat ke sini? Kemana dia pergi, jelas jalan buntu.”
“Apa mungkin ada jalan rahasia?”
“Apa dia menghilang?” Suara yang terdengar akrab datang dari belakang.
Kedua pria tercengang mendengar suara itu, dan bergegas berbalik dengan pistol di tangan.
Bang!
Bang!
Kedua orang langsung tersungkur sebelum dapat menembakkan peluru, dan tidak sadarkan diri. Wajah kedua orang rusak, tulang retak, dan berdarah. Tidak puas dengan itu, kedua leher orang itu dipelintir putaran penuh.
“Hei... Anda akan menghilang! Di mulai dari sekarang.”
Gin Wijaya menyeret kedua orang pergi, dari tempat. Untuk melakukan pembersihan! Amankan juga rekaman kamera pengawas.
Setelah berpikir sejenak, kedua mayat itu diletakan pada kotak yang kosong. Aku ingin tahu respon orang-orang di belakang mereka.
Ketika kembali, Gin Wijaya melihat orang yang tak terduga, dan segera bersembunyi, mengintip.
Orang itu Johan\, berlari membawa Wanita***** dipelukkannya dengan ekspresi khawatir di wajahnya. Sedangkan wajah wanita***** itu tidak jelas\, karena tertutupi rambut yang kusut. Mudah ditebak\, Gin Wijaya masih ingat dengan jelas pakaian yang dikenakan Shinta.
Yang luar biasa, Johan membawanya berlari di tengah hujan, mungkin orang yang melihatnya akan berpendapat.... Tidak lepas dari kata ‘Romantis’.
Setelah melihat mereka menghilang dari pandangan, Gin Wijaya juga kembali ke dalam mobil, dan mendesah:
“Johan adalah putra takdir, aku merasa kasihan dengan hidupmu Shinta! Tetapi bagaimanapun Johan terlihat seperti pria yang baik. Namun bagaimana dia akan menangani injeksi narkotika pada Shinta. Lupakan saja, bagaimanapun dia putra takdir, pasti memiliki sedikit trik. Hei.. tidak seperti biasanya aku peduli dengan hal-hal sepele.”
Menyalakan mobil.
Brumm... Brumm... Meraung!
Mobil sport silver melesat di tengah hujan yang deras, melihat sesaat kedua orang itu telah naik taxi. Mengabaikan, mempercepat untuk mendahului, tanpa melihat kaca spion.
******
Kembali ke apartemen, pergi ke kamar mandi. Namun ketika berjalan menuju kamar mandi pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, orang itu Meimei. Hanya saja kenapa berjalan terhuyung-huyung.
Gin Wijaya segera bergegas membantu, dan curiga: “Apa kamu baik-baik saja?... Sialan, kamu ternyata demam.”
Memegangnya menuju ke kamarnya Meimei.
“Aku haus... dan merasa sangat tidak nyaman... Aku juga merasa tidak nyaman di dadaku...”
Suara bisikan Meimei datang dari telinganya.
Gin Wijaya meletakan Meimei di atas tempat tidur.
Kemudian memeriksa dirinya yang masih basah kuyup, bahkan membasahi piyama Meimei. Astaga semua menjadi rumit.
Menyentuh dahi Meimei, dan perasaan yang bahkan lebih panas menyebar ke telapak tangan Gin Wijaya.
Kira-kira 40 derajat lebih.
“Sialan, aku harus segera menangani.”
Ambil obat yang dibutuhkan sekarang. Pergi ke kotak obat!
Gin Wijaya membuka lemari, dan segera meraih banyak obat.
Dengan cepat memilah-milah, ada beberapa obat, dan jarum suntik, yang bisa dikatakan sebagai kotak P3K khusus.
Gin Wijaya tidak berpikir terlalu banyak, dan mulai mencari ke dalam.
Segera Gin Wijaya menemukan obat yang dia butuhkan\, sebuah botol****\, lalu menyedot ramuan itu dengan jarum\, dan pergi ke sisi Meimei.
Melihat penampilan Meimei\, membuat Gin Wijaya sedikit mendesah\, pertama meletakkan jarum di sebelahnya\, duduk di tepi tempat tidaur\, dan *****.
“Rasanya tidak nyaman... dadaku terasa sesak sekali.”
“Baiklah aku mengerti.” Gin Wijaya segera melepaskan.
Gin Wijaya dengan lembut membuka piayama gadis bau yang basah. Piayama ini terlihat bagus\, Hei... warna\, dan bahan sama dengan miliknya\, dan bagian dalam kenapa harus memakai yang ketat. Gadis bau ini ternyata bodoh\, memakai **** yang ketat. Kenapa tidak beli yang sedikit longgar\, bukan hal memalukan\, apa yang salah jika terlihat besar. Setelah di lepaskan\, hilanglah tekanan tersebut.
Melihat tubuh halus Meimei, dan hanya menelan.
Pada saat ini\, Meimei dengan mata terpejam tidak memiliki apa-apa selain sepotong pakaian *****.
Kulit halus**** berada di depan Gin Wijaya\, dan perutnya yang rata tidak terhalang.
Menepuk wajahnya sendiri agar tersadar, bukan waktu untuk memikirkannya.
Gin Wijaya meletakan selimut pada tubuh Meimei\, lalu meraih jarum yang sudah terisi obat**** \, dan bergegas untuk menyuntikkan.
Menghela nafas lega, setelah mengeluarkan jarum suntik kosong, dan menyisihkannya.
“Hei... Apakah aku perlu melakukan dengan cara itu, agar dia cepat sembuh.” Gin Wijaya tiba-tiba memikirkan trik itu.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya membuat keputusan untuk melakukannya. Telapak tangan kanan Gin Wijaya menyentuh dahi Meimei.
Sebuah aura misterius keemasan di telapak tangan, secara perlahan meresap ke kulit dahi Meimei.