The Richman And Powerful

The Richman And Powerful
Episode 19



“Brother Shaw. Orang inilah yang telah memukuli. Dia kuat, sehingga kami hanya dapat menemukanmu, untuk memberinya pelajaran yang berarti.” Pria hip-hop itu sangat menghormati pria tank top.


Dari perilaku itu, menunjukkan bahwa identitas pria tank top yang dipanggil ‘Brother Shaw’ pasti luar biasa.


“Brother Shaw... kamu, kenapa datang ke sini.”


Pada saat yang ****\, Bos gemuk tua berkumis\, berlari keluar dari dapur\, melihat pria tank top itu dengan panik\, hingga*****.


“Hei\, kenapa kamu berkata seperti itu\, saat menyambut tamu\, seolah-olah kamu enggan dengan kedatanganku.” Mendengus\, dan mengatakan tujuannya: “Aku dengar bahwa terakhir kali dogleg-ku datang kepadamu untuk mengambil uang\, dan berakhir dipukuli. Jadi kamu masih mengatakan kenapa datang ke sini...  Sudah jelaskan!” Meskipun Brother Shaw itu berbicara\, matanya yang tajam masih tertuju pada Johan\, penuh keinginan bertarung****.


Jelas kedatangan mereka untuk masalah*****.


“Bos, mundurlah.” Johan berdiri dari tempat duduk, saat melihat orang-orang itu menganggunya.


“Johan, jangan impulsif, tangan kananmu masih terluka.” Shinta menatap tangan yang di balut kain kasa pada Johan dengan cemas.


Bos gemuk tua berkumis yang berdiri di samping tidak bisa tidak berkata membujuk: “Anak muda, pria ini bukan orang biasa, dia dulu adalah seorang militan veteran, yang ahli dalam seni beladiri membunuh, dan dia juga pernah membunuh orang dengan hanya satu pukulan. Dikatakan bahwa dia pensiun karena telah memprovokasi orang yang seharusnya tidak boleh diprovokasi.”


Johan tersenyum, melihat ke atas, dan ke bawah Brother Shaw di depanya. Sudut mulut melengkung, dan berkata: “Aku benar-benar penasaran dengan satu pukulan itu.”


Yoohoo...


Keheningan datang tak di undang pulang tak di antar, begitu tiba-tiba.


Dogleg yang berdiri di belakang Brother Shaw itu memandang Johan, dan membayangkan seperti apa mayatnya nanti. Karena pria yang ditinju sampai mati oleh Brother Shaw itu, penasaran untuk memcoba satu pukulannya.


“Anak muda, menjadi impulsif itu tidak baik. Tsk...Tsk..., kamu seharusnya bersyukur bahwa kamu bertemu denganku sekarang, bukan aku yang berdiri di medan perang beberapa tahun yang lalu. Jika tidak, kamu akan jatuh ke tanah yang berlumpur.” Brother Shaw itu berjalan menuju ke Johan.


Johan tidak peduli, tangan kirinya menunjuk ke tangan kanannya yang diikat dengan kain kasa putih, dan berkata:


“Kamu harus bersyukur bahwa tangan kananku terluka sekarang. Jika tidak, aku akan meninjumu dengan satu kepalan, hingga membuatmu pulang menangisi ibumu.”


Yoohoo\, Provokasi ******


Saat berbicara*****\, Johan juga memberi isyarat dengan matanya ke Bos gemuk tua berkumis untuk membawa Shinta ke dapur belakang*****.


“Sebaiknya kita tidak berkelahi di sini\, ikuti aku\, dan jangan mengacaukan tempat ini.” Dengan itu\, Johan berjalan menuju gang gelap tidak jauh dari restoran mie rebus*****.


“Brother Shaw, instruksi anda.” Kata Pria yang kepalanya dibalut perban.


Brother Shaw mencibir, dan menindaklanjuti: “Pergilah, orang itu sudah mengatakan, bagaimana kita bisa berdiam diri. Pergi....”


Sekelompok punk mengikuti Johan ke sebuah gang gelap. Sebenarnya ada penerangan dari bulan!


Melihat kepergian mereka, Gin Wijaya sudah selesai makan berdiri menemui Bos gemuk tua berkumis.


“Bos\, aku sudah selesai. Ini uangnya.” Merogoh saku celana mengeluarkan lembaran uang****.


Bos gemuk tua berkumis tertegun sejenak\, dia hampir melupakan bahwa masih ada pelanggan ini\, yang memesan dua mangkuk mie rebus*****. Ternyata dia tidak lari ketakutan setelah melihat kedatangan para*****. Dapat dilihat dari wajahnya masih tenang\, dan acuh tak acuh. Hei... anak muda ini terlalu tenang.


Jelas bukan orang biasa. Sebagai orang yang sudah berumur ****\, telah memiliki banyak pengalaman dalam menilai*****.


“Oke\, nak terima kasih banyak\, jangan lupa bantu untuk promosikan kepada teman-teman anda\, hehehe...\, dan sebaiknya anda segera pergi. Sebelum para****\, kembali lagi.” Kata Bos gemuk tua berkumis\, masih tetap mengingatkan.


“Tidak masalah... Terima kasih telah mengingatkan. Kalau begitu sampai jumpa lagi!” Kata Gin Wijaya segera berbalik keluar dari restoran mie rebus*****\, Pulang saja.


Shinta... oh... Shinta sudah punya pria itu, dan dia sedang menelepon polisi di dapur belakang. Lupakan!


Sedangkan untuk perkelahian antara Johan\, dan kelompok*****\, lupakan saja.


Tidak perlu menolong, mungkin Johan akan baik-baik saja. Lagi pula dia menampilkan ekspresi percaya diri penuh. Jika tidak beruntung orang itu akan dipilih menjadi putra takdir. Hei kehidupan putra takdir tidaklah mudah.


Banyak masalah akan selalu tertuju pada putra takdir, semua yang dekat dengannya akan terbawa arus. Alangkah baiknya menjauh dari putra takdir jika hanya orang biasa. Dan hanya dengan mangatasi masalah-masalah yang datang itu, putra takdir akan tumbuh menjadi kuat.


*Katakan saja bahwa putra takdir membutuhkan batu loncatan untuk menjadi kuat, kenapa harus berkata banyak omong kosong.


Lalu bagaimana dengan Shinta... doakan saja di akan baik-baik saja, rutinitas!


Hal-hal yang mereka lakukan hanya hal sepele di mata Gin Wijaya\, di tempat ini yang paling di minati adalah mie rebus****** sialan benar-benar enak. Lain kali lakukan takeaway. Jangan lupa simpan nomor kontak yang tertera pada tembok restoran\, selesai. Pergi.... pergi... kembali ke kamar. Sudah malam!


*********


"Anak muda. Kamu sangat sombong!" Brother Shaw mencibir\, dan merasa ****: "Dan di depan mataku\, orang yang sombong tidak berakhir dengan baik."


Johan mengangkat bahu, dan berkata: “Hei... kata-katamu lebih sombong dari pada kata-kataku. Well, kamu bisa bertanya pada dogleg itu. Ketika dia pertama kali bertemu denganku, dia mengatakan itu. Tetapi pada akhirnya, itu hanya mungkin.” Terkekeh...


Tangan kiri menujuk ke pria yang kepalanya dibalut kain kasa saat berkata kalimat itu.


“Ehm... Benar.. . Aku hampir melupakan hal yang penting, sebaiknya kamu membuat janji awal ke rumah sakit untuk mengatur nomornya...”


“Anak muda, jangan bangga. Kamu akan selesai hari ini juga, tidak ada yang bisa selamat, di bawah tangan Brother Shaw.” Pria yang kepalanya dibalut kain kasa, menyemprot ke mana-mana saat berteriak kepada Johan.


“Ayolah, sebaiknya di percepat, lagi pula ini belum terlalu dini sekarang. Aku masih harus bergegas pulang. Kucing kecilku di rumah masih menunggu untuk makan.” Kata Johan melirik orang-orang itu dengan samar.


“Hmph... Ayo kita mulai.” Kata Brother Shaw itu mendengus dingin, dan melambaikan tangan untuk memerintahkan para dogleg-nya, bergegas.


Kecuali orang yang sebelumnya telah dilukai parah, yang lainnya bergegas menyerang Johan.


Meski tangan kanan terluka, dirinya masih memiliki dua kaki, dan tangan kiri yang bisa digunakan.


Johan berusaha keras menghindari setiap serangan lawan, dan berusaha mencuri peluang untuk melancar tendangan.


Bang!


“Arghhh”


Salah satu punk kecil terkena tendangan pada kepada belakang, dan tergeletak, darah mengalir dari kepala, karena saat terjatuh membentur batu seukuran kepalan tangan. Kemudian berguling-guling kesakitan.


Serangan yang dilancarkan Johan sangat cepat, sehingga membuat beberapa orang tercengang. Setelah menghindari serangan, Johan selalu melancarkan serang balik ke bagian vital lawannya.


Bang! Ding! Bang! Bang!.....


Sebagian penghuni di kompleks masih tertidur, meski terlelap pun sebagian besar tidak berani keluar, dan beberapa hanya mengintip perkelahian dari dalam rumah.


“Di mana semangat kalian\, cepat bangun\, kita mulai dapat mulai lagi.” Kata Johan yang sedikit senyum\, menyilangkan tangan\, saat melihat para **** berguling-guling kesakitan.


“Sialan, kalian tidak berguna, beri padaku.” Brother Shaw dengan suara dalam, akhirnya melangkah ke depan.


“Akhirnya, bosnya turun tangan.” Kata Johan dengan nada datar.


Brother Shaw mengangkat alisnya, mulutnya terangkat dengan senyum menghina, dan langkahnya mulai bertambah cepat. “Hari ini, aku akan memberi pelajaran kepada anak muda sombong seperti dirimu, aku juga ingin melihat bagaimana kamu akan mengalahkanku.”


Dengan mengatakan itu, mempercepat langkah, dan kepalan tangan Brother Shaw membanting ke arah wajah Johan.


Menghadapi serangan itu\, Johan tidak berdiri diam saja\, memiliki sedikit busur\, dan tangannya kiri menyerang seperti pedang*****.


Slash!


Pada saat ini\, Brother Shaw tiba-tiba berhenti\, dan kedua matanya menatap seperti ikan****\, dia menundukkan kepala sedikit\, dan melihat **** dengan perasaan ngeri.


“Bagaimana bisa telapak tanganmu...”


Sebelum kata-katanya selesai\, Brother Shaw***** itu jatuh ke tanah.


Johan menarik nafas dalam-dalam, melihat tangan kirinya, dengan cepat mengguncangnya, darah memercik ke tanah: “Sebaiknya aku segera menghentikan pendarahan orang ini, atau nanti akan mati kehabisan darah.”


Berjongkok, dan mengeluarkan jarum perak. Lakukan akupuntur, dalam waktu singkat.


Dan kemudian menatap beberapa orang yang tersisa dengan senyum*****. Selesaikan hari lalu pulang!