
Pukul 09:02 pm.
Merasa bosan berada di kamar 606\, dan Meimei sudah tidur beranjak tidur terlebih dahulu. Gin Wijaya yang tidak bisa tidur keluar dari apartemen untuk pergi berjalan-jalan disekitar kompleks\, dengan sebatang rokok di tangan. Hal-hal di sekolah sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan. sedangkan untuk Sarah... dia aman sekarang ini. Ada juga pengawal lainnya yang bertugas selama dua puluh empat jam di sekitar kompleks ini\, mereka berbaur dengan hiruk-pikuk malam\, ata di tempat-tempat***** sekarang ini.
Sungguh kebetulan saat melewati!
Sebuah tempat yang agak terpencil dekat dengan gang\, dan tidak ramai\, berhasil menarik minat Gin Wijaya. Memikirkannya saja\, membuat gila perut. Meski sebelumnya makan malam dengan Meimei\, pesan takeaway****\, pada kenyataannya masih terasa kurang.
Kapasitas perut Gin Wijaya seperti bebas dari pengaturan.Aroma mie rebus benar-benar menggugah selera. Pergi... pergi... Jangan terlalu banyak berpikir, nanti keburu tutup.
Restoran Mie Rebus*****.
Perut yang gila menjerit, hingga suaranya dapat terdengar hingga beberapa meter jauhnya. Meski memalukan lupakan saja, mungkin orang yang mendengar hanya ingin tertawa. Pasang wajah tombok tebal, abaikan-abaikan... harus pergi...
Setelah memasuki Restoran Mie Rebus*****\, Bos gemuk tua berkumis yang sedang mengemasi barang\, dan kebetulan melihat kedatangan Gin Wijaya\, mata sedikit terkejut:
"Nak, datang ke sini larut malam, apakah datang untuk makan mie rebus?"
"Betul sekali Bos tua, bawakan aku semangkuk mie rebus... tidak... tidak... coba dua sekaligus, rasanya aku akan mati kelaparan."
“Hahahaha... Oke,Nak... Harap tunggu, aku akan bergegas.”
Sudah tidak ada pelanggan lagi di restorang mie rebus*****\, dan Gin Wijaya bergegas menemukan tempat di sudut\, dan duduk\, lalu sibuk dengan smartphone.
Waktu berlalu...
Step... Step... Step...
Suara langkah kaki bisa terdengar beberapa meter jauhnya di malam yang agak sepi, pandangan Gin Wijaya teralihkan dari smartphone ke arah suara langkah kaki. Mata menyala saat melihat orang itu, namun ketika melihat pria di sampingnya, mata langsung menyipit. Orang itu Mrs. Shinta, dan sosok pria yang tangan kanannya dibalut kain kasa, sepertinya terluka.
“Lihat itu belum tutup. Johan\, ayo kita makan semangkuk mie rebus...” Shinta terkekeh\, dan menutupi mulutnya yang *****.
“Oke, aku belum makan selama sehari. Aku merasa akan mati jika tidak segera makan.” Johan mengangguk.
Mendengar kata-kata itu\, Gin Wijaya yang telah pindah tempat duduk\, untuk membelakangi mereka\, tidak bisa tidak berkata dalam hatinya: ‘Hei... Mati saja sana\, tidak perlu makan. Sialan **** rutinitas.’
“Bos dua mangkuk mie rebus*****.” Kata Shinta dengan suara lembut.
“Siap, kalian berdua silahkan duduk, dan harap tunggu dengan sabar.”
Kemudian keduanya pergi menemukan tempat dan duduk. Shinta melihat sekilas sosok yang duduk di sudut*****\, dan hanya melihat punggungnya\, lalu abaikan.
Bos gemuk tua berkumis\, dengan cepat mengirim dua mangkuk mie rebus**** menaruhnya di atas meja tempat Gin Wijaya berada\, tetapi ketika Gin Wijaya mengamati Bos Gemuk tua berkumis ini yang bertingkah aneh\, dia akan melihat keluar dari waktu ke waktu. Hal aneh ini telah di amati ketika pertama kalinya Gin Wijaya menemukan tempat untuk duduk.
Shinta\, dan Johan tampaknya belum menyadari hal ini\, karena baru saja datang. Namun\, mereka memiliki topik**** berbisik-bisik saat melihat dua mangkuk mie rebus ***** di kirim ke satu orang.
Shinta berbisik di telinga Johan: “Sepertinya orang itu\, sudah setengah mati\, jadi pesan dua mangkuk mie rebus****. “ Terkekeh...
“Aku juga tidak menyangka akan ada orang yang situasinya lebih buruk dari aku. Mungkin orang itu tidak makan dari kemarin.” Balas bisik Johan ke telinga Shinta, mengutarakan dugaannya.
Meskipun mereka berbisik-bisik dengan suara yang sangat rendah, telinga Gin Wijaya sangat peka, terdengar jelas di telinganya. Kata-kata mereka membuat wajah Gin Wijaya menjadi gelap, marah, mengepalkan tangan. Rasanya ingin melemparkan meja ke arah mereka! Oke, jangan implusif. Akhirnya mata Gin Wijaya menyala, dan menenangkan diri. Kemudian senyum yang tidak membahayakan hewan dan manusia, terbentuk di sudut mulutnya.
Meraih sumpit, lalu makan perlahan!
Tak lama kemudian di sisi Shinta, dan Johan juga mendapatkan bagiannya.
Tangan Johan mengalami kesulitan saat ingin mengambil sumpit, hal ini karena tangan kanannya dibalut kain kasa, dia mencoba memegang sumpit dengan tangan kirinya, namun dengan sumpit di tangan kirinya, dia tidak bisa memegangnya sama sekali, hei... bagaimana cara menghadapinya?
Tidak menyerah begitu saja, melakukannya untuk waktu yang lama, pada akhirnya Johan hanya bisa menonton tanpa bisa menikmatinya. Mendesah, menangis tanpa air mata.
“Astaga, biar aku membantumu.” Kata Shinta dengan nada perhatian, tersenyum, dan mengambil alih sumpit Johan, mengambil mie di mangkuk Johan, dan menyerahkannya ke mulut Johan.
Sementera itu\, Gin Wijaya sibuk makan mie rebus*****\, masih mendengar obrolan mereka\, dan tangan kiri memegang smartphone. Kamera depan pada smartphone dinyalakan untuk menyaksikan tingkahlaku mereka\, secara sembunyi-sembunyi\, tanpa repot berbalik. Astaga\, rasanya****saat melihat **** romantis ****.
Demi mencegah dirinya sendiri terbawa suasana\, yang****\, Gin Wijaya segera mengisi mulutnya dengan penuh mie rebus. Luar biasa merasa lebih baik. Gin Wijaya berusaha keras untuk menstabilkan emosi. Sialan ini*****
Johan membuka mulutnya lebar-lebar, mengunyah mie perlahan di mulutnya.
Di sisi lain, melihat tidakkan yang di sengaja itu. Seolah-olah gunung akan meletus.
Tentu saja Shinta tidak mengetahui hal-hal***** di sisi lain\, terus memberi makan mie kepada Johan.
Melihat penampilan Shinta yang *****\, Johan tidak membantu\, tetapi menatap kosong. Perasaan ini sangat baik.
“Bagaimana jika aku menjadi tua, maukah kamu menyuapiku mie rebus seperti ini?” Kata tiba-tiba Johan membuat wajah Shinta memerah seperti apel.
Mengambil sejumlah besar mie rebus, dan menjejali mulut Johan
“Mulutmu yang*****\, tidak bisakah kamu menghentikan mulutmu bicara saat kamu makan.”
Plak!
“Ah... Sialan*****\, smartphone kesayanganku jatuh ke lantai.”
Suara itu membuat suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Gin Wijaya sudah mencapai batas **** dan melakukan**** dengan sengaja. Senyum yang tidak membahayakan hewan\, dan manusia\, terbentuk di sudut mulutnya.
Setelah itu kedua orang berperilaku baik, Johan tidak berani menganiaya Shinta, dan terus menikmati perlakuannya.
Shinta yang sedang memberi makan mie rebus, tidak lagi berani untuk menatap Johan.
Pada saat ini....
Puk... puk.. Puk...
“Wow... Lihat kawan\, perilaku pasangan muda ini sangat romatis seperti dalam drama****. Suara tepuk tangan datang\, disertai dengan kata-kata*****\, dengan keras dari jauh.
Dapat dilihat ada lima belas orang\, anak punk atau disebut**** berjalan dari kejauhan dengan tongkat kayu\, pipa besi\, rantai\, dan gear belakang lokomotif (Sepeda motor) yang di ikat dengan rantai\, di tangan.
Orang yang berbicara sebelumnya, kepalanya dibalut dengan kain kasa.
“Kamu lagi! Apa yang ingin kamu lakukan?” Johan menyipitkan mata pada orang itu.
“Bagus... Bagus... Jadi kamu yang berhasil mengalahkan enam dogleg-ku ini.” Orang di sebelahnya mengenakan tank top bertubuh kekar, penuh otot, dan bertato kelinci imut di bahu kirinya. Menunjuk ke lima orang yang terluka. Kemudian memandangi Johan dengan jijik, dan penuh penghinaan yang mendalam.
“Menarik!” Gumam Gin Wijaya dengan suara yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
Melihat hal ini mata Gin Wijaya menyala\, menarik sudut mulutnya yang tidak membahayakan hewan\, dan manusia. Namun hanya sesaat\, segera menenangkan diri. Melihat lagi mangkuk mie rebus***** di hadapannya yang belum selesai\, kemudian melanjutkan makan lagi.