The Richman And Powerful

The Richman And Powerful
Episode 3: Selamat Datang!



Terlihat jelas bomb yang meledak di Restoran bukan bomb biasa. Setelah ledakan bomb, api langsung membakar keseluruhan Restoran dengan cepat, seolah-olah api yang bertemu dengan bensin.


Diperkirakan banyak orang yang berada di dalam Restoran terbakar oleh nyala api. Harapan hidup nol, jika masih ada yang hidup berarti keajaiban. Yang selamat segera menjauh lokasi kebakaran dengan panik


Sirine! Wiu! Wiu!


Tak lama kemudian konvoi Pemadam kebakaran, ambulan, dan Kepolisian datang. Untuk menangani masalah, mereka bertindak secara profesional dan terlatih.


Berita menyebar dengan cepat karena adanya media internet. Banyak orang mulai membuat opini-opini di forum, di grup dan sebagainya, berkaitan dengan serangan ******* di pantai. Banyak yang mengutuk pelakunya, dan ada yang meragukan pihak keamanan pantai.


Keluarga korban juga bergegas datang ke kantor kepolisian, untuk mendapat kabar maupun penjelasan.


Peristiwa ledakan Bomb menjadi berita utama di media televisi, maupun media-media lainnya. Menjadi topik hangat, hingga mancanegara.


Benar atau tidaknya, insiden serangan *******, masih menunggu penyelidikan pihak berwajib. Penanganan, juga tidaklah mudah.


Karena peristiwa itu, kawasan pantai disegel. Di tutup, sampai pemberitahuan lebih lanjut.


Wisatawan dibubarkan, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai jutaan...


Peristiwa itu telah dilupakan Gin Wijaya, dan melakukan perjalanan pulang bersama Meimei dengan mengendarai mobil sport silver. Berlama-lama di lokasi hanya akan menarik perhatian reporter untuk wawancara atau sebagai saksi.


Meimei, si gadis bau tampaknya mengalami trauma setelah insiden tersebut, dan perlu membutuhkan ketenangan pikiran. Dalam perjalanan, Gin Wijaya berusaha untuk menghibur, agar jangan memikirkan peristiwa tersebut. Waktu berlalu tak terasa, akhirnya tiba di rumah.


Mobil melaju ke garasi, berhenti, dan buka pintu mobil, lalu Gin Wijaya menoleh untuk bertanya: "Apakah kamu mau minum sesuatu yang segar?"


"Tidak. " Meimei melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil sport silver. Berjalan beberapa langkah sebelum berhenti, lalu berbalik mengulurkan tangan kanan dengan tidak sopan.


"Berikan kunci rumahmu? "( ̄へ ̄)


∑( ̄□ ̄;)


Ada kejutan saat melihat tampilan wajah Meimei jauh lebih baik, Gin Wijaya tentu merasa leg lega. Mengambil kunci rumah dari saku dan berikan padanya.


Meimei menerima, berbalik, dan berjalan menuju rumah. Melihat punggung dan perilaku Meimei, Gin Wijaya hanya mengangkat bahu.


╮(╯▽╰)╭


Getar! Ting! Ting! Getar! Ting! Ting!


Meraih smartphone, Gin Wijaya melihat ke layar dan tekan jawab dengan ibu jari.


"Halo ... apa? Kamu berhasil menangkap seorang mata-mata? Jadi orang itu tidak mau menjawab pertanyaan saat diinterogasi, meskipun telah kamu pukuli ... well, biarkan aku pergi, jangan biarkan orang itu melarikan diri atau diselamatkan ... "


Menutup panggilan, melepas sabuk pengaman, dan keluar dari mobil sport silver untuk mengeluarkan barang bawaan di dalam bagasi. Berjalan menuju rumah dengan barang bawaan di tangan dan pintu mobil silver menutup secara otomatis.


Bip. Bip.


Letakkan barang bawaan di kamar, dia melihat Meimei yang meringkuk di tempat tidur, Gin Wijaya berkata: "Aku akan pergi keluar untuk bertemu teman. Jika kamu ingin makan sesuatu ambil saja di dalam kulkas."


Menunggu sejenak, tetapi tidak ada tanggapan dan rupanya gadis bau ternyata tertidur. Menggelengkan kepala, lalu menulis pesan pada selembar kertas. Bahwa “aku pergi ...” selesai menulis pesan, lalu letakan di meja samping kiri tempat tidur.


Berganti pakaian dengan pakaian santai; kaos putih, celana jeans, dan Sepatu Gaul Ode Polys Black. Lalu pergi dengan mobil sport.


Pukul 11:25 am.


Mobil Sport Silver meluncur saat berbelok, meninggalkan garis ban hitam di belakang saat memasuki tempat parkir sebuah Bar, yang tidak disebutkan namanya,dan sudah terlihat ditutup cukup lama. Berhenti, menyalakan sebatang rokok, kemudian turun dari mobil.


Menghisap dengan keras, lalu hembuskan asap putih keluar dari dua lubang hidung. Berjalan dengan tangan kanan masuk disaku celana, dan sebatang rokok di tangan kiri.


Di bagian belakang bangunan Bar, dua pria kekar memakai pakaian kombinasi kemeja bermotif batik dan jas hitam. Membungkuk sedikit, mereka menyambut dengan ramah, "Selamat datang Mr. Gin, Bos Fatty Bryson sudah menunggu di dalam!”


"Mohon ikuti kami."


Gin Wijaya hanya mengangguk, menjentikkan jelaga pada rokok, berjalan mengikuti di belakang dua dogleg itu.


Menuruni tangga yang agak gelap, tak lama kemudian terlihat nyala lampu. Lampu itu satu-satunya pencahayaan di tempat.


Sosok gemuk memegang tongkat pemukul tampak marah, dan di belakangnya berdiri sepuluh dogleg berwajah suram, hanya beberapa yang orang memiliki garis-garis luka di wajah.


Sosok gemuk bernama Bryson Cow, dan memiliki julukan terkenal “Fatty Bryson”.


Meski Fatty Bryson seorang ketua Geng, tetapi tunduk di bawah perintah Gin Wijaya.


Well, tiga tahun yang lalu, Gin Wijaya membantu proses suksesi, menaklukkan geng-geng lokal, dan gabungkan semua menjadi satu. Fatty Bryson dilantik menjadi ketua Gangster, karena pandai dalam hal managemen. Sedangkan Gin Wijaya karena malas mengelola, dan hanya menjabat sebagai pemegang saham terbesar. Bisnis Gangster seperti halnya perusahaan, beraneka ragam, dan banyak menghasilkan uang.


Sebagai pemegang saham terbesar, Gin Wijaya memiliki hak untuk memberi nama: yakni “Shugeng”, dan masyarakat menyebut Kelompok Shugeng.


Tap! Tap! Tap!


Mendengar langkah kaki mendekat, Fatty Bryson berbalik dan meletakkan tongkat pemukul di atas meja yang penuh peralatan penyiksaan, kemudian bergegas melangkah menyambut tamu penting.


Menyambut dengan sedikit membungkuk, menenangkan diri dari perasaan gugup, dan berjabat tangan.


"Selamat datang, Mr. Gin Wijaya!"


Saat berjabatan tangan, jantung Fatty Bryson terasa “dag ... dig ... dug” sangat gugup karena dirinya bertemu dengan keberadaan legenda.


Dogleg: ??? Σ(⊙▽⊙")


Dogleg yang melihat ekspresi Bos Fatty bertingkah aneh, hanya bisa merasa heran dalam hati yang terdalam, tidak berani berbicara atau menyela.


Siapa sebenarnya orang ini yang dapat membuat Bos bertingkahlaku baik?


Beberapa dogleg tidak mengenal Gin Wijaya, karena mereka anggota baru.


Setelah berjabat tangan dengan Fatty, keluarkan sapu tangan dari saku.


ヘ( ̄▽ ̄*)ノ


Kemudian membersihkan keringat ditelapak tangan, Gin Wijaya melotot sedikit kesal, lalu mengingatkan, "Bryson, di waktu berikutnya saat kamu akan berjabat tangan denganku, hapus dulu keringat di tanganmu itu terlebih dahulu. Apabila kejadian ini terulang lagi, aku akan memukulmu hingga terbang ke langit berbintang."


Σ (゚Д゚;)


"Aaa! Mr. Gin pasti bercanda, maafkan karena kecerobohanku. Aku akan ingat ajaran kali ini untuk seumur hidup. Sebagai permintaan maaf, aku akan mengirimkan gadis-gadis murni sesegera mungkin. Saya harap anda tidak menolak ... " Fatty Bryson panik dan berkata dalam hati: “Syukurlah kali ini hanya mendapat peringatan. Gila, aku tidak ingin mati secepat ini. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan dalam hidup ini. Well, siapa yang menginginkan pukulanmu. Sebelum aku terbang, aku khawatir sudah mati menjadi kabut darah.”


Mendengar kata-kata itu, Gin Wijaya mengangguk lega karena nasehat itu telah di terima.


Tetapi, ketika mendengar kata-kata “mengirimkan gadis-gadis ... “, itu membuat wajah Gin Wijaya menjadi gelap. Ada keinginan untuk memusnahkan gemuk ini sampai tidak ada yang residu.


Hanya saja kamu masih berguna, sangat disayangkan jika dibunuh. Aku terlalu malas mencari seorang pengganti.


Well, siapa yang perlu bantuanmu untuk mengirimkan gadis-gadis Aku bisa mencari sendiri. Kata-katamu menunjukkan ketidakmampuanku. Beraninya meremehkanku.


Lupakan.


"Batuk, humph ... " Berdehem menghilangkan perasaan canggung, Gin Wijaya berkata dengan niat baik: "Lupakan, aku tidak ingin merepotmu untuk mengirim ... "


Sebelum kata-kata berakhir, Fatty menyela: "Sungguh, tidak benar-benar merepotkan. Aku punya banyak chanel ... "


Sebelum kata-kata berakhir, kepalan tangan datang.


Ketukan.


"Aaa! Aduh sakit kepalaku! Mr. Gin, tolong ampuni aku. " Fatty menjerit kesakitan, menangis tanpa air mata, dan kedua tangan segera menutupi tas besar di kepalanya.


(°Д°)


Dogleg: ???


Melihat tas besar di kepala Bos Fatty, rahang para Dogleg jatuh ke bawah.


Itu hanya ketukan ringan, namun dapat menumbuhkan tas besar di kepala. Jadi seberapa kuatnya Mr. Gin ini? Hanya membayangkan saja membuat bulu kudu berdiri, merinding, dan keringat dingin di punggung.


"Ternyata kamu benar-benar ingin mati. Lupakan saja." Mendengus, memilih mengabaikan masalah ini. Pandangan kemudian tertuju ke arah pria paruh baya yang diikat dengan tali di kedua tangan, dan di gantung.


Saat ini. pria paruh baya memiliki wajah menyerupai **** berlumuran darah. Jelas mengalami pemukulan berat terus-menerus.


Gin Wijaya berkata dengan serius: "Bagaimana perkembangannya? Apakah masih belum mengungkapkan informasi yang berguna?"


Fatty segera mengangguk seperti ayam yang sedang mematuk nasi, lalu berkata dengan nada berat. "Ini sangat sulit ... batuk ... batuk ..."


Gin Wijaya: ???


Dogleg: ???


Gin Wijaya mengerutkan kening, dan dia masih dengan sabar menunggu Fatty melanjutkan.


Kenapa di saat penting kamu batuk?


Terlebih lagi, sangat jelas itu batuk yang disengaja.


Melihat banyak orang sedang melihatnya, jelas mereka sedang menunggu penjelasannya.


Setelah ragu sejenak, akhirnya ekspresi menjadi serius, dan jari menunjuk ke arah pria paruh baya itu, lalu berkata dengan lantang tanpa ragu-ragu.


"Sebelum dipukuli, orang ini masih dapat diajak berbicara beberapa kata, namun semenjak dipukuli, tidak lagi menanggapi kata-kataku, dan hanya ada erangan ketika mengalami pemukulan. Jadi dari fakta ini, aku segera menyimpulkan bahwa orang ini masokis!"


Setelah mendengar penjelasan itu, ekspresi para pendengar hampir sekarat.


Gin Wijaya: ???


Menyemprot 10.000 kerusakan kritis.


Dogleg:???


Menyemprot 10.000 kerusakan kritis.


“Oke, ada apa dengan ekspresi kalian? Apakah kalian meragukan pengamatanku?”


Fatty hanya bisa mengangkat bahu, mendesah lelah, dan kata-kata sebelumnya telah menghabiskan banyak tenaga, sekarang dia tidak tahu harus berkata apa lagi.