The Richman And Powerful

The Richman And Powerful
Episode 8: Tolong Jangan Mengecewakanku!



Sementara mobil polisi sibuk memblokir jalanan, dan belum berhasil menemukan petunjuk kelompok pembajak, Gin Wijaya sudah keluar dari kota dengan tenang, lebih sedikit mobil, dan pejalan kaki, dan gedung-gedung tinggi dipinggir jalan, telah berubah menjadi pemandangan perbukitan lahan pertanian buah-buahan.


“Well, semoga keindahan itu baik-baik saja.”


Tak lama kemudian, Gin Wijaya melihat di depannya ada mobil SUV berwarna hitam, dan segera menyesuaikan kecepatan. SUV ini tipe panjang dengan enam tempat duduk, jendela belakang telah diganti kaca khusus, sehingga bahkan jika anda melihat dari dekat anda tidak dapat melihat sama sekali.


“Itu mereka, meski dengan cara rutinitas seperti mengganti mobil satu ke mobil lainnya. Hei... Hei... sulit lepas dari mataku. Bagi para polisi, hal ini sangat membingungkan. Karena kamera pengawas tidak dapat mencakup seluruh distrik, hanya tempat-tempat tertentu yang terdapat kamera pengawas. Jelas mereka telah membuat rencana secara menyeluruh, memanfaatkan titik-titik buta dari pengawasan, dan mengganti mobil untuk lebih mempersulit pencarian.”


Dua puluh menit mengikuti, Gin Wijaya merasa bosan: “Sial membosankan, membuntuti dari belakang! Kenapa tidak melakukan rutinitas menyentuh porselin saja? Hei... Hei... itu terlalu memalukan. Tsk... Tsk... Bagaimana jika tabrak bagian belakang saja.”


Menerapkan ide, Gin Wijaya tidak merasa khawatir dengan mobilnya, karena body mobilnya terbuat dari bahan khusus, lebih kuat dari body Tank. Orang kaya kadang perlu bersenang-senang, dengan hal-hal yang tidak umum.


Bruum! Meraung!  Saat menginjak pedal gas!


Bang!


Berderit!


Bagian depan mobil sport silver menabrak bagian belakang mobil SUV. Mobil di depan sedikit kurang terkendali.


Melihat keadaan mobil SUV bagian belakang begitu***** setelah menerima benturan\, Gin Wijaya merasa senang. Ini di luar harapan. Amazing!


“Hahaha... luar biasa, menyenangkan.” Kegilaan yang sudah lama terpendam, rasanya menyenangkan saat dilampiaskan.


Setelah menerima tabrakan, mobil SUV melambat, dan akhirnya berhenti, begitu juga mobil sport silver.


“Aku sangat menantikan bagaimana mereka memarahiku. Hehehe..” Gumam Gin Wijaya ketika melihat dua orang turun: “Aku juga harus turun.”


Mereka sudah tidak memakai topeng, jelas mereka tahu rutinitas.


Turun dari mobil, hanya mendengar kemarahan, dan kata-kata kasar rutinitas.


“Hai\, kamu... Apa kamu mabuk\, atau tidak punya mata... dasar*****” Kata orang yang telihat dua puluh lima tahun\, Dengan mata melotot marah.”Hei\,..kamu *****\, bagaimana kamu akan menyelesaikan masalah ini?”


“Yo... Sobat, jangan marah-marah, apakah anda tidak khawatir memiliki penyakit Hipertensi terlalu dini, di usia yang begitu muda, jangan terlalu khawatir, oke! Tarik nafas dalam-dalam, dan keluarkan perlahan, tenangkan diri, dan mari kita selesaikan masalah ini dengan ketenangan pikiran. Aku orang yang jujur, dan berintegritas! Aku akan memberi kompensasi yang layak. Segera sebut saja harga!” Kata Gin Wijaya dengan senyum ramah tidak berbahaya terhadap hewan, dan manusia.


Melihat bahwa mobil sport silver tidak mengalami kerusakan sedikitpun, membuat mereka sedikit heran, tetapi segera melupakannya karena mereka sedang terburu-buru. Kedua orang saling  memandang dan membuat keputusan, mencibir: “Kami tidak butuh banyak, hanya 2 juta.”


“Wow... Bandit, nafsu makan kalian benar-benar hebat, aku merasa malu sebagai foodeis. Baiklah, tidak perlu omong kosong, mari selesai dengan cepat masalah ini. Beritahu nomor rekeningmu, aku akan segera transfer.“ Kata Gin Wijaya dengan lugas sambil berjalan mendekat, tangan kiri mengotak-atik smartphone.


Salah satu orang yang memakai kacamata hitam segera menyampaikan nomor rekeningnya:” XXXX-XXXX-XXXX-XX, Apa kamu sudah mengingatnya?”


“Tunggu sebentar, sepertinya aku lupa kata sandinya.” Gin Wijaya mengaruk kepala berusaha berakting sebaik mungkin sebagai orang yang pelupa: “Aku akan mencoba mengingatnya sebentar. Tolong jangan khawatir, aku pasti akan segera mengingatnya. ”


“Nak, apakah kamu sebenarnya hanya ingin mempermainkan kami!” Dengan wajah geram pria paruh baya yang umurnya mungkin tidak lebih dari 40 tahun, memiliki keinginan untuk segera memukul, mematahkan lengan, mematahkan kaki, dan lain sebagainya.


“Sungguh, aku berkata yang sebenarnya, lihat sendiri jika kamu tidak mempercayainya. Aku sudah menulis kata sandi salah tiga kali berturut-turut, dan telah mendapat peringatan dari sistem, akan diblokir untuk sementara waktu jika yang keempat kalinya masih salah memasukkan sandi! Hei... Sialnya diriku, entah kenapa hari ini bisa lupa kata sandinya.”


Kata Gin Wijaya dengan ekspresi dianiaya, dan mengingatkan: “Oke... Jangan menatapku dengan ekspresi seperti itu, apakah kamu tidak melihat bahwa aku merasa ketakutkan, dan tahukah kamu kenapa aku bisa lupa kata sandinya?”


Ketakutan kentutmu!


Dari awal kamu bicara dengan penuh senyum ramah, tidak seperti orang yang ketakutan, dan beraninya kamu menasihati kami.


Dan kamu masih bertanya alasan kenapa kamu melupakan kata sandi. Heloo... Kamu bertanya pada kami, lalu kami bertanya kepada siapa?


Jelas kamu seorang pembohong, dan berbicara omong kosong! Sangat jelas, hanya bermain-main dengan kami. Astaga orang kaya ini benar-benar mengalami kerusakan otak tingkat tinggi.


Kedua orang memiliki garis-garis gelap di wajahnya, memarahi dalam hati.


Itu karena pria yang terlihat tiga puluh tahun, yang masih duduk di dalam mobil telah melihat mobil patroli polisi akan segera mendekat dari kejauhan, lihat dari kaca spion.


“Oke,...” Kemudian menoleh ke Gin Wijaya yang sedang mengali emas di hidungnya, Pria paruh baya mengambil napas berat, dan berkata dengan dingin:” Kali ini, kamu beruntung nak, di lain waktu aku akan melakukan ini padamu....”


*Membuat gerakan menyeka leher dengan tangan.


“Hei, beraninya kamu mengancamku’ Batin Gin Wijaya saat melihat gerakan itu, dan berkata meremehkan: “Tsk... Tsk... Memangnya apa yang bisa kamu lakukan, ingin menganiaya aku. Aku ingin melihat, apa yang bisa kamu lakukan? Tetapi menunggu, terasa lama, telalu lama adalah sesuatu yang melelahkan, jadi kenapa tidak mulai dari sekarang.”


Setelah mengakhiri kata-katanya, Gin Wijaya telah menyelesaikan proses menggali emas di lubang hidung. Memasukan tangan di saku, dan mengeluarkan kaos tangan grosir yang di beli secara online dua minggu yang lalu, dengan harga yang terjangkau. Menurut deskripsi, kualitas terjamin!


Mari kita buktikan!


Memakai di kedua tangan, mencoba mengepal, mengangguk puas, dan kemudian menatap tajam ke arah dua orang pembajak.


Melihat persiapan Gin Wijaya, mau tidak mau Pria paruh baya mencibir: “Wah... Wah... Jadi kamu berniat untuk bertarung, tapi kami sedang terburu-buru jadi aku harus menyelesaikanmu dalam tiga detik!”


“Tiga detik? Oke, aku sangat menantikan, dan tolong jangan kecewakanku.” Balas Gin Wijaya memasang pose kuda-kuda.


Bergegas melangkah lebih dulu, bergerak cepat, dan tiba di depan Pria Paruh Baya dalam sekejap. Pupil mata membesar saat melihat Gin Wijaya dengan cepat  telah tiba di depannya.


Kepalan tangan bergegas, mengenai perut bagian bawah.


Buk... Bang!


Pria pria paruh baya tidak memiliki waktu merespon untuk menahan pukulan. Jelas bukan orang biasa yang dia hadapi kali ini. Mungkinkah seperti rutinitas menendang lempengan besi? Sial!


Tubuh terbang hingga punggung membentur bagian belakang mobil SUV\, dan jatuh meringkuk di bawah\, seperti udang memegang bagian perut\, dan kacamata terlepas entah jatuh di mana\, tidak ada yang memperhatikannya. Perut terasa sakit yang begitu ****\, rasa kram pada perut membuatnya sulit untuk berteriak kesakitan. “Uhh... Kamu..****”


Bahkan rasa sakit diperut melebih rasa sakit pada bagian punggung ketika membentur bagian belakang Mobil SUV, hingga meninggalkan jejak humanoid.


Pembajak yang melihat rekannya, tersungkur hanya dengan satu pukulan mata melebar terkejut, hingga menjatuhkan rahangnya. Membayangkan jika dirinya sendiri terkena pukulan, betapa luar biasanya ekspresi mereka nanti.


Pembajak yang masih berdiri di tempat segera kembali ke tuhan, meraih belati yang diselipkan di pinggangnya. Menarik belati yang bilahnya tajam, dengan ekspresi marah, menatap Gin Wijaya dan bergegas: “Sialan, kamu mencari kematian.”


Gerakan sangat lihai saat memainkan belati, di tangan.


Mendesing! Saat pisau bergesekan dengan udara!


“Hehehe... “ Gin Wijaya tersenyum cerah tidak membahayakan manusia, dan hewan, menghindari lambaian belati yang cepat, dan tangannya segera meraih tangan pembajak yang memegang pisau, saat mendapatkan peluang. Dan memaksa dengan kekuatan, untuk mengubah arah haluan ujung belati ke arah paha pembajak.


“Aarghh.. Sialan Kamu ***** Oh.. Pahaku. Oh.. Sakit sekali.” Teriaknya saat belatinya sendiri melukai paha kanan. Sial belati terpaku sangat dalam hingga ujungnya mengenai tulang.


Gin Wijaya segera melangkah mundur setelah melakukan aksinya, dan mengejek: “Bagaimana rasanya saat belatimu melukai pahamu sendiri? Tsk... Tsk... bukan itu menarik!”


“Mari lanjutkan.” Mengingatkan dengan niat baik.


“Lanjutkan pamanmu! Sialan, kamu... aku akan membunuhmu!” Kaki terasa sakit, berjalan saja sulit, sangat sulit menambah rasa sakit, mengertakkan gigi.


Tiga orang pembajak yang berada di dalam mobil tidak bisa duduk diam saja, ketika melihat kedua rekan seperjuangannya dilukai. Dengan marah mata merah melotot menatap Gin Wijaya, dan berteriak: “Bunuh!”


Segera keluar dengan belati mereka sendiri. Bergegas untuk mengelilingi Gin Wijaya, salah satu dari mereka memegang pistol.


Gin Wijaya pindah dengan cepat, dan terlihat aftermage. Saat melihat pria berambut keriting memegang pistol di tangan dengan peredam di ujungnya.


Tiba di depannya kaki kiri menendang perut bagian bawah, pria berambut keriting terbang hingga sekitar lima meter sebelum jatuh ke sisi jalan, sedangkan pistol terlempar jauh sepuluh meter darinya.


Kedua orang yang tersisa, tidak sempat untuk bereaksi juga dipukul hingga tersungkur, pada bagian perut terasa sakit, hingga sulit bangkit. Wajah mereka menjadi jelek, sangat jelas mereka menabrak lempengan besi. Kenapa tidak mempercaya firasatnya sendiri sebelumnya?