THE RETURN OF ARGA

THE RETURN OF ARGA
CHAPTER 11



"Ok, hati-hati bro di jalan." kata Ryan.


"Oh ya, aku titip pesan. Tolong sampaikan ke Yoona aku tidak bisa menemaninya makan sampai habis. Jika kamu ada waktu luang. Gantikan aku ya mengantarnya pulang, Yan." kata Arga sebelum pergi.


"Sip bro. Tenang saja. Nanti ku sampaikan." jawab Ryan.


Siapa Vaara, masih di rahasiakan oleh Arga. Pada malam itu, Arga memutuskan untuk segera pulang ke rumah, untuk mengetahui apakah Vaara ada di rumah atau pergi bersama Simon. Sementara itu, Yoona di serahkan kepada Ryan untuk di antar pulang.


Baru saja Arga turun dari mobilnya di halaman depan, pintu tamu telah di buka. Vaara menyambutnya dengan senarm yang menawan. Ia mengenakan celana kulot dan blus tanpa lengan dengan rambut ditekuk ke atas. Manis sekali. Mirip betul dengan peragawati.


Diam-diam Arga menghempaskan napas. Ia merasa lega, karena ternyata Vaara tidak pergi ke mana-mana. Perempuan itu ada di rumah, bagai sedang menunggu kedatangan Arga. Untuk lebih yakinnya, Arga menemui Pak Goreh, pelayan yang bekerja pada Arga sejak Arga mempunyai rumah sendiri.


"Nyonya tadi pergi ya, Pak?" tanya Arga kepada Pak Goreh.


"Perasaan sih... dari pagi Nyonya nggak ke mana-mana, Tuan." jawab lelaki kurus berusia 40-an.


"Betul? Nggak ke mana-mana?" tanya Arga lagi untuk memastikan.


"Yah, setahu saya memang nggak ke mana-mana. Siang tadi Nyonya nonton K-Drama sampek sore, lalu mandi, lalu menunggu Tuan di ruang tamu sambil baca-baca majalah." jawab lelaki kurus berusia 40 tahun itu.


Arga manggut-manggut, melirik ke arah ruang tengah. Di sana Vaara tampak baru saja keluar dari kamar, membawa kimono ungu tua yang terlipat rapi. Arga buru-buru pergi dari hadapan Pak Goreh, dan Vaara segera berkata,


"Ar, malam ini kamu pakai kimono ini saja! Lebih menggairahkan kalau kamu pakai warna ungu seperti ini." Vaara tersenarm sambil mengerlingkan mata dan segera pergi ke kamar mandi.


"Pakai pakaian saja di atur, seperti anak kecil!" Gerutu Arga sambil masuk ke kamar mandi. Hal itu tidak di pedulikan lagi. Yang penting, Vaara tidak ke mana-mana. Tidak pergi bersama Simon. Itu yang membuat Arga merasa tenang.


Kadang-kadang Arga ingin tertawa sendiri jika ingat siapa Vaara. Roh yang menjadi penguasa sebagian alam gaib, ternyata punya selera tinggi juga. Bisa membaca, menarkai mode, tahu persoalan bisnis. Bahkan roh yang menjelma sebagai manusia cantik itu juga tahu tentang perhitungan bunga deposito segala, menarkai film-film detektif dan film roman, gemar mengikuti dunia dalam berita, gemar juga mendengarkan musik-musik berirama lembut, bahkan terkadang musik keroncong pun di nikmatinya. Ah, lucu. Aneh juga kalau di pikir-pikir.


"Umumnya roh menarkai bau kembang, eh.... ini malah suka parfum-parfum impor! Hamberger doyan, pizza habis banyak, sukiyaki doyan juga. Hi, hi.... Nyentrik juga roh macam dia!" celoteh Arga dalam hati.


Kadang perempuan beralis indah itu menyenangkan hati Arga, membanggakan, dan menggairahkan. Pada saat-saat tertentu, perempuan berbetis indah itu juga memuakkan, meresahkan dan mengerikan. Arga serba salah jika harus berpisah dengan Vaara. Hanya saja, jika ingat kontrak hidupnya hanya setahun, ada perasaan ingin lepas dari cengkraman maut si jelita cantik itu. Berulang kali Arga berpikir dan mencari jalan untuk bisa lepas dari perjanjian dengan Dewi Aar, tetapi sampai detik ini ia tidak pernah menemukan jalan.


Cincin bermata ungu itu sering di pandangi Arga jika sedang sendirian. Ada kalanya ia ingin melepaskan, tetapi ia takut dengan resiko, yaitu kematian. Cincin itu juga yang memberi kekuatan hidup Arga, tapi juga yang membayang-bayangi hidupnya dengan kematian. Sejak ia bangkit dari kematiannya, cincin itu belum pernah di lepas dari jari manis tangan kirinya. Pernah ada yang tertarik dengan cincin itu, yakni seorang kolektor batu-batuan. Cincin itu di tawar seharga 5 juta sampai 10 juta rupiah, tapi Arga tidak memberikan.


"Satu milyar pun tidak akan saya jual cincin ini." kata Arga sambil bernada canda, walau sebenarnya serius. Kolektor itu pun akhirnya tidak mau lagi memburu cincin yang di pakai Arga.


Tapi pada malam itu, ketika Vaara mulai menggiring Arga naik ke peraduan, mendadak Vaara mengajukan pertanyaan yang membuat Arga sempat menggeragap.


"Gadis mana yang mulai berani menggoda hati mu lagi, Ar?" tanya Vaara.


Arga mulanya benar-benar bingung. Bukan di bikin-bikin. Pada saat ia berkerut dahi, Vaara menyambung kata, "Kamu sempat berdebar-debar bertemu dengannya, bukan? Mungkin kau tadi juga sempat terkesan kepadanya. Siapa dia, Ar?"


"Gadis yang mana?" tanya Arga bingung.


Vaara tertawa dalam gumam sambil mencium pipi Arga. "Jangan berlagak bego. Untuk apa kamu berbohong kepada ku." Katanya.


Lalu, ingatan Arga sejenak melayang pada seraut wajah yanh mirip bintang film Hollywood, Isabella Rossellini. Dalam hati Arga sempat menggerutu, "Gila, dia tahu saja kalau aku habis pergi sama Yoona!?"


Vaara masih mempermainkan bibir Arga dengan jari-jemarinya yang lentik. "Aku tahu kau mulai kasmaran sama gadis itu! Jujur sajalah. Cincin mu berubah jadi merah. Itu tandanya kau sedang kasmaran, menahan nafsu. Hi, hi, hi.... "


Waktu Vaara mengikik, Arga terperanjat melihat batu pada cincin kehidupannya telah berubah menjadi merah. Bukan ungu gandaria lagi, melainkan merah seperti buah delima.


"Aku sudah menduga." ujar Vaara. "Hati-hati, Yoona sendiri mulai tumbuh rasa suka kepada mu, karena dia sekarang sendirian. Tidak punya pacar lagi."


Yang ada dalam hati Arga adalah kecemasan. Bahaya kalau sampai Yoona benar-benar memperlihatkan rasa sukanya, dan Vaara jadi cemburu, bisa-bisa nasibnya semalang Irene. Satu-satunya jalan, Arga harus menghubungi Yoona untuk tidak berharap kepadanya. Paling tidak membuat Yoona mengurungkan niatnya untuk mendekati Arga.


Maka, siang itu Arga telepon Yoona dari kantornya. Ternyata anak itu pergi kuliah, sehingga rencana Arga pun tertunda. Nanti sore ia akan mencoba menghubungi Yoona lagi.


Sore belum tiba, masih ada di tepiannya, ternyata Yoona datang lagi ke kantor Arga. Hati Arga berdebar-debar, sebab memang Yoona yang sekarang sepertinya mempunyai nilai tambah dari gaya penampilan dan kecantikannya. Daya tarik pada Yoona lebih besar, ketimbang beberapa bukan yang lalu. Mungkin itu penilaian pribadi Arga saja yang menjadi sedemikian rupa, karena di hatinya mulai tumbuh bias-bias kasih, seperti yang di katakan Vaara.


Arga menjadi sedikit cemas melihat kedatangan Yoona, takut ia tidak bisa mengendalikan rasa tertariknya, dan perasaan itu akan menjadi berlarut-larut. Bahaya bagi Yoona jika sampai hal itu benar-benar terjadi. Sepertinya Yoona sendiri mulai merintis jalan menuju cinta. Arga yakin, kedatangan Yoona kali ini bukan untuk bertemu dengan Om Lucky, melainkan ingin menemui Arga sebagai langkah pendekatan yang lebih nyata.


Tetapi, eh.... nanti dulu. Kali ini Yoona muncul dengan wajah muram, sepertinya menyimpan duka. Sepertinya ada rahasia yang mencemaskan dirinya. Hmm... ada apa?


"Selamat sore, Non?" sapa Arga mencoba mengajaknya berkelakar. "Bagaimana kemarin malam, di antar Ryan sampai rumah?" tanya Arga kepada Yoona.


"Ya, dan tadi Ryan juga menemui ku di kampus." ucap Yoona.


"Hmm... dia mau masuk ke hati mu sebagai ganti Alex, begitu?" gurau Arga.


"Ar, jangan bergurau dulu. Ada hal yang lebih serius dari dugaan mu." kata Yoona dengan wajah yang serius.


"Oh, ya? Soal apa? Soal Ryan?" tanya Arga.


Yoona duduk di kursi depan meja Arga. Wajah sendunya kian tajam. Ia tidak langsung bicara, agaknya sedang mengendalikan suatu emosi yang membuatnya berdebar-debar. Arga menatapi wajah ke korea-korean itu tanpa bicara sedikit pun. Ia ingin Yoona bicara lebih dulu.


Sesaat kemudian, Yoona pun berkata, "Kau tahu tempat kost Ryan, Ar?"


"Tahu! Dia kost di rumah orang tua Simon bersama Sunny dan Yohan." jawab Arga.


"Kalau begitu, sekarang juga kita ke sana." ucap Yoona sambil berdiri.


"Hei, nanti dulu! Ada apa dulu, jelaskan dong." seru Arga penasaran.


"Ku jelaskan di mobil saja!" kata Yoona.


"Tidak bisa! Jelaskan dulu masalahnya, baru aku memutuskan untuk pergi ke sana atau tidak." ucap Arga memaksa.


Yoona menarik napas panjang-panjang. Ia merenung, menatap ke satu arah dengan pandangan menerawang duka.


"Ryan mau memperkosa mu? Begitu?" bisik Arga.


"Bukan soal Ryan, tapi soal Simon." jawab Yoona.


Arga sedikit heran. Yoona menyambungnya, "Si... Simon meninggal."


"Apaaa...?!" Arga terpekik dengan mata mendelik. Semua pegawai yang ada di sekelilingnya memandang ke arah Arga.


"Dia terbunuh! Persis seperti nasib Irene.... " lanjut Yoona, dan Arga menjadi seperti patung hidup yang tidak mampu bergerak dan bicara. Shock.