THE RETURN OF ARGA

THE RETURN OF ARGA
CHAPTER 2



"Hei, saya manusia! Sata bukan roh! Bukan hantu...! Jangan takut...!" Arga berteriak.


Teriakan itu justru membuat setiap orang berlari menjauhinya. Tante Maarmi pingsan lagi, juga ibunya Arga. Sementara itu, ayahnya Arga hanya menahan tangis kedukaan di ambang pintu tamu. Ia tak berani mendekat.


"Kembalilah ke alam mu, Nak…! Kembalilah dan jangan ganggu kami...!" ucap sang ayah ketakutan.


"Aku tidak menganggu! Aku memang hidup." bantak Arga mulai tegang dan cemas.


Repotnya, tak ada satu pun dari mereka yang mau percaya dengan kebangkitan Arga. Semua menganggap Arga adalah setan. Hantu yang perlu di jauhi.


"Apa gunanya aku hidup lagi kalau kalian menjauhi ku!" teriak Arga dengan terengah-engah menahan marah dan kesedihan.


***


Awalnya adalah pembuktian keberadaan Arga. Makamnya di gali lagi, di saksikan oleh pihak yang berwajib dan masyarakat sekitarnya. Makam yang tanahnya masih basah itu di gali beramai-ramai dengan masing-masing manusia menyimpan rasa penasaran. Oleh ibunya, Arga di larang ikut dalam penggalian itu. Karenanya, ia hanya boleh menunggu kabar di rumah, sambil memberi penjelasan kepada mereka yang mengerumuninya.


Tak sampai setengah jam, kuburan Arga selesai tergali. Papan-papan penutup bagian atas jenazah di buka. Salah seorang berteriak dari dalam liang.


"Kosong...! Hanya ada kain kafannya saja!"


"Ajaib!" gumam ayah Arga.


"Anak itu benar-benar bangkit dari kubur!"


Maka, suasana semakin heboh. Teman-teman kampusnya, dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi, memanfaatkan berita kebangkitan Arga sebagai berita andalan untuk beberapa koran dan majalah. Arga sendiri menjadi sibuk, karena bukan masyarakat umum saja yang harus di layani pertanyaan, melainkan dari pihak kepolisian juga mengajukan beberapa pertanyaan. Di khawatirkan Arga melakukan penipuan untuk mendapatkan uang sumbangan kematian dari masyarakat, atau sengaja menciptakan 'move' untuk meresahkan masyarakat. Tetapi, dari berbagai pemeriksaan termasuk tes medis, Arga di nyatakan benar-benar telah hidup kembali dari kematiannya, tanpa mempunyai motivasi apa-apa.


"Saya hanya merasa terlempar dalam lorong yang panjang sekali dan gelap. Selebihnya saya tidak tahu apa-apa. Begitu sadar, saya sudah berada di kamar. Saya juga tidak merasakan sakit pada kepala saya, yang waktu itu pecah akibat kecelakaan. Saya tidak tahu kalau saya mengalami kecelakaan yang fatal. Bahkan sampai sekarang saya masih sangsi, sebab di tubuh saya tidak ada luka sedikit pun... "


Begitulah penjelasan Arga, merakit cerita menyembunyikan fakta. Masa hebohnya itu berlangsung selama satu minggu. Lewat dari satu minggu, hanya berupa kasak-kusuk mereka yang mulai menduga-duga apa dan bagaimana kematian Arga itu sebenarnya. Arga tetap merahasiakan tentang pertemuannya dengan Vaara. Sunny, Yohan, Ryan, Simon dan lainnya, yang di anggap dekat dengan Arga, tetap tidak pernah mendengar cerita tentang perempuan cantik bernama Vaara.


Tiga minggu kemudian, keadaan menjadi normal kembali. Tak ada kasak-kusuk dan desas-desus apapun. Bahkan Arga mulai kuliah kembali dengan aman. Hanya sesekali orang menyinggung soal kebangkitannya, untuk kemudian tidak peduli lagi dengan jawaban Arga. Dari sekian banyak teman kampus, hanya Irene yang tampak paling gembira melihat Arga hidup kembali. Bahkan di rumah Irene, ia mengadakan sarkuran kecil-kecilan. Yang di panggil teman-teman kampusnya yang cewek-cewek saja. Irene tidak malu-malu lagi mengaku di depan teman-teman perempuannya.


"Bahwa aku sebenarnya mencintai Arga! Bukan memusuhinya! Kalian semua harus mencatat pernyataan ini...!"


"Telen tuh ludah!" celutuk Nana. "Makanya jangan jelek-jelekin orang, nggak tahunya dianya sendiri yang demen!"


Apa kata Irene kepada Arga, pada waktu mereka jumpa di kantin belakang kampus?


"Baru sekarang aku merasa doa ku terkabul secara nyata!"


"Doa apa?" pancing Arga.


"Aku berdoa supaya kamu hidup lagi. Dan, nyatanya.... seperti mimpi saja." Gadis berwajah mungil itu tersenarm malu sambil mengaduk-aduk es teler.


"Kenapa kamu berdoa supaya aku hidup lagi? Bukankah kamu pernah menarmpahi ku supaya motorku narsruk ke selokan?"


"Cuma narsruk aja yang ku inginkan, bukan mati!"


Arga sempat tertawa. Irene memang pintar bicara. Mahasiswi komunikasi massa ini memang suka ceplas-ceplos, termasuk bawel juga, kocak dan centil. Tapi, bibirnya yang tipis dan mungil itulah yang membuat ia tampak cantik, manis jika sedang bicara nyerocos.


"Kamu tahu, kenapa aku menarmpahi kamu supaya narngsep ke comberan?"


"Nggak tahu! Yang begituan aku nggak pernah mau tahu" jawab Arga menggoda.


"Wow...! Puitis sekali diplomasi mu." Arga tertawa cengar-cengir.


"Aku serius." Irene menampakkan kesungguhannya. "Kamu nggak tahu kan, kalau selama ini aku selalu memperhatikan kamu?"


"Nggak tahu. Soalnya, aku nggak pernah memperhatikan siapa-siapa. Artinya, nggak peduli siapa pun orangnya yang ada di sekililing ku, dia mau memperhatikan aku atau tidak, itu urusan dia." jawab Arga.


"Dan kamu nggak tahu kalau ada cewek yang naksir kamu?" pancing Irene.


"Nggak tahu. Sebab ku rasa aku nggak pantas di taksir cewek. Aku yakin, nggak ada cewek kampus ini yang naksir aku!" jawab Arga pura-pura tidak tahu.


"Nah, itulah kebodohan mu! Makanya jangan mikirin obyekan foto keliling terus, ngintip tustel melulu, sekali-kali dong ngintip kanan-kiri mu." Irene bersungut-sungut. Lucu jika begitu. Arga hanya tersenarm menahan tawa.


"Memangnya apa ada cewek yang naksir aku, Ir?" pancing Arga.


"Ada saja!" Irene menjawab seenaknya, bermuka acuh tak acuh.


"Siapa cewek itu, Ir?" pancing Arga lagi.


"Nggak jauh!" jawabnya lagi sambil makan kue pisang.


"Kamu kenal dengannya?" tanya Arga.


"Kenal!" jawab Irene.


"Aku kenal dengannya?" tanya Arga.


"Kenal!" jawab Irene.


"Kalau begitu, aku tahu nama cewek itu."


"Siapa?" Irene mencibir.


"Namanya Irene." Ucap Arga sambil memandangi wajah yang mungil itu.


"Hmm..., " Irene makin mencibir. Bibirnya menggemaskan kalau sedang mencibir. Ia berlagak cuek. Menghabiskan kue pisangnya.


"Apa tebakan ku salah!?" pancing Arga.


"Kalau salah, mau apa? Kalau benar, mau apa juga?" pancing Irene.


"Kalau salah, aku pergi sekarang juga. Mungkin cewek yang naksir aku ada di ruang lain."


"Kalau benar?" pancing Irene lagi.


"Kalau benar, aku cium dia!" ucap Arga serius.


"Cium aja kalau berani!" ucap Irene memancing kejantanan Arga.


Arga pun memberanikan dirinya. Ia nekat saja tidak peduli ada banyak orang di sekelilingnya. Ia cuek saja dan mencium pipi Irene sekilas dengan cepat. Muka Irene sampai merah padam. Malu sekali. Ia mendelik girang.