THE RETURN OF ARGA

THE RETURN OF ARGA
CHAPTER 5



"Hanya Arga, photographer ku yang bisa Vaara. Aku sendiri tidak pernah bisa bertemu dengannya," ujar Om Lucky kepada kepala marketing produk shampoo tersebut.


Akibatnya, dengan harga cukup tinggi, pihak produsen sanggup membayar Arku asal spot iklan tersebut segera terwujud. Dan, itulah sebenarnya masa-masa panen yang pertama bagi Arga. Kesempatan emas itulah yang membuat Arga bisa mengontrak rumah, membeli perkakas rumah tangga ukuran lux, dan mengirim uang kepada orang tuanya di Jepang.


Rumah yang dikontrak Arga berhalaman kecil, tapi bangunan rumahnya cukup luas. Rumah itu jadi kelihatan mentereng setelah Arga memperbaharui semua catnya. Sayang rumah ini tidak mempunyai tempat parkir dan garasi, sehingga waktu Irene datang membawa mobil Starlet-nya, mobil itu di parkir di pinggiran jalan, dekat pintu pagar rumah Arga.


Ia sudah dua bulan tidak bertemu Arga. Sejak ia datang ke rumah Arga, sewaktu Arga tinggal bersama omnya, dan Irene bertemu dengan Vaara, sejak itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan Arga. Arga sendiri jarang ke kampus. Mungkin hanya dua kali selama dua bulan Ia menyempatkan diri datang ke kampus. Itu pun tak bertemu dengan Irene.


Maka, malam ini Irene nekat datang ke rumah Arga, karena ia sudah jenuh menahan rasa rindu. Ia jenuh memendam kedongkolan akibat bertemu Vaara kali itu. Ia ingin membicarakannya kepada Arga tentang Vaara.


Irene tidak tahu, kalau di rumah kontrakan itu Arga tinggal bersama Vaara. Otomatis, ketika ia datang dan di sambut oleh Arga di teras, Vaara memperhatikan dari balik gordyn pintu ruang tamu.


"Kamu sudah sukses sekarang." ucap Irene.


"Belum." jawab Arga. "Masih ada kesuksesan lain yang akan ku peroleh. Eh, kamu tahu dari siapa kalau aku tinggal di sini?"


"Tante mu. Tadi siang ketemu aku di supermarket dan ia berikan alamat rumah ini. Kenapa? Kamu menyesal? Kecewa atas kedatangan ku?" jawab Irene dan bertanya balik.


"Tidak," jawab Arga sambil tertawa pelan.


"Justru aku sedang mengatur jadwal untuk datang ke rumah mu." lanjut Arga.


Irene mencibir. Tanpa di suruh ia duduk di kursi teras. Arga menarruh Irene agar masuk saja, duduk di ruang tamu, tapi Irene tidak mau.


"Aku ngeri di beset-beset sama gudik mu." ucap Irene.


Arga duduk sambil berkerut dahi. Tidak perlu ia tanyakan, Irene sudah mengetahui keheranan hati Arga, maka gadis itu pun segera berkata,


"Gundik mu galak. Sebab itu, aku enggak mau nemuin kamu selama ini."


"Kamu... ah, gundik yang mana maksud mu? Eh, gundik siapa maksud mu?" tanya Arga.


"Nggak usah pura-pura bego! Aku tahu kamu nyimpen gundik, "kata Irene sambil bibirnya meruncing.


"Aku pernah bertemu dengannya. Orangnya angkuh, sombong, dingin, judes, sok tahu...!" Lanjut Irene yang mulai cemberut.


"Namanya, Vaara! Itu tuh, hasil karya mu yang di pajang di mana-mana!" lanjut Irene lagi dengan nada membentak.


Rasa kaget yang menyentak hati Arga ditahan dan di sembunyikan. Arga memang merasa terkejut dan heran mendengar Irene bisa menyebutkan nama Vaara. Berarti dia benar-benar pernah bertemu dengan Vaara. Sedangkan, Vaara sendiri tidak pernah cerita kepada Arga tentang pertemuan itu.


"Di mana kamu bertemu dia, Irene?" tanya Arga.


Irene pun menjawab, "Ya di sana! Di rumah mu yang dulu itu. Dia melarang ku menemui mu. Dia mengancam ku, akan membeset-beset kulit ku jika aku nekat ingin bertemu dengan mu. Makanya, ku putuskan untuk tidak bertemu dengan mu."


"Aku bisa merasakan," hanya itu jawaban Arga yang di anggap bijak.


"Dan, sekarang... sekarang aku nggak bisa tahan lagi. Aku nggak kuat lagi menyimpan rindu terlalu lama. Maka, aku nekat datang ke sini! Sebab kita tidak pernah bertemu di kampus." ucap Irene.


Memang, Arga sendiri mengakui dalam hati, bahwa selama ini ia menjadi jarang bertemu ddngan teman-temannya. Sejak ia bangkit dari kematiannya, lebih-lebih sejak Vaara sering datang padanya, hubungan Arga dengan sahabat-sahabat dekatnya menjadi renggang di luar kesengajaan. Sunny, Yohan, Ryan, Simon, seperti seorang teman biasa bila bertemu. Tak bisa seakrab dulu rasanya. Entah hal itu di sebabkan karena apa, Arga sendiri tidak tahu. Apalagi sejak ia mengontrak rumah sendiri, ia menjadi seperti terasing dari teman-teman akrabnya.


"Ar, kenapa kamu nggak pernah menemui ku? Kamu nggak suka sama aku, ya?" tanya Irene pelan, kali ini ia memberanikan diri menggenggam tangan Arga yang ada di meja teras.


"Aku sibuk, Ir." jawab Arga singkat.


"Aku sudah terka kamu akan menjawab bergitu. Karena itu alasan yang paling mudah dan selalu di ujung bibirmu. Siap meluncur sewaktu-waktu."


Melihat ekspresi wajah Irene tampak serius, di bungkus kemurungan, Arga mencoba menetralisir suasana agar tak menjadi tegang. Ia mengajak Irene tertawa, menggoda dengan lirikan mata, dan semua itu ternyata tidak berlaku bagi Irene. Ia membutuhkan keseriusan. Karenanya segera berkata,


"Perempuan judes itu yang membuat mu enggan datang menemui ku, Betul, kan?"


Arga cengar-cengir, membuat Irene semakin merasa di permainkan. Dongkol hatinya, Tapi tangan yang menggenggam tangan Arga itu tidak mau di lepaskan. Hanya wajahnya yang tampak makin cemberut menahan dongkolan hati.


"Suatu saat, aku pasti datang menemui mu, setelah kesibukan ku berkurang. Maklum, aku sedang meniti karir. Kalau nggak berani korban waktu dan tenaga, aku nggak bakalan sukses, Ir." ucap Arga.


Sempat pula kata-kata itu di renungkan oleh Irene. Ia mulai bisa memaklumi. Alasan itu memang benar. Memang tepat. Jadi, mau bilang apa lagi?


Irene segera mengalihkan pembicaraan. "Ar, besok aku ada undangan pesta ultahnya Nana. Kamu dapat undangan nggak?"


"Mungkin ia kirim ke rumah Om Ripto." jawab Arga.


"Bagaimana kalau besok kita berangkat bersama, Ar? Kita tunjukkan pada mereka bahwa antara kamu dan aku masih tetap ada hubungan. Sebab, belakangan ini mereka menyangka aku sudah putus hubungan dengan mu." ajak Irene.


Arga diam beberapa saat, mempertimbangkan. Irene mendesak, "Bisa kan, Ar? Kamu nggak keberatan, kan?"


Arga pun segera berkata, "Bagaimana besok saja! Aku akan menelepon ke rumah mu sebelum pukul empat sore kalau memang aku nggak ada kesibukan malamnya."


"Yaaah... jadi, kamu nggak bisa kasih keputusan secara pasti, Ar?" Irene tampak kecewa.


"Aku tidak mau mengecewakan kamu, Ir. Jadi, aku harus lihat siskon besok setelah lewat dari pukul 2 siang. Bisa nggak bisa ku hubungi deh!"


"Harus bisa, Ar!" sambil Irene menggenggam tangan Arga lebih kuat. "Aku percaya kamu tidak akan mengecewakan aku. Karena itu kamu pasti bisa! Pasti ada waktu untuk ku. Oke?"


Irene akhirnya pulang setelah jarum jam menunjuk pukul 9 malam. Baru saja ia masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri meremang. Ia mengusapnya sekilas, lalu melambaikan tangan kepada Arga. Mobil pun di jalankan dengan kecepatan sedang-sedang saja.


"Gila! Kenapa bulu kuduk ku jadi merinding terus sih? Ada apa, ya?" pikirnya sambil memutar-mutar stiran mobil. "Aneh. Sejak aku meninggalkan rumah Arga, aku jadi sering berdesir-desir. Tuh, sekarang malah deg-degan? Padahal nggak ada masalah apa-apa, kok aku jadi deg-degan, ya? Ah, mungkin aku terlalu bahagia karena bisa bertemu Arga. Atau, mungkin aku terlalu berharap bahwa esok malam aku akan datang ke pestanya Nana bersama Arga. Ih, belum tentu jadi sudah girang duluan. Aneh juga perasaan ku ini.... "