
Mobil pun bergerak pelan-pelan, sementara Vaara tetap berdiri menunggu mangsanya. Makin lama makin dekat, makin terlihat jelas sorot mata yang memancarkan gairah membunuh. Arga menjadi gemetaran tangannya. Yoona mengingatkan Arga agar mampu menguasai stir.
"Mulailah... mulai mengambil gerakan memutari dia...," bisik Yoona tegang juga.
Pintu kiri dibuka sedikit oleh Yoona, pasir lada di taburkan dari bawah pintu supaya tidak terlalu menghambur berterbangan.
"Argaoo...!" teriak Vaara. "Keluar kau dari mobil! Seret perempuan di samping mu, dan aku akan membebaskan kamu dari kemarahan ku!"
Mobil bergerak memutar, sehingga Vaara ikut memandang dengan gerakan putar. Bentuk lingkaran cukup beaar, hingga membutuhkan banyak pasir. Sedangkan persediaan lada sangat terbatas. Yoona menaburkan sedikit demi sedikit.
"Argaoo...! Seret perempuan itu, lekaaas...!" teriak Vaara ikut berputar.
"Tenang... tenang...," Yoona mengingatkan Arga terus. Detak-detak jantung Arga makin menghentak dada. Mobil tetap memutari Vaara dengan gerakan pelan, seperti sengaja mengejek Vaara.
Wajah Vaara semakin memancarkan kemarahannya yang mengerikan. Jarak berdiri dengan mobil ada 7 langkah, tapi ia tidak segera bergerak menyerang, sebab masih ingin menggunakan kata perintahnya.
"Sekali lagi ku ingatkan, seret gadis itu kemari, Arga! Kalau tidak, kalian berdua ku hancurkan! Cepat lakukan...!"
Mobil berjalan tidak stabil. Terantuk-antuk karena kaki Arga gemetar, tak bisa menginjak gas dengan teratur.
Prakkk...! Tiba-tiba kaca jendela mobil pecah tanpa tersentuh benda apa pun. Arga sempat terpekik, demikian juga Yoona. Tapi Yoona masih menguatkan mental Arga.
"Jalan terus...! Jalan terus...! Jangan berhenti...! Tenang, Ar...tenangkan hati mu...."
Prakkk...! Kaca pintu belakang sebelah kanan pecah juga. Keringat dingin Arga bercucuran. Bahkan, kali ini kaca di samping kanan Arga pun pecah juga. Prakkk...!
"Hahhh...?!" Arga terpekik, tubuhnya penuh dengan pecahan kaca, tapi tidak melukainya. Ia semakin gugup.
"Tenang, tenang...! Tinggal sedikit lagi...!" Yoona masih terus menguatkan Arga yang pucat pasi dan lemas itu.
"Hei, kenapa berhenti. Tinggal dua langkah lagi nih...!" kata Yoona yang merasa heran.
"Mob... mobil... berhenti sendiri, Yoona... Oh, bagaimana ini...?!" Arga di hinggapi rasa takut yang membuat napasnya sukar di hela.
"Yoon... Yoona, dia mendekati ku...!" Arga tambah takut lagi.
Vaara melangkah dengan pelan, matanya memandang tajam pada Arga, tangannya yang menggenggam pisau mulai bergerak dieratkan.
"Kau memang manusia bodoh, Arga! Kau bodoh dan pantas menjadi hiburan ku...! geram Vaara.
Yoona pun menjadi lebih tegang lagi melihat kehadiran Vaara. Ia segera keluar dari mobil untuk menaburkan sisa lingkaran yang belum terkena pasir lada.
"Yoona, jangan keluar...!" tapi terlambat, Yoona sudah keluar. Vaara menggeram dan ia segera bergerak ke arah Yoona.
Dengan gugup Yoona menaburkan pasir lada supaya genap menjadi lingkaran. Tapi, Vaara mulai mengangkat pisaunya sambil berseru,
"Ku rajang tubuh mu, Bangsat...!"
"Jangan...! Jangan sentuh diaaa...!" teriak Arga segera keluar dari mobil. "Yoona, awaaas...!"
Tapi kenyataannya justru Arga sendiri yang berteriak karena ada pisau yang menyabet lehernya.
"Aaa...!" untung dia cepat menghindar sehingga pundaknya yang terluka dan berdarah.
"Haaah...?!" Vaara pertama terpekik mundur. Takut dengan pasir Lada itu. Yoona buru-buru menggenapi lingkarannya, dan kini selesai sudah terbentuk lingkaran besar dari pasir debu.
Sisa pasir yang akan di taburkan ke wajah Vaara itu segera di tendang dan tumpah. Yoona kaget, pisau segera menghujam dadanya. Wusss...!
"Arga tolooong...!" Yoona lari ke arah lain sehingga pisau itu tak jadi mengenainya. Vaara mengejar Yoona dengan gerakan melayang tanpa menyentuh tanah.
Saat-saat yang menegangkan. Ketakutan menyelimuti sekujur tubuh.
Saat itu, Arga sendiri sedang berlari menghindari kejaran Vaara kedua yang melayang juga tak menyentuh tanah.
"Keluar dari lingkaran! Keluar dari lingkaran...!" teriak Yoona yang segera melompat sendiri keluar dari lingkaran.
"Grrr...!" Vaara menggeram, matanya menjadi merah memandang Yoona yang terengah-engah di luat lingkaran. Vaara pertama itu tidak berani ikut keluar lingkaran, justru ia bergerak mundur dengan geram kemarahan yang tampak menjengkelkan.
Sementara itu, Arga sendiri sedang berusaha keluar dari lingkaran setelah mendengar teriakan Yoona tadi. Tetapi, kini ia dihadang oleh Vaara pertama, sedangkan Vaara kedua masih mengejarnya dan berulang kali menghujam pisau ke punggung Arga. Arga merunduk-runduk, sampai suatu saat langkahnya terhenti karena Vaara pertama sudah ada di depannya.
"Aaa...!" teriak Arga.
"Argaoo...! Cepat keluar...!" teriak Yoona yang di cekam kecemasan melihat Arga mengeliat dan rubuh akibat terkena goresan pisau Vaara.
Keadaan Arga sangat mengkhawatirkan. Ia hendak di serang oleh kedua Vaara itu. Yoona emosi, ia masuk kembali dalam lingkaran sambil menjerit,
"Hadapi aku, Setaaan...! Hadapi aku..." Ia memancing Vaara pertama. "Ayo, akulah yang kau kehendaki bukan? Ini aku...! Ambillah.... Ambillah akuuu...!"
Vaara pertama segera berbalik arah. Agaknya Vaara kedua juga lebih bernafsu untuk menyiksa Yoona. Maka mereka segeraelesat bagai angin menyerang Yoona. Saat itu, Yoona berterisk,
"Arga, cepat keluar dari lingkaran...!"
Sebelum kedua Vaara lebih mendekati Yoona, lebih dulu Yoona berlari dan melompat, berguling keluar dari lingkaran yang dibuatnya tadi.
Kedua Vaara berhenti mengejar Yoona. Menggeram dengan pancaran kemarahan membuat matanya merah membara. Mengerikan sekali.
Yoona segera berlari di bluar lingkaran, menuju garis di depan Arga. Saat itu Arga sedang merayap-rayap untuk menuju luar lingkaran. Tenaganya bagai terkuras habis, ia menahan sakit pada kedua lukanya.
"Cepat, Arga...! Sedikit lagi... sedikit lagi...!"
Kedua Vaara melayang ke arah Arga dengan pisau siap di hujamkan di tubuh Arga.
Saat-saat menegangkan itu membuat Yoona memberanikan diri masuk ke dalam lingkaran lagi. Ia segera menyambut tangan Arga dan menariknya sekuat tenaga untuk keluar dari lingkaran.
"Jahanaaam...!" geram Vaara pertama.
Yoona berhasil menyeret keluar Arga pada saat Vaara sampai di tempat Arga terkulai tadi. Kedua Vaara itu kebingungan mencari jalan untuk keluar dari lingkaran pasir lada.
Tetapi, keadaan mereka telah menyatu Vaara kedua menempel pada tubuh Vaara pertama hingga Vaara kini ada satu, yakni Vaara yang kebingungan mencari celah garis lingkaran yang terputus.
Yoona dan Arga terengah-engah. Mereka tertunduk di tanah. Yoona sempat memangku kepala Arga yang mengerang kesakitan.
"Cincin hitam...! Lekas pakai cincin hitamnya, Arga...!" sambil Yoona di cekam ketakutan yang memuncak, sebab ia tahu ada garis lingkaran yang tadi terputus pada saat ia berguling keluar dari lingkaran. Dan, agaknya Vaara hampir menemukan tempat itu.
"Cepat, cepat, cepaaat...!" Yoona tak sabar melihat Arga gemetaran memasukkan cincin hitam ke jari tengahnya.