THE RETURN OF ARGA

THE RETURN OF ARGA
CHAPTER 10



"Aku sudah pakai!" bantah Simon. "Dan aku sanggup membunuh tanpa kamu. Ryan masih mau membantu ku, kalau toh ku perlukan! Aku nggak terima Vaara di fitnah seperti itu, Arga. Aku sakit hati sama pemuda itu!"


"Pergilah, Simon! Kerjakan rencana bagus mu itu!" kata Vaara dengan sikap tetap tenang dan suara yang kalem, tanpa tekanan emosi. Arga menjadi geragapan. Ia segera mencegah niat Simon yang hendak segera pergi itu.


"Biarkan dia, Arga...!" kata Vaara dengan nada datar.


Arga jadi ragu untuk mencegah Simon. Ia takut melihat mata Vaara memandangnya dengan dingin.


Setelah Simon pergi, Arga buru-buru menemui Vaara di kamar dengan napas sebentar-bentar menahan kejengkelan. "Di teman ku, Vaara!"


"Bagus. Kamu punya teman yang bagus!" kata Vaara acuh tak acuh.


"Kenapa kamu mendukung rencananya? Dia bisa terlibat kriminalitas dan.... "


Belum sempat Arga menyelesaikan perkataannya, Vaara memotong.


".... dan itu urusan ku!" sahut Vaara.


Ia bahkan mendekati Arga, berbisik sambil mencium pipi Arga. "Jangan halangi kemauan ku, Sayang. Jangan bangkitkan kemarahan ku terhadap mu. Sebaiknya bangkitkan gairah ku untuk mencumbu mu, hi, hi, hi..."


Arga lemah. Takut. Makin lemah setelah Vaara mulai membakar gairah kejantanan Arga. Otot Aruti menegang kaku dan napasnya tertahan-tahan. Lalu, ketika Vaara duduk di tepian ranjang dengan tanpa di lilit sehelai benang pun, ia memberi perintah kepada Arga sambil mendesahkan napas panjang,


"Pagutlah, Sayang...! Pangutlah...!" Maka, Arga pun tak berani menentang perintah itu. Ia mengerjakan sesuai apa yang di minta Vaara, sehingga ia pun menggeliat-geliat, mengerang penuh gairah dengan mata terbeliak-beliak.


Bagi lelaki lain, mungkin akan merasa bangga dan girang menjalani hidup mewah seperti Arga. Tetapi, bagi Arga ia merasa ingin melepaskan semua kehidupan itu. Ia tak sanggup untuk menjadi budak napsu Vaara secara terus-menerus. Bahkan, sebenarnya Arga bukan budak napsu bagi Vaara, malainkan budak semua keinginan perempuan cantik itu. Dalam satu sisi, memang Vaara memenuhi juga keinginan Arga. Tetapi, dari sisi satunya lagi, keinginan Arga dengan Vaara tidak sebanding. Vaara lebih banyak menuntut, sedangkan tuntutan Arga sangat terbatas.


Satu hal yang membuat Arga kesal adalah kecemburuan Vaara. Sampai sekarang Arga tak berani punya kenalan cewek, karena ia takut cewek itu akan mengalami nasib seperti almarhumah Irene. Padahal, sebagai photographer yang sudah punya nama, Arga selalu berhadapan dengan foto model yang cantik-cantik, yang punya sosok ideal bagi Arga. Ada banyak kesempatan untuk mendekati mereka, ada banyak kesempatan untuk mereka sesuai dengan pilihan hati Arga, tetapi ancaman Vaara membayanginya terus. Hal itu membuat Arga benar-benar menjaga jarak dengan foto model atau cewek lainnya.


Sekalipun toh demikian, ternyata Arga pun mulai mempunyai kelengahan dalam pengaturan jarak hubungan itu. Yoona muncul kembali di kantor Omnya. Mulanya Yoona hanya ingin bertemu dengan Om Lucky. Tetapi, melihat Arga ada di sana, ia jadi menghambur kepada Arga. Menjabat tangan Arga dengan erat, seakan ada rindu yang dicurahkan pada saat itu.


"Kau sudah hebat sekarang. Makanya, kau sombong. Nggak mau telepon ke rumah ku, nggak mau menemui ku di kampus dan... mungkin nggak mau kenal dengan ku lagi, ya?" kata Yoona, gadis yang mirip Issabela Rossellin itu.


"Siapa bilang aku nggak mau kenal kamu lagi? Ngaco aja!" jawab Arga.


"Berapa lama kita nggak pernah ketemu. Kamu sendiri nggak pernah berusaha untuk menemui ku, kecuali titip salam terus sama Om Lucky. Om Lucky kan belum tentu sebulan sekali datang ke rumah?"


"Aku mau datang ke rumah mu, tapi aku takut mengganggu hubungan mu dengan Alex. Kudengar kamu makin erat dengan Alex, kan?"


"Ih, ngaco!" Yoona bersungut-sungut. Arga tertawa, hatinya sempat berdesir.


"Kok ngaco? Ngaco bagaimana, maksud mu?"desak Arga bersikap menggoda.


"Aku udah lama nggak berhubungan sama Alex lagi!"


"O, ya...?!" Bukannya makin intim? Waktu kematian Irene, aku melihat kamu masih bersama Alex."


"Yahhh.... sejak itu lah aku putus dengan dia! Dia terlalu berharap dari ku. Aku nggak mau. Soalnya, aku belum tentu mencintai dia! Aku kan masih dalam taraf uji coba! Kalau memang dia cowok yang oke buat hati ku, ya ku teruskan. Kalau dia ternyata nggak oke, ya ku tinggalkan."


"Nyatanya, bagaimana?" Nggak oke...?!" Arga tetawa ketika Yoona mengendus dengan menahan tawa juga.


Pertemuan itu membawa debaran-debaran indah di hati Arga. Kecantikan, senarman, sikapnya, pribadinya, semua yang ada pada Yoona sungguh tampak lebih manusiawi ketimbang yang di miliki Vaara. Itulah sebabnya, Arga mencoba untuk menikmati keindahan yang manusiawi itu dengan mengajak Yoona makan sore di sebuah KFC.


Ketika mereka asyik menikmati hidangan sore sambil berbincang-bincang, tiba-tiba seorang pemuda menegur mereka dan langsung duduk di kursi depan mereka.


"Aku nggak sengaja kemari kok." kata Ryan. "Aku sedang mengantar Simon, lalu dari tangga atas itu ku lihat ada seorang tuan dan nyonya lagi asyik makan. Timbul ide untuk mengganggunya." lanjutnya.


"Brengsek lu!" gumam Yoona sambil tersipu.


"Masa Simon? Ajak dia makan sekalian, Yan."


"Hmm... dia sedang nunggu pacarnya! Dia ada janji sama cewek iklan untuk ketemu di plaza ini."


"Hahhh...?!" Arga terkejut dan mulai menegang. "Cewek iklan...? Maksud mu?"


"Lu belum dengar ya kalau Simon sudah bisa dekatin cewek yang menjadi model iklan, yang lagi ramai di bicarakan orang tuh!" Ryan bicara dengan santai, sebab ia tak tahu kalau Simon mengenal Vaara melalui Arga. Mungkin hal itu di rahasiakan oleh Simon supaya Ryan tidak ikut-ikutan mengenal Vaara.


"Yan, kamu serius nih?" tanya Arga dengan cemas.


"Betul! Serius! Katanya, tadi pagi dia menghubungi cewek itu ke rumahnya, lalu sore ini dia di suruh menunggu cewek itu di plaza ini. Katanya, dia mau terima hadiah dari cewek itu."


"Hadiah...?" Arga heran.


"Kamu iri, Ar?" sela Yoona. Arga hanya diam saja. Tertegun. Wajahnya tampak menyembunyikan rahasia yang menegangkan.


Kemudian ia berbisik dengan sangat pelan, "Apakah dia telah mengerjakan rencananya?"


"Yang mana?" Ryan ganti berbisik.


Arga melirik sekeliling sejenak, lalu berbisik kepada Ryan, "Soal.... pemuda yang selamat dari pembunuhan di Villa?"


Ryan terhentak, memandang Arga dengan curiga.


"Kau tahu dari mana?" tanya Ryan tak sesantai tadi.


"Katakan saja, dia berhasil dengan rencananya atau tidak?" paksa Arga.


Setelah lama mempertimbangkan, akhirnya Ryan mengangguk. Arga menggeri tertahan. "Gila...!" desahnya.


"Kami membuangnya ke laut!" kata Ryan makin lirih, dan hanya Arga yang mendengar.


"Lalu, Simon sekarang pergi sama Vaara?" tanya Arga.


Ryan mengangguk. "Sekarang dia ada di pintu depan. Sedang menunggu."


"Kita ke sana! Aku mau kasih tahu siapa yang ia tunggu itu sebenarnya!" ucap Arga panik.


Arga dan Ryan segera menuju ke pintu masuk plaza, tapi Simon sudah tidak ada.


"Gawat!" ucap Arga cemas.


"Kenapa Ar? Kenapa kau panik sekali? Ini tidak seperti diri mu yang biasanya." ucap Ryan.


Arga pun segera berkata, "Yan, aku pulang dulu ke rumah. Nanti baru ku ceritakan semuanya sama kamu. Untuk saat ini aku harus lekas pulang ke rumah."