
Di sebuah alam kematian terlihat sosok pemuda yang masih belum bisa menerima akan kematiannya, dia adalah Arga seorang pria yang meninggal karena kecelakan. Tujuan Arga kembali ke dunia adalah untuk menemui mantan kekasihnya dan ingin menjelaskan semua masalah yang terjadi.
Pada saat Arga berada di puncak ketinggian asmaranya, ia merasa masuk ke lorong kegelapan. Gelap sekali. Ia menjerit-jerit antara di hujam sejuta panah kenikmatan dengan di cekam rasa takut yang membuatnya menggeragap. Tubuhnya bagai di dorong melesat melalui lantai yang amat kecil. Tak bisa Arga berusaha menghentikan tubuhnya yang terdorong cepat itu.
"Vaara...! Vaara, tolong aku...! Vaara, kenapa aku ini...!" teriak Arga ketakutan.
Lorong itu sepertinya berbentuk semacam gorong-gorong yang panjang dan sempit. Kadang Arga merasa berguling-guling dalam keadaan tetap meluncur cepat, kepalanya paling depan.
Makin kama lorong itu terasa makin sempit, makin memutar-mutar tubuh Arga dalam keadaan telentang. Arga tak sempat lagi berteriak, karena napasnya amat sesak. Kecepatan meluncurnya bagi menghentak dada dan menekan paru-paru. Jantung Arga sendiri tidak berdetak sedikit pun. Gerakan itu makin cepat, dan cepat sekali. Arga bagai melayang-layang entah kemana, dan tak tahu apa lagi yang di rasakannya.
Rasa kenikmatan itu sungguh luar biasa seperti di hujam seribu panah asmara dengan di iringi rasa takut yang sangat mencekam.
Entah berapa lama Arga tak sadarkan diri. Begitu ia siuman, pertama-tama yang ia rasakan adalah rasa sakit pada kepalanya. Berdenart-denart. Ia menyeringai ketika hendak bangkit dari posisinya yang terbaring. Niat itu ia tangguhkan. Ia menenangkan diri lebih dulu. Mengatur pernapasannya yang sedikit berat dihela.
Setelah napasnya bisa longgar lagi, denart kepalanya mulai mereda, barulah mata Arga dibuka. Dan, ia tersentak kaget melihat langit-langit sebuah kamar. Ia ingat eternit itu adalah eternit kamarnya. Poster Brooke Shields yang tertempel di dinding itu adalah poster yang ada dikamarnya.
Arga menggeragap dan bergegas bangkit. "Oooh... Aku berada di kamar ku sendiri!?" gumamnya dengan terheran-heran dan tegang.
Matanya memandang liar sekeliling, menarsuri tiap benda yang ada di kamarnya. Bahkan ia berdiri di depan cermin memperhatikan tubuhnya, ternyata ia dalam keadaan mengenakan kaos oblong hiru dan celana pendek bekas jeans panjang yang telah di potongnya. Itulah pakaian Arga jika berada di rumah.
"Astaga... Kaki ku menginjak lantai!?" gumamnya lagi.
Kaki kanannya di hentak-hentakkan dan ternyata benar, kaki itu menginjak lantai.
"Aku telah hidup lagi!? Oh, hidup lagi...!?" Arga kegirangan. Hampir saja ia melonjak dan bersorak kalau tak segera menyadari, bahwa saat itu ia mendengar suara orang tahlilan di ruang depan.
Malam hening, hanya ada suara orang bertahlilan. Pintu kamar dalan keadaan tertutup. Arga termenung beberapa saat di dalam kamarnya.
"Mereka pasti sedang membacakan doa untuk arwah ku." pikirnya. "Sebaiknya aku segera keluar dari kamar ini dan memberitahukan kepada mereka bahwa aku belun mati, bahwa aku masih bisa bangkit kembali. Tapi, bagaimana jika mereka menyerbuku dengan berbagai pertanyaan? Haruskah ku ceritakan yang sebenarnya tentang Vaara, tentang Bapaknya Jessy dan sebagainya? Ah, jangan! Jangan di ceritakan yang sebenarnya kalau aku terikat perjanjian hanya hidup setahun. Nanti malah membuat ayah dan ibu bersedih menunggu saat-saat perjanjian ku tiba. Sebaiknya ku ceritakan hal-hal lain, atau... atau berpura-pura tak mengerti, mengapa aku bisa hidup lagi... "
Benar. Arga keluar dari kamarnya. Karena kamarnya berdekatan dengan ruang makan, sedangkan di ruang makan ada beberapa ibu PKK yang ikut membantu menyiapkan komsumsi tahlilan itu, maka mereka pun kontan tersentak kaget.
"Aaaa...!!!"
Mereka saling berjeritan dengan histeris. Lari tunggang-langgang, menabrak apa yang bisa di tabrak. Bahkan ada seorang ibu yang jatuh seketika. Pingsan begitu melihat Arga keluar dari kamarnya.
"Jangan takut...! Jangan takut! Saya hukan hantu!" ujar Arga secepatnya.
Mereka yang duduk rapi bersila di ruang depan juga menjadi morat-marit begitu melihat Arga muncul dari ruang makan. Tak peduli yang tua maupun yang muda, semuanya berusaha ke luar dari rumah dengan berjejal-jejal di pintu, sehingga Pak Haji Sarkur, tetangga belakang rumah itu jatuh terinjak-injak yang lain.
"Hei, saya manusia! Sata bukan roh! Bukan hantu...! Jangan takut...!" Arga berteriak.
Teriakan itu justru membuat setiap orang berlari menjauhinya. Tante Maarmi pingsan lagi, juga ibunya Arga. Sementara itu, ayahnya Arga hanya menahan tangis kedukaan di ambang pintu tamu. Ia tak berani mendekat.
"Kembalilah ke alam mu, Nak…! Kembalilah dan jangan ganggu kami...!" ucap sang ayah ketakutan.
"Aku tidak menganggu! Aku memang hidup." bantak Arga mulai tegang dan cemas.
Repotnya, tak ada satu pun dari mereka yang mau percaya dengan kebangkitan Arga. Semua menganggap Arga adalah setan. Hantu yang perlu di jauhi.
"Apa gunanya aku hidup lagi kalau kalian menjauhi ku!" teriak Arga dengan terengah-engah menahan marah dan kesedihan.
***
Awalnya adalah pembuktian keberadaan Arga. Makamnya di gali lagi, di saksikan oleh pihak yang berwajib dan masyarakat sekitarnya. Makam yang tanahnya masih basah itu di gali beramai-ramai dengan masing-masing manusia menyimpan rasa penasaran. Oleh ibunya, Arga di larang ikut dalam penggalian itu. Karenanya, ia hanya boleh menunggu kabar di rumah, sambil memberi penjelasan kepada mereka yang mengerumuninya.
Tak sampai setengah jam, kuburan Arga selesai tergali. Papan-papan penutup bagian atas jenazah di buka. Salah seorang berteriak dari dalam liang.
"Kosong...! Hanya ada kain kafannya saja!"
"Ajaib!" gumam ayah Arga.
"Anak itu benar-benar bangkit dari kubur!"
Maka, suasana semakin heboh. Teman-teman kampusnya, dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi, memanfaatkan berita kebangkitan Arga sebagai berita andalan untuk beberapa koran dan majalah. Arga sendiri menjadi sibuk, karena bukan masyarakat umum saja yang harus di layani pertanyaan, melainkan dari pihak kepolisian juga mengajukan beberapa pertanyaan. Di khawatirkan Arga melakukan penipuan untuk mendapatkan uang sumbangan kematian dari masyarakat, atau sengaja menciptakan 'move' untuk meresahkan masyarakat. Tetapi, dari berbagai pemeriksaan termasuk tes medis, Arga di nyatakan benar-benar telah hidup kembali dari kematiannya, tanpa mempunyai motivasi apa-apa.
"Saya hanya merasa terlempar dalam lorong yang panjang sekali dan gelap. Selebihnya saya tidak tahu apa-apa. Begitu sadar, saya sudah berada di kamar. Saya juga tidak merasakan sakit pada kepala saya, yang waktu itu pecah akibat kecelakaan. Saya tidak tahu kalau saya mengalami kecelakaan yang fatal. Bahkan sampai sekarang saya masih sangsi, sebab di tubuh saya tidak ada luka sedikit pun... "
Begitulah penjelasan Arga, merakit cerita menyembunyikan fakta. Masa hebohnya itu berlangsung selama satu minggu. Lewat dari satu minggu, hanya berupa kasak-kusuk mereka yang mulai menduga-duga apa dan bagaimana kematian Arga itu sebenarnya. Arga tetap merahasiakan tentang pertemuannya dengan Vaara. Sunny, Yohan, Ryan, Simon dan lainnya, yang di anggap dekat dengan Arga, tetap tidak pernah mendengar cerita tentang perempuan cantik bernama Vaara.
Tiga minggu kemudian, keadaan menjadi normal kembali. Tak ada kasak-kusuk dan desas-desus apapun. Bahkan Arga mulai kuliah kembali dengan aman. Hanya sesekali orang menyinggung soal kebangkitannya, untuk kemudian tidak peduli lagi dengan jawaban Arga. Dari sekian banyak teman kampus, hanya Irene yang tampak paling gembira melihat Arga hidup kembali. Bahkan di rumah Irene, ia mengadakan sarkuran kecil-kecilan. Yang di panggil teman-teman kampusnya yang cewek-cewek saja. Irene tidak malu-malu lagi mengaku di depan teman-teman perempuannya.