
Makin tertegun Arga mendengar cerita bapak penjual jagung bakar itu. Lebih mengherankan dari pada cerita Simon. Bapak itu sempat menyambungkan ceritanya.
"Waktu itu saya di bayar dengan uang logam, Mas. Sebanyak.... tiga ribu rupiah. Uang cepekan semua. Dan, anehnya.... ketika sampai di rumah, saya lihat uang itu jadi emas. Emas murni."
Lelaki tua itu tampak bersemangat dan bersungguh-sungguh, sekalipun bicaranya bernada bisik.
"Ar, aku serius! Cewek dalam iklan itu benar-benar bisa menjelma menjadi manusia biasa, dan turun dari papan iklan. Aku ingin berkenalan dengannya, karena itu aku menunggunya di sini sampau pagi. Menurut keterangan cowok yang sudah kenalan dengannya, cewek itu tidak setiap malam turun dari atas. Hanya sekali waktu saja, dan aku serta mereka yang ada di sini menunggu dengan tekun saat turunnya dia dari
"Emas itu saya jual, saya pakai buat bayar uang pangkal anak saya yang mau masuk SMA, Mas. Makanya, saya rajin jualan jagung bakar di sini sampai pagi, sambil menunggu kalau-kalau Dewi Aar itu turun lagi dan membeli jagung bakar saya."
Misterius sekali. Arga semakin penasaran, sehingga ia buru-buru menemui Vaara di rumah.
Arga menemui Vaara dan menanyakan tentang kebenaran cerita penjual jagung bakar itu. Vaara membenarkan tanpa menyangkal sedikit pun. Lalu, ketika Arga menanyakan apa maksudnya Vaara berbuat demikian, perempuan berwajah memikat itu hanya menjawab dengan nada sedikit ketus.
"Itu kemauan ku."
Arga pun segera berkata, "Kamu hanya membuat masyarakat menjadi tergila-gila. Sebaiknya kamu tidak perlu sampai menggunakan kegaiban seperti itu, Vaara."
Dengan mata memandang tajam, Vaara menjawab, "Aku yang mengatur kamu, bukan kamu yang mengatur aku!"
Arga menyadari, hidupnya terlalu banyak diatur oleh Vaara. Ia mutlak menguasai hidup Arga. Hal itu membuat Arga mulai menyadari, bahwa ia tidak lagi memiliki dirinya.
Dalam benak Arga sering berpikir, "Apa gunanya menjadi kaya kalau hidup di kendalikan? Aku sama sekali tidak mempunyai kebebasan memilih langkah ku sendiri!"
Perasaan seperti itu mengganggu ketenangannya. Di balik kehidupan yang mewah, ia menyimpan duka yang kian hari kian di rasakannya makin menekan jiwa. Hal yang membuat jiwanya makin terasa tersiksa adalah pada saat munculnya berita pembunuhan terhadap diri seorang pemuda.
***
Dua orang pemuda, pengangum berat iklan Vaara, telah berhasil memergoki gambar iklan itu turun sendiri dalam wujud manusia seutuhnya. Hal ini terjadi tepat pada pukul 2 malam, ketika cuaca buruk. Angin menghempaskan dedaunan dengan liar dan terdengar gelegar guntur di langit Timur. Kedua pemuda itu sedang lewat depan papan reklame pinggir jalan yang saat itu telah sepi.
Mereka melihat gambar itu hilang, lalu mereka menemukan sesosok tubuh elok di bawah papan reklame itu. Mereka menyamparinya, dan berhasil berkenalan dengan Vaara. Mereka juga berhasil saling canda di dalam mobil, sampai akhirnya mereka bersepakat membawa pergi Vaara ke sebuah Villa.
Pemuda yang satu menunggu di ruang tamu, sementara temannya masuk ke kamar bersama Vaara.
Awalnya hanya suara ******* saja uang terdengar tapi mendadak, ia mendengar suara temannya menjerit-jerit bagai sedang tersiksa. Pemuda itu hendak mendobrak pintu kamar, tapi selalu terpental ke belakang sebelum menyentuh pintu tersebut.
Usaha ketiga untuk mendobrak pintu membuat pemuda itu terlempar dan kepalanya membentur dinding dengan keras. Darah mengucur dan ia pun pingsan. Pemuda itu tidak lagi mendengar teriakan-teriakan yang tersiksa di dalam kamar.
Esok harinya baru mereka di temukan oleh pengelola Villa tersebut dalam keadaan mengerikan. Pemuda yang pingsan masih selamat, tetapi temannya yang ada di kamar bersama Vaara telah tidak berbentuk lagi. Kulitnya habis di cabik-cabik dengan pisau. Daging tubuhnya berlubang-lubang akibat tusukan-tusukan. Bahkan pada bagian kejantanannya terlihat jelas bekas pisau yang seolah-olah mencacah segumpal otot tersebut.
Pemuda malang itu di temukan dalam keadaan kedua kaki dan tangannya di ikat terentang di ranjang besi. Kasur dan ranjang menjadi tempat penampungan darah yang tampak mengerikan dan menjijikan itu.
Arga tahu, itu perbuatan Vaara, tetapi Arga tidak bisa berbuat apa-apa. Membicarakan pada seorang teman pun takut, apalagi melaporkan kepada pihak yang berwajib.
Anehnya, sekalipun pemuda yang selamat itu menyebutkan nama Vaara sebagai orang yang turun dari papan reklame itu, tetapi pihak kepolisian menyepelekan dan tidak mau melacak dengan mendatangi Vaara. Ini hal yang aneh. Sepertinya yang berwajib pun terkena kekuatan gaib yang membuat mereka enggan berurusan dengan Vaara.
Hari itu, Simon datang ke rumah Arga. Sudah tiga kali ia datang, karena Arga berjanji akan mengenalkannya pada Vaara. Hanya saja ia tidak bilang bahwa Vaara ada satu rumah dengannya. Tetapi, ternyata Vaara tidak mau di bujuk Arga untuk memperkenalkan diri kepada Simon. Akhirnya Arga beralasan sekenanya saja dan membuat Simon tiga kali kecewa kepada janji.
Tetapi, kedatangan Simon yang keempat ini bukan hanya untuk menagih janji Arga, melainkan untuk membicarakan kasus kematian di sebuah Villa itu.
"Aku nggak percaya! Pemuda yang selamat itu mengada-ada. Masa orang secantik dia, seanggun dia, bisa melakukan perbuatan sekejam itu? Omong kosong itu! Kalau perlu tuntutlah pemuda itu, Ar. Dia telah menjelekkan nama model mu yang lagi di gandrungi masyarakat itu!" kata Simon berapi-api. Ia justru kelihatan benci dengan keterangan pemuda yang selamat itu. Ia menambahkan kata,
"Kalau perlu akan ku bunuh pemuda itu supaya ia tidak menyebarkan issue yang murahan seperti itu, Ar!"
"Dia mencoba mempengaruhi masyarakat dengan keterangannya. Padahal aku yakin, dia dan temannya yang mati itu bukan bertemu dengan Vaara. Mungkin mereka bertemu dengan *****, maka ia karang sebuah cerita tentang perempuan bernama Vaara yang katanya jelmaan dari iklan tersebut! Ah, tahi kucing la!"
Simon menampakkan kebenciannya secara terang-terangan. Ia membujuk Arga untuk ikut membantu membunuh pemuda yang selamat dari kasus di Villa itu. Nampaknya Simon salah satu dari mereka yang fanatik terhadap kecantikan Vaara, sehingga merasa tidak terima jika nama Vaara di jelak-jelekkan.
Simon pun berkata lagi, "Dengar, Arga.... Pemuda itu bisa membuat jatuh karir mu karena pengakuannya itu! Kau harus membantu ku menewaskan dia! Ryan sudah oke untuk membantu ku, Ar!"
"Itu tidak perlu, Simon! Katakan kepada Ryan juga, bahwa itu tidak perlu! Kalian cari penyakit saja namanya!" tegas Arga.
"Kalian boleh saja mengagumi sebuah iklan atau bintang film, foto model, group band, atau sejenisnya. Tapi ngak perlu sampai sekonyol itu, Mon! Bodoh amat kalau kau sampai punya rencana konyol seperti itu!" lanjut Arga.
Tanpa di duga-duga oleh Arga, Vaara pun muncul dari kamarnya. Arga terperanjat, tetapi Simon lebih gila lagi. Ia berteriak kegirangan dengan mata mendelik dan sempat terlonjak seperti orang gila. Dan memang Arga sendiri menganggap Simon telah gila.
"Aru...! Arga, ap.... apakah dia! Dia orangnya, kan? Dia kan, Ar?" tanya Simon berdebar-debar
Tanpa di duga-duga oleh Arga, Vaara pun muncul dari kamarnya. Arga terperanjat, tetapi Simon lebih gila lagi. Ia berteriak kegirangan dengan mata mendelik dan sempat terlonjak seperti orang gila. Dan memang Arga sendiri menganggap Simon telah gila.
"Aru...! Arga, ap.... apakah dia! Dia orangnya, kan? Dia kan, Ar?" tanya Simon berdebar-debar.
"Ya. Dia yang kau lihat di iklan itu! O, yaa... Vaara, kenalkan ini teman ku, sekaligus pengagum mu."
Vaara sempat tersenarm geli melihat Simon kegirangan bersalaman dengannya. Tangan Vaara diciuminya berulang-ulang kali sambil sesekali berkata, "Hebat...! Luar biasa! Mengagumkan! Oh, mengagumkan sekali...!"
"Sudah, sudah...! Kekang emosi mu, Simon!" seraya Arga membimbung Simon untuk duduk kembali. Simon berwajah ceria. Kegirangannya berlebihan hingga ia makin serupa dengan orang tak waras.
"Sudah lama datangnya, Simon?!" tanya Vaara dengan sikap berwibawa.
"Sudah! Malahan sudah keempat kali saya kemari, tapi.... tapi Arga tidak pernah bilang kalau kamu ada di sini, serumah dengannya. Aiiih.... gila lu, Ar! Gila banget deh!"
Sambil memandangi Vaara tak berkedip, Simon kembali menceritakan rasa bencinya kepada pemuda yang selamat dari kasus kematian di villa. Arga hanya bisa menahan rasa keki melihat sikap Simon yang menonjolkan bahwa dirinya adalah pengangum berat Vaara.
"Malahan..., "kata Simon. "Aku punya rencana untuk membunuh pemuda yang telah menjelekkan nama baikmu itu, Mbak Vaara. Aku ajak Arga untuk membantu ku menghabisi nyawa anak itu, tapi... Arga nggak setuju. Dia nggak mau."
Vaara yang berpenampilan kalem, anggun, bak seorang ratu yang agung, tiba-tiba berkata dengan kalemnya, "Kenapa harus minta bantuan Arga? Apakah kamu tidak bisa melakukannya sendiri, Simon?"
Arga sempat kaget, tersentak dari duduknya yang bersandar itu.
Simon segera menjawab dengan penuh semangat, "O, bisa! Bisa saja! Kenapa tidak bisa?!"
"Lakukan kalau kau bisa!" tegas Vaara.
"Baik. Akan ku buktikan kalau aku mampu membunuh pemuda itu!" tegas Simon.
"Simon!" bentak Arga. Mata Arga mendelik ke arah Simon. "Pakailah otak mu!"