
Gudang itu berpenerangan lampu pada bagian tengah langit-langitnya. Bolham lampu yang menyala cuman berkekuatan 10 watt. Jadi, suasananya di dalam gudang tergolong remang-remang. Suasana itulah yang membuat Annie sejak tadi gelisah, di cekam perasaan takut. Namun, agaknya ia ingin mencoba sesuatu yang di takutinya itu. Ia ingin tahu, sampai di mana batas ketakutannya itu.
"Sudah saatnya, Ben." kata Rea yang paling tak sabar dari sekian orang yang ada di gudang ini.
Rea segera ingin mengetahui bagaimana hasil dari semua usahanya melacak mobilnya yang hilang. Mampuhkah jalangkung menunjukkan di mana mobil BMW-nya itu bisa di temukan? Siapa pencurinya? Bagaimana nasip mobil itu sendiri saat ini? Semuanya membuat Rea penasaran dan dongkol di dalam hati.
"Tutup rapat-rapat pintu gudang." kata Benson.
Pramadi yang dekat dengan pintu segera menutup pintu gudang rapat-rapat. Ia tetap tenang dan masih bisa memandang wajah-wejah ke empat orang yang main gila-gilaan, menurutnya itu. Hanya Annie yang tampak pucat. Egga juga kelihatan pias, tapi tak sepucat Annie.
Sesuai perjanjian semula, Egga yang memangku boneka gaarng itu. Ia duduk bersila sedikit gemetar. Kedua tangannya memegangi boneka gaarng yang di sebut jalangkung itu. Benson mengeluarkan kertas sesobek, berisi sebaaris catatan.
Pramadi heran dan berbisik pada Benson, "Apaan itu?
"Mantra pemanggil roh. Ini ku kutip dari sebuah buku tentang Masyarakat Zombi. Dulu mantra ini pernah ku gunakan beberapa kali untuk memanggil roh, dan berhasil juga." jawab Benson.
Pramadi manggut-manggut. Matanya melirik Rea yang ikut duduk di seberang Benson, bagian kiri dari papan tulis yang ada di depan jalangkung.
"Oke, ku minta jangan ada yang bicara, ya?" kata Benson yang hendak mengawali acara pemanggilan roh tersebut.
Suasana jadi sangat hening dan sepi sekali. Hanya ada suara angina berhembus samar-samar, dan desah napas mereka yang di cekam perasaan takut.
Benson pun muali membakar kemenyan. Bau kemenyan itu makin membuat bulu kuduk merinding. Mulut Benson mengucapkan serangkaian kata yang di hafalkan dari catatan mantra tadi.
"Nuhiba, nuhiba yahoto. Yahoto marabi. Kumba marabi. Yoyele marabi. Azunikia kekesa. Aza… aza... marabi aza…!" Mantra itu di ucapkan berulang-ulang. Lebh dari tujuh kali. Suaranya mirip orang menggumam.
Pramadi mulai berdebar-debar. Sebenarnya sama dengan semua yang ada di situ, juga berdebar-debar. Annie kelihatan makin pucat dan berkeringat dingin. Rea masih tenang, demikian juga Egga.
Tetapi, beberapa saat kemudian, Egga mendesah seperti orang yang menyangga sesuatu dengan berat. Rea menjadi sedikit tegang, juga Annie yang matanya tak berkedip memandangi Egga.
Benson mengetahui juga hal itu, karenanya ia segera berkata, "Kalau kau sudah hadir, tunjukkanlah kehadiran mu."
Tiba-tiba jalangkung itu bergerak-gerak, lalu menunduk ke depan dan bagian wajahnya membentur papan tulis. Brak…!
"Egga…?!" teriak Rea dengan cemas.
"Ssst…!" Benson menarruh smeuanya untuk tetap tenang.
"Ber…. Beraaat…!" bisik Egga sambil menahan diri, napasnya terengah-engah.
"Itu tandanya dia telah hadir." bisik Benson.
Annie bergeser mendekati Rea. Ia makin gemetar. Rea juga kelihatan pucat. Sementara itu, Pramadi masih tetap tenang, sekalipun keringat dinginnya juga membasah di kening.
Di sela bau kemenyan dan hembusan angina yang kian menjadi jelas itu, Benson mengusap tengkuk kepalanya yang merinding. Lalu, ia pun berbicara kepada roh yang masuk dalam jalangkung itu.
"Siapakah tamu ku yang datang malam ini. Perkenalkanlah diri mu." ucap Benson.
Jalangkung itu bagai menarik diri ke belakang. Menjadi tegang. Lalu, pelan-pelan jalangkung itu condong ke depan.
Benson pun membetulkan letak papan tulis supaya tepat dengan kapur yang terselip di bagaian tengah tubuh jalangkung.
Maka, jalangkung itu pun bergerak-gerak sendiri, kapurnya membentuk satu tulisan. Pelan sekali gerakannya. Mendebarkan. Setelah selesai, mereka sama-sama membaca tulisan yang berbunyi: "Aku Legion."
Pramadi mau megantikan, tapi Benson melarang. Katanya dalam saat roh hadir, tidak boleh pemangku di gantikan.
Kemudian, Benson bertanya lagi kepada jalangkung itu, "Legion, siapa kamu sebenarnya? Kami ingin mengenal mu lebih dekat."
Jalangkung itu menjawab dalam bahasa tulisan, "Aku penjagal manusia. Aku tinggal di kamar penyiksaan."
Makin getar tubuh Annie setelah membaca tulisan itu. Wajah-wajah mereka pun pucat. Tapi Benson bertahan untuk tetapi bertindak dengan tegas dan tenang. Ia pun berkata, "Legion, aku ingin minta bantuan mu. Mobil Rea hilang. Merek BMW cat warna hitam. Di mana mobil itu sekarang, aku mohon petunjuk mu, Legion!"
Kapur pada tubuh jalangkung membentur papan tulis, dan bergerak-gerak. Tulisan itu berbunyi, "Aku minta syarat."
"Apa syaratnya, Legion?" tanya Benson.
"Kepala manusia." jawab jalangkung itu.
"Haaa…?!" Rea dan Annie sama-sama tersentak mundur dengan mata mendelik. Pramadi menjadi tegang. Begitu juga Benson yang mulai gelisah dan sedikit menggeragap.
"Kami… kami keberatan. Kalau begitu… pulanglah! Pulang saja, Legion!" kata Benson segera.
"Tidak mau. Aku harus pulang membawa kepala manusia." Bantah jalangkung itu. Jalangkung itu pn menuliskan kata yang membuat semuanya menjadi panik.
"Usir dia dengan paksa!" kata Rea ketakutan.
"Legion, demi persahabatan kita, pulanglah…! Kami tidak ingin menganggu mu lagi." kata Benson gemetar.
"Aku minta kepada manusia." Lagi-lagi jalangkung itu menulis kata-kata yang mengerikan.
Annie hampir enangis karena ketakutan. Lalu, tanpa di tanya ini itu, jalangkung itu pun menulis lagi, "Aku minta upah ku. Kepala manusia!"
"Tidak ada!" bentak Benson dengan panik, ��Pulang kau! Pulang…!"
Tiba-tiba jalangkung itu pun bergerak cepat dan menabrak wajah Benson. Plokkk…! Takkk…!
"Aaaow…!" Benson memekik karena dahinya di hantam dengan gaarng air.
"Jangan gila kau, Egga?!" bentak Benson.
Egga mendelik. Tangannya masih memegangi kaar jalangkung itu. Semua menjadi makin panik dan di cekam ketegangan. Jalangkung itu melesak ke arah kanan, bagaikan terbang. Prakkk…! Mengenai almari di samping Rea. Waktu itu, Rea sangat ketakutan, dan menjerit dengan keras, "Kyaaaaaa…!"
Egga segera melepaskan jalangkung itu dengan tubuh mengejang kaku dan matanya mendelik-delik.
"Benson….! Bagaimana ini?!" teriak Rea sambil menardut.
"Egga…! Lihat, Egga kejang-kejang…!" seru Pramadi.
Benson ingin menolong Egga, tapi jalangkung yang hanya berupa rrakitan kaar dan gaarng kepala itu bergerak sendiri. Melayang dan membenturkan dirinya pada kepala Benson.
"Aaauh…! Cepat tinggalkan tempat ini! Keluar…! Keluar semua…!" ucap Benson panik. Pintu itu di dobrak agar terbuka. Ternyata pintu dalam keaadan terkunci.
"Beeen… pintu terkunci…!" seru Annie dengan sangat gemetar.
"Toloooong…!" teriak Rea.