
Keberhasilan dalam iklan pakaian pun membuat taraf hidup Arga jauh lebih baik lagi. Dari produk shampoo sendiri ia memperoleh bonus sebuah rumah mewah, lengkap dengan perabotnya. Dari perusahan pakaian, Arga dan Vaara mendapat sebuah mobil mewah sport karena ledakan peningkatan produk terjadi sejak Vaara menjadi model iklannya.
Karena takut Vaara di pakai produk lain, akhirnya kedua perusahaan berbeda produk itu mengajukan penandatanganan kontrak baru yang bersifat mengikat. Perjanjisn tersebut menyatakan, bahwa Vaara tidak boleh dipakai sebagai iklan perusahaan lain, sekalipun berbeda produk. Sebagai imbalannya, kedua perusahaan itu sanggup memberikan jaminan hidup, bonus setiap bulan yang cukup besar, dan mengangkat Arga serta Vaara sebagai ekskutif staf. Tentu saja Vaara tidak mau sibuk, hanya Arga saja yang menangani semua masalah tersebut.
Hal itu dilakukan, karena masyarakat mulai tergila-gila dengan kedua iklan tersebut. Setiap penayangannys di TV, semua orang pasti terpesona dan terkagum-kagum kepada Vaara. Akibatnya, banyak yang meniru gaya dan pakaian Vaara, banyak yang menggunakan shampoo seperti yang di pakai dalam iklannya Vaara.
Bahkan seorang ibu di kabarkan setiap hari tak pernah meninggalkan tempat duduknya di depan TV hanya untuk menunggu iklan shampoo dan iklan pakaian. Lebih parah lagi, seorang pemuda yang di kabarkan bernama Bryan, setiap harinya di depan papan reklame di perempatan jalan besar, memandangi wajah Vaara dengan perasaan kagum yang tiada habisnya. Konon, pemuda itu menjadi sinting karena sering berteriak-teriak mengajak bicara reklame tersebut.
Papan reklame di tempat lain mempunyai cerita lain lagi. Dekat sebuah pusat pertokoan, papan reklame shampoo dan pakaian itu di pasang berseberangan jalan. Di beri lampu, dan memang tak jauh dari sebuah taman. Setiap malam, di bawah papan reklame itu banyak anak muda yang membawa mobilnya ke situ. Berhenti di situ, nongkrong di atas kap mesin mobil, berbincang sambil memandangi wajah Vaara. Ada yang berusaha memotret iklan itu, tapi sama dengan memotret Vaara. Potret itu tak pernah ads yang jadi.
Arga sangat terheran-heran melihat kenyataan yang ada. Sering ia menggumam dan merenung sendiri memikirkan efek dari sebuah iklan.
"Begitu ajaib, misterius sekali. Iklan itu bisa membuat orang menjadi gila karena kecantikan Vaara. Hebat. Sebegitu hebat, sebegitu besar kekuatan gaib yang ada pada wajahnya, sehingga sampai ada yang menyempatkan tidur di bawah iklan itu. Gila!"
Arga mencoba bergabung dengan pemuda-pemuda yang nongkrong di bawah reklame besar itu. Ia ingin tahu, apa yang ada pada pikiran dan hati mereka, sehingga mau-mau setiap hari mereka nongkrong di situ.
Dan, secara tak terduga, rupanya di antara mereka ada Simon, teman kuliah Arga yang sekarang sudah jarang berhubungan itu. Arga sempat tertawa ngakak melihat Simon ada di antara mereka dan mengaku sebagai pengagum berat dari wajah dalam iklan tersebut.
"Apa-apaan kamu ini? Mau ikut-ikutan ngetrend sinting-sintingan, ya?" kata Arga tertawa benar-benar geli.
Simon sedikit tersipu. "Mau di bilang sinting kek, edan kek, apa aja.... terserah! Yang jelas, aku tertarik dengan model mu itu. Tiap malam aku di sini sampai pagi.... "
"Untuk apa?" tanya Arga heran.
"Menunggu dia turun dari atas." jawab Simon.
"Hahhh...!? Busyet! Miring betul otak lu, Mon!" Arga melanjutkan tawanya sampai terpingkal-pingkal. "Bagaimana mungkin cewek itu akan turun dari atas, dia kan cuman iklan! Gambar aja, Mon! Gambar! Bukan cewek sungguhan yang nangkring di atas baklon rumahnya!"
Simon sedikit menarik Arga supaya menjauh dari pemuda lainnya. "Ar, apa kamu belum dengar kabar, bahwa beberapa orang pernah memergoki cewek itu hilang dari papan reklame, dan berjalan-jalan di bawahnya. Bahkan sempat ngobrol dengan seorang supir taxi?"
"Bah! Dongeng macam mana itu!?" Arga berlogat Tapanuli sebagai gaya candanya. atas."
"Gila...," gumam Arga mulai mengurangi candanya. Ia mendongak, memandang ke atas, menatap wajah Vaara dalam iklan pakaian. Sama sekali tak bisa masuk akal bagi Arga, jika gambar itu bisa hilang dan orangnya turun di jalanan. "Terlalu fantasis, Mon!" katanya.
"Jangan mau percaya dengan berita semacam itu! Kamu kan calon wartawan, masa mudah terpengaruh oleh sensasi semacam itu sih?"
"Ku rasa itu bukan sensasi, Ar." ucap Simon pelan, sambil memandang ke arah papan reklame itu.
"Aku pernah menemukan papan reklame itu kosong, tanpa gambar cewek itu." jawab Simon serius.
"Ah, yang bener, Mon!" tanya Arto memastikan.
"Sumpah!" Simon mengangkat tangan. "Sumpah, Ar. Papan reklame itu kosong, dan aku tak tahu cewek itu pergi ke mana. Waktu itu pukuk 3 dini hari, aku sedang begadang sama Ryan. Aku melacaknya, mencari cewek itu keliling-keliling daerah sini dengan mobilnya Ryan, tapi tidak kutemukan. Waktu aku kembali lagi ke sini, antara pukul 5 pagi, cewek itu sudah kembali ke dalam iklan tersebut, dalam posisi persis seperti saat ini."
Arga hanpir tak punya bahan bicara lagi. Ia melihat kesungguhan dalam wajah Simon. Ia tidak menemukan tanda-tanda Simon sedang mabuk, membuat Arga jadi bingung sendiri, lalu akhirnya berkata,
"Buang pikiran itu, Mon. Jaga kesehatan mu! Jangan turuti sensasi itu, nanti kamu sendiri yang rugi."
"Aku harus bertemu dengan cewek itu, harus bisa kenalan dengannya dulu, baru aku tidak penasaran lagi." ucap Simon.
Arga geleng-geleng kepala. Kemudian, ia memberikan kartu nama kepada Simon. "Datanglah ke rumah ku. Mungkin kita bisa bicara lebih enak lagi."
"Kamu kenal dengan cewek itu tentunya. Kamu ingin memperkenalkan pada ku? Oke! Aku akan datang!" kata Simon bersemangat.
Arga hanya tersenarm getir melihat tingkah temannya yang cenderung di anggap telah sinting itu.
Diam-diam sebenarnya Arga sendiri mempunyai rasa penasaran dengan kata-kata Simon. Ia segera pergi ke tempat lain yang terdapat papan reklame shampoo. Di situ juga banyak pemuda yang nongkrong, bahkan laki-laki separuh baya banyak pula ikut nimbrung dengan mereka. Suasana seperti itu tentu saja di manfaatkan oleh pedagang makanan, termasuk jagung bakar. Arga geleng-geleng kepala melihat suasana ramai di bawah papan reklame itu.
Ia ikut nongkrong di dekat pedagang jagung bakar. Sambil menikmati makanan rakyat itu, Arga bertanya kepada pedagang jagung bakar tersebut. Jawaban orang itu sama dengan jawaban Simon.
"Mereka menunggu saat turunnya Dewi Aar itu," sambil merunding wajah Vaara di dalam iklan tersebut.
"Apakah Dewi Aar itu bisa turun ke jalan, Pak? Dia kan cuma iklan bergambar saja, Pak." tanya Arga memastikan.
"Tapi kenyataannya dia pernah turun ke jalan, seperti layaknya manusia." jawab pedagang jagung itu.
"Kok Bapak bisa tahu? Siapa yang bilang Pak?" tanya Arga lagi.
Pedagang jagung bakar yang berusia antara 45 tahun itu berkata, "Saya pernah menemuinya."
"Pernah...!?" Arga terkejut.
Rupanya ia merahasiakan hal itu, sehingga bicaranya menjadi pelan. "Dewi Aar itu pernah turun dari atas, dia membeli jagung saya. Duduk di tempat Mas duduk sekarang ini. Waktu itu, hari mau hujan. Mereka yang nongkrong di situ sudah pulang. Saya saja sudah mau memberesi dagangan saya, tahu-tahu ada seorang perempuan minta di bakarkan jagung yang muda. Mulanya saya belum menyadari siapa dia. Setelah lama dia makan jagung dan ngobrol-ngobrol dengan saya, saya baru kaget dan mengerti, bahwa perempuan cantik itu adalah Dewi Aar yang turun dari gambar itu, Mas. Buktinya, saya melihat gambar itu kosong, ndak ada wajah Dewi Aarnya."