THE RETURN OF ARGA

THE RETURN OF ARGA
CHAPTER 13



Dengan tubuh merinding dan gemetar, Arga berhasil bicara walau parau dan kaku. "Di... dia... Simmmm.... Simon itu.... teman...! Teman ku...! Di.... dia teman ku, Vaara.... "


"Aku tahu, tapi menurut ku itu langkah yang baik dari pada kau yang ku pilih." jawab Vaara dengan nada tak merasa bersalah sedikit pun.


"Kau sama saja.... me.... menyiksa ku, Vaara...! Kau.... membuat ku.... mmmmuu.... muak!" bentak Arga tergagap-gagap di iringi oleh ketakutannya.


Vaara mulai memandang tanpa senarm. Pancaran kemarahannya membias lewat mata. Tajam. Tangannya mulai


 


Kematian Simon seakan telah menggugah kesadaran Arga, bahwa selama ini ternyata ia dininabobokkan oleh dunia gaib. Ia baru sadar bahwa dirinya selama ini telah bercumbu dengan maut, yang dapat membahayakan jiwa orang lain. Yang sudah pasti jiwanya sendiri selalu diujung tanduk kematian. Vaara, ternyata lebih ganas dari yang Arga duga. Sekalipun gadis itu berbuah nikmat dalam cengkerama mesra Arga, tapi di tempat yang berbeda ternyata ada Vaara lain. Itulah kehebatan Vaara, yang bisa memecah jiwa menjadi beberapa bagian, sehingga mudah baginya untuk melakukan penyiksaan di dua tempat sekaligus yang berbeda jauh jaraknya, tapi bersamaan waktunya.


"Pantas dia mampu melakukan pembunuhan terhadap diri Simon, sementara ia juga menikmati kemesraan di atas ranjang dengan ku. Rupanya dia bisa memecah jiwa dalam satu rupa," pikir Arga menjelang tidur, setelah Vaara menjelaskan hal itu.


Untuk menentang Vaara secara terang-terangan Arga tidak akan mampu, dan memang tidak mempunyai kemampuan sedikit pun. Tempo hari, ketika menyatakan rasa muaknya setelah Vaara mengaku sebagai pembunuh Simon, perempuan itu dengan gerakan yang tak terlihat oleh mata telah menunjukkan kemarahannya. Garpu roti itu dengan cepat menancap di tangan kiri Arga yang berada di meja.


"Aaahhhh...!" Arga menjerit, garpu itu masih menancap dan terbawa pada saat tangan di kibas-kibaskan.


"Sekali lagi kau memusuhi ku, kujadikan kau bahan hiburan ku!" geram Vaara kala itu. "Dan, ketahuilah, Arga.... Apabila aku menyiksa mu sampai berulang-ulang, kau tak akan bisa mati, kecuali ku lepaskan cincin mu itu. Tak ada yang bisa melepasnya selain aku. Karenanya, kau bisa ku jadikan korban siksaan yang abadi jika hal itu memang kau kehendaki."


Mengerikan sekali andai ancaman itu menjadi kenyataan. Rasa-rasanya Arga lebih baik memilih tetap mati dari pada hidup kembali seperti saat ini. Tak tahan Arga menghadapi ancaman jiwa yang amat menyiksa itu. Kini tujuannya hanya satu, yaitu mencari penangkal kekuatan iblis Vaara.


Anehnya, setelah Vaara melampiaskan amarahmya dengan menancapkan garpu di tangan Arga, ia jadi baik kembali. Ia mudah tersinggung tapi mudah tergiur kepada Arga.


Malamnya toh ia kembali menggerayangi tubuh Arga tanpa peduli telapak tangan Arga di balut perban. Gadis cantik ini malah menikmatinya. Ia terus meminta untuk mengulangnya. Bahkan ia menceritakan tentang keistimewaannya untuk memecah jiwa dalam satu rupa, dan membeberkan rencananya tentang dunia perfilman. Arga di anjurkan untuk menemui produser film, dan di paksa berani menggarap sebuah film dengan peran utama Vaara sendiri.


"Kau akan semakin kaya, nama mu akan semakin melonjak, dan semua orang akan salut kepada mu, Arga."


Hanya saja, dalam hati Arga menggumam, "Lalu, semua orang akan menjadi tergila-gila karena nonton film mu yang mempunyai pengaruh gaib itu? Bah...! Tak sudi aku membuat semua orang celaka karena mu!"


Hanya dalam hati, tak berani terlontar lewat mulut. Itu pun Arga buru-buru menghentikan gerutuan hatinya, sebab ia ingat bahwa Vaara bukan orang bodoh. Ia bisa membaca dan mendengar kata hati orang. Celakalah kalau gerutuan tadi di pantau oleh Vaara.


Untuk sementara ini, Arga tidak memikirkan tentang karirnya. Yang ada dalam benaknya adalah menghindari dari Vaara. Kontrak hidupnya tinggal 4 bulan lagi.


Pertama-tama ia harus mempunyai partner yang bisa diajak diskusi masalah tersebut. Ooh, itu berarti Arga harus membeberkan rahasia pribadinya? Ah, tak apa kalau toh hal itu akan memberinya jalan keluar yang terbaik. Lalu, siapa orangnya yang pantas untuk diajak bermbuk masalah nasibnya? Siapa orangnya yang mau percaya dengan problematiknya? Om Lucky? Ryan? Ooh, jangan Ryan, nanti malah dia menuntut balik karena menganggap Arga lah biang keladi kematian Simon. Arga tahu hubungan Ryan dengan Simon yang sudah seperti saudara sendiri.


"Hmmm... jadi siapa, ya? Tentunya orang yang kujadikan partner adalah orang yang hisa berpikir secara bijak dan mengerti kejiwaan seseorang. Ooh, ya... Bagaimana kalau Yoona? Ah, jangan! Jangan dia. Aku malu kalau dia tahu masalah ku. Justru terhadap dia aku harus menutup rapat-rapat rahasia ini." Arga menggumam dan bicara sendiri di kantornya. Tak keras, tapi kedengaran seperti orang menggerutu, sehingga Nolla yang duduk sebagai designer di kantor menegur Arga.


"Kenapa, Ar? Kok ngoceh sendiri kayak dalam wayang kulit?" tanya Nolla.


"Ah, sekedar iseng saja, La. Habis dari tadi nggak ada telepon nggak ada yang mengajak ngobrol, nggak ada tugas. Iseng!"


Nolla, cewek berdarah Menado itu masih menekuni pekerjaannya. Ia tertawa sejenak waktu Arga selesai bicara. Sambil tetap bekerja ia sempat berkata, "Makanya cepat cari istri. Kawin, biar nggak iseng. Biat ada temen ngobrol sambil cekikikan."


Arga meringis, lalu diam. Tapi, benaknya berpikir dan bertanya-tanya, "Haruskah Nolla yang ku jadikan temen untuk memecahkan kasus ku ini? Kayaknya sih, dia cerdas dan bisa mengerti kejiwaan seseorang. Tapi, apakah dia percaya dengan hal-hal bersifat tahaarl?"


Kriiing...! Arga tersentak, telepon berdering. Ia buru-buru mengangatnya. Oh, rupanya dari bossnya sendiri, Om Lucky.


"Ar, aku ada di Kadin. Sebentar lagi mau menjemput Dahlia, model baru. Kamu siap tes dia dengan kamera mu, Ar?"


"Siap, Om. Kapan mau di bawa kemari?" tanya Arga heran.


Om Lucky pun menjawab, "Setelah dari rumahnya saja! Kamu siapkan peralatannya, ya? Oh, ya... sorry, ada pesan penting dari Yoona. Kamu nanti sore di minta datang ke rumahnya. Yoona ulang tahun!"


"Oh, ya...? Kok dia nggak kasih kabar sama saya, Om?" ucap Arga.


Om Lucky pun berkata, "Lewat aku undangannya. Hmm... kalau begitu, begini saja deh, Ar. Tes untuk Dahlia besok saja deh. Soalnya nanti sore kita harus nyelonong ke rumah Yoona. Papa dan mamanya juga minta supaya aku datang sih."


"Yah, terserah Om Lucky saja deh. Aku ikut Om saja." jawab Arga.


Yoona ulang tahun? Gumam Arga setelah meletakkan teleponnya. Benaknya mulai di bayang-bayangi wajah Yoona. Hatinya kembali di hinggapi keresahan. Baru sekarang Yoona ulang tahun dan Arga mendapat undangan secara tak resmi. Tahun-tahun kemarin, Arga tak pernah mendapat undangan menghadiri ulang tahun Yoona. Atau, barangkali karena Yoona masih sakit hati atas cekcoknya dengan almarhumah Irene dulu?


"Ah, persetan dengan masalah dulu-dulu. Yang penting sekarang aku harus cari kado buat Yoona!" kata Arga dalam hati.


Pesta ulang tahun itu cukup sederhana. Tak banyak yang di undang oleh Yoona. Hanya pihak keluarga, dan teman dekatnya, Arri. Lalu, bagaimana status Arga di mata Yoona? Termasuk pihak keluarga atau teman dekatnya?