
"Ahh... ahhhh…. ouuuuhhhh… ahhhhhhhh…" ceracau Vaara.
******* itu membuat Arga bergairah di bakar panasnya api. Sesekali ia menampakkan semarmnya disela-sela jeritan keindahan itu.
Malam bergulir dari pertengahan. Kesunyian yang menghadirkan udara dingin itu dilalui Arga dengan sebaris kehangatan begitu juga dengan Vaara pun menerima kehangatan itu dengan mesra.
Bukan karena Arga ingin menjadi cepat kaya, lantas ia mau berlayar bersama Vaara ke samudera cinta. Tetapi, perempuan yang satu ini memang mempunyai daya tarik yang luar biasa. Kecupan bibirnya menghadirkan api yang memercik-mercikan gairah, sehingga dalam tempo sekejap darah Arga pun serasa terbakar. Sorot mata yang saar itu pun mampu membawa alam pikiran Arga ke jenjang khayalan tinggi.
Berbeda dengan sorotan mata Irene yang bulat bening itu. Hanya kesejukan yang ada di mata Irene. Hanya keceriaan yang menyembur di dalam hati Arga. Tetapi, keceriaan itu pun di sukai oleh Arga.
Sayangnya, Irene mulai menaruh rasa cemburu terang-terangan kepada Yoona, sebab ia tahu Yoona pergi bersama Arga. Gadis itu bahkan menemui Yoona dan berkata dengan ketus,
"Apa untungnya membawa pergi cowok orang sih?"
Tentu saja ia tersinggung dan segera bertaka, "Bicaralah pakai otak, jangan pakai dengkul! Aku pergi dengan Arga untuk suatu keperluan. Bisnis!"
"Memang. Tapi di samping bisnis? Di samping bisnis apa nggak ada efek sampingnya?!"
"Eh, kamu maunya apa sih ngomong begitu? Kamu pikir cuma kamu yang berhak mendapatkan Arga?"
"Oh, jadi kamu sudah ngaku kamu pingin mendapatkan Arga? Bagitu?"
Plaaakkk...! Mulut Irene di tampar oleh Yoona dengan keras.
Irene tidak mau kalah, ia juga menampar muka Yoona dengan keras. Plaaakkk...!
"Berhenti! Berhenti kalian!" teriak Arga segera berlari dari perpustakaan ke arah mereka.
"Atur omongan pacar mu itu, Ar!" geram Yoona.
Irene menyahut, "Dia yang nggak punya aturan! Dia ngajak kamu pergi tanpa seizin aku!"
Arga jengkel, lalu berkata, "Nggak ada yang perlu di minta izin untuk pergi bersama ku! Kamu tidak berhak, Yoona juga tidak berhak! Aku muak dengan cara kalian ini! Muak!"
Kata-kata itu ternyata di hiraukan oleh Irene. Bahkan, pada malam hari Irene berani datang sendirian ke rumah Arga. Di halaman, ia bukan bertemu dengan Om Ripto atau tantenya Arga, melainkan bertemu dengan seorang perempuan bergaun putih.
"Mau apa kemari?" tanya Vaara.
"Mau ketemu Arga. Kamu siapa?" Irene ganti bertanya.
"Vaara." jawabnya dengan dingin dan tatapan yang tajam ke arah Irene.
Irene sempat merinding karena tatapan itu, tapi niat untuk bertemu dengan Arga itu ia tanguhkan.
"Aku mau bertemu dengannya. Tolong sampaikan ke dia."
"Jangan bohong! Ini sudah malam. Mau kemana ia larut malam begini jika bukan di rumah?" ucap Irene jengkel.
"Kalau tidak percaya kamu bisa berteriak dan lihat apakah Arga akan keluar atau tidak. Atau malah nanti yang keluar adalah keluarga sekaligus tetangganya." ucap Vaara dingin.
"Kalau begitu, Tolong sampaikan ke dia nanti bahwa aku ada datang ke sini." ucap Irene sambil melangkah meninggalkan rumah Arga dan masuk ke mobil.
Sebelum Irene pergi Vaara sempat berpesan kepadanya "Janganlah lagi kau berani menginjakan kaki mu di sini dan nekat menemui Arga. Jika tidak aku tidak akan segan-segan membeset-beset kulit mu! Ingat itu!"
"Dasar wanita gila!" balas Irene sambil menyetir mobilnya dan pergi meninggalkan kediaman Arga.
Vaara menghiraukan ucapan wanita itu, ia hanya menatap tajam ke arah wanita itu dengan tatapan ingin membunuh. Hawa dingin itu pun mengelilingi tubuhnya.
Janji Vaara menjadi kenyataan. Baru dua bulan Vaara bekerja sebagai fotographer di advertising Om Lucky, omnya Yoona, ia sudah bisa kontrak rumah sendiri, beli motor baru dan bisa mengirim uang untuk orang tuanya sebanyak 5 juta rupiah. Otomatis, kuliahnya terbengkalai, dan Arga lebih giat menekuni bidangnya.
Keberhasilan Arga di awali dengan pengharapan sebuah iklan shampoo. Model yang di pakai tadinya seorang peragawati yang sudah punya nama. Tetapi, pihak produsen tidak setuju dengan model tersebut. Lalu, di sondorkan lagi contoh iklan dengan model lain. Sampai empat model pihak produsen tidak setuju. Alasannya kurang cocok, kurang manis, kurang ini itu dan sebagainya.
"Bawa aku menghadap boss mu," kata Vaara pada suatu malam.
Arga tidak punya pilihan lain. Sebetulnya tugasnya hanya sebagai photographer, bukan pencari model, tetapi Vaara mendesak agar Arga mengajukan modelnya sendiri.
Pertama-tama Om Lucky berbisik kepada Arga begitu Arga memperkenalkan Vaara, "Sudah kawinkan dia, Ar?"
"Sudah. Kenapa, Om?" ucap Arga berbohong sambil bertanya balik.
"Hmm... ngak apa-apa. Cuma ingin tahu statusnya saja," jawab Om Lucky dengan kikuk. "Coba sajalah! Siapa tahu dia terpakai."
Pemotretan dilakukan. Arga sendiri merasa heran melihat hasil pemotretan atas diri Vaara. Bagus sekali jadinya. Padahal Arga tahu, Vaara adalah roh. Biasanya roh tidak bisa di potret.
Hasil pemotretan itu di bawa ke produsen shampoo. Ternyata pihak produsen setuju menggunakan model Vaara. Maka, di buatlah slide iklan dengan model Vaara.
Wajah Vaara pun menyebar di koran-koran, majalah-majalah, poster-poster, bahkan di papan-papan reklame pinggir jalan.
Satu hal yang sangat menggembirakan Om Lucky dan stafnya, bahwa iklan yang menggunakan model Vaara itu mendapat perhatian besar dari measyarakat. Menurut desas-desus dan kabar burung, iklan berwajah Vaara mempunyai daya tarik yang luar biasa. Bukan hanya pria, bagi wanita pun demikian. Setiap orang melewati depan papan reklame shampoo itu, mereka pasti menyempatkan menegok, memandangi wajah Vaara dan hati mereka merasa berdesir-desir indah. Yang membaca majalah atau koran, pasti berhenti pada halaman iklan tersebut sampai lama.
Ada salah seorang ibu yang mengaku setiap membuka majalah, ia mencari iklan shampoo yang berwajah Vaara. Seorang ibu juga mengaku, bahwa di dinding kamar tidurnya banyak guntingan iklan shampoo tersebut, dan semua itu adalah pekerjaan suaminya.
Menurut pengakuan pihak produsen sendiri, sejak iklan tersebut di pasang, produksi shampoonya meningkat. Banyak distributor yang memesan dengan jumlah makin hari makin bertambah. Pihak distributor sendiri juga merasa kewalahan melayani permintaan para agen untuk jenis shampoo itu. Para agen sendiri hampir sebagian besar menghentikan penjualan shampoo lain, karena setiap orang ingin membeli shampoo, hanya shampoo dalam iklan Vaara itulah yang di cari dan di beli. Shampoo lainnya di tolak.
Malahan, belakangan pihak produsen bermaksud untuk membuat spot iklan untuk TV swasta yang menggunakan model Vaara. Om Lucky sudah menyanggupi untuk membuat spot iklan tersebut. Ia menarruh Arga menghubungi Vaara yang datang baru tiga kali, yaitu pada saat pengambilan gambar tempo hari.
Tapi Vaara minta waktu. Alasannya ia sedang sibuk dengan urusan lain. Padahal ia sengaja mengulur waktu agar nilai kontraknya dinaikkan dan tawaran yang sudah diajukan oleh pihak produsen.