THE RETURN OF ARGA

THE RETURN OF ARGA
CHAPTER 18



Yoona siap-siap mencabut cincin bermata ungu. Begitu cincin hitam telah masuk ke jari tengah Arga, cincin bermata ungu itu di tarik oleh Yoona dengan sentakan keras.


"Aaaow...!" Arga menjerit, jarinya lecet akibat sentakan cincin secara paksa itu.


Vaara berpaling mendengar teriakan Arga. Ia menjadi kaget dan mulai ketakutan.


"Jangan...! Jangan buang cincin itu...!" serunya.


Yoona masih memang ku kepala Arga yang terkulai lemas. Ia memandang Vaara dengan mengacungkan cincin bermata ungu.


"Kau pikir siapa diri mu, hah?!" teriak Yoona melampiaskan emosinya. "Kau hanya iblis! Kau tidak punya kekuatam apa-apa!"


"Ku mohon jangan lemparkan cincin itu...." Vaara mulai merengek.


"Ayo, lawan aku...! Lawan kami, Setan! Ambil cincin keparat mu ini, haaah...!"


Wesss...! Cincin terlempar ke atas. Vaara menjerit.


"Jangaaan..." Cincin itu dikejarnya dengan gerakan melayang, tapi cincin itu menghilang dan Vaara terus melayang tinggi, lalu ikut menghilang juga. Tinggal suara gemanya bagai orang sekarat yang makin lama makin tipis, terbawa angin malam.


Yoona menangis tersengguk-sengguk sambil memeluk Arga di pangkuannya.


Arga dalam keadaan lemah, darahnya banyak yang keluar.


"Sudah selesai, Arga...! Oh, bertahanlah Sayang.... Aku akan membawa mu ke rumah sakit...!"


"Yoona...," ucap Arga lirih sekali. Tangannya mencoba meraih kepala Yoona. Yoona pun makin menunduk, dan kepala itu dipeluk oleh Arga. Wajah mereka beradu, Yoona menciumi Arga bersama deras air matanya.


Rembulan menjadi saksi, bahwa di ujung maut itu ada cinta yang tersemat. Cinta itu kian hari ternyata kian merimbun, dan pada saatnya tiba masa memetik.


Dua minggu kemudian, Acara pernikahan Arga dan Yoona pun di selengarakan. Tak lupa Aki Rempeng hadir ke acara pernikahan cucunya, dan sempat membisikkan kata pada Yoona.


"Kalau saja cincin kehidupan itu masih ada pada Arga, maka kau akan melihat bahwa cincin itu telah menjadi merah. Merah sekali. Hei, kau tahu artinya merah itu, bukan?"


Yoona tertawa tertahan, sementara tangannya makin erat menggenggam tangan Arga di sampingnya.


Memang betul kata Aki Rempeng, andai saja cincin kehidupan itu masih ada, pasti cicin itu sudah berubah mejadi merah delima. Sayangnya cicin kehidupan itu sudah lenyap bersama dengan kepergian Vaara.


Setelah pernikahan itu selesai, keduanya pun hidup berbahagia selamanya. Dan tak terasa sudah 1 tahun lamanya sejak pernikahan mereka berlangsung. Mereka di karuniai seorang bayi perempuan. Mereka pun memberi nama bayi itu dengan sebutan Vaara, lebih tepatnya Vaara Hiroshi. Hiroshi itu di ambil dari nama belakang Arga Hiroshi.


Nama itu di berikan bukan semata untuk mengenang peristiwa dirinya dengan Vaara. Tapi nama itu di berikan dengan makna kebahagiaan, keberuntungan, dan nasib baik. Mereka berharap dengan menyandang nama ini sang bayi bisa membawa kebahagiaan, keberuntung dan dan nasib baik bagi Arga dan Yoona.


Dan benar terbukti, bahwa bayi itu bisa membawakan kebahagiaan, keberuntungan, dan nasib baik bagi Arga. Buktinya saja tanpa Vaara yang menjadi modelnya dulu, sekarang Arga sendiri bisa menjadi seorang photographer terkenal dan mendapatkan keuntungan yang amat besar.


Model yang ia pakai yakni adalah putri kecilnya sendiri. Tentu saja putri kecilnya sangat manis dan cantik sekali. Ia menurunkan kecantikan dari ibunya yang berwajah ke korea-koreaan itu dan juga matanya yang menurun dari ayahnya yang merupakan orang campuran Jepang-Indonesia.


Padahal usianya masih sangat kecil, tapi ia sudah bisa menjadi bintang iklan ternama di negaranya. Apalagi kalau putri kecilnya sudah dewasa? Sudah pasti lebih ternama lagi tentunya. Di usia 5 tahun saja putri kecilnya sudah menjadi iklan shampoo dan juga iklan sabun pewangi. Kemudian di usia 7 tahun, putrinya mendapatkan tawaran menjadi model cilik generasi sekarang. Dan pada saat usianya sudah beranjak 10 tahun, putri kecilnya menjadi artis cilik ternama di kawasan Indonesia-Jepang.


Melihat kehidupan bahagiannya ini, Arga menjadi terbayang sendiri. Ia sendiri masih heran bagaimana keadaan Vaara si Juru Baka itu di alam neraka sana. Apakah si Juru Baka itu benar-benar sudah lenyap? Atau dia belum lenyap dan masih baik-baik saja di alamnya? Itu lah yang menjadi pertanyaan sekaligus kecemasan Arga setiap harinya.


Arga khawatir bahwa suatu saat Vaara si Juru Baka yang sadis itu datang kembali dan membalaskan dendamnya kepada putri kecilnya, tapi si Aki Rempeng berkata, bahwa Vaara sudah lenyap dari dunia ini. Tidak ada lagi jejak atau tanda-tanda keberadaannya di dunia ini. Ia juga memberitahu Arga untuk tidak usah khawatir dengan hal itu dan terus saja menjalani kehidupan bahagianya bersama dengan cucu dan cicitnya.


Mendengar Aki Rempeng sudah berkata demikian tentu saja Arga lega mendengarnya, begitu juga Yoona. Mereka pun menjalani kehidupan bahagia mereka lagi bersama-sama. Tapi, apakah kalian tidak merasa aneh? Bagaimana jika Vaara masuk ke tubuh Vaara Hiroshi? Apa yang akan terjadi jika dugaan tersebut benar-benar terjadi?


Semoga saja hal tersebut tidak terjadi. Semoga saja kehidupan mereka tentram dan bahagia. Semoga saja gadis berkimono yang sadis itu tidak muncul lagi ke dunia ini terutama tidak di hadapan mereka. Jika dia benar-benar muncul lagi ke dunia ini, bisa-bisa banyak korban lagi berjatuhan akibat kesadisannya dalam menyiksa mangsanya. Sungguh tidak bisa terbayang jika hal tersebut terulang lagi.


Roh Legion itu akhirnya masuk ke


Upacara pemanggilan roh bagi orang yang telah mati mempunyai banyak versi. Umumnya di lakukan di tengah malam, ketika sunyi makin mencekam dan hawa dingin meresap menembus pori-pori manusia. Konon, yang terbaik di lakukan pada malam Jumat Kliwon.


Rea, gadis seorang banker yang hidupnya berlimpah kemewahan, berlimpah pengetahuan, masih juga tertarik pada sistem upacaranya pemanggilan roh. Hal ini di wai dari hilangnya sebuah mobil BMW yang menjadi milik Rea sendiri. Mobil itu hilang ketika di pakir di depan sebuah gang yang menuju rumah Annie. Polisi belum berhasil melacaknya. Paranormal yang di hubungi juga belum bisa memberi jawaaban yang pasti, tentang di mana mobil itu berada. Rasa penasaran dan kekesalan hati itulah yang membuay Rea setuju dengan rencana Egga, Annie dan Benson.


"Kita bikin jalangkung saja! Kita tanyakan pada roh yang masuk dalam jalangkung itu."


Engga yang mengusulkan hal itu pertama-tama, di perkuat dengan komentar Benson, "Ya, aku pernah memperaktekkan bikin jalangkung. Aku punya mantra yang waktu kecil kucatat dari sebuah buku. Konon serangaian mantara itu bisa untuk memanggil roh orang yang telah mati."


"Butuh anggaran berapa untuk membikin jalangkung?" tanya Rea.


"Nggak banyak kok!" jawab Benson.


"Kita cuman membutuhkan gaarng air dari tempurung kelapa, keranjang penanak nasi yang oleh nenek ku dulu disebut 'kukusan', dan… yah, beberapa peralatan sederhana lainnya." lanjut Benson.


"Ih, bahaya nggak, tuh?" Annie sedikit bergidik.


"Bagaimana bisa bahaya. Dulu, jalangkung merupakan permainan anak-anak desa yang suka iseng saja!" sahut Egga.


Gaarng air yang terbuat dari tempurung kelapa, berwarna hitam, yang digunakan sebagai wajah boneka dan tulang punggungnya. Bagaian belakang gaarng air itu di beri hiasan dengan kapur putih, membentuk wajah seseorang. Keranjang penanak nasi yang biasa digunakan di desa-desa, di pakai sebagai badan boneka jalangkung itu. Sedangkan, potogan gagang sapu ijuk, direntangkn menyilang pada bagaian bawah tempurung kelapa, sebagai lambing sepasang pundak manusia. Jalangkung itu menjadi mirip orang-oragan sawah setelah di lengkapi dengan baju berlengan pendek. Pada bagian dada boneka kaar itu di beri alat penjepit kapur tulis.


Di depan jalangkung di pasangkan sebuah papan tulis yang nanti siap untuk menulis roh yang akan masuk dalam peraga jalangkung itu. Beberapa makanan kecil, seperti kue lapis, kue pisang, bubur putih, dan lain sebagainya, di siapkan di samping papan tulis, Itulah sejumlah hidangan bagi roh yang nantinya akan di jamu dlam pesta kecil tersebut. Minuman kopi, the manis, air putih, air kembang dalam gelas, juga ada di situ. Tak lupa, tempat pembakaran kemenyaan pun di siapkan tak jauh dari sejumlah hidangan yang ada. Malam yang di pilih adalah malam Jumat Kliwon.


"Malam istimewa dari ke tujuh malam yang ada di bumi ini." kata Benson.


"Menurut keyakinan orang-orang zaman dulu, malam Jumat Kliwon merupakan malam sukacita bagi para roh. Semua jenis roh muncul dari tempat persemayamannya. Dan, malam seperti itu sangat baik bagi kita yang ingin menjaring roh untuk masuk dalam jalangkung kita ini." lanjut Benson.


Mereka mengadakan upacara jalangkungan di sebuah gudang, di belakang rumah Rea. Bukan hanya Annie, Egga, Benson dan Rea yang ada di situ, melainkan ada satu cowok lagi yang hadir sebagai teman dekat Egga. Pramadi, namanya. Ia seorang mahasiswa Antropologi, yang cenderung memperhatikan prilaku manusia di sekelilingnya.


"Sekali pun kau tidak mempercayai pada hal-hal yang bersifat takhaarl ini, tapi kumohon kau tidak membuat ulah yang menyebalkan." bisik Egga kepada Pramadi.


Kepala Pramadi hanya mengangguk-angguk dengan senarm tipis. Rencana dalam benaknya memang datang ke ditu untuk menyaksikan sesuatu yang unik dan mistik. Membuktikan hubungan manusia dengan gaib, apakah memang benar ada dan bisa di adakan oleh manusia itu sendiri.


"Egga…" bisik Rea.


"Teman mu itu kok sebentar-sebentar melirik ku? Ganjen amat dia, ya?" tanya Rea berbisik.


"Mungkin karena menurutnya kamu cantik!" balas Egga dalam bisikan juga.


"Ah...!" Rea mencubit kecil lengan Egga.


Sementara itu, Benson dan Annie menarsun beberapa keperluan untuk upacara pemanggilan roh.


"Dia cowok mu, ya Ga?" tanya Rea lagi.


Egga pun segera menjawab, "Ngaco lu! Dia masih perawan."


"Ah….!" Rea sedikit kesal.


"Maksud mu, belum pernah punya cewek?" tanya Rea memastikan.


"Belum! Aku tahu persis, sebab ia tinggal di sebelah rumah ku sudah tiga tahun ini." bisik Egga.


"Kamu naksir dia ya, Re?" tanya Egga.


"Sialan lu! Aku cuman curiga! Gerakan matanya kayak copet!" Rea mengikik, Egga mendesis.


"Ku minta kalian jangan membuat suasana menjadi berisik, ya!" cetus Benson.


"Roh tidak menarkai tempat yang berisik. Harus tenang, sepi dan penuh konsentrasi." lanjut Benson serius.


"Oke, Mbah…!" jawab Rea masih menahan tawa geli.


Mereka menunggu pukul 12 malam tepat. Saat itu, masih kurang 15 menit. Pramadi mendekati Benson dan bertanya, "Mengapa harus menunggu jam 12 tepat?"


"Kata nenek ku, pada jam 12 tepat, tengah malam, itulah saat pintu gerbang neraka di buka. Jalan tembus dari alam kubur di bentangkan." jawab Benson.


"Aaah…!" Pramadi mendesah sambil menahan tawa.


"Hei, aku sudah sering mengadakan upacara jalangkungan seperti ini ketika masih SD bahkan sampai aku SMP." kata Benson.


"Kau boleh saja meremehkkan kemampuan ku dalam hal ini, tapi kau akan terbengong melihat hasilnya nanti." lanjut Benson serius.


"Aku tidak meremehkan kamu, Ben. Aku Cuma merasa aneh, tapi memang ingin tahu, seperti apa keanehan itu. Sorry, kalau aku tadi tertawa menyinggung perasaan mu." kata Pramadi.


Gudang itu terpisah dari rumah induk yang mewah. Gudang itu ada di pojok halaman belakang. Jaraknya 25 meter lebih untuk sampai ke rumah induk. Suasananya cukup sepi. Di samping gudang ada pohon rambutan yang merindang daunnya.


Pohon itu menimbulkan suara gemerisik karena angina menghembusnya sedikit lebih kencang dari malam biasanya. Praktis suara deru angin pun terdengar samar-samar dari dalam gudang, dan menimbulkan rasa merinding pada tubuh mereka.


Gudang itu mempunyai beberapa perabot bekas yang tidak terpakai, namun di tata dengan rapi. Di tumpuk-tumpuk, sehingga mempunyai ruangan yang sedikit lega. Gudang itu berpenerangan lampu pada bagian tengah langit-langitnya. Bolham lampu yang menyala cuman berkekuatan 10 watt. Jadi, suasananya di dalam gudang tergolong remang-remang.


Suasana itulah yang membuat Annie sejak tadi gelisah, di cekam perasaan takut. Namun, agaknya ia ingin mencoba sesuatu yang di takutinya itu. Ia ingin tahu, sampai di mana batas ketakutannya itu.