
Waktu Arga menanyakan itu, Yoona menjawab sambil tertawa renyah, "Calon...! Status mu adalah calon!"
"Calon apa? Calon ketua senat?"
"Calon kepala rumah tangga!" jawab Yoona dengan tersipu.
"Bah! Rumah tangganya siapa?" pancing Arga.
"Yaaah... rumah tangga mu sendiri!" jawab Yoona.
Acara pesta tidak berlangsung sampai larut malam. Pukul 7 malam mereka sudah pulang, termasuk Arri dan pacarnya. Tetapi, Yoona menahan Arga agar jangan ikut pulang.
"Apa alasannya?" tanya Arga.
"Aku telah membuka kado mu. Aku akan mengembalikan kado mu kalau bukan kau yang mengenakannya."
"Sinting kamu ini," ucap Arga sambil tertawa.
Arga membelikan sebuah kalung permata buat Yoona. Harganya cukup mahal, tapi buat Arga tidak seberapa. Yang ia pentingkan bukan mahalnya barang, tapi arti sebuah kalung permata buat Yoona. Barangkali Yoona menangkap arti kado itu, sehingga ia memaksa agar Arga yang mengenakannya.
Di depan papa, mama, dan adik-adiknya Yoona, gadis berbibir menggemaskan itu memaksa Arga untuk mengenakan kalung itu di lehernya. Arga teripu malu, namun ia lakukan hal itu. Ia melingkarkan kalung permata yang amat menawan itu di leher Yoona. Kemudian, papa, mama dan keluarga Yoona menyambutnya dengan tepuk tangan. Yoona tersenarm manis. Arga pun memiringkan kepala, menyodorkan pipinya, dan menciumi Yoona dengan lembut. Indah sekali malam itu bagi mereka, sampai-sampai Yoona menahan Arga lagi untuk yang kedua kalinya pada saat Arga hendak pulang.
"Ada yang ingin ku bicarakan. Aku ingin selesaikan sekarang juga, Ar!" kata Yoona, membuat Arga jadi penasaran.
"Tentang apa?" tanya Arga heran.
"Vaara. " jawab Yoona.
Hampir saja Arga kehilangan kendali, ia nyaris memekik kaget di depan Yoona. Untung ia cepat kontrol emosi, sehingga yang ia lakukan hanya menarik napas panjang-panjang.
Di serambi samping yang mulai sepi itu, Yoona bicara dengan sikap serius, tapi tidak kaku. Arga pun terpaksa mengimbangi sikap semacam itu. Mereka duduk di kursi serambi yang dekat dengan kolam ikan hias.
"Tadi siang sebenarnya aku ingin bikin kejutan buat kamu. Aku datang ke rumah mu untuk mengantarkan undangan ultah ku secara pribadi. Tapi, di rumah mu ku temukan perempuan cantik yang menjadi model iklan mu itu. Ia mengaku bernama Vaara. Ia memang cantik, anggun, dan matang cara berpikirnya."
"Dia.... dia memang tinggal seeumah dengan ku, Yoona. Tapi...."
"Aku tidak mempermasalahkan soal tinggal serumah atau lain rumah," sahut Yoona. "Yang menganjal di hati ku adalah sikapnya terhadap aku. Ia bersikap seolah-olah ia adalah istri mu." lanjut Yoona.
"Bukan. Dia bukan istri ku, tapi...."
"Oke. Aku percaya kata-kata mu," sahut Yoona lagi. "Lalu mengapa ia melarang ku mendekati mu? Ia bahkan mengancam ku." Tanya Yoona.
Kata Yoona lagi, "Tolong kasih tahu kepada simpanan mu itu, jangan terlalu kampungan! Dia nggak perlu menakut-nakuti aku dengan ancaman ingin merajang tubuh ku. Itu nggak perlu! Tanpa ia mengancam ku, aku pun tidak akan mendekati mu, sekalipun hatiku berharap untuk dapat memiliki kamu. Tapi aku tahu, siapa kamu dan siapa aku! Aku nggak mau ngelunjak. Aku ini sekarang ada di bawah kamu. Tidak pantas mendapatkan kamu. Karena aku sadar akan hal itu, maka aku hanya ingin berteman dengan mu. Tapi cewek mu itu jangan sok galak begitu!"
Gawat. Kalau sampai hal ini di dengar Vaara, Yoona bisa celaka. Arga bermaksud menghentikan kata-kata Yoona, tetapi Yoona sudah lebih dulu bicara lagi.
"Tolong kasih tahu sama cewek mu itu, ya. Katakan kepada dia, bahwa Yoona ngak suka di ancam oleh siapa pun. Yoona nggak pernah punya rasa takut dengan ancaman atau gertakan siapa pun! Kasih tahu dia begitu, supaya dia tahu adat bagaimana cara menerima tamu."
Arga serba salah. Temperamen Yoona makin lama makin meninggi. Kata-katanya makin membahayakan kalau sampai roh Vaara saat itu mendengarnya.
Akhirnya, Arga berkata dengan nada rendah, "Maafkan aku, Yoona. Aku.... "
"Bukan kamu yang harus minta maaf pada ku, tapi dia! Kamu nggak salah, Ar. Kamu nggak tahu soal sikapnya yang sok jago itu. Kalau mau, dia datang kemari dan minta maaf pada ku!"
Setelah bungkam beberapa saat, Arga pun berkata apa yang sebenarnya terjadi. "Yoona, kau percaya dengan dunia roh?"
Yoona masih berkerut dahi dan terbungkam mulutnya. Beberapa saat kemudian ia bertanya, "Maksud mu apa? Malah melarikan pembicaraan kita ke dunia roh?"
Kikuk juga Arga menjelaskannya, tapi tetap di coba. "Yoona, sebenarnya Vaara itu buk... bukan manusia. Dia roh yang menjelma menjadi manusia."
Yoona masih menampakkan cemberutnya samar-samar. Dahinya tetap berkerut, matanya kali ini melirik Arga. Tapi sikapnya tetap tenang.
"Aku nggak peduli siapa dia!" ucap Yoona dengan ketus.
"Yoona, ku mohon kau mau memahami masalah ku ini. Dia benar-benar roh halus. Jangan kau tantang!"
"Aku roh kasar! Masa roh kasar akan kalah dengan roh halus?!" celutuk Yoona yang berkesan seenaknya. Arga yakin, bahwa Yoona belum mengerti betul apa maksud kata-kata Arga. Maka, saat itu juga Arga mencoba menjelaskan masalah kematiannya, sampai ia bangkit kembali menjadi manusia seperti ini. Arga juga menjelaskan adanya perjanjian maut antara dirinya denhan Vaara. Semuanya di ceritakan kepada Yoona, termasuk keluh-kesahnya hidup bersama Vaara.
Setelah lama terbungkam merenungi cerita itu, Yoona berkata dengan sikapnya yang masih tenang-tenang saja. "Kenapa kau tidak ceritakan pada ku jauh-jauh hari?"
"Aku takut kau akan menertawakan cerita ku." jawab Arga.
Yoona pun segera berkata, "Nyawa mu tinggal empat bulan apakah layak untuk di tertawakan?"
"Yoona, tidak semua orang mau mempercayai cerita ku tadi. Aku sendiri menyadari, cerita itu sukar di mengerti dan di percaya. Karena tidak ada hubungannya dengan logika! Kalau aku mengeluh kepada orang lain, jangan-jangan orang itu menganggap ku gila atau ada-ada. Makanya, kepada mu pun aku tak berani mengeluh. Padahal aku butuh bantuan, butuh teman bertimbang rasa untuk mencari jalan keluar menjauhi Vaara." jawab Arga.
Yoona menghempaskan napas, merubah posisi duduknya lebih dekat ke arah Arga. Lalu, dengan suara pelan ia berkata, "Kakek ku masih hidup. Ia tinggal di Bogor. Kurasa kita bisa minta bantuan kakek ku, kalau kau setuju.""Apakah... apakah dia bisa...?" tanya Arga tergagap-gagap karena ragu-ragu.
"Dia pernah mati tiga kali, dan hidup kembali. Kau baru satu kali mati, bukan? Dia sudah tiga kali."