
"Dia pernah mati tiga kali, dan hidup kembali. Kau baru satu kali mati, bukan? Dia sudah tiga kali." jelas Yoona.
Arga sempat bengong. Yoona berkata, "Masalah mu bukan masalah yang ringan. Masalah itu tidak bisa di tunda-tunda, Ar. Kalau kau setuju, besok kita pergi ke rumah kakek. Aku akan bicara dulu kepada papa tentang masalah mu."
Arga mengangguk, tapi jiwanya bagai melayang pada saat itu. Sama sekali tak di duga, ternyata justru Yoona lah orang yang sesang di cari-carinya belakanhan ini. Terlepas apakah usaha Yoona itu membawa hasil atau tidak, yang jelas Arga telah menemukan orang yang mengerti tentang problemnya, dan mau mempercayai. Arga sendiri tak pernah mendengar bahwa kakek Yoona pernah mati lebih dari satu kali. Karena itu, tidak ada alasan lagi bagi Arga untuk menolak saran Yoona. Mereka harus segera menemui kakek Yoona yang tinggal di Bogor.
.....
Arga tiba di rumah waktu arlojinya menunjukkan pukul 11 malam lewat. Vaara belum tidur, tampaknya ia menunggu kedatangan Arga sambil nyetel video. Arga berdebar-debar waktu Vaara bertanya kepadanya dengan mata tetap memandang ke arah layar televisi.
"Lembur, di mana, Ar?"
"Hm... anu, tidak. Aku tidak lembur kok." Arga menggeragap, dan buru-buru mengendalikan diri. "Aku menghadiri pesta ulang tahun teman, karena Om Lucky juga hadir di situ dan.... "
"Yoona yang ulang tahun?" sahut Vaara makin menegangkan hati Arga.
Secara tak langsung Vaara menunjukkan bahwa ia tahu ke mana Arga pergi. Tapi, apakah ia juga tahu pembicaraan Arga dengan Yoona?
"Jangan memancing kemarahan ku, Arga. Bersikaplah biasa-biasa saja." Kata Vaara seperti orang tua menasehati anaknya. Jangan berbuat macam- macam, nanti aku marah pada mu dan kamu menjadi korban siksaanku."
Keringat dingin Arga mulai keluar. Detak-detak jantung bergemuruh di dalam dada. Firasat Arga mengatakan, bahwa Vaara sudah mendengar ucapan-ucapan Yoona.
Maka Arga pun berkata, "Vaara, tolong... jangan sentuh Yoona."
"Kau mau mengatur ku, ya!?" tanya Vaara ketus.
"Tidak... aku tidak bermaksud... " Belum sempat Arga menyelesaikan perkataannya,Vaara memotong, "Jika kamu menghalangi ku lagi, aku tidak akan main-main lagi. Akan ku buat kau dan dia menjadi boneka siksaan ku seumur hidup. Kecamkan itu!" Vaara pun meninggalkan Arga dan melangkah ke kamar.
Arga menelan ludah, seluruh tubuhnya berkeringat dingin dan tangannya gemetar tapi cepat-cepat ia hilangkan ketakutannya itu. Karena ia percaya kepada Yoona. Meskipun kemungkinan nya kecil tapi ia hanya bisa berharap. Berharap dapat segera terlepas dari Vaara.
Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan Vaara. Arga pun bergegas bersama Yoona pergi ke Bogor.
****
Orang-orang sekeliling memanggil kakeknya Yoona dengan sebutan Aki Rempeng, karena badannya kerempeng sekali. Kulitnya berkeriput hitam, rambutnya putih rata, giginya tinggal beberapa gelintir. Menurut keterangan Yoona, Aki Rempeng sudah berusia 98 tahun.
Hanpir saja Arga tidak percaya kalau usia Aki Rempeng sudah sebanyak itu. Karena dilihat dari gerakannya, cara jalannya, masih tegap, cekatan. Ia tidak bungkuk seperti kebanyakan kamu manula. Ia tidak memakai kacamata, namun masih bisa memandang dengan jelas. Ia tinggal bersama cucunya yang sudah menikah dan mempunyai dua anak. Jadi, ada dua buart dari Aki Rempeng yang tinggal bersamanya.
Arga sangat legah bisa sampai di rumah Aki Rempeng bersama Yoona. Mulanya ia ngeri kalau rencana itu di ketahui Vaara. Rupanya pada saat terjadi pembicaraan antara Arga dengan Yoona, Vaara tidak berkonsentrasi dengan Yoona, ia asik memutar video, sehingga pembicaraan di rumah Yoona itu tidak terpantau olehnya.
Yeri, kakak sepupu dari Yoona yang sudah mempunyai dua anak itu, sangat senang menyambut kedatangan Yoona.
Sewaktu Arga dan Yoona datang, Aki Rempeng sedang mengurus parit sawahnya yang tersumbat sesuatu hingga pengairannya tidak lancar. Nanni yang berlari-lari menarsul Aki Rempeng, memberitahukan kedatangan Yoona sebagai 'tamu dari kota'.
"Perkiraan ku kalian akan datang sore hari, ternyata sepagi ini kalian sudah sampai." Kata Aki Rempeng setelah berhadapan denagan Yoona dan Arga.
"Apa Aki sudah tahu kalau kami mau datang?" tanya Yoona yang bermanja di pundang Aki Rempeng.
"Semalam aku bermimpi ketemu cucu ku yang tercantik. Siapa lagi kalau bukan kau?" Aki Rempeng terkekeh-kekeh sambil membelai-belai rambut Yoona. "Maka kusuruh Yeri memasak sup jamur kesukaan mu."
"Oh, ya? Asyiiik...! Nanti aku makan banyak-banyak di sini, ya Ki?"
Aki Rempeng manggut-manggut, tampaknya gembira sekali bertemu dengan cucunya. Lelaki tua itu juga orang yang ramah dan supel, terbukti ia menyambut Arga dengan senarm dan tawa ceria. Ia menceritakan peristiwa-peristiwa lucu yang dialaminya bersama Yoona, di antaranya kecopetan di dalam bis kota, dan Yoona menyangka kakeknya yang bercanda menyembunyikan dompetnya. Tahu-tahu copetnya datang sendiri ke runah mengembalikan dompet Yoona.
"Nah, sekarang aku ingin tahu kedatangan kalian kemari mau apa? Mau minta restu untuk perkawinan kalian? Oh, aku retui! Kalian cocok! Kalian.... " Belum sempat Aki Rempeng menyelesaikan perkataannya, Yoona memotong.
"Aki...!" pintas Yoona merasa malu kepada Arga. Ngomong sembarangan aja! Siapa yang mau kawin sih?"
"Lho, jadi kamu sama Nak Arga ini bukan sedang pacar-pacaran...?"
"Idih, Aki...! Bikin malu aja! Begini, Ki... Arga punya masalah yang amat penting dan membahayakan.... "
Kemudian, Arga menceritakan saat kematiannya dan perjalanan rohnya. Semua secara detail peristiwa bersama Vaara di ceritakan kepada Aki Rempeng. Termasuk hubungan cinta yang membuat Arga menjadi budak nafsu bagi Vaara. Tak ada satupun yang di rahasiakan oleh Arga, sebab ia berharap dengan membeberkan semua rahasianya, maka ia dapat memperoleh jalan yang terbaik bagi keselamatan jiwanya.
Aki Rempeng manggut-manggut, antusias sekali mendengarkan cerita Arga. Ia sempat melirik pada cincin bermata ungu yang kala itu dalam keadaan berubah menjadi merah.
"Coba lihat cincin mu, Nak." kata Aki Rempeng. Arga tidak melepas cincinnya, tapi menyondorkan bersama tangan kirinya. Aki Rempeng sempat tersenarm mencurigakan Arga dan Yoona. Bahkan kini terkekeh-kekeh pelan.
"Kok malah ketawa, Ki? Idih amit-amit deh si Aki, kayak orang gelo aja!" Yoona bersungut-sungut.
"Aku menertawakan cincin ini." kata Aki Rempeng. "Cincin ini seharusnya bermata ungu, tapi sekarang dalam keadaan berubah menjadi merah. Ini suatu pertanda."
"Pertanda apa, Ki?" desak Yoona.
"Hatinya sedang tergoda oleh wanita." jawab Aki Rempeng terkekeh-kekeh.
Arga tersenarm malu, buang muka, tidak berani melirik Yoona.
"Siapa wanita yang menggoda hatinya itu, Ki?" tanya Yoona.
"Siapa lagi kalau bukan kamu!" jawab Aki Rempeng membuat Yoona sendiri tersipu dan berlagak menggerutu.