THE RETURN OF ARGA

THE RETURN OF ARGA
CHAPTER 6



Mobil biru tua itu meluncur menembus kegelapan malam. Angin yang berhembus pada saat itu mulai kencang. Irene menyangka akan turun hujan. Tak jadi masalah kalau hanya hujan saja. Tapi, soal tengkuk kepalanya yang sejak tadi bergidik merinding itu yang membuatnya menjadi resah. Belum lagi di susul bau wangi-wangian yang aneh. Seperti bau kembang dan bau yang mirip kapur barus. Entah bau apa itu.


Untuk menghilangkan rasa takut yang mulai mengembang dalam hatinya, Irene menghidupkan musik. Ia memutar kaset lagu jazz kesukaannya. Ia mencoba ikut-ikutan menyanyikan lagu itu. Ternyata, rasa cemas dan resah tak bisa terusir. Bahkan ia masih sering merasakan bulu kuduknya yang meremang. Sekujur tubuhnya jadi merinding, dan jantungnya jadi berdebar-debar.


Waktu ia memandang kaca spion di atasnya, "Hahhh.....?!"


Irene nyaris kehilangan kontrol kemudi akibat sentakkan rasa kagetnya. Dari kaca spion itu ia melihat seorang perempuan duduk di jok belakangnya dengan tenang. Perempuan itu mengenakan gaun putih dan rambutnya terurai.


Tetapi, pada saat Irene menoleh ke belakang, perempuan itu tak ada. Jok belakang kosong, tanpa penumpang lain. Ketika memandang kaca spion lagi, sosok perempuan berwajah dingin itu kelihatan. Irene makin tegas melihat wajah perempuan itu lewat spion jika ada mobil yang berpapasan dengannya. Sorot lampu mobil yang menerpa wajah itulah yang membuat penglihatan Irene menjadi jelas.


Dengan jantung Irene menjadi makin cepat. Makin menghentak-hentak. Sebab, kini ia ingat, bahwa wajah yang di lihatnya dari kaca spion itu adalah wajah yang terpampang di papan-papan reklame pinggir jalan, dan iklan-iklan di majalah atau koran. Wajah itu tak lain dari wajah Vaara.


Dua kali Irene menegok ke belakang dan tetap tidak menemukan penumpang di belakangnya. Di mobil itu, menurut perasaannya, yang ada hanya dia sendiri. Tapi, mengapa melalui kaca spion ia bisa melihat penumpang lain selain dirinya?


Yang ketiga kalinya Irene menegok ke belakang, barulah ia terpekik kaget, karena wajah itu benar-benar ada. Vaara duduk dengan tenang di jok belakang. Matanya yang hampa itu memandangnya bagai tak berperasaan. Hal itu membuat Irene gemetaran, grogi dan keringat dinginnya mulai mengucur. Sebab, ia sempat melihat tangan Vaara menggenggam sebilah pisau tajam dan putih mengkilat. Pisau itu di genggam dan berada di atas pangkuannya.


Irene salah tingkah. Ia bingung harus berkata apa kepada penumpang aneh yang ada di belakangnya itu. Ia tetap membawa mobilnya dengan kecepatan tetap. Tapi, ia tak sadar bahwa saat itu ia telah masuk ke jalan tol yang lain arah, bukan menuju rumahnya, melainkan menuju luar kota.


Mau tak mau Irene mengurangi kecepatan mobilnya dan mencari tempat untuk memutar arah. Tetapi, dari belakang tiba-tiba terdengar suara.


"Jalan terus. Jangan berhenti." Suara itu datar, terasa dingin dan membuat sekujur tubuh Irene merinding lagi.


"Ap... apa maksud mu? Mengapa... mengapa kamu mengikuti ku? Mmmmm.... mau apa?" tanya Irene ketakutan.


"Menyiksa mu sampai mati." jawab Vaara tetap dengan nada datar. Irene bertambah gemetar, sehingga kakinya yang menekan gas jadi tersentak-sentak tak teratur.


Tiba-tiba, Irene memekik karena merasakan ada benda tajam yang menggores tengkuk kepalanya. Sreeetttt...!


"Aaaaa...!" teriak Irene. Ia segera memgusap tengkuk kepalanya, dan ternyata sudah berdarah. Makin tersiksa jiwa Irene makin gugup ia mengemudikan mobil. Jalan mobil semakin tidak stabil.


"Ja... jangan main-main dengan ku. Ak.... aku pernah ikut bela diri kampus ku!" Irene bermaksud menggertak Vaara. Tetapi, yang ia peroleh hanya kecutan nyeri di baguan belakang telinganya.


Sreettt...!


"Aaahhhgg.... " Irene menjerit, pisau Vaara menggores lagi kulitnya hingga mengucurkan darah. Memang goresannya tak terlalu dalam. Tidak membahayakan. Tetapi, sangat mengejutkan dan menimbulkan debaran yang makin menggertakan jiwa.


"Berhenti di sini!" perintah Vaara.


"Berhenti di sini!" ulang perintah itu dengan suara makin jelas.


"Mau apa kamu berhenti di sini? Mau turun di sekitar sini?"


Sreetttt...!


"Aaaaoww...!" pekik Irene semakin nyeri. Ia merasa pundaknya terluka. Luka goresan yang dilakukan dengan ujung pisau itu.


"Berhenti di sini, kata ku!" bentak Vaara, membuat Irene buru-buru menghentikan mobilnya ke tepi jalan tol.


Vaara pun memulai penyiksaannya terhadap Irene di dalam mobil itu. Di malam yang panjang itu, Vaara menikmati jeritan Irene.


Hari itu, pengambikan sarting untuk spot iklan dilakukan. Arga sebagai kameramennya, tapi ia di dampingi asisten kamera yang sebenarnya lebih berpengalaman ketimbang Arga.


Pekerjaan itu dilakukan sampai pukul 3.30 sore. Tanpa setahu Vaara, Arga segera menghubungi Irene melalui telepon yang ada di studio.


Tapi apa yang di dengar Arga dari papanya Irene adalah hal yang sangat mengejutkan.


"Irene di bunuh...! Ku mohon kamu mau datang kemari, Ar...!"


Gemetar tubuh Arga, pucat wajahnya mendengar berita itu. Tanpa pamit kepada Vaara yang saat itu sedang beramah-tamah dengan para pegagumnya, termasuk Om Lucky, kepala marketing produk shampoo, assisten kemeraman dan sebagainya, Arga langsung nyelonong ke rumah Irene.


Sore itu seharusnya Irene mempersiapkan diri untuk pergi ke pesta ulang tahun Nana. Tetapi kenyataannya Irene terbaring dalam keadaan tak bernyawa lagi. Tubuhnya rusak sama sekali. Tak ada tubuh yang masih utuh, semua tersayat-sayat mengerikan. Lehernya sendiri mempunyai banyak goresan yang menurut dugaan dilakukan dengan pisau tajam. Ada lubang pada leher itu yang hampir tembus dari depan ke belakang.


Kedua biji mata Irene tak berbentuk lagi. Satu hilang, satunya lagi nyaris copot dari dalam rongga matanya. Dada sampai ke perut terkuak menjijikan. Bahkan menurut keterangan dari pihak kepolisian yang menemukan mayat Irene tak jauh dari jalan tol, keadaan mayat itu lebih mengerikan lagi sebelum di bawa ke rumah sakit. Bahkan kewanitaannya tersumpal sepotong tonggak kaar yang runcing, dengan panjang antara 20 cm, besarnya seukuran jali telunjuk, masuk menembus dari telinga kiri ke telinga kanan. Daun telinga yang kiri pun terpotong sebagian.


Dari hasil otopsi jenazah di peroleh kesimpulan, bahwa korban disiksa lebih dulu secara sadis, setelah itu baru di habisi nyawanya dengan tusukan terakhir pada bagian leher. Korban di temukan 100 meter dari jalan tol, di sebidang tanah kebun pisang yang jauh dari perumahan penduduk. Di duga pelakunya seorang wanita, karena di tanah sekitar itu di temukan empat jejak sepatu, dua jejak dari sepasang sepatu Irene, dan dua lagi jejak sepasang sepatu pembunuhnya.


Arga tertegun dalam keadaan tak bisa bicara, napasnya sesak dan jantungnya lemah. Ia teringat pembicaraan kemarin malam dengan Irene di teras. Gaya pembunuhan yang keji, bahkan amat keji itu pun mengingatkan Arga pada seraut wajah cantik bermata saar, Vaara. Hal itu mengingat, Irene pernah mendapat ancaman dari Vaara, dan Arga sendiri pernah mendengar ancaman itu, ketika Vaara mengingatkan agar Arga menjauhi Irene. Arga pun masih ingat kata-kata Vaara, bahwa penyiksaan yang amat keji adalah suatu kegemaran bagi Vaara. Arga dapat memastikan, almarhumah Irene tentu menjerit-jerit dalam keadaan di sayat-sayat dan suara jeritan itu sengaja di nikmati oleh Vaara.


Tetapi, adakah orang lain yang percaya jika Arga mengatakan, bahwa Vaara lah pembunuh Irene? Adakah yang menduga bahwa perempuan seanggun Vaara dan dikagumi banyak orang itu adalah pembunuh paling sadis? Menurut Arga, tak ada orang yang percaya. Hanya dirinya sendiri yang punya kepercayaan akan hal itu, dan menyimpannya dalam hati. Hanya dirinya yang tahu siapa Vaara sebenarnya.


"Ar, ke mana kamu tadi? Selesai sarting kenapa menghilang begitu saja?" tegur Vaara ketika Arga sudah sampai di rumahnya kembali.


Arga menampakkan wajah dukanya. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan itu, melainkan mengambil segelas air putih dan meminumnya habis. Sedangkan, Vaara mengikuti Arga terus dengan pandangan mata yang mendirikan bulu kuduk Arga.