THE RETURN OF ARGA

THE RETURN OF ARGA
CHAPTER 16



Kata Aki Rempeng, "Vaara pernah bertemu dengan ku. Dia cantik, tapi kekejamannya tak ada yang mengalahkan. Di balik kecantikannya itu ada maut yang selalu mengincar mangsanya. Dia punya banyak jerat yang di pasang di alam kehidupan ini, termasuk jerat berupa kekayaan. Perjanjian kontrak mati, sering dilakukan dengan manusia."


"Apakah saya bisa terlepas dari perjanjian itu, Ki?" tanya Arga.


"Kenapa tidak? Manusia di takdirkan untuk lebih berkuasa dari pada setan. Tapi kadang-kadang manusia menjadi lemah oleh dirinya sendiri, ragu oleh kekuatan batinnya sendiri, sehingga manusia sering menjadi mudah di perbudak oleh setan."


"Bagaimana dengan cincin ini sendiri, Ki? Apakah saya masih hidup jika cincin ini saya buang?"


"Ada cara untuk membuangnya...! "


"Aki Rempeng banyak menjelaskan kehidupan roh dan jiwa seseorang. Sampai lewat siang mereka asyik mendengarkan kata-kata Aki Rempeng.


Sementara itu, Aki Rempeng menarruh Yeri menumbuk lada. Lada itu di campurkan dalam pasir dan di masukkan dalam kantong plastik kecil.


"Nak Arga, pertama-tama kau harus membuat Vaara terjerat. Ia tidak boleh keluar dari rumahmu, supaya tidak keluarran mencari korban lain. Untuk itu, taburkan pasir dan lada ini mengelilingi rumah mu, sebagai pagar yang tak akan bisa di tembus olehnya."


Yoona dan Arga memperhatikan betul nasihat itu. Waktu Aki Rempeng masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu, Yoona sempat berkata kepada Arga,


"Kau tidak menyesal jika sampai kehilangan dia?"


"Yang ku sesali hanya kehilangan kamu, Yoona."


"Hm.... nggak janji ya?!" Yoona mencibir, mengurangi ketegangan selama ini.


Aki Rempeng keluar dari kamar dan memberikan sebuah cincin kepada Arga. "Nah, pakailah cincin ini sebelum kau melepas cincin kehidupan itu. Tapi syaratnya, Vaara harus kau kurung lebih dulu dengan pasir lada ini."


Cincin ini dari perunggu. Bentuknya polos, sangat sederhana, sepertinya tidak mempunyai arti apa-apa.


Kata Aki Rempeng, "Masukkan cincin itu di salah satu jarimu yang cocok. Lalu, lepaskan cincin kehiduoan dan buang ke atas. Lemparkan saja ke atas, maka ia akan kembali ke asalnya. Tapi, jangan sekali-kali melepas cincin kehidupan sebelum kau memakai cincin ku ini. Jangan sekali-kali melepas cincin kehidupan, sebelum kau mengurung Vaara. Sebab dia punya kekuatan menahan cincin mu itu, sedabgkan cincin hitamku ini menolak kekuatan yang di miliki Vaara...."


Setelah diam sesaat, Arga bertanya, "Apakah dengan hilangnya Vaara, maka kekayaan sata juga ikut hilang, Ki?"


Aki Rempeng tertawa, menampakkan giginya yang ompong. "Dia tidak akan sempat mendekatimu lagi, Nak.... Dia tak akan berani selama cincin hitam ku masih melingkar di jarimu."


Rasanya hal ini sudah cukup jelas, maka Arga dan Yoona pun segera mohon pamit. Aki Rempeng mengantar sampai di samping mobil, dan sempat berpesan, "Secepatnya Aki di kasih tahu, kapan kalian menikah. Jangan lupa itu, Ya?"


"Aki...!" hardik Yoona yang merasa tak enak mendengar kata-kata kakeknya.


Aki Rempeng hanya terkekeh-kekeh sambil melambaikan tangan.


Di perjalanan, Yoona sempat berkata, "Lupakan kata-kata kakekku itu, masa mudanya memang jarang bercanda."


Kata Arga, "Untuk apa di lupakan. Sebaiknya ku ingat dan ku laksanakan," lalu ia melirik Yoona yang bersungut-sungut.


....


Lewat waktu maghrib mereka mulai memasuki kota. Jalanan macet, sehingga Yoona menyarankan untuk potong kompas. Mereka melewati jalan kampung untuk bisa mencapai rumah Yoona. Rencananya Arga mengantar Yoona dulu sampai di rumah, baru ia pulang dan mengerjakan tugasnya. Tapi, agaknya Yoona sangat cemas dan mengkhawatirkan keselamatan Arga. Sejak tadi ia mendesah dengan gelisah, sesekali di lirik oleh Arga, sampai akhirnya tercetus perasaan itu melalui mukut Yoona yang berbibir indah itu.


"Ar, hati-hati nanti ya?"


Arga mengangguk sambil menggumam.


"Baru sekarang aku melihat kau dalam kecemasan yang luar biasa." klKata Arga.


"Ah, nggak tahu nih! Rasa-rasanya aku perlu melabrak dia jika kau sampai celaka."


Tangan Yoona menggenggam lengam Arga, gemetar. Bisiknya, "Aku tak ingin kau terluka sedikit pun, Ar. Aku... aku... aku.... Ah, pokoknya begitulah. Aku nggak bisa mengutarakan di depan mu."


"Aku sudah tahu kata hati mu, Yoona. Kau... kau sayang pada ku, bukan?"


"Kira-kira seperti itulah...."


Arga sempat tertawa pelan sambil membawa mobil menembus petang.


"Yoona, kamu nggak keberatan jika aku pun ingin kamu?"


Yoona makin resah. Tapi ia berkata, "Ide mu itu terlambat, Ar. Tapi, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali...."


Mobil sengaja di hentikan Arga sebelum melewati tanah lapang, karena di seberang tanah lapang mobil akan kembali berada di aspalan. Tanah lapang itu bekas bongkaran sebuah kampung yang akan di jadikan jalan tembus dan di bangun jembatan layang di atasnya. Tempatnya sepi. Ada rembulan di langit yang menyorot puncak ke bumi. Romantis suasana itu, dan romantis juga Arga mencium pipi Yoona di dalam mobil.


"Sekali lagi, Ar," bisik Yoona.


Arga mencium pipi yang sebelahnya. Yoona berbisik, "Lagi.... "


Arga menciun kening Yoona. Tapi gadis bermata bening itu berbisik lagi, "Ada yang lupa belum kau sentuh, Ar...."


Maka, bibir Yoona pun di kecup oleh Arga dengan lembut sekali. Cukup lama mereka saling pagut, karena Yoona seakan enggan melepaskannya.


Mobil mulai bergerak lagi setelah Yoona tertawa sambil bersandar di pundak Arga. Tetapi, mendadak mobil harus berhenti. Sorot lampunya menerpa sesosok tubuh yang menghadang di depannya. Arga dan Yoona menjadi tersentak kaget dan kulai menegang. Ketika sesosok tubuh menghadang di depan mereka.


"Celaka, Yoona. Dia menghadang kita...!"


Vaara berdiri di depan mobil Arga. Kimono yang di kenakan tetap berwarna putih. Rambutnya meriap di permainkan angin, tangannya menggenggam pisau runcing dan tajam. Cahaya rembulan sempat membuat pisau itu berkilauan.


"Yoona, bagaimana ini? Kita balik arah aja ya?" Arga gemetar, mulai berdebar-debar.


Yoona masih bisa bersikap tenang sekalipun dadanya pun bergemuruh. Ia sempat bicara lirih, "Teruskan, Ar. Jangan menghindar...."


Cewek yang satu ini sungguh punya nyali lumayan besar, pikir Arga. Malahan, Yoona segera memberu gagasan kepada Arga.


"Tenangkan hati mu, jangan menggeragap. Jalankan mobil pelan-pelan."


"Dia akan menyerang kita! Lihat pisau itu...!"


"Aku tahu," jawab Yoona dengan suara gemetar dan napas kentara berat di hela." Jalankan terus mendekati dia. Bikin putaran ke kanan. Putari dia, sementara aku akan menaburkan pasir lada ini dari pintu kiri...."


"Ide yang bagus." gumam hati Arga.


Mobil pun bergerak pelan-pelan, sementara Vaara tetap berdiri menunggu mangsanya. Makin lama makin dekat, makin terlihat jelas sorot mata yang memancarkan gairah membunuh. Arga menjadi gemetaran tangannya. Yoona mengingatkan Arga agar mampu menguasai stir.