THE RETURN OF ARGA

THE RETURN OF ARGA
CHAPTER 20



Gerakan jalangkung yang terbang itu kemabali membenturkan bagaian kepalanya ke kepala Benson. Tokkk…! Prakkk…!


Gaarng dari kepala itu sempat retak karena menghantam kepala Benson dengan kuat. Ada darah yang meleleh dari kepala Benson bagian belakang. Benson sendiri melemas. Berlutut sampai memegangi kepalanya yang setengah di rundukkan.


Jerit Rea dan Annie saling bersahutan. Menambah suasana panik. Pramadi hanya tahu, bahwa ia harus melindungi Egga. Kasiha gadis itu kejang-kejang dengan mata mendelik, tak mungkin bisa melarikan diri.


"Buka pintuuu…! Siapa di luar! Buka pintunya…!" teriak Rea.


Segala makanan dan minuman hancur berantakan. Morat-marit ke sana ke mari. Tampat pendupaan masih mengepulkan asap. Tempat kemenyan itu tidak terguling bersma makanan yang lain.


Jalangkung itu pun melanyang-layang, dan tahu-tahu menghantamkan diri ke kepala Benson dengan keras. Prakkk…!


Pecah! Gaarng air dari tempurung kepala itu pecah di adukan dengan kepala Benson. Sehingga mengakibatkan kepala benson sendiri menjadi terluka lagi. Berdarah dan meakin meleleh, membuat kaos putihnya menjadi memerah.


"Tolong…!" teriak Benson sambil memegangi kepalanya yang berdarah dan berguling-guling di lantai.


Jalangkung itu terkulai di lantai. Lemas dan tidak bertenaga. Seperti benda mati biasa.


Napas-napas mereka terengah-engah. Rea dan Annie memandangi jalangkung itu dengan mata masih membelalak. Namun, agaknya mereka sedikit lega karena jalangkung itu sudah tidak bergerak-gerak lagi. Berarti roh Legion yang masuk ke dalam jalangkung itu sudah pergi.


"Rea… aku takut…!" rengek Annie sambil memeluk Rea.


"Buka pintu dan bawa Egga keluar, cepat!" kata Pramadi yang masih sibuk menolong Egga.


Tetapi, tiba-tiba Egga menggeram dengan mata makin melotot mengerikan. Bahkan serentak kedua tangannya menerkam Pramadi dan mencekik pria itu.


Pramadi mendelik, berusaha keras menarik tangan Egga yang mencekik kuat lengannya. Rea sendiri menjadi panik dan kebingungan. Annie hanya bisa mnejerit-jerit penuh rasa takut. Ia justru memalingkan wajahnya, menutup dengan kedua tangannya. Ia tak berani melihat Egga yang mendelik mengerikan itu.


Pramadi masih berusaha keras menarik tangan Egga. Kedua tangan itu seperti besi, keras dan kaku. Untuk merenggangkannya sangat sukar sekali.


"Egga…! Egga… jangan! Lepaskan! Lepaskan dia, Egga…!" teriak Rea sambil menarik punggung Egga.


Tetapi, tangan kanan Egga mengibas ke samping, mengenai kepala Rea. Akibatnya Rea menjerit sambil terpental jauh. Kesempatan itu di gunakan Pramadi untuk menghentakkan tangan kiri Egga yang masih mencekik lehernya. Tangan itu di sodok dari bawah ke atas, maka terlepaslah cekikan Egga. Namun, gadis itu masih mendelik dan menggeram, memandang Pramadi yang ketakutan.


Saat itulah Pramadi berhasil menobrak pintu gudang. Kemudian, dengan sisa keberaniannya, ia menarik rambut Egga yang panjang sepunggung, sehingga terlepaslah Annie dari ancaman maut Egga.


Benson segera di seret Rea. Kemudian, Mang Jupri, pelayan di rumah Egga datang membantu, menyelematkan Annie. Bustomi dan Nardi, kedua sopir keluarga Rea, segera mengikat Egga yang mengamuk.


Annie di larikan ke rumah sakit akibat luka-lukanya di leher yang nyaris membuatnya tewas. Demikian juga Benson yang mempunyai dua luka di kepala dan terpaksa di jahit.


Sejak saat itu, Pramadi menjadi sangat sedih memikirkan nasib Egga. Kini, Egga di pasung oleh keluarganya. Di masukkan ke dalam kamar khusus yang terkunci. Karena, sudah berulangkali roh Legion yang masuk ke raga Egga di usir oleh para ahli, dukun, paranormal dan sebagainya. Namun tidak satu pun sari mereka yang berhasil.


Pramadi, Rea dan Benson, sama sekali tidak menyangka kalau akhir dari suatu pencarian mobil yang hilang akan mengakibatkan Egga menjadi sangat menderita.


Papa dan mama Egga sangat malu, sedih dan menderita tekanan batin melihat anaknya yang cantik itu menjadi manusia yang membahayakan. Salah seorang pembantunya nyaris mati akibat di serang Egga dari belakang. Waktu ia lepas, ia langsung menerkam Jumirah, menggigit tengkuk kepala Jumirah hingga kulit dan daging wanita itu koyak merngerikan. Untung hal itu segera bisa di atasi oleh papa Egga sendiri, yaitu degan memukul kepala Egga bagian belakang, sampai Egga jatuh pingsan.


Mau tak mau, keluarga Egga mengirimnya ke rumah sakit jiwa demi kelematan orang-orang di sekitarnya. Egga yang cantik, Egga yang periang, akhirnya menjadi pasirn rumah sakit jiwa yang amat menyedihkan. Ia di golongkan dalam kelas pasien berbahaya, sehingga mendapat perawatan khusus, keamanan ketat, dan dokter spesialis yang konon juga ahli kebatinan.


"Yang sampai sekarang belum ku ketahui adalah, ke mana roh egga sebenarnya?" kata Rea saat ia berada di sebuah Ice Cream House bersama Pramadi.


"Mungkin melayang-layang. Atau berada dalam satu raga bersama roh Legion." Jawab Pramadi yang kelihatannya tak bisa melepaskan pikirannya dari kasus Egga itu. Sambungnya lagi, "roh Egga mungkin ingin memberontak, tapi selalu dapat di kalahkan oleh roh Legion."


Rea mendesah sedih. "Apakah itu akan terjadi selamanya? Apakah Legion akan menguasai Egga selamanya?" tanya Rea sedih.


"Tergantung sampai kapan ada seseorang yang bisa menolong roh Egga dan mengusir roh Legion dari raga Egga." jawab Pramadi.


Wajah Rea membiaskan kesedihan yang dalam. Ia menggumam dengan nada sendu, "Lalu, ke mana lagi kita harus menemui orang pintar untuk menolong Egga? Sudah banyak kita mendapatkan orang pintar, tapi tak satu pun ada yang berhasil menolong Egga. Oh… aku jadi merasa sangat bersalah kepada Egga. Aku sering merasa terpojok dalam kasus ini, Pram. Rasa-rasanya kemalangan Egga ini di sebabkan dari diri ku. Dari mobil ku yang hilang dan…"


"Bukan kau yang salah, Rea." Potong Pramadi dengan tenang. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Rea yang ada di meja. "Percayalah, bukan kau yang bersalah. Benson itulah biang keladinya. Benson itulah yang membuat Egga menderita sampai saat ini, karena dialah yang punya ide mengadakan upacara pemanggilan roh melalui jalangkung."


"Sebenarnya." kata Rea lagi setelah menghela napas. "Bukan Benson semata-mata yang bersalah. Pemanggilan roh melalui jalangkung itu adalah ide cetusan Egga sendiri. Terus terang, Egga yang punya usul. Benson memperkuat…"


"Dan, Benson yang mempunyai mantra itu, bukan? Dia yang bertindak sebagai dukun dalam acara itu, bukan?" pintas Pramadi. Hal itu membuat Rea bungkam. Tangannya semakin di genggam Pramadi. "Sudahlah tak perlu lagi kita bicarakan siapa yang bersalah, Rea. Yang penting kita bicarakan adalah, bagaimana bisa menolong Egga supaya ia bisa hidup seperti sediakala. Aku akan berusaha."