
Pagi Hari...
Matahari pagi menyinari jendela kamar V.I.P yang Maria tempati...
Karena terusik dengan cahaya matahari yang masuk lewat jendela nya, Maria pun terbangun dan duduk di kasur Queen Zise nya.
Setelah dirasa kesadaran nya sudah pulih, ia pun bangkut dari duduk nya dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
.....
Maria kini sudah selesai dengan acara mandi nya juga sudah berpakaian rapih dan biasa - biasa saja.
Tak lupa memakai pita pemberian ibunya dan juga jubah yang kemarin ia pakai sebelum ia pergi dari rumah Bibi Cillin.
Ia pun keluar dari kamar nya dan berjalan menyusuri ibukota kerajaan Milan.
Seperti biasa, di ibukota sangatlah ramai, brisik, dan padat penduduk nya.
Huft...sudah lama sekali sejak dirinya dan ibu nya berjalan dan bermain disini.
Mengenang memori itu membuat hati Maria sakit.
Ia pun dengan cepat menggeleng kan kepalanya, berusaha untuk tidak mengingat memori - memori itu lagi.
Setelah dirasa baikan, ia pun melanjutkan jalan kaki.
Karena dirasa lapar, ia pun menuju restoran terdekat di ibukota.
....
Setelah sampai di restoran, ia pun masuk dan mencari tempat duduk nya.
Ia pun memilih untuk duduk dekat jendela restoran agar suasana hati nya membaik.
"Permisi, nona ingin pesan apa?" Tanya palayan yang tiba - tiba menghampiri Maria.
Maria pun menatap pelayan itu dengan dingin dan menjawabnya...
"Saya ingin steak dan minuman strawberry." Ucap Maria cuek.
"Baik..." Ucap pelayan itu takut dengan gadis berjubah yang tengah duduk ini.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan Maria yang sedang menikmati hembusan angin lewat jendela restoran.
Maria pun memperhatikan keramaian kota dari jendela dan tak sengaja matanya menangkap pemandangan tak bagus, yaitu Puteri Raqueel ( anak dari ibu tirinya ) sedang berciuman dengan seorang pria yang tidak ia kenal.
'Raqueel...Raqueel...tak ibunya dan anak nya sama saja seperti jalang gila yang tidak tahu diri.' Batin Maria tertawa seperti orang gila.
Tentu saja Maria tidak mengetahui pria itu...
Secara...toh Maria tidak pernah di izinkan untuk keluar dari kerajaan atau pun menghadiri pesta.
Itupun hanya sekali saja seumur hidup saat ia berumur 6 tahun bersama ibunya, mengunjungi pesta ulang tahun pangeran kerajaan lain.
"Nona, ini pesanan anda." Ucap pleyan tadi yang datang dengan makanan pesanan Maria
Ia pun meletakkan nya di meja dengan rapih.
"Hm...ini tips dan uang makan nya. Pergilah." Ucap Maria yang sperti mya tidak suka makan nya dilihat orang lain.
"Baik, terimakasih nona." Ucap pelayan itu dengan sopan dan berlalu pergi meninggalkan meja Maria ke meja yang lain nya.
Maria hanya menatap datar kepelayan itu hingga pergi dan beralih pada makanan yang ada di atas meja.
Tanpa menghiraukan sekitar Maria pun makan dengan anggun dan berkelas.
....
Setelah selesai makan, Maria pun keluar restoran itu dan mencari gang sepi untuk mengaktifkan sihir nya ke hutan larangan.
Ya, hutan larangan adalah hutan yang paling ditakuti oleh semua rakyat kerajaan.
Sebenarnya ini adalah tujuan utama Maria, cuman karena kemarin hari sudah gelap jadi ia memutuskan untuk pergi esok hari saja.
Begitu banyak misteri yang terkait disana dan tak ada seorang pun yang berani masuk kepedalaman nya lagi.
Kini Maria tiba di sebuah pohon besar yang berada di pertengahan hutan larangan.
Trang...
Trang...
Suara detingan pedang pun terdengar...
Maria yang baru tiba dan mendengar itu pun mengintip dibalik pohon besar.
"Heh...dengan kemampuan mu sekrang ini, ingin melawan ku?" Ucap Pria berambut hitam sombong.
"Siapa tahu aku akan menang...dan yang kalah adalah pecundang." Balas pria berambut biru muda.
"Ckckc...bebangga hatilah dirimu, karena sebentar lagi kerajaan mu dan diri mu akan kumusnahkan dengan tangan ku sendiri." Ucap nya sambil mengeluarkan smirk menakutkan menurut orang - orang.
"Mimpi." Ucap pria berambut biru muda itu, tak kalah sewot.
Mereka pun terus beradu pedang dengan sengit sampai kondisi si rambut biru sudah tak memungkin kan untuk bertarung lebih lanjut.
Trang...
"Akh..." Ringis pria berambut biru yang memakai pakaian bangsawan, semua tubuhnya sudah dipenuhi luka sayatan.
Sedangkan pria berambut hitam hanya tersenyum meremehkan.
"Sudah kubilang bukan, kau tak akan bisa menang dengan kondisi mu yang seperti ini." Ucap nya dengan nada sombong dan mengejek nya, tak lupa tatapan tajam seperti elang nya.
"Uhuk...uhuk...uhuk..." Pria berambut biru masih saja terbatuk - batuk sampai mengeluarkan darah di tangan nya.
"Heh...pangeran Bloostom, ini adalah akhir dalam hidup mu. Selamat tinggal." Ucap nya yang sudah siap mengeluarkan sihir penyerang nya.
Boom...
Saat sedang sedikit lagi bisa memusnahkan pria berambut biru muda itu, tiba - tiba datang seorang berjubah yang tidak di kenal nya.
Dan meledakan bom asap sehingga pria berambut itu menutup matanya...
Asap pun perlahan mereda, pria berambut hitam itu pun perlahan membuka matanya dan pria bermabut biru dan seorang berjubah itu sudah menghilang bersamaan dengan asap tadi.
'Sial...!!' Batin nya kesal, padahal tinggal sedikit lagi penghalang nya hilang.
Tetapi rencana digagalkan oleh orang berjubah yang tiba - tiba datang.
———
Sedangkan Maria saat ini memilih untuk membawa lelaki berambut biru, yang sekarang ini tengah pingsan untuk ke penginapan nya.
Karena kasihan melihat luka parah lelaki berambut biru muda itu, Maria pun menyalurkan kekuatan healer nya untuk menyembuhkan lelaki yang saat ini tengah berbaring.
.....
Huft...
Setelah beberapa saat, dan dilihat nya luka pria itu sudah membaik.
Maria pun berhenti menyalurkan kekuatan healernya dan duduk di bangku, tempat biasanya ia bersantai.
Karena lelah dan capek, ia pun memutuskan untuk membaca buku sihir terlebih dahulu dan menunggu lelaki itu bangun dari pingsan nya.
....
Beberapa saat kemudian...
Pria itu mulai membuka matanya perlahan - lahan berusaha menyesuai kan pencahayaan matahari yang masuk ke lensa matanya.
"Sudah bangun?..." Suara dingin seorang perempuan pun terdengar ditelinga tajam nya.
"Em...apakah kau orang yang menyelamatkan ku?" Tanya pria itu dan bangun dari tiduran nya sambil memegang kepalanya yang masih pusing.
"Hm...jika kau sudah sembuh, pergilah dari sini. Aku sibuk." Ucap Maria dengan cuek dan langsung pergi begitu saja.
"Eh...tunggu." Ucap pria berambut biru muda itu dengan polosnya.
Akan tetapi Maria tak memperduli kan teriakkan lelaki itu dan terus berjalan pergi.
'Gadis yang dingin nan cuek...tapi dia adalah tipeku...' Batin nya tertawa seperti seorang yang gila
Iapun tersenyum - senyum tersendiri dan baru sadar bahwa ia sedang ditinggalkan sendirian disana.
Karena tak ingin ditinggal kan sendirian, lelaki itu pun mengekori Maria secepat kilat.
———
Bersambung...
Hari ini author triple up ya guys...semoga suka dengan novel nya😉😉.
Jangan Lupa Like, Comment, Dan Voter ya guys...
See You...♡♡