The Princess Story of Maria

The Princess Story of Maria
Episode 1



Aku adalah seorang seorang puteri dari kerajaan Milan, yaitu Maria Weizia O'sero.


Umurku saat ini adalah 9 tahun.


Hari ini adalah hari dimana aku akan mempunyai seorang adik dan juga...hari kematian ibuku!!!...


Sedih? Tentu.


Hancur? Sakit? Tentu Saja.


Setelah selesai melahirkan, aku menatap ibuku yang menutup matanya, bibir yang sudah membiru pucat, denyut nadi yang sudah tak berdetak lagi...


"Hiks...ibu...bangun, jangan tinggalkan Ria, adik juga pasti akan sedih jika seperti ini. Ibu tolong bangunlah...hua...hiks..." Teriak ku memeluk tubuh dingin nya sambil menangis histeris.


Ayahku yang seorang Raja kerajaan Milan pun ikut menangis sedih melihat kepergian isteri tercintanya pergi meninggalkan nya dan anak - anak nya yang masih kecil.


....


Hari meninggal nya ibuku telah berlalu begitu cepat tetapi tidak dengan ku, yang belum bisa menerima semua ini dengan mudah.


Tetapi masih ada pelatihan bela diri dan juga sihir yang harus aku jalani saat ini.


Juga menjenguk adik ku yang masih bayi itu.


Ayahku menyewakan pelatih untuk ku belajar seni bela diri dan juga sihir private.


Saat sedang memandang sendu langit dari jendela kamarku, lamunan ku terganggu karena ada seseorang yang mengetuk pintu kamar ku.


Tok...


Tok...


Tok...


"Nona...tuan Vinsen sudah menunggu anda untuk belajar sihir di luar, lapangan berlatih." Ucap Bibi Cillin, pengasuh ku dari kecil.


"Baiklah...ayo kita kesana." Balas Maria singkat tak lupa senyum paksa nya itu yang mengatakan bahwa ia sedang baik - saja, padahal tidak.


Maria pun berjalan duluan, meninggalkan Bibi Cillin yang melamun di depan pintu.


'Nona...' Batin Bibi Cillin sedih sambil memperhatikan punggung Maria dari belakang dengan sendu.


Akhirnya ia pun menutup pintu kamar Maria dan menyusul nonanya itu.


....


saat ini, Maria sudah selesai dengan semua aktifitas harian nya...


Maria P.O.V


Akhirnya pelajaran hari ini juga sudah selesai...Saat nya untuk menjenguk adik ku yang sangat imut itu...Pikirnya senang.


Aku pun bersenandung ria sambil bernyanyi seolah melupakan kematian ibunya padahal tidak.


Saat ia melewati lorong - lorong istana, yang didepannya adalah ruang rapat.


"Bagaimana tawaran ku Raja Milan?" Ucap seorang lelaki tua yang masih dapat didengar oleh Maria yang berada di depan pintu


Ia tadinya berniat untuk menemui ayahnya tetapi terhenti karena perkataan tersebut.


Akhirnya, Maria pun mengurungkan niat nya untuk menemui ayahnya dan memilih bersembunyi di balik pintu untuk mendengarkan pembicaraan ayahanya dengan lelaki tua yang tak ia kenali itu.


"Raja saya setuju dengan pengajuan Raja Everst dengan begitu, kerajaan kita akan mendapatkan keuntungan yang melimpah." Bisik penasihat hukum yang berdiri di sebelah ayahku.


Sesekali aku mengintip sambil mendengarkan pembicaraan itu.


'Apa maksud nya? Penawaran antar kekaisaran? Apa itu?' Batin Maria bertanya - tanya sekaligus ia merasa sangat khawatir tentang pembicaraan yang ia tak mengerti ini.


"Huft...baiklah...aku akan menerima Delia O'verst tetapi hanya sebagai selir ku saja." Putus nya.


Brak...


"Kau fikir puteri pertama ku itu apa?!!" Marah lelaki tua yang memakai mahkota itu.


"Maaf tuan, sebaiknya kita harus menerimanya ini juga demi kerjaan Milan." Bisik penasihat Kerajaan.


"Huft...baiklah. Raja Everst aku akan memikirkan nya terlebih dahulu." Ucap ayahku.


"Ya sudah. Kuharap kau tak memberiku jawaban yang mengecewakan." Ujarnya dan langusng berbalik ingin pergi.


Gawat...!


Aku pun langsung masuk kekamar adik ku dan bersembunyi disana.


Menangis dalam diam ku, ku usaha kan untuk tak bersuara agar siapa pun tak mengetahui nya.


Kulihat adik ku yang sedang memandangku dengan tatapan polosnya.


Aku pun berjalan menghampiri nya dan menggendong bayi lucu tesebut.


"Nes...menurut mu, akankah ayah kita menikah lagi setelah kematian ibu. Pasti...pasti itu...tidak..."Ucap ku gagap.


"Akh...tidak - tidak mungkin ayah seperti itu." Ucap ku seperti orang gila yang tak mau mempercayai kenyataan.


Akan tetapi beberapa hari kemudian...


Seorang wanita cantik memakai dress pengantin begitu juga ayah ku yang mengenakan jas pria.


Tidak...!


Tidak....tidak mungkin ayahku menyetujui nya.


Bagaimana bisa? Ibuku baru saja meninggal?.


Batinku berteriak histeris, aku tak ingin mrmpunyai ibu baru lagi...aku tidak ingin!!.


Tetapi berbeda dengan diriku, aku berlari menuju kekamar dengan air mata yang berlinang di mataku.


Apakah ayah sudah melupakan ibuku?!! Haha...memang laki - laki tak patut untuk dipercaya...


Aku benci semua orang kerajaan Milan, kecuali adik kecil ku yang baru saja lahir.


...


Hari berganti dengan cepat, ayahku sudah menikahi ibu tiri ku 4 minggu yang lalu.


Heh...mimpi saja kamu penyihir tua...!


Ya, selama ayah bekerja, ia selalu menjadi ibu yang sok baik dengan ku...


Aku hanya acuh kepadanya dan terus menolaknya. Hingga pada akhirnya ia mengandung seorang anak.


Anak?!!...


Ternyata benar ayah ku bersenang ria dengan wanita lain...


Hah...dasar bajingan!!.


Jika aku tahu ini dari dulu, aku tak akan pernah mau mengakui nya sebagai ayahku!!.


Layak.?


Tentu saja ia tidak layak...!


Berbeda dengan diriku yang asli otak ku masih saja bergulat menyumpahi sumpah serapah kepada pengantin baru yang berbahagia itu.


Setelah ia menikah, aku tak mau bertemu dengan nya lagi...


Aku juga telah membawa adik kecil ku itu untuk tinggal sekamar dengan ku.


Menginginkan adik kecil ku untuk menjadi anakmu? Mimpi saja sana...


Aku tak akan menyerahkan adik ku kepada siapa pun lagi setelah ibuku meninggal dunia.


....


Beberapa tahun kemudian...


Aku pun tumbuh besar dengan kasih sayang dari pengasuh ku, yaitu Bibi Cillin.


Sekarang ini usia ku hampir menginjak 15 tahun, sedangkan adikku berusia 6 tahun.


Ayah ku slalu saja memaksa kan untuk bertemu dengan adik kecilku...


Tetpi aku melarang nya dan mengatakan dengan lantang walau pun ia seorang raja, bahwa " Jangan menyentuh adikku. Aku tak akan segan membunuh orang yang menyentuh adikku."


Ya, itulah yang ku ucapkan kepada nya. Ia tak melawan, mungkin ia masih mempunyai rasa bersalah terhadap ku, adikku, dan ibuku.


Aku juga sudah hyper dalam bermain pedang dan sihir.


Guru - guruku yang terkenal jenius itu, sudah aku kalahkan.


Dan aku juga bisa membuat sihir - sihir baru yang dikombinasi kan dengan sihir - sihir lainnya.


Beberapa hari ini kudengar - dengar, ayahku...bukan, tetapi si raja itu mengidap penyakit mematikan yang tidak diketahui penyakit apa itu.


Hah...biarkan saja aku sudah tak peduli dengan dirinya.


Ibu tiri ku juga tak berani macam - macam kepada ku...mungkin ia mengetahui, aku akan membunuh siapa saja yang berani mengganggu ku. Apalagi ia juga mengetahui bahwa aku adalah si hyper pedang yang sedang tenar sekrang ini.


....


Baru saja ia sakit tetapi, kemarin berita tentang si raja sakit itu sudah menyebar luas saja.


Aku juga tak tahu apa penyebab nya...


Dulu ibuku juga mengidap penyakit yang sama, yang tidak diketahui...apa jangan - jangan ini rencana si rubah busuk itu.


Haha...cepat juga rubah itu beraksi menjalankan rencana yang ia buat, sungguh matang sekali sudah mengambil ibu ku dan sekarang ayahku juga...


Aku juga sudah pernah bilang ke ayah...akan tetapi ia tak mempercayai ku dan lebih memilih mempercayai ibu tiri kiu itu...


Kerajaan lain juga mencari kesempatan untuk menyerang kerajaan Milan yang sedang tidak stabil, karena sedang tidak ada yang mempimpin kerjaan Milan saat ini


....


Beberpa hari kemudian....


Dikabarkan ayahku meninggal dunia, dilubuk hati ku yang paling dalam justru merasakan sakit bagai disayat pedang.


Tak bisa kupungkiri bahwa aku sangat sedih mendengar itu...


Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah memberitahunya tentang firasat ku bahwa rubah licik itu menikahinya hanya untuk harta dan tahkta, tak seperti ibuku yang baik hatinya.


Selama ayahku sakit, ibu tiriku mencalonkan diri untuk memimpin istana sementara...Mungkin.


Sudah kuduga ia menjadi ratu juga untuk mengambil tahkta kerajaan ini untuk anak - anak nya itu.


Jujur saja aku selama ini tak pernah mau akrab dengan kedua puteru dan satu putra nya.


Mereka selalu saja pandai berakting seperti ibunya, akan tetapi aku tak pernah peduli dengan itu. Aku hanya mengabaikan mereka...


Setelah kematian ayahku, sakit dan sedih kupendam sendiri.


Ya, pada akhirnya...begitulah seperti yang kuduga. Ia mengambil ahli tahkta dan mengusir ku pergi dari kerajaan ku sendiri.


Hah...benar - benar menyebal kan.


Aku yang di usir pun memilih pergi bersama dengan Bibi Cillin dan adiku, yaitu Agnes Weizia O'sero untuk kerumah Bibi Cillin.


β€”β€”β€”


Bersambung...


Hai...hai...


Ini sebenarnya cerita novel ku yang pertama...


Karena alur pertama nya melenceng dari perkiraan ku... jadi aku ganti ke tab baru deh hehehe...


Ga papa lah yah...anggap saja yang disini sudah direvisi...πŸ€£πŸ˜….


Tulis juga saran atau kritik kalian di kolom komentar untuk inspirasi author di eps selanjutnya.


Dijamin ceritanya bakalan seru loh guys...πŸ˜πŸ™ƒπŸ˜ŠπŸ€«πŸ€«πŸ€«


Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote nya ya...


See You...β™‘β™‘