
Maria P.O.V
Trang...
Ting...
Syut...
Brugh...
"Hah...hah...kau kalah, kakek ku tercinta." Ucap ku sambil mengambil nafas yang terengah - engah, mengarahkan ujung lancip pedang Neraka Iblis ke arah kakek yang sedang duduk.
Hampir seluruh kekuatan ku yang kugunakan untuk melawan kakek tua yang sialnya adalah kakek ku sendiri.
Kulihat kakek yang juga berkeringat dingin melihat pedangku di depan wajahnya.
Hahaha...lucunya kakek ku ini!
"Em...hah baiklah kau memang yang terbaik cucuku. Kemarilah, kakek akan memberikan gelang yang terhubung dengan kakek. Agar bila kau berada dalam bahaya, kau hanya tinggal mengalirkan mana ke gelang ini saja dan kakek akan datang membantu mu." Jelas si kakek, yang jelas tidak akan ikut dengan Maria pergi.
"Ckck...kakek! Apakah ini artinya kakek tidak ingin ikut dengan ku?!." Kesal Maria dengan wajah yang menghitam.
"Tentu saja...tidak. Kakek tidak akan mengganggu jalan hidupmu cucuku. Kakek akan slalu ada di saat kamu membutuhkan kakek, jadi...janganlah marah Cucuku Tersayang..." Ucap kakek tua itu yang membuat ku kesal, marah, dan kecewa karena nanti tidak akan ada yang menemaniku untuk membalad perbuatan para Jahanam itu.
"Hm...terserah. Kalau begitu, sebaiknya aku cepat pergi." Ucap Maria dingin dan cuek.
Kakeknya yang mengetahui sifat cucunya langsung memeluknya agar meredakan amarah sang cucu.
Cup...
"Jaga dirimu baik - baik cucuku." Ucap kakek tulus.
Aku yang mendengar nya pun menjadi sedih, tapi...memang benar, aku tidak boleh melibatkan kakek atau orang lain dalam perihal pembalasan dendam ku yang pertama.
"Fiuh...baiklah aku mengerti. Aku...menyayangimu kakek." Ucap ku langsung membalas pelukan hangat kakek ku.
Tanpa sadar air mata ku jatuh dari pelupuk mata ku dalam diam
Lama kelamaan sakit dan air mata yang berada di mata ku mengalir deras seolah tak ingin pergi dari sini untuk bersama kakek selamanya.
"...jaga dirimu kakek tua. Ria pergi..." Ucap ku, memandang kakek sedih dan berbalik lalu mengaktifkan teleportasi ku agar kakek tak melihat genangan air yang menyedihkan ini.
Tidak! Tidak! Aku tidak ingin orang yang aku sayangi pergi meninggalkan ku sendirian di dunia yang gelap dan tidak adil ini! Cukup ibuku saja yang menjadi korban, aku tak ingin ada seorang yang kusayangi pergi lagi! Tidak akan! Tidak akan !
Cahaya teleportasi pun membawa ku pergi dari kakek yang masih menatap kepergian ku disana
Tunggulah aku kakek. Aku pastikan akan membuat mu bahagia lagi setelah ratusan tahun yang menyakitkan dan menyiksa untuk mu...
Swosh....
Maria P.O.V END.
Kakek P.O.V
Melihat kepergian cucuku yang mulai tumbuh dewasa di ditubuhnya yang baru itu membuat ku sedih.
Hah...sendirian lagi...Tak apalah, aku akan mempelajari sihir terlarang klan iblis yang sangat banyak itu untuk membuat Revanno ( Kakak laki - laki Maria ) bangkit kembali.
Selamat menempuh perjalanan yang sulit cucuku, maafkan kakek mu ini karena tak bisa menemanimu pergi melewati kerasnya dunia ini.
Aku menyayangimu...cucuku...
Kakek P.O.V END.
Author P.O.V
Swosh...
'Hm....dimana aku?' Batin Maria.
Ia pun menoleh ke kanan kiri dengan wajah datarnya, yang seolah kejadian ia menangis karena tak mau meninggalkan kakek nya pun tidak ada. Seolah Maria yang tadi bersedih bukan lah dirinya.
Tiba di tengah - tengah ramainya penduduk ibukota kerjaaan yang tidak aku tau ini, membuat ku sangat risih dengan kebisingan ini.
Aku pun berjalan santai seakan tidak ada beban yang ku punya.
Masih dengan jubahku yang menutup setengah wajah ku agar tidak terlihat.
Aku yang tidak peduli, hanya berjalan lewat saja tanpa melihat kereta kuda indah dan mewah itu yang menurutku biasa saja.
Menatap lurus tegak kedepan melewati jalan ditengah penduduk yang tengah sujud itu dan berpaspasan dengan kereta kuda yang lewat disampingku.
"Hei...nona yang disana. Berikan salam dan sujud mu kepada pangeran. Apakah kau tidak ajarkan sopan santun dan tata krama oleh orang tua mu!!" Marah sang kasim beserta para pengawal yang menatap remeh kepada Maria.
Tsing...
Maria pun menatap pengawal dan kasim gendut yang jelek itu dengan tajam dan dingin, sambil melemparkan pedang Neraka Iblis yang diubah menjadi pedang biasa itu kearah pala pengawal.
Dengan cepat dan tajam, pedang Maria sudah menggorok leher kasim yang mengatainya pertama kali itu.
Setelah selesai menebas leher kasim itu, pedng Maria pun kembali ke tangan nya.
"Jangan. Mengganggu. Diriku." Ucap Maria dingin disertai hawa hitam yang membuat semua orang merasa tertekan akan kehadiran nya, membuat sesak napas.
Ia pun lanjut berjalan santai meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan atau pun menoleh karena kalau amarahnya meledak bisa membuat seluruh kerajaan ini hangus terbakar dengan sihir api neraka paling dalam miliknya.
Baru saja ia ingin pergi dari sana, suara seorang yang pernah didengarnya pun memanggil dan menahan pergelangan tangan nya yang begitu dingin sedingin es.
"Tunggu." Ucap orang itu.
Maria pun berbalik, masih dengan wajah datarnya ia melihat siapa serangga yang berani mengganggunya lagi disaat seperti ini.
Hah...sudah ia duga.
Siapa lagi kalau bukan 'Orang' yang ia tolong ditaman kemarin.
Lelaki yang ditolong Maria kemarin yang ternyata seorang pangeran itu pun langsung memeluk Maria seperti anak kecil yang bertemu ibunya.
"Lia...senang kau datang berkunjung untuk menemuiku." Pede pangeran yang kita ketahui adalah Farrell'DeGeniona.
"Siapa kau?" Ucap Maria dingin + cuek.
"Ini aku...yang kau tolong semalam. Apakah kau tidak...mengingatku?..." Ucapnya sedih.
Maria yang melihat itu seketika menjadi jijik.
"Tidak. Dan menyingkirlah dariku." Ucap Maria dingin.
Pangeran yang masih memeluk Maria hanya diam dan tak mau melepas pelukan nya.
"Kubilang lepas." Ucap Maria acuh.
Sedangkan disekelilingnya hanya menatap bingung + iri kepada Maria kerena mendapat pelukan sang pangeran yang terkenal dingin dan kejam itu.
Lalu siapa yang dilihat mereka saat ini? Tak mungkin pangeran yang dingin dan kejam itu bertingkah seperti ini bukan?...
Sedangkan Maria yang dipeluk sembarangan pun merasa kesal karena tak dilepas - lepaskan oleh 'Orang' satu ini.
Ia pun dengan kasar mendorong pangeran hingga terpental agak jauh dari tempat Maria yadi berada.
"Cih..." Decih Maria.
Ia pun langsung pergi tanpa melihat mimik wajah kecewa milik pangeran.
Berbeda dengan hatinya yang semakin gencar untuk mendekati gadis pujaan yang telah merebut hatinya saat pertama kali bertemu.
Ia pun mengaktifkan sihir pelupa ingatan kepada para warga dan langsung pergi dari sana bersama para pengawal nya seakan dipasar itu tak pernah terjadi apa pun.
'Aih...aku pasti akan berusaha mendapatkan mu Lia.' Batinnya tersenyum senang.
____
Bersambung...
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote novel ini yah...
Thank's yang dh mau mampir, jangan lupa mampir ke novel author heboh yang lainnya yah...
okay?! Papay...♡♡