
Tanpa terasa, hari dimana Maria diusir pun sudah berlalu begitu cepat.
Para rakyat pun seperti nya sudah tak mengingat keberadaan ku lagi yang sekarang masih bersetatus sebagai seorang puteri.
Maria tak mempermasalah kan itu, Toh...dulu juga sama kenapa tidak...!?
———
Saat ini Maria sedang asik memikirkan untuk mengobinasikan sihir - sihir sambil membaca buku tentang sihir di taman rumah Bibi Cillin.
Saat tengah asik membaca buku, tanpa sadar ada seorang anak kecil yang berlari ke arah Maria dengan tatapan riang dan senang.
"Kakak...!!" Ucap anak kecil yang bernama Agnes berlari menghampiri Maria yang sedang duduk dikursi taman sambil membaca buku sihir yang gurunya dulu kasih.
"Em...ada apa.?" Ucap Maria dengan nada yang lembut dan menutup bukunya.
Adiknya hanya menggeleng lucu dan duduk dipangkuan sang kakak.
"Atu ingin bua apeel." Ucap Agnes cadel...mahklum lah baru umur 6 tahun yang masih termasuk batita.
"Baiklah pejamkan mata mu terlebih dahulu..." Ucap Maria sambil memeluk adiknya yang ada dipangkuan nya.
Adik nya hanya menuruti perintah kakak dan memejamkan mata bulat nya itu.
"Šéėş qűřāñvè..." Maria membaca mantra sihir dan munculah buah apel yang masih segar ditangan nya.
"Nah...sekarang kau sudah boleh membuka matamu..." Ucap Maria sambil menempelkan apel di pipi gembung adik nya itu.
"Wah...trima acih aka..." Ucapnya sambil mengambil buah apel itu dari tangan Maria.
"Sama - sama." Balas Maria dengan senyuman cantik nya.
Tak lama kemudian terdengar teriakan Bibi Cillin yang sedang berada di dalam rumah
"Nona...!" Teriak nya dari dalam rumah.
"Ya...!! Nes, ayo kita ke Bibi Cillin dulu..." Ucap Maria sembari mengangkat tubuh mungil Agnes dan pergi dari taman bunga itu dan masuk kedalam rumah Bibi Cillin.
....
Sesampainya m ù0ereka di dalam rumah Bibi Cillin, mereka melihat Bibi Cillin yang sudah selesai menyajikan makanan di atas meja makan.
"Non...mari makan." Ucapnya sambil tersenyum hangat kearah Maria dan Agnes yang masih digendong.
"Baik bi..." Ucap Maria mewakili Agnes, lalu Ia pun mendudukan adik kecilnya itu di sebelah kursi makan dekat nya
Setelah mendudukan Agnes, ia pun ikut dudk juga disampingnya.
Tok...
Tok...
Tok...
Pasti itu adalah Paman Liam ( Suami Bibi Cillin ) yang sudah pulang dari kegiatan memancing nya itu.
"Paman pulang..." Ucap nya setelah membuka pintum
"Paman!!... Mali makan bercama, bibi tady udah macak banyak banet loh." Ucap Agnes dengan nada yang membuat semua orang diruangan itu gemas.
Maria yang melihat itu pun hanya tersenyum, ia pun kembali mengingat kenangan masa kecilnya sedang bermain bersama kedua orang tuanya dulu.
"Benarkah...? Baiklah, ayo makan bersama tuan puteri kecil..." Ucapnya senang.
Akhirnya mereka berempat makan sambil bercanda ria, hanya Maria saja yang diam dan memperhatikan paman, bibi, dan adiknya.
Sebenarnya ia masih berpikir cara untuk membalas si rubah jahat itu, tetapi ia mengurungkan niat untuk memberitahu bibi dan juga pamannya.
Ragu?!!
Tentu saja...
Untungnya si rubah itu tak mengetahui bahwa Bibi Cillin tinggal di dipinggir hutan ferris.
Banyak juga tetangga - tetangga yang tinggal disini juga.
Tak sering juga Maria mengikuti paman nya memancing ikan, ia juga sering diam - diam berburu di tengah hutan farris sendirian.
Baginya hutan itu sudah seperti rumah baginya.
....
Tahun pun berganti sekarang usia Maria sudah menginjak 16 tahun, Agnes yang sudah berumue 7 tahun pun sudah bisa mengendalikan sihirnya.
Tentunya berkat ajaran sang guru, Yaitu Maria.
Maria berencana akan mengelilingi seluruh benua ini, maka dari itu ia mengajari adiknya sihir agar bisa melindungi dirinya dan juga bibi atau paman nya saat ia sedang pergi nanti.
....
Kemampuan Maria semakin hari semakin bertambah hebat tentunya.
Sekarang ini Maria sedang berburu harimau bersama adik kecilnya di hutan Farris
Ia berpikir harus membiasakan Agnes di alam terbuka supaya bisa melindungi dirinya nanti.
Groar...
Rintihan harimau itu menggema keseluruh hutan Farris, sedangkan Bibi Cillin dan Suami nya yang sudah mengetahui bahwa itu adalah kelakuan kedua bocah tersebut hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
Khawatir?...
Tentu saja...
Mereka sudah menganggap Maria dan Agnes sebagai anak mereka sendiri, karena setelah lama menikah, Bibi Cillin sendiri tidak hamil - hamil juga ( Mandul ).
———
Setelah membunuh harimau tutul putih itu dengan bekerja sama, mereka pun mengitari hutan terlebih dahulu, seperti biasanya.
Sampai, Ditempat Maria dan Agnes berada saat ini adalah sungai yang terletak di tengah hutan Farris
"Kak...bagaimana jika kita mandi terlebih dahulu?!" Ucap adik kecil Maria, yang seperti nya sudah banyak sekali keringat bercucuran di dahinya
"Kau mandilah terlebih dahulu, kakak akan berjaga disini." Ucap Maria dengan penuh perhatian dan melihat sekeliling nya dengan waspada.
"Baik." Balas adik kecilnya itu lalu menceburkan diri kedalam sungai yang biasa Maria dan Adiknya mandi itu.
Maria yang takut, kalau - kalau ada musuh yang menyerang pun akhirnya menggunakan sihir pelindung untuk melindungi adiknya agar tidak terjadi apa - apa saat sedang mandi disekitarnya
Setelah beberapa saat adiknya pun sudah selesai mandi, tibalah gilirannya untuk mandi sekarang.
"Kak...aku sudah selesai mandinya. Kakak mandilah, aku yang akan bergantian untuk jaga disini." Ucap Agnes lucu.
"Ok..." Balas adiknya, menuruti perintah Maria dan duduk ditanah sambil bernyanyi lagu anak - anak yang Maria ajarkan
Sedangkan Maria, Ia pun akhirnya mencelupkan tubuhnya di air sungai itu meskpun masih ragu - ragu untuk berendam disana
Setelah lama berendam, ia pun meraskan kehadiran seseorang yang aura nya tak dikenali dari balik pohon besar.
Dengan cepat ia melemparkan panah sihir apinya ke arah pohon besar itu sehingga orang dibalik pohon itu pun tak bisa lolos dari tembakan maut Maria.
Maria juga dengan cepat memakai sihir untuk memakai bajunya dengan cepat.
Ia pun menyusul adiknya yang sedang bermain dengan bunga di sekitar hutan dan langsung menggendong nya.
"Keluar!!." Teriak Maria marah, yang sudah mendaptkan adik nya dipelukan nya.
"Uhuk...maaf...aku tak sengaja lewat sebentar..." Ucap seorang laki - laki remaja yang seumuran Maria, keluar dengan luka yang disebabkan tembakan Mari tadi dan topeng yang sama sekali tidak mampu menutupi ketampanan nya itu.
"Lain kali bila kau mengintip lagi kuncongkel mata mu itu keluar dari tempatnya.! Ingat!!" Ucap Maria sambil memandangnya tajam dan marah kearah lelaki yang terdiam seperti patung mendengarnya
'Berani nya ia menggentak ku...apakah ia tak tahu siapa aku...?" Batin lelaki berambut hitam itu bingung, biasa nya para perempuan lah yang menyerah kan tubuh nya kepada ia secara sukarela bahkan memaksa, tetapi ini...
Setalah mengucapkan kalimat itu, Maria pun pergi dari sana meninggalkan laki - laki yang terbengong mendengarnya.
"Heh...gadis yang menarik...!" Ucap nya dengan senyum smirk nya sambil melihat punggung Maria yang sedang berjalan dari belakang.
Setalah itu ia pun pergi melesat seperti bayangan tak kasat mata seolah tak pernah berada disana.
———
Di Istana Milan...
Seorang wanita cantik yang sedang menduduki tahkta ratu, sedang merayakan pesta kecil atas kemenangan Kerajaan Everst dengan cara liciknya itu.
Siapa lagi kalau bukan ibu tirinya Maria!! Si rubah sialan itu
"Hahaha...ayah bangga padamu nak." Ucap lelaki tua yang diketahui sebagai Raja Kerajaan Everst itu.
"Tentu saja. Raja bodoh itu lebih cepat mempercayai ku dari pada perkiraan...yah...walaupun ia tampan." Ucap nya sambil memainkan wine ditangannya
Para anggota keluarga nya yang diundang pun tertawa bersama - samaan.
"Sayang...~." Ucap laki - laki tampan nan gagah yang tiba - tiba muncul dari belakangnya dengan nada menggodanya.
"Apakah aku tidak tampan.?" Ucap lelaki itu dengan godaan maut untuk seorang perempuan.
"Ehmm....berhentilah dulu sayang, jelas kau yang lebih tampan dong." Balas nya berbisik memuji lelaki itu yang diketahui bernama Jason Erlen'no
Seorang marquees yang menjabat di Kerajaan Everst.
Cup...
"Um..." Rintihan seksi keluar dari mulut ibu tiri nya Maria.
"Baiklah ratuku...terima kasih karena mengurus Requuela, puteri kita." Ucapnya dengan nada lembut.
"Tidak apa sayang~...lagipula kita sudah mendapat apa yang kita mau sekrang ini...hahahaha." Tawa jahatnya, Jason pun juga tersenyum jahat sama seperti kekasih nya, yaitu Ratu Repula - Ibu Tirinya Maria.
"Heh...kau sungguh jahat sayang, tapi aku suka." Ucapnya dengan tersenyum menggoda.
"Tentu saja, kalau tidak bagaimana kau bisa menyukai ku yang cantik ini." Ucap ibu tiri Maria bangga sambil menggoyangkan payudara yang dipegang oleh Jason dari belakang.
———
Beda halnya dengan Maria, yang saat ini sedang mengajari ilmu sihir baru dari hasil kombinasi sihir yang ia buat, Ditaman belakang rumah Bibi Cillin.
Ya, disana udaranya segar sekali dan juga menenangkan menenangkan fikiran kita sehingga bisa berkonsentrasi mengumpulkan mana dan membentuk sihir.
"Baiklah sekrang lihat dan pelajari ini." Ucap Maria sambil tersenyum lembut kepada adik kecilnya yang sedang berada disampingnya.
"Řàfğùľà pļűþò." Maria pun mulai merapalkan mantra sihir nya, ia pun mulai melesat seperti bayangan yang berpindah - pindah tempat dan menyerang dengan pedangnya secara berturut - turut.
"Wah...hebatnya kakak ku." Ucap Agnes dengan mata yang berbinar lucu menatap Maria.
"Em...sekarang, ulangi apa yang tadi ku perlihatkan pada mu." Tegas Maria sambil tersenyum kearah adiknya.
"Baik, kak." Ucap Agnes patuh.
Anak kecil perempuan itu pun segera berlari ketengah - tengah taman untuk menunjukan cara analisis nya tadi.
"Řàfğùľà pļűþò." Ucapnya mengikuti mantra yang Maria perlihatkan padanya tadi.
Saat terbang, ia pun gagal berpindah tempat dan alhasil akan jatuhdari ketinggian.
Tetapi sebelum menyentuh tanah, kakaknya segera menangkap adiknya dengan sekali lompatan sempurna.
Hap!...
"Huh...hampir saja." Ucap Maria khawatir nan kaget.
Untung saja reflek nya gesit dan cepat sehingga terburu untuk menangkap tubuh adik kecilnya itu sehingga tak jatuh ke bawah tanah.
Adiknya yang berada didalam gendongan kakaknya pun pegangan dengan erat di baju kakak nya karena takut jatuh.
"Agnes...!!!. Kau harus fokus, kakak tidak ingin kejadian ini terulang lagi nanti." Omel Maria dengan nada dingin dan tegas.
"Maaf...kakak." Ucap Agnes dengan mata yang hampir menangis melihat kemarahan kakak nya itu.
"Huft...sudahlah, lain kali jangan diulangi lagi. Ini buku sihir dan jadwal aktivitas yang sudah kakak buatkan untuk mu belajar setiap harinya." Jelas Maria sambil mengeluarkan 2 buah buku tulis dan menyerahkan nya kepada Agnes.
"Terima kasih kakak." Ucap Agnes yang langsung menjadi senang.
"Sama - sama, ayo masuk. Bibi dan Paman pasti sudah menunggu kita untuk makan malam." Ucap Maria yang kembali melembut.
"Ayo kak." Ucap Agnes bersemangat sambil menarik - narik tangan Maria.
Maria hanya tersenyum dan mengikuti adiknya yang sedang berlari - lari kecil menuju rumah Bibi Cillin.
———
Bersambung...
Hai...hai...
Apa kabar kalian semua selama pandemi Covid - 19 ini? Baik ya?!! Amin!!!
Doa kan juga bagi negara kita, supaya urusan pandemi ini cepat selesai...
Amin!!
Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote ya...
See You...♡♡