
Pagi Hari...
Di pagi hari yang cerah ini seorabg gadis berambut silver, terganggu oleh sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarn nya.
Ya, gadis itu yang tak lain adalah Maria...
Ia pun bangun dan mengusap - usap matanya menteralkan pengelihatan buram nya.
Setelah sadar sepulihnya, ia pun ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Hari ini...ia harus memberitahu keluarga nya bahwa ia akan pergi hari ini juga.
Tanpa terasa, Maria kini sudah selesai mandi dan berpakaian.
Ia tak merias diri hanya memakai pita pemberian ibunya saja, ia sudah cantik nan mempesona.
Setelah selesai rapih - rapih, Maria pun keluar dari kamar menuju dapur untuk sarapan pagi hari.
Di Dapur...
Bibi Cillin kini tengah berkutat dengan makanan yang dimasak di wajan.
Jangan di tanya lagi, Masakan Bibi Cillin adalah yang terenak yang pernah Maria rasakan daripada koki istana yang membuat makanan tidak jelas. Menurutnya.
Selesai memasak Bibi Cillin mentata masakan nya di atas meja makan dengan rapih.
Melihat masakan nya saja membuat ketiga orang yang sedari tadi memperhatika pun keluar karena harum masakan yang terlalu sedap untuk dimakan.
"Pagi semuanya..." Sapa paman pura - pura bodoh dengan senyum kikuk nya.
"Paci jua paman..." Ucap Agnes dengan lucunya.
Sedangkan Maria hanya tersenyum melihat kedua orang tersebut.
Akhirnya mereka pun sarapan pagi bersama di ruang makan, yang dipenuhi canda, tawa, dan bahagia bersama.
Sampai akhirnya ditengah makan sambil bercanda itu, Maria pun mengangkat suara untuk memberitahu rencana nya kepada mereka semua.
"Em...Bi, Paman. Ria berencana untuk mengembara sebentar...apakah boleh?" Ucap nya dengan penuh hati - hati.
"Tidak...!!!" Ucap mereka bertiga kompak, Maria yang sudah tau jawaban nya pun menjawab lagi...
"Aku hanya pergi sebentar saja... "Ucap Maria yang menjadi dingin.
Menyadari perubahan nada suara Maria, Bibi Cillin pun membuka suara...
"Nona...lebih baik kau tidak keluar, karena di dunia luar lebih berbahaya dari yang kita kira..." Ucap Bibi Cillin berusaha membujuk Maria.
"Keputusan ku sudah bulat, aku ingin pergi. Maka aku akan tetap pergi...sudahlah, aku kekamar." Ucap Maria yang langsung berlalu begitu saja.
Ia tahu tentang kecemasan Bibi dan Paman nya itu, tapi ia tetap ingin pergi untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih luas.
Ruangan makan pun menjadi hening tentang kejadian dimana Maria meminta izin untuk menjelajah.
Bibi Cillin merasa bersalah telah mengatur - ngatur Maria, ia pun memutuskan untuk meminta maaf kepada Maria nanti.
Sedangkan Agnes hanya berdiam diri melihat keinginan kakak perempuan nya itu.
Biasanya kakak nya pendiam dan tidak suka ini ono...tetapi ini...sudahlah.
Setiap orang pasti memiliki keinginan masing - masing yang menjadi tujuan hidupnya.
βββ
Maria menghabiskan seluruh waktunya seharian penuh dikamarnya untuk membaca buku sihir lebih dalam lagi.
Tanpa Maria sadari hari sudah menjelang malam...
Ia pun menutup buku sihir yang tadi ia baca dan bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Maria pun memakai gaun tidur nya yang panjang dan tebal sesuai keinginan nya agar tidak kedinginan pada malam hari.
Maria pun membaringkan dirinya dikasur empuk nya dan menarik selimut nya sampai atas bahu.
Tok...
Tok...
Tok...
Krit...
Suara bukaan pintu terdengar, Maria yang memejamkan matanya pun membuka nya lagi untuk melihat siapa yang memasuki kamarnya.
"Ada apa?" Tanya Maria setelah melihat orang yang masuk yang ternyata adalah Bibi Cillin.
"Non...maafkan bibi. Bukan masksud bibi untuk melarang non, tetapi bibi dan yang lainnya tak mau non terluka diluaran sana." Lirih Bibi Cillin.
"Huft...aku tidak marah, hanya saja memang itu sudah keputusan ku dari awal nya... aku juga minta maaf atas perlakuan ku tadi." Ucap Maria bangun dari tidurab nya dan berjalan kearah Bibi Cillin.
"Terima kasih non..." Ucap Bibi Cillin dengan terharu.
"Jadi bolehkan aku pergi?" Tanya Maria hati - hati.
"Em...baiklah...tetapi kau harus berjanji satu hal kepada bibi, bahwa kau akan pulang dengan selamat ya..." Ucap Bibi Cillin tersenyum tulus kearah Maria.
Maria yang mendengar itu pun langsung menjawab dnegan antusias.
"Tentu saja bi, Ria berjanji..." Ucap nya antusias.
"Hahaha...lucu nya nona, tetapi sebelum itu bibi ada pemberian untuk nona. Ini." Ucpa Bibi Cillin lalu menyerahkan sebuah kalung berwarna hijau bening kepada Maria.
"Apa ini bi?" Tanya Maria bingung.
"Ini adalah pemberian dari leluhur bibi turun temurun, katanya kalung ini berguna untuk melindungi seseorang dari maut ataupun marabahaya yang mengintai." Jelas Bibi Cillin.
"Apakah bibi yakin ingin menyerahkan nya untuk ku? Apakah bibi tidak membutuhkan nya?" Ucap Maria yang bertanya nya bertubi - tubi.
Sedangkan Bibi Cillin hanya terse nyum gemas dan berkata...
"Tentu saja...bagiku puteri sangatlah berharga." Ucap Bibi Cillin dengan tatapan sendu nya.
"Sama - sama non..." Ucap Bibi Cillin tersenyum hangat lalu membalas pelukan Maria.
....
Di balik pintu ternyata ada adik kecil nya Maria dan Paman nya yang sedang mengintip.
Mereka yang melihat itu pun tak tahan akhirnya ikutan memeluk Maria dan Bibi Cillin.
Mereka berempat berpelukan bagaikan teletubis yang baru keluar dari lubang nya masing - masing.
Setelah lama berpelukan, suasana nya pun menjadi kikuk.
"Sudahlah...li, mari keluar. Biarkan Maria dan Agnes istirahat terlebih dahulu." Ucap Bibi Cillin langsung menarik tangan Paman Liam.
"Baiklah." Ucap Paman Liam yang langsung mengikuti istri nya keluar dari kamar Maria.
Kini dikamar Maria tersisa, Maria dan Agnes saja.
"Kakak...bisakah kau tidak pergi..." Ucap Agnes yang masih bersedih, ia sebenarnya tak mau ditinggal kan oleh kakak nya untuk waktu yang lama.
"Tenanglah...belajarlah yang giat, nanti kalau aku kembali lagi kita akan mengadakan duel berdua...bagaimana?" Ucap Maria dengan nada hangat dan menantangnya.
"Baiklah...kakak." Ucap Agnes tersenyum kembali.
'Tenanglah kakak...aku akan menjadi kuat dan menyusul mu nanti." Batin Agnes bertekat.
"Kalau begitu, sekarang ayo tidur dulu...besok kakak sudah harus pergi." Ucap Maria yang langsung menggendong Agnes untuk menaiki ranjang yang tinggi nya lebih tinggi dari pada Agnes
"Baik." Balas Agnes digendongan Maria.
Maria pun membaringkan Agnes di kasur empuk nya, begitupun ia yang juga ikut berbaring di sebelah nya.
"Selamat tidur adikku..." Ucap Maria sambil mencium kening adiknya yang sudah menutup mata nya.
Ia pun memeluk adiknya dan ikut terlelap ke alam mimpi.
....
Keesok kan harinya...
Maria yang sudah dari tadi subuh terbangun pun memasakan sarapan untuk keluarga nya makan.
Tak lama keluarlah Bibi Cillin dan Paman nya dari kamar.
"Eh...Ria, kau bisa memasak...sejak kapan?" Tanya Paman Liam bingung.
"Huft...tentu saja dengan sekali memperhatikan Bibi Cillin aku sudah bisa mengingat apa saja resepnya." Jelas Maria.
Paman Liam hanya ber'o'ria saja mendengarnya.
Bibi Cillin yang melihat itu hanya tersenyum...
"Baiklah...apakah kalian akan melihat makanan nya saja. Tak mau dimakan kah?" Tanya Maria menatap kedua ornag itu dingin.
"Eh...tentu saja. Tentu saja, ayo makan." Ucap Paman Liam dengan kikuk di ikuti dengan Bibi Cillin di belakang nya.
"Kalian makanlah dahulu, aku akan membangunkan Agnes. Sebentar..." Ucap Maria yang berlari menuju kamarnya untuk membangunkan Agnes.
Sesampai nya dikamar, dilihat nya Agnes yang sedang tertidur nyenyak seperti bayi.
Maria pun berjalan mendekati nya dan bejongkok menyamakan tinggi nya dengan ranjang.
"Nes...bangun...hey." Ucap Maria sambil menepuk wajah kecil nan imut Agnes.
"Em...sebentar lagi kak!!." Ucap Agnes malas setengah teriak.
"πdasar babi cepat bangun..." Ucap Maria kesal.
Karena tidak di gubris oleh adik nya yang masih saja tertidur, ia pun mempunyai ide cemerlang yang dapat membangunkan Agnes yang tidurnya seperti kebo.
Aha!!!
Ia pun mejentikan jarinya, lalu munculah air yang menggusur tubuh kecil Agnes sehingga jatuh kelantai.
"Ais...kakak kau jahat sekali..." Ucap Agnes sambil meringis lucu.
"Makanya bangun...kalau tidak mau sarapan ya sudah..." Ucap Maria dingin dan berlalu pergi.
"Huh...awas nanti kau kak, aku akan membalas mu!!." Teriak anak kecil itu.
Sedangkan si pelaku hanya tertawa kecil sambil berjalan ke ruang makan.
βββ
Di istana Kerajaan Milan...
"Dasar tidak becus...cepat cari lagi.!! Cuman pelayan saja tak bisa ditemukan...untuk apa aku membayar kalian kalau begitu.!!" Ucap ibu tiri Maria.
"Maaf yang mulia ratu..." Ucap yang ternyata adalah pembunuh bayaran, yang di sewa oleh ibu tiri Maria untuk menculik Bibi Cillin.
"Ckck...aku tak butuh permintaan maaf mu,
cepat cari lagi..." Ucap ibu tirinya Maria dengan kesal.
"Baik, yang mulia ratu...kami undur diri untuk mencari orang yang mulia inginkan." Ucap pembunuh bayaran itu dan langsung menghilang menggunakan sihir teleportasi.
"Bagaimana ini??! Akh...kenapa aku baru menyadari nya..." Geram nya merutuki kebodohan nya dan melempar benda - benda di sekitarnya seperti orang gila.
Karena ia lupa bahwa Bibi Cillin masih memegang token kepemilikan warisan Maria yang sangat penting untuk nya untuk mengambil kekuasaan kerajaan Milan dan dengan bodohnya ia mengusir mereka.
βββ
Bersambung...
Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote novel ini ya guys...
See You...