The Princess Story of Maria

The Princess Story of Maria
Episode 5



🎈Mencintai itu tak membutuhkan janji, akan tetapi memerlukan sebuah bukti...


Hanny"by


....


Maria saat ini sedang mengemaskan barang - barang yang akan ia bawa.


Saat membereskan barang nya, Maria pun menemukan foto ibu, ayah, dan dirinya sedang tersenyum senang kearah foto.


Ia ingat pada saat itu, ia masih kecil dan merengek minta di gendong oleh ibu nya.


Maria yang mengingat memori itu lagi tersenyum hangat sambil mengusap foto itu.


'Ibu...' Batin Maria sedih.


....


Setelah selesai mengemaskan barang - barang nya, Maria pun memasukan nya kedalam cincin penyimpanan yang diberikan oleh ibunya waktu kecil untuk menyimpan mainan - mainan nya itu.


Dan sampai sekarang punn tak dibuang malahan di kasih ke adik kecil nya itu.


Ia pun keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju pintu untuk keluar rumah...


Rasanya berat sekali...


Banyak kenangan nya bersama bibi, paman dan adiknya selama 6 tahun ini...


Tetapi ia berusaha untuk tetap tenang dan berjalan lagi...


Sesampainya diluar, dilihatnya wajah sedih keluarga nya yang menunggu nya di depan pintu rumah.


"Kakak...." Ucap Agnes yang sudah menangis sejadi - jadi nya.


"Tenang lah ingat pesan kakak...berlatih lah yang rajin." Ucap Maria menatap adik kecil nya lekat - lekat lalu tersenyum hangat.


"Hiks...hiks...kapan kakak akan pulang?" Tanya adik nya.


"Kakak tak tahu kapan akan pulang, tetapi kakak janji akan sesegera mungkin untuk pulang menemui mu..." Ucap Maria dengan nada sedihnya juga.


"Baiklah ini sudah saatnya...bibi paman, lindungi lah adik kecil ku ini saat aku pergi...terimakasih bibi, paman..." Pamit Maria lalu mengaktifkan sihir teleportasi nya.


"Hati - hati dijalan..." Ucap mereka serempak dengan nada sedih.


"Kakak...cepatlah kembali dengan selamat." Gumam Agnes sendu.


β€”β€”β€”


Sedangkan saat ini, Maria sudah tiba di pusat kota kerajaan Milan.


Ia pun menyusuri pusat kota untuk mencaru penginapan.


Pada akhirnya, ia pun menemukan penginapan yang sangat terkenal di Kerajaan Milan.


Iapun memasuki penginapan itu, menuju repsesionis untuk memesan kamar V.I.P


"Permisi ada yang bisa saya bantu nona.?" Ucap Repsesionis yang melihat seorang gadis bermabut perak diam dihadapan nya.


"Satu kamar V.I.P" Ucap Maria singkat and padat.


"Baik...harga nya 500 koin emas." Ucap Repsesionis itu dengan perfesional.


Maria pun mengeluarkan selembaran dollar dari cincin penyimpanan nya ke repsesionis tersebut.


"Maaf nona...ini terlalu banyak." Ucap repsesionis kaget nan gugup.


"Anggap saja itu upah mu karena sudah melayaniku." Ucap Maria dingin.


Repsesionis terperanga, sejak kapan ia melayani Maria?.


"E...h. Terima kasih nona." Ucap Repsesionis itu.


"Ini kunci nya." Lanjutnya sambil menyodorkan kunci kayu.


Maria langsung menyambar kunci itu tanpa berkata - kata dan langsung pergi begitu saja.


Pikiran nya masih melayang ke mana - mana + mengkhawatir kan keluarga nya itu.


Entah kenapa perasaan nya tidak enak, sebelum pergi dari rumah juga.


Bruk...


Karena tidak terlalu fokus dengan jalan nya, Maria pun tertabrak seorang laki - laki berbaju bangsawan yang entah siapa itu.


Laki - laki itu terjatuh terduduk di lantai dengan tidak etis nya.


"Cih...jalan saja tidak benar." Gerutu lelaki tamvan itu.


"Kau yang tidak benar malah menyalahkan orang. Ckckck..." Balas Maria sama kesal nya.


"Kau...!!!." Ucap nya terpotong dengan datangnya para prajurit.


"Akh...awas kau." Ucap Lelaki itu langsung lari pergi meninggal kan Maria.


Maria hanya diam saja dan mengendikan bahunya acuh lalu meninggalkan tempat itu menuju kamar yang dipesan nya.


.....


Sesampainya Maria dikamar, setelah keributan tadi...


Maria pun langsung membaringkan diri nya di kasur Queen Zise nya itu dan menutup matanya sekejap...


'Bagaimana keaadan Bibi, Paman, dan Asik ku yah...?' Batin Maria yang masih merasa khawatir.


Huft....!!


Hembusan nafas kasar dihembuskan oleh Maria karena memikirkan semua yang masalah yang dialami nya.


β€”β€”β€”


Saat ini Bibi Cillin dan Agnes tengah berada di pasar, sedangkan paman tengah menangkap ikan untuk dijual nantinya.


Bibi Cillin dan Agnes berjalan - jalan mengitari pasar, membeli jajanan dan kebutuhan pokok sehari - hari nya.


"Lihat itu, bukan kah orang itu yang mulia Ratu menyuruh kita untuk menangkap nya.." Ucap seseorang yang berbisik di belakang Bibi Cillin.


Tetapi tetap masih bisa didengar oleh Bibi Cillin yang pendengaran nya sangat tajam.


Bibi Cillin yang masih menggendong Agnes langsung berlari sekencang - kencang nya,


tetapi ditengah gang sepi, ia terburu tertangkap oleh orang suruhan Ratu.


"Mau kemana kamu?" Ucap seorang pria yang memakai topeng hitam.


"Lepaskan aku...!!" Teriak Bibi Cillin sambil memberontak.


"Ckck...Brisik sekali kau." Ucap Pria itu yang langsung memukul tenguk Bibi Cillin.


"Ag...agnes...larilah.!!!" Teriak Bibi Cillin kepada Agnes yang tadi ia sudah sembunyikan di belakang pohon besar.


"Tidak...bibi." Ucap Agnes yang masih ingin menyelamatkan Bibi Cillin.


"Ti...tidak a..gnes." Ucapan Bibi Cillin tepotong sebab matanya tiba - tiba menjadi gelap sekali, tubuhnya pun jatuh terambruk ke tanah yang berpasir.


"Bibi!!!..." Teriak Agnes sambil menangis pilu.


"Kalian...kalian jahat sekali kepada bibi..." Ucap Agnes yang menyalahkan para orang bertopeng itu.


"Tak yang gede, tak kecil sama - sama berisik dan cempreng sekali, kalian urus anak kecil itu." Ucap seornag pria bertopeng yang seperti nya adalah pemimpin nya.


"Baik." Balas anak buah nya.


Lalu banyak nya pembunuh bayaran itu mendekati Agnes yang dengan tangan kosong sedangkan para pembunuh itu sudah mengeluarkan pedang tajam nya.


"Ckk...kalian." Ucap Agnes muak.


Agnes pun mengeluarkan sihir kuat yang diajar kan oleh kakaknya ( Maria ) dan menghempaskan para pembunuh bayaran itu sampai terpental jauh, lalu mengeluarkan banyak pisau dengan mantra nya sehingga para pembunuh bayaran lain nya tewas.


"Anak kecil ini sungguh merepotkan sekali..." Ucap orang yang disamping snag pemimpin.


"Benar, El uruslah dia dan cepatlah menyusul kami ke istana..." Pesan sang pemimpin dan berlalu pergi ke istana dengan membawa Bibi Cillin.


Uhuk...!!


Agnes yangsudah mengeluarkan banyak darah karena sebenarnya ia yang masih kecil, hanya bisa mengeluarkan sihir biasa saja.


Tetapi ia malah menggunakan teknik gabungan yang kuat itu, baru saja Maria menyuruh ia pelajari itu, tetapi ia langsung memakai nya sekarang tanpa latihan untuk mengendalikan mana nya telebih dahulu.


"Heh...hanya seorang anak kecil saja. Sungguh merepotkan." Ucap nya dengan nada meremehkan.


Ia pun menggunakan sihir penyerang nya untuk melukai Agnes yang masih terluka karena mengeluarkan mana berlebihan.


Agnes yang keadaan nya sedang tidak baik, tidak dapat mengindari serangan itu sehingga ia juga terpenental mengeluarkan banyak sekali darah.


Lelaki bertopeng itu pergi dengan sombong nya tanpa mengecek keadaan Agnes yang sekarat.


Karena tak kuat akan kesakitan yang dialami nya, Agnes pun mulai menutup matanya perlahan dengan darah di sekujur tubuh kecil nya.


Tetapi samar - samar ia melihat seorang anak kecil laki - laki yang tengah memanggil nya.


β€”β€”β€”


Bersambung...


Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote novel ini yah...


Terima kasih...


See You...β™‘β™‘