
Selesai makan, Agnes pun langsung berteleportasi dan meninggalkan sebuah kertas yang berisikan terima kasih dan juga permintaan maaf karena sudah merepotkan sang pangeran.
Huft...
Ia tak boleh berlama - lama. Ia harus segera menemukan bibi Cillin, akan tetapi jika ia sendiri juga akan kalah dengan para penyihir itu. Pikirnya ditengah segel teleportasi aktif.
———
Ditempat yang sepi dan gelap, terdapat seorang wanita setengah paruh baya.
Dibalik dingin nya jeriji besi, ia masig sanggup bertahan menghadapi monster yang kini menjelma menjadi ratu dihadapan para rakyat kerajaan.
'Ria....Agnez...William...' Panggil nya dalam hati sedih.
Yah, Ornag itu tak lain adalah bibi Cillin yang sedang berada di dalam penjara.
Saat tengah meratapi nasib nya, sesosok bayangan hitam yang entah dari mana muncul di hadapan nya.
"Siapa kau?" Tanya bibi Cillin dengan was - was.
"Tidak penting aku siapa. Yang terpenting kau ingin bebas atau tidak? " Ucap si bayangan hitam yang memakai topeng tengkorak.
"Apa? Bebas? Tentu saja aku mau." Ucap Bibi Cillin senang karena tahu bahwa ia masih memiliki sepercah harapan untuk melihat Maria, Agnes dan suaminya lagi.
"Tetapi ada satu syarat yang harus kau penuhi. Apakah kau bersedia?" Ucap nya serios.
"Syarat apa itu.?" Tanya Bibi Cillin yang masih berhati - hati dengan orang didepan nya.
"Tidak penting. Sekarang kau mau atau mati di penjara ini." Ucapnya dengan nada dingin.
"Baiklah, bila itu bisa menjamin nyawa ku. Aku bersedia." Ucap Bibi Cillin tanpa pikir panjang.
"Bagus..." Ucap orang itu yang langsung menjentik kan jarinya.
Borgol yang memborgol kedua tangan dan kaki bibi Cillin pun terbuka.
Pada akhirnya, orang itu membawa bibi Cillin bersamaan dengan datang nya asap hitam yang semakin banyak. Membawa mereka tertelan asap itu dan menghilang.
Wussh...
Penjara dengan tingkat keamanan satu akhirnya telah kosong melompong menyisahkab bercak - bercak bibi Cillin waktu disiksa saja.
—–—
Dilain tempat lain...
Maria yang masih terbaring di kasur putih yang lumayan besar, mulai mengeluarkan keringat dan gumaman tidak jelas yang dapat di dengar oleh si kakek tua yang sedang bersemedi.
"Huft...entah kapan kau bisa melupakan nya..." Gumam si kakek membuka matanya dan memperhatikan cucunya yang sedang tertidur dengan wajah gelisah lalu kembali menutup matanya lagi diiringi dengan nafas yang ditarik panjang kemudian dihembuskan dengan kasar.
Disaat ia ingin menutup matanya lagi, ia tersentak kaget mendengar teriakan Maria yang bangun dengan nafas yang tersengal - sengal.
Kakek tua yang mengetahui itu pun langsung menyodorkan segelas air putih untuk menenangkan Maria agar tidak gelisah lagi akan kejadian 'itu'.
Sudah ia duga ini pasti akan terjadi!!!.
Ia harap kejadian sebelum nya tidak akan terulang lagi setelah Maria mengetahui 'itu'. Pikirnya.
Sedangkan Maria sudah langsung saja meneguk air itu dengan cepat.
"Uhuk...uhuk..." Batuk Maria yang disebabkan oleh air yang masuk terlalu banyak.
"Huft...tenanglah..." Ucap Si kakek mencoba menenangkan Maria yang masih shock.
"Tadi....tadi itu, apakah itu benar aku?..." Tanya Maria menatap tak percaya ke arah si kakek tua.
"Hm...kau pikir itu siapa? Apakah kau sudah mengingat nya.?" Tanya kakek, yang dibalas anggukan oleh Maria dengan keringat bercucuran.
"Sudahlah...lupakan. Sekarang hanya satu pesanku yang harus kau ingat. Jangan pernah percayakan perasaan mu pada siapa pun...Jadilah perempuan berhati dingin..." Ucap kakek lirih.
Sebenarnya, ia juga tak mau Maria seperti itu. Akan tetapi itu harus, bila ia tak ingin mengulang masa lalu kelamnya bersama bangsa Demon nya.
"Heh...memangnya kau pikir aku akan mudah seperti dulu lagi gitu? Jangan harap. Tenanglah kakek, aku akan melakukan ritual pengambilan hati manusia yang menyiksa ini. Jangan khawatir." Ucap Maria dengan aura demon nya yang sudah kembali.
"Hah... kau tak pe-..." Ucapan kakek terhenti karena perkataan Maria yang langsung membukam mulutnya hingga terkunci rapat.
"Aku juga tak membutuhkan hati. Jadi percaya lah, aku bisa." Ucap Maria serios.
"Tapi Ria...itu beresiko akan membunuhmu bila kau jatuh hati lagi..." Ucap kakek sedih.
"***...aku tak mau tau. Nanti di upacara kedewasaan ku yang ke - 17 belas tahun, aku akan melakukan itu." Ucap Maria tegas dengan netra dinginya.
"Huh...baiklah. Jangan terlalu memaksa kan dirimu ya nak..." Nasihat kakek yang tak didengar oleh Maria, bagai masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
"Hm..." Bala Maria singkat.
———
Bersambung...
Okay...sampai sini pasti banyak yang bertanya.
Kenapa Maria harus seperti itu? Karena semenjak ayah dan ibunya meninggal + masa lalu kelam nya yang membuat Maria tak percaya dengan namanya cinta lagi, dan memilih menjerumuskan dirinya kedalan kegelapan yang teramat agar dirinya tak tersakiti lagi dengan yang namanya Cinta!!
Yang penasaran sama kelanjutan nya...
Tunggu aurhor up ya.
Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote novel ini yah...
See You...♡♡