
Raisa mulai berlatih dengan di dampingi oleh Rigby. Rigby mengajarkan mulai dari hal dasar. Pertama Rigby menyuruh Raisa untuk menganyunkan pedang sampai ratusan kali. Raisa menganyunkan dengan maju mundur dan ke samping kanan seperti yang diajar oleh Rigby. Raisa merasa tangannya hampir ingin copot. Pedang yang dipegang selalu lepas dari genggamannya berkali-kali. Keringat yang keluar dari pelipis mengalir bercucuran seperti rintikan hujan, nafas menderu dengan kasar, hingga Raisa menjatuhkan pedang ke tanah dengan keras dan tubuhnya limpung duduk ke tanah. Ketika akan bergegas berdiri tubuhnya tak mampu berdiri karena penyanggah tubuhnya lemas. Rigby melihat kelelahan Raisa sejak tadi dengan hati yang paling dalam Rigby menyuruh Raisa untuk beristirahat.
“Beristirahatlah”.
Raisa duduk dengan kaki berselonjor sambil menundukkan kepala dan dengan mengatakan sesuatu kepada Rigby. “Maaf, membuatmu kecewa”.
“Ya akan aku maafkan. Tebuslah rasa bersalahmu dengan berlatih kembali setelah sehari kamu beristirahat. Besok lakukan dengan baik dan lebih baik akan aku ajarkan cara berpedang pada tahap selanjutnya”.
Rigby beranjak dari tempat duduknya untuk mengambilkan air untuk Raisa. Tak butuh lama mengambil air, Rigby kembali dan air itu ia sodorkan kepada Raisa. Raisa mengangkat wajahnya memandang Rigby dengan tatapan bertanya.
“Minumlah dan basuhlah air ini ke wajahmu agar kamu merasa segar lalu kita kembali ke persinggahan”.
“Thank you”, ucap Raisa dengan mengambil kendi kecil itu dari tangan Rigby.
Beberapa lama kemudian mereka beranjak dari tempat duduk setelah beristirahat dengan nuansa sunyi. Mereka berjalan beriringan dengan keheningan tanpa suara, mungkin mereka tengah kelelahan karena latihan atau mungkin mereka tidak ada bahan untuk di bicarakan sampai ada suara memecahkan keheningan dari jauh yang memanggil nama Raisa di tengah jalan dengan dibaluti suara khas kuda.
“Raisa, hik hik!”
“Raisa!”
“Raisa, hik hik!
Raisa mendongak ke atas sambil tangannya menghalangi silaunya sinar matahari. Raisa tersenyum melihat Damon datang penuh dengan kegembiraan. Damon mendarat di hadapan Raisa.
“Apa kau telah usai berlatih?”
“Tentu, aku mau pulang untuk beristirahat”, jawab Raisa sambil mengusap punggung Rigby.
“Mari, kalian ku antar sampai persinggahan”, ajak Damon.
“Bagaimana uncle?”
“Apa yang bagaimana?”, tanya balik Rigby.
“Apa kamu mau aku antar sampai ke persinggahanmu?” tanya Damon.
Damon mengepakkan sayapnya menuju ke persinggahan milik Rigby tidak memerlukan waktu yang lama mereka sudah tiba. Raisa dan Rigby turun dari punggungnya. Lalu mereka mengucapkan terima kasih kepada Damon. Rigby pergi masuk, sementara Raisa menemani Damon sambil mengusap punggung dan kepala miliknya. Usapan yang diberikan oleh Raisa sangat nyaman sehingga membuat tubuh Damon terasa rileks. Apalagi Raisa memberikan nyanyian senandungan lagu mimpi berjudul This is me (keala settle). Damon amat menikmati senandung-senandung yang sering ia nyanyikan sampai Damon terbawa ke alam mimpi.
Raisa yang telah usai bernyanyi tersenyum melihat Damon terbawa ke alam bawah mimpi. Ia memberikan kecupan untuk sahabatnya.
...
Beberapa lama kemudian Damon tak terasa telah terbawa mimpi. Ia menguap cukup lebar sambil menyuarakan suara khas kudanya. Raisa terkikik melihat Damon yang baru bangun. Damon melihat sekelilingnya setelah bangun dari mimpinya.
“What! Ternyata sudah malam”, ucap Damon.
“Kamu sangat keterlaluan tidur di persinggahanku. Dasar tak tahu malu”, ucap Rigby.
“Kamu sungguh kelelahan Damon, sampai-sampai tidurmu pulas banget. Padahal tadi aku menjatuhkan kendi sampai pecah pun kamu gak terganggu”, ucap Raisa sambil terkikik geli.
“Sepertinya begitu..”
“Kalau begitu aku pamit dulu, takutnya saudara sepupuku akan mengomeli aku karena pulang terlalu larut”, ucap Damon dengan tergesa-gesa pergi begitu saja sampai tak melihat dan menunggu kalimat yang akan dikeluarkan Rigby. Ia mengepakkan sampai jauh dan hampir menabrak gagak yang lewat.
Setelah kepergian Damon, Raisa dan Rigby masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Rigby menutup pintu dan mematikan salah satu obor lalu mereka menutup mata hingga esok hari.
Esoknya Raisa sudah mulai latihan bersama Rigby kini Raisa sudah memasuki tahan selanjutnya usai lima jam berlalu Raisa telah berhasil mengayunkan pedang dengan benar. Lalu Raisa mengayunkan pedang itu ke arah lawan dengan menangkis. Hari semakin berlalu Raisa telah berhasil dalam misinya berlatih pedang. Ia mendapatkan banyak ketangkasan dalam misi yang diberikan oleh Rigby.
Kali ini di hari ke 240, Raisa telah menghabiskan waktu untuk berlatih pedang dan kuda dengan di kawal oleh Rigby. Sekarang ia telah menguasai dan bisa mengendalikan kuda sambil menyusuri jalanan di hutan. Terkadang ia ditemani oleh Damon hanya sekedar berburu atau berlatih memotong ranting pohon di hutan.
...............
Terik matahari yang memanyungi di atas selalu menemani Raisa berlatih sampai keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Saat tengah berlatih untuk meningkatkan ilmu yang sudah ia pelajari ada sosok wanita dengan memakai topi kerucut, warna bibirnya hitam, sedikit keriput di dekat mata, ia tengah menyeringai dengan tatapan penuh kelicikan.
" Ternyata anak itu anak asuh dari Rigby dan imam besar. Tak ku sangka ia telah menghasilkan anak asuh yang sangatlah berbakat. Aku jadi penasaran, apabila aku mencoba untuk bermain-main dengannya untuk melihat kemampuan gadis itu sampai dimana", batin wanita tersebut.
"Akan aku lihat.. ". Wanita itu menggunakan sihirnya untuk memanggil ular dengan membaca mantra sambil bibirnya berkomat kamit meminta bantu dewa Hades mendapatkan kekuatan memanggil hewan reptil yaitu ular. Wanita itu mengangkat tongkatnya lalu sinar itu ia arahkan ke dasar tanah. Ular pun muncul sesuai keinginan wanita itu. Ia memerintahkan para ular untuk menggigit gadis yang tengah berlatih. Ular itu mengikuti perintahnya. Ular berjalan dengan mendesis sambil menjulurkan lidahnya. Saat ular itu akan mematuk Raisa, ada sosok dewa yang melindunginya. Dewa itu yang selalu bersama imam besar. Tak khayal wanita penyihir itu geram dengan mengumpat kata kotor dan kasar. Lalu ia pergi meninggalkan tempat tersebut dan diikuti olehnya. Raisa yang tak menyadari pun telah usai berlatih cukup lama. Ia memanggil kuda yang diberika Rigby dengan peluit. Kemudian ia naik menunggang kuda untuk kembali ke persinggahan.