
Kini Raisa tengah belajar memanah bersama dengan Rigby. Rigby memberikan arahan setiap latihan yang dilakukan oleh Raisa agar memenuhi ekspetasi.
“Raisa ingat, memanah hampir sama dengan berlatih meditasi dan kungfu, kita harus fokus dan konsentrasi, jika kita lengah maka musuh mudah menyerang kita dan kita tak bisa menebas para musuh yang akan kita temui nantinya. Sama halnya dalam berpedang dan berkuda. Mengerti!”, jelas Rigby dengan menekankan kata diakhiran.
“Mengerti!”, seru Raisa.
“Baiklah kalau kau mengerti, kamu bisa mulai”, ucap Rigby.
Raisa mulai menembakkan anak panak ke target yang sudah di tandai oleh Rigby. Raisa terus menembakkan anak panah ke arah target namun terus melesat sampai anak panah tertinggal dua. Lalu Raisa mencoba untuk menutup mata dengan menarik nafas kemudian ia hembuskan terus Raisa menembakkan anak panah namun kembali-kembali melesat membuat Raisa menghembuskan nafas kasar. Rigby melihat raut wajah Raisa menggeleng kepala. Rigby mengajak Raisa untuk beristirahat.
“Beristirahatlah! Damon sudah membawakan makanan dan minuman”.
“Tapi..”
“Beristirahatlah dahulu! Nanti kita lanjutkan kembali”.
Raisa bergabung dengan Rigby dan Damon. Raisa mengambil air minum. Ia meneguk berkali-kali hingga tandas. Damon mengulurkan makanan kepada Raisa.
“Makanlah”.
“Thank you”.
Raisa menikmati makanan yang diberikan oleh Damon, di tengah kesuyian Rigby mulai membuka suara mengenai latihan Raisa saat memanah.
“Raisa”, panggil Rigby.
“Ya, paman”.
“Aku mau bertanya denganmu. Apa kamu tahu kesalahan kamu ketika memanah?”
Raisa menggeleng kepala. “Aku sudah mengikuti saranmu untuk fokus dan konsentrasi dalam menembakkan panah seperti halnya berlatih kungfu dan meditasi”.
“Ya, apa yang kamu katakan benar. Namun ada sesuatu yang salah dalam teknik memanahmu”.
“Teknik?”
“Ya, kamu harus tahu teknik dalam memanahmu. Pertama sikap dalam memosisikan salah satu anggota tubuhmu dalam memanah terutama posisi kaki harus benar sebab posisi kaki menentukan arahan memanahmu. Kedua kakimu buka selebar bahu sekitar 90 derajat dengan arah target. Kedua tempatkan tali busur ke dalam nock atau berlubang di belakang anak panah untuk tempat sinar. Ketiga letakkan jari telunjuk pada bagian atas panah, sementara jari tengah dan jari manis berada dibawahnya. Peganganmu harus longgar untuk menembakkan anak panahmu pada target yang tepat. Keempat, angkat busur dan tarik senar ke belakang, lalu arahkan lenganmu yang tidak menarik senar ke arah target. Terakhir membidik dan menembak ke arah target”, jelas Rigby.
“Apakah kau mengerti?” tanya Rigby.
Raisa menganggukkan kepala bahwa dirinya mengerti apa yang di jelaskan Rigby. Lali Rigby mengajak Raisa memulai berlatih. Rigby memberikan contoh sambil menjelaskan apa yang tadi telah ia jelaskan kepada Raisa.
“Ingat baik-baik apa yang aku jelaskan, Pertama sikap dalam memosisikan salah satu anggota tubuhmu dalam memanah terutama posisi kaki harus benar sebab posisi kaki menentukan arahan memanahmu. Kedua kakimu buka selebar bahu sekitar 90 derajat dengan arah target. Kedua tempatkan tali busur ke dalam nock atau berlubang di belakang anak panah untuk tempat sinar. Ketiga letakkan jari telunjuk pada bagian atas panah, sementara jari tengah dan jari manis berada dibawahnya. Peganganmu harus longgar untuk menembakkan anak panahmu pada target yang tepat. Keempat, angkat busur dan tarik senar ke belakang, lalu arahkan lenganmu yang tidak menarik senar ke arah target. Terakhir membidik dan menembak ke arah target. Lalu anak panahnya... Tembak!!”
Anak panak yang dibidik Rigby meluncur mengenai target. Raisa ikut girang. Lalu Rigby memberikan kesempatan kepada Raisa.
“Lakukanlah, apa yang aku contohkan!”, tegas Rigby.
Beberapa lama kemudian Damon melihat rumah sederhana, Damon langsung menuju ke persinggahan tersebut. Damon mendarat dengan pelan, pendaratan sampai ke persinggahan dengan baik. Rigby dan Raisa turun dari punggung Damon. Rigby dan Raisa mengucapkan terimakasih.
Rigby berjalan masuk sementara Raisa mengusap punggung Damon penuh dengan cinta.
“Thank you Damon”
“Iya, sama-sama”.
“Maaf Damon, aku tidak bisa menemanimu bermain. Apabila semua telah usai, aku pastikan kita bermain sepuasnya”.
“Tidak apa-apa, aku senang melihatmu semangat berlatih. Kita bisa mencari waktu lain untuk bermain lagi. Nanti kalau kau telah menyelesaikan misi latihanmu, aku akan mengajakmu berkenalan dengan teman-temanku lebih luas”.
“Baiklah, thank you”. Raisa memberikan kecupan di pipi Damon dan mengulum senyum.
Ketika mereka bermesraan, Rigby kembali menemui mereka dengan membawakan camilan untuk Damon.
“Makanlah Damon, ini sebagai tanda terimakasihku kepadamu”
Damon bersorak dengan suara khas kuda. “Thank you pak tua”. Damon langsung melahap hidangan yang diberikan oleh Rigby.
Raisa melihat Damon makan dengan lahap membuat Raisa sangat senang melihatnya. Saat Raisa memperhatikan Damon makan, Rigby menyuruh Raisa untuk membersihkan diri. Raisa pun mengiyakan lalu bergegas pergi. Sedangkan Rigby menemani Damon makan.
Damon membuka suara setelah makanannya habis sambil bersendawa.
“Pak tua, kamu jangan terlalu keras kepada gadis itu. Kasihan dia”, ucap Damon. Rigby tidak mengindahkan ucapan Damon, ia malah menyuruh Damon untuk segera kembali ke rumahnya. Damon pun pergi dengan pamit kepada Rigby.
“Aku pulang dulu. Semoga tidurmu nyenyak”. Damon pergi tanpa pamit dengan Raisa.
Usai kepergian Damon, Imam agung datang dengan masih menggunakan wujud kabut asap.
“Ada apa, kau datang ke sini?”
“Aku hanya bersinggah saja untuk menemui sahabatku”.
“Bagaimana peranmu sebagai guru gadis kecil itu selama empat tahun ini?”
“Cukup baik”.
“Baguslah. Gadis itu akan hebat suatu saat nanti. Dia akan membantu kita membinasakan para iblis, monster dan penyihir jahat”.
“Kalau begitu aku pamit”, bisik Imam agung.
Malam semakin dingin, Rigby memasuki persinggahan dan beristirahat setelah sarapan dengan Raisa.