
Raisa terbangun dari alam mimpi di pagi buta. Ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Lalu ia beranjak dari dipan kemudia berjalan menuju ke jendela. Ia membuka jendela langsung di suguhkan hembusan angin dingin yang menerpa di permukaan kulit pada wajahnya dan lengan membuat Raisa menggigil. Raisa menyedekapkan ke dua tangannya ke dada.
“Udara pagi hari begitu ngilu di tubuhku sampai ke poros tulang dan membuatku seperti membeku”, monolog Raisa.
Raisa menutup pintu jendela kembali ke atas dipan untuk mengambil sebuah panah dan jubah yang tersampir di atas meja. Ia pergi membuka pintu tanpa pamit kepada Rigby. Kemudian ia berjalan menyusuri setapak tanah dan rerumputan menuju tempat ia berlatih panah.
Sampainya di sana Raisa mencoba melakukan hal pertama yaitu bermeditasi untuk melatih konsentrasi dalam latihannya kali ini. Raisa duduk dengan ke dua kaki bersila, badan tegak, kedua tangan diatas lutut, leher tak kaku, kemudian dagu sedikit menunduk sambil memejamkan kedua matanya dan mengambil nafas lalu ia hembuskan. Raisa terus melakukan sampai ada sebuah cahaya hidup di balik punggungnya dan cahaya itu semakin lama membesar memenuhi tubuhnya seakan tubuh Raisa terdapat baterai senter menyala. Kekuatan yang dimiliki Raisa di rasakan oleh makhluk-mahkluk yang ada di sekitar hanya sementara karena cahaya itu tiba-tiba redup seketika. Raisa yang memiliki kekuatan itu tak merasakan. Ia hanya merasakan bahwa pikirannya kali ini sudah tenang.
Usai bermeditasi cukup lama, Raisa memulai berlatih memanah dengan teknik yang diajar oleh Rigby.
“Fokus, konsentrasi, tenangkan pikiran, lalu ambil sikap dalam posisi disalah satu anggota tubuh dalam memanah terutama posisi kaki harus benar untuk menentukan arahan memanah. Kedua kaki dibuka selebar bahu sekitar 90 derajat dengan arah target. Kemudian tempatkan tali busur ke dalam nock atau berlubang di belakang anak panah untuk tempat sinar. Ketiga letakkan jari telunjuk pada bagian atas panah, sementara jari tengah dan jari manis berada dibawahnya. Pegangan harus longgar untuk menembakkan anak panah pada target yang tepat. Keempat, angkat busur dan tarik senar ke belakang, lalu arahkan lengan yang tidak menarik senar ke arah target. Terakhir membidik dan menembak ke arah target. Lalu anak panahnya... Tembak!!”. Raisa terperangah lalu bersorak, “akhirnya mengenai target dalam sekali latihan. Yes”.
“Aku harus lakukan kembali agar Rigby bangga kepadaku”.
Di tengah Raisa tengah berlatih, Rigby datang tanpa sepengetahuan Raisa bersama Damon. Rigby melihat kemahiran Raisa dalam memanah sangat meningkat membuat Rigby merasa bangga. Lalu diakhir anak panah yang ia bidikkan, Damon bersorak dengan suara khas kudanya dengan keras membuat Raisa menoleh ke arah sumber suara.
“Damon”, panggil Raisa.
Damon pergi menghampiri dengan mengitari Raisa diatas tubuhnya lalu mengangkat tubuh Raisa ke punggungnya dengan bersorak sorai sampai membuat Raisa tak berhenti tertawa.
Kesenangan itu di hentikan oleh Rigby yang terus memanggil Raisa. Damon membawa Raisa ke hadapan Rigby. Raisa turun dari punggungnya dengan memberikan sapaan selamat pagi sambil unjuk gigi.
Rigby tidak membalas. Rigby malah memuji ketangkasan Raisa dalam memanah. Membuat hati Raisa mengembang senang. Raisa langsung memeluk tubuh Rigby sambil mengucapkan terima kasih.
Lalu Rigby mengajak Raisa sarapan pagi yang ia bawa. Raisa menghempaskan bokongnya diatas rerumputan di samping Rigby dan Damon. Rigby mempersilakan Raisa untuk menyantap makanan yang ia buat. Raisa mengambil salah satu hidangan yang dibawa Rigby. Damon pun juga mendapatkan bagian. Mereka menikmati hidangan yang di bawa Rigby sambil berbicara perihal latihan dan sampai hal-hal yang gak penting dengan Damon.
“Aku senang melihatmu mahir dalam setiap latihan yang aku ajarkan kepadamu”, ucap Damon sambil meneguk air mineral.
“Suatu hari kamu akan menjadi kesatria wanita yang hebat. Aku berharap kamu jangan terlalu berpuas diri. Tetap harus melatih otot-otot fisikmu dan kekuatan lainnya”, imbuh Rigby.
“Oh ya, kapan kamu akan selesai berlatih ini?”, tanya Damon di tengah pembicaraan Rigby.
“Nanti akan ada saatnya”, ucap Raisa dengan tersenyum.
“Pak tua, kamu jangan terlalu keras terhadap sahabat bayi kecilku ini”, pinta Damon. Rigby tidak menggubrisnya.
“Nanti akan aku ajarkan latihan selanjutnya yaitu berpedang dan berkuda. Itu hal yang sangat sulit dan penuh luka jika kamu tidak hati-hati dalam latihanmu”, ucap Rigby.
“Baik uncle”, ucap Rigby.
“Yah, aku akan lama mau bermain denganmu, Raisa”, keluh Damon sambil meletakkan kepalanya di bahu Raisa.
“Baiklah, karena aku sahabt yang baik maka akan aku tunggu sampai masa berlatihmu selesai”, ucap Rigby dengan sedikit sedih.
“Thank you”, ucap Raisa.
...
Latihan kedua, Raisa diajarkan berlatih pedang. Sebelum memulai berlatih, Rigby menjelaskan tata cara dalam berpedang. Rigby mulai mengeluarkan pedang tersebut. Pedang yang dipegang oleh Rigby berukuran kurang lebih 1.5 meter. Raisa terperangah dengan pedang yang dimiliki Rigby. Rigby menyadari ekspresi kekaguman Raisa.
“Ekspresi kamu sangat gak enak di lihat. Kamu jangan terlalu kagum apa yang baru kamu lihat. Kamu lebih baik fokus dalam latihan”, tegas Rigby. Raisa sepintas mengubah ekspresinya dengan raut gaya merajut. Rigby gak peduli dengan ekspresi Raisa. Rigby mulai menjelaskan pedang dalam petarungan.
“Pedang ini sering di gunakan dalam petarungan maupun peperangan”. Rigby mengusap punggung pedang tersebut.
“Jika kamu tidak ingin terkena ketajaman pedang yang aku pegang, kamu harus perhatikan skenario petarungan. Makanya aku mengajarkan kamu berbagai macam bela diri untuk melatih ke fokusan kamu terutama di bela diri kungfu. Bela diri kungfu bisa menyeimbangkan kekuatan dan fokusmu dalam setiap petarungan. Nah, untuk melawan musuh paling penting dan diingat, kamu harus waspada pada sekelilingmu, tempatmu bertarung. Konsentrasi boleh, tapi, waspada lebih utama apalagi musuh yang nantinya kamu hadapi mereka sangat tangguh. Apa kau mengerti sampai di sini?”
Raisa menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.
“Syukur jika kamu mengerti..”, ucap Rigby.
“Apakah saya sudah boleh mulai berlatih pedang?”
“Tentu.., belum”, ucap Rigby dengan senyum singkat.
“Tak hanya waspada, kamu juga harus jeli mengamati lingkungan pertarungan. Jika tidak jeli, kamu bisa mati tanpa membawa apa-apa”, ucap Rigby sambil mengayuhkan pedangnya tepat di hadapan Raisa. Raisa terkejut dan terjatuh. Rigby tersenyum sinis.
“Bersikaplah santai, jagalah tubuh tetap seimbang sehingga kamu bisa menyerang dan menangkis tanpa terpukul ataupun tergores. Lakukan pertarungan dengan hati-hati, jangan melakukan dengan gegabah, khususnya melawan petarung yang handal kamu bisa mati, kamu harus mengontrol diri dan fokus agar nyawa kamu tidak dikibas. Lindungi dirimu dengan baik karena pertahanan yang kuat kemungkinan besar kamu bisa memenangkan petarungan. Jagalah senjatamu agar selalu siap, sambil memperhatikan serangan yang mereka lakukan kepadamu. Temukan dan pertahankan jarak ideal berdasarkan keseimbangan antara jangkauanmu dengan musuh. Usahakan selalu tenang dan percaya diri karena sikap ini sangat diperlukan dalam melawan musuh untuk menentukan hasil. Cara ini merupakan siasat yang efektif”, jelas Rigby.
“Akan aku lakukan sesuai perkataanmu uncle”, ucap Raisa.
“Bagus. Kamu harus selalu mengingat semua setiap kata yang aku jelaskan”, tegas Rigby.
“Di alam terbuka kamu harus tahu situasi dan alur pertempuran. Kamu harus mengendalikan diri ketika pertarungan di mulai. Kemudian jangan berharap pertarungan akan berlangsung dramatis. Jangan memutar tubuhmu dalam bentuk lingkaran, itu membuat pertahananmu terbuka lalu di serang musuh. Lalu kamu harus membuat siasat lain seperti mengintimidasi musuh. Misalnya memamerkan ketangkasanmu dalam menganyunkan pedang dan lainnya”, jelas Rigby.
“Apa kamu sudah mulai bosan?”, tanya Rigby dengan mengangkat alis sebelahnya.
“Tidak uncle. Akan aku lakukan seperti yang kamu jelaskan. Dan akan aku ingat di otak kecilku ini”, ucap Raisa dengan unjuk gigi untuk menutupi kebosanan yang di jelaskan oleh Rigby agar ia tidak marah.
“Baiklah, kita mulai berlatih. Mari angkat pedang yang aku bawa”, ucap Rigby.