
Menceritakan kisah seorang gadis yang bernama Raisa Alcina Audreya yang telah lama di tinggalkan oleh orang tuanya karena suatu insiden kecelakaan beruntun saat perjalanan ke Rumania. Akibat insiden kecelakaan itu membuat kehidupan Raisa berubah yang tadinya seperti seorang putri kecil yang mendapatkan segalanya sekarang ia harus menerima derita hidup yang dilakukan oleh paman dan bibinya. Ia mengalami perih di sekujur tubuhnya akibat kekejaman keluarganya. Sehingga Raisa pergi meninggalkan rumah besarnya dengan berkelana. Ia berkelana di sepanjang jalan dengan kaki kecilnya sampai ke area hutan. Sampai di sana Raisa kecil beristirahat di area semak. Saat di tengah ia beristirahat tiba-tiba ada angin besar yang mengguncang area hutan membuat Raisa harus berlari dan sampai ke suatu tempat yang menakjubkan. Raisa memandang sampai termangu melihat keindahan nuansa pemandangan yang indah penuh dengan kilauan di matanya. Ketika Raisa tengah mengagumi pemandangannya tiba-tiba tubuhnya kehilangan kesadaran dan membuatnya terjatuh di atas gumpalan asap berwarna hijau seperti alam yang di suguhkan.
Gumpalan asap itu membawa Raisa pergi ke suatu rumah sederhana. Di sana ada seorang pria paruh baya yang berjengkot putih menggunakan jubah bertudung hijau tengah berbicara dengan gumpalan asap hijau yang membawa putri kecil ke tempat kediamannya yang belum pernah di singgahi oleh orang asing bahkan tidak dapat dilihat oleh siapa pun.
“Kamu mengenalnya?”
“Tidak”
“Kenapa kau membawanya ke dunia kita?”
“Aku menemukan dia terjatuh di sekitaran danau. Karena aku merasa kasihan makanya aku membawa dia ke kediamanmu”
“Hahh..”. Pria paruh baya itu menghembuskan nafas yang terdengar oleh gumpalan asap hijau itu.
“Tolong obati dia. Aku memiliki perasaan yang luar biasa terhadap gadis kecil itu. Kau jangan terlalu banyak mendesah. Suara itu sangat menggangguku. Aku pergi dulu”. Asap bergumpal itu pergi meninggalkan pria itu.
Pria itu menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan. Pria itu kemudian mendekati gadis kecil yang terbaring diatas dipan yang diselimuti sebuah karpet hijau seperti rerumputan di pandang lembah Lauterbennen. Ia mengamati gadis kecil itu dari bawah sampai ke atas. Lalu ia pergi mengambil ramuan alami untuk menyembuhkan luka milik Raisa yang ada di sekujur tubuhnya. Usai menyelesaikan mengoleskan obat, pria tua itu pergi ke suatu danau untuk meditasi dengan alam. Ia berjam-jam menyatukan tubuhnya dengan alam untuk mendapatkan kekuatan dan energi agar bersinergi menjaga lingkungannya dan alam semesta.
Sedangkan Raisa kecil terbangun dari alam bawah sadarnya. Ia beranjak dari tidurnya. Raisa memegang kepalanya yang terasa sakit. Raisa turun dari dipan dan berjalan keluar rumah sederhana itu. Raisa tak melihat jika ada batu kecil itu di depannya sehingga membuatnya hampir jatuh terkilir jika tidak ada yang menangkapnya tentunya ia akan terluka.
“Untung kamu cepat aku tangkap. Jika tidak itu akan merepotkan lagi untuk mengolesi lukamu. Aku tidak terlalu bisa mengolesi lukamu”, katanya. Raisa terkejut akan hewan yang menolongnya yang hampir jatuh tengkurap.
“Ka..kau bi..bisa bicara?”, tanya Raisa kecil dengan gugup.
“Iya. Kamu terkejut ya. Aku tahu itu. Tapi tenang saja kita akan segera menjadi saudara. Di alam ini semua hewan dapat berbicara dengan manusia yang sudah menjadi pilihan para dewa. Aku pun merupakan hewan utusan dewa. Kenalkan, namaku Damon yang memiliki arti kepercayaan dan kesetiaan dalam persahabatan”, ucapnya dengan bersorak menyuarakan suaranya khas kuda sambil berjingat.
“Nama kamu siapa?”, tanya Damon.
“Nam..namaku Raisa Alcina Audreya”.
“Kau gak perlu gugup. Kita sama-sama makhluk pilihan dewa”.
Raisa mengangguk sebagai tanda mengerti yang dikatakan oleh Damon. Saat mereka tengah berbicara tiba-tiba pak tua datang memanggil Damon. Damon menoleh ke sumber suara sambil membisikkan kepada Raisa.
“Dia orang yang menolongmu. Kamu hanya perlu memberikan sentuhan baik untuknya. Dia akan membantumu mendapatkan kekuatan dari dewa”. Raisa mendengarkan ucapan Damon hanya mengulum senyum.
“Ada apa kamu datang kemari?”
“Aku datang hanya berjalan-jalan saja”.
“Kembalilah ke tempat asalmu. Aku mau berbicara dengan gadis kecil itu”.
Damon pergi dengan memberikan salam kepada Rigbhy yang sudah bertahun-tahun menjaga alamnya.
Setelah kepergian Damon, Rigbhy menyuruh Raisa untuk masuk. Rigbhy menyuruh Raisa duduk dengan baik.
“Duduklah dengan baik, aku buatkan makan malam dulu baru kita berbicara”, ucap pria tua itu yang berjubah tudung warna hijau.
Raisa menjawab dengan anggukan.
Pria itu masuk ke dalam dapur membuat makanan untuknya dan gadis kecil itu. Beberapa menit kemudian Righby keluar membawa masakannya yang dibuat. Ia menghidangkan makan malam dengan sandwich dan jus sayuran.
“Gadis kecil ini, bagaimana bisa tahu tempat ini. Padahal tempat ini tak bisa di jangkau oleh para manusia yang bukan utusan dewa. Apakah gadis kecil ini dapat menjadi pemimpin di alam ini dan mampu memberantas para penyihir ataupun monster yang kerap kali menghantui di dunia manusia bahkan di alam lainnya? Aku harus mengenalnya dahulu baru aku mengajarkan dia akan kekuatan dewa”.
Beberapa lama kemudian mereka usai makan malam berlanjut mulai membuka suara. Rigbhy mencoba mendekatkan diri dengan hal-hal yang ringan agar gadis kecil itu tidak ketakutan terhadapnya.
“Are you ok?”
“Ya, I’m ok”.
“Thank you, for helping me”, ucap Raisa dengan tulus sambil menundukkan kepala dan memainkan jemarinya karena canggung dan gugup.
“What is your name?”
“My name is Raisa Alcina Audreya”.
“Where do you live?”
“Aku tinggal di Skotlandia dan keluargaku bernama Fallon”, jelas Raisa.
“Fallon, bukankah ia sudah meninggal di medan perang mengarungi lembah dalam memusnahkan para penyihir. Apa hubungan mereka?”
“Bukankah Fallon belum berkeluarga?”
“Kau mengenalnya?”, Raisa balik bertanya.
“Ya, aku mengenalnya karena kami dahulu pernah satu anggota dalam pertempuran melawan penyihir dan para iblis di lembah Harem. Di sana sangat lembab dan gelap untuk di lewati. Kami ke sana untuk menghentikan para iblis dan penyihir untuk mengganggu para manusia. Akan tetapi, mereka tetap keras kepala untuk tetap mengganggu mereka agar hidup mereka abadi di dunia ini. Kami mulai geram dan mencoba segala cara untuk menghancurkan mereka namun naasnya kami malah kalah. Lalu Fallon terbunuh dan di bawa ke bukit sebagai persembahan mereka untuk keabadian”, jelas Rugbhy.
“Apakah para iblis dan penyihir itu masih ada?”
“Ya, mereka masih berkeliaran di dunia manusia bahkan berbaur dengan mereka”, jawab Rughby.
“Bagaimana cara kita bisa memusnahkan mereka?”
“Kita harus mengumpulkan spirit dan tujuh kultivasi alam di berbagai negara”.
“Apa kau pernah mencobanya?”
“Ya, tapi aku bertahun-tahun memburu dan tak dapat apa-apa karena kekuatanku yang semakin lemah”.
“Aku akan membantumu”. Raisa berucap penuh keyakinan dengan sorot mata yang serius.
“Akan aku pikirkan”, ucap Rugbhy.
“Sekarang beristirahatlah agar lukamu cepat sembuh dan bisa membantuku untuk bercocok tanam di ladang”.
“Baiklah..”. Raisa membaringkan diri di atas dipan dan mengangkat selimut sutra sampai ke dada.
“Terima kasih, telah menolongku”, ucap Raisa dengan mengulum senyum dengan tulus lalu menutup mata.