
Di luar tenda Raisa, Asura, Pinky, dan orang baru tengah menikmati semilirnya malam gulita setelah bertempur dengan para iblis dengan ditemani suara aungan serigala dan kicauan para burung hantu.
Aditya Arkanda yang sejak tadi berdiam dan memandang Raisa, ia mencoba memberanikan diri untuk membuka suara.
“Apa kalian tidak mengantuk?” tanya Aditya.
“Sebenarnya kami mengantuk, namun kami takut apabila iblis itu datang kembali”, sahut Pinky sambil menguap.
“Kalian bisa tidur dan beristirahat, aku akan berjaga-jaga di sini. Pendengaranku sangat tajam dan aku dapat merasakan keberadaan iblis maupun makhluk lainnya”, ucap Aditya.
“Kalau begitu kami akan pergi ke tenda. Thank you atas bantuannya”, ucap Asura sambil meletakkan kayu bakar yang terakhir.
Pinky dan Asura berjalan menuju tenda, sementara Raisa masih berjaga duduk dengan bermeditasi untuk mengontrol kekuatan dan meminta kekuatan dari alam. Aditya merasakan semilir hangat entah darimana, yang pasti angin hangat di musim dingin sangat menakjubkan. Aditya tersentuh dengan kekuatan luar biasa yang dimiliki gadis tersebut.
Dua puluh menit berlalu Raisa menyudahi meditasinya. Raisa menoleh ke kanan dengan ekspresi terkejut melihat seorang pria yang baru saja mengenalkan diri tersenyum dengan tatapan hangat.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Raisa sambil beranjak berdiri.
“Aku..aku hanya menikmati seorang gadis yang tengah bermeditasi dengan cantik. Itu cukup sebagai pandangan mata yang menarik untuk pria normal”, Aditya ikut beranjak lalu berjalan mendekati Raisa yang sedang membersihkan tanah yang menempel di celananya.
“Bagaimana kalau kita saling berjaga?”
“Kemana Asura dan Pinky?” Raisa balik tanya.
“Mereka beristirahat”, jawab Aditya.
“Mereka pasti kelelahan. Sebaiknya aku berganti berjaga”, kata hati Raisa.
“Apa kamu mau berjaga denganku?”
Raisa berfikir dengan serius sambil menatap Aditya yang ada di depannya.
“Maksudku, kita menjaga bersama”, ucap Aditya.
“Baiklah, aku akan duduk dekat dengan kudaku”, ucap Raisa berjalan ke arah kudanya dengan diikuti Aditya. Raisa merasa diikuti berhenti membalikkan badannya.
“Kenapa kau mengikutiku?”
“Aku kira kamu butuh teman mengobrol sambil berjaga malam”, jawab Aditya.
“Sepertinya gak perlu.”
“Sangat diperlukan, aku takut jika iblis datang kembali, kamu akan dalam bahaya. Aku memiliki kekuatan mendengar suara dari jarak jauh dan dapat mencium musuh-musuh yang mengincar nyawa kita.”
Raisa membalikkan badan dan tak perduli perkataan Aditya. Raisa duduk dengan bersandar di dahan pohon dengan diikuti Aditya di sampingnya.
“Malam ini sangat gelap gulita, apa kamu tidak merasakan merinding mendengar suara kicauan burung hantu disertai gagak dan serigala?”
Raisa menjawab dengan gelengan kepala.
“Kamu bisa beristirahat, aku akan berjaga jika kau lelah”, ucap Aditya dengan kepala mendongak menatap langit.
“Aku gak lelah dan mengantuk”, sangkal Raisa yang sejak tadi matanya ingin sekali menutup. Aditya menoleh melihat wajah Raisa yang menahan kantuk membuatnya tersenyum.
“Tidurlah, aku akan melindungimu”, ucap Aditya.
Raisa diam-diam menempatkan diri untuk berbaring tidur. Aditya tersenyum melihat tingkah Raisa. Aditya mencoba menghampiri Raisa melihat apakah ia benar-benar terlelap. Aditya mencoba membuktikkan. Aditya tersenyum melihat wajah cantik milik Raisa. Ia mencoba ikut berbaring di samping Raisa dengan mengangkat kepalanya pelan-pelan ke lengan miliknya untuk di jadikan bantal. Aditya ikut terlelap.
...
“Hei, Asura”, panggil Aditya dari semak-semak arah belakang. Asura yang baru bangun membalikkan badan.
“Kalian ternyata sudah bangun sebelum ku bangunkan”, ucap Aditya.
“Aku tadinya setelah mencuci wajah ingin membangunkan kalian. Syukurlah sudah bangun semuanya. Aku tadi berfikir untuk membangunkan kalian.”
“Kalian mau berkelana kemana lagi?” tanya Aditya.
“Kami akan pergi area pegunungan”, sahut Pinky.
“Kalau begitu aku akan ikut bersama kalian”, ucap Aditya.
“ Uhmm.. kami..” Pinky melirik ke arah Asura, Raisa, dan Damon.
“Kami gak bisa mengikutsertakan orang asing”, sahut Raisa.
“Tenang, aku bukan orang berbahaya”, ucap Aditya.
“Bawalah saja dia, dia sudah membuktikan ketika aku sakit. Dia menyembuhkanku”, usul Damon.
Raisa berfikir sejenak sambil menelisik pria yang ada di depannya. Beberapa detik kemudian Raisa mengangguk. Raisa berjalan mendahului mereka. Raisa naik kuda dengan diikuti ketiga kawannya dan Aditya.
Perjalanan mereka sangat jauh untuk menemukan batu spirit. Mereka harus melewati jalan terjal dengan pacuan kuda hingga menemukan sebuah gua besar. Raisa menelan salvina dengan kasar sambil berkata dalam hati, “aku bisa melewati gua ini sekalipun berbentuk lembah yang gelap.”
Raisa memacukan kuda dengan pelan sambil menengok kanan kiri dan berhati-hati. Aditya mencoba mendekati Raisa dengan memacukan kudanya sedikit cepat.
“Apa kau takut?” tanya Aditya.
Raisa menengok ke kiri lalu mengubah pandangan ke depan.
“Kamu gak perlu takut. Gua ini tidak akan memakanmu. Kalau ada iblis aku bisa merasakan. Sekarang rilekslah, aku akan menjagamu”, Aditya terus mengajak mengobrol Raisa namun gadis itu hanya diam. Aditya terus berusaha sampai terdengar suara raungan yang menakutkan dan kuda-kuda menjerit.
“Tenanglah”, Aditya mengusap kudanya lalu berjalan ke depan mengawal Raisa dengan ketiga temannya.
Aditya melihat sosok hewan buas yang besar dengan bulu putih yang di dominasi abu-abu. Hewan itu memiliki kepala dua. Aditya tak dapat melihat jenis hewan tersebut karena terlalu gelap. Aditya mencoba membuat penerangan cahaya menggunakan api unggun. Raisa yang berada dibelakan Aditya bertanya, “apa kau melihat hewan tersebut? Itu hewan apa?” dengan pelan agar tidak memancing hewan yang ada di depannya.
Aditya mencoba mendekat dengan mata terbelalak.
“Cerberus”, gumamnya.
Asura mendengar itu terkejut. Begitu Damon yang tak kalah terkejut dengan suara keras.
“Apa?! Cerberus!”
“Jangan terlalu keras. Hewan itu akan mendengarmu”, bisik Pinky di sampingnya.
Namun terlambat perkataan Pinky. Cerberus sudah terlebih dahulu merasakan adanya orang asing. Cerberus berjalan mendekat. Aditya mengajak Raisa, Asura, Damon, dan Pinky berlari bersembunyi dengan cepat. Tetapi pelarian mereka terkepung terlebih dulu oleh hewan tersebut.
Aditya nenyuruh teman-temannya untuk berhati-hati sambil menjelaskan kekuatan Cerberus. “Cerberus ini sangat menyukai mahluk hidup. Jika kalian terlalu gegabah berlari maka kalian akan diseret dan dikunyah. Carilah celah untuk melewan makhluk tersebut.”
Raisa mengambil pedang di punggungnya, begitu juga Damon, Asura, dan Pinky. Semuanya menodongkan pedang dan mulai bertarung. Cerberus melompat ke arah mereka. Raisa mencoba melukai. Pertempuran itu begitu di nikmati oleh sosok wanita dengan rambut ular. Pertempuran tersebut hampir saja melukai Raisa apabila Aditya tidak menolongnya. Mereka mencoba menghunuskan pedang meskipun tubuh mereka terkena cakaran. Pertempuran tersebut sampai penghabisan nafas, darah, dan lainnya. Pada akhirnya mereka dapat membunuh satu persatu Cerberus. Nafas mereka tersengal-sengal. Raisa tanpa sengaja melihat batu cahaya. Raisa berusaha bangkit dengan bantuan pedangnya. Ia berlari ke arah batu bercahaya. Raisa mengambil batu tersebut di dalam lobang gua yang diapit dua batu besar. Asura menyusul bersama Aditya. Damon dan Pinky kehabisan nafas dan kelelahan untuk menghampiri Raisa. Mereka lebih memilih bersandar.
“Apakah itu batu spirit?” tanya Aditya dibelakang.
Raisa mengangguk lalu mengantongi batu tersebut dalam kantong coklat.