The Power Of The Ruler Of Nature

The Power Of The Ruler Of Nature
Episode 13 (Bertempur)



Perjalanan yang dilalui oleh Raisa penuh dengan jalanan yang terjal dan di sekelilingnya yang dilewati banyak pohon-pohon besar, ada semak-semak belukar, dan suara gagak bersorak sorai. Perjalanan ini begitu sunyi tanpa ada membuka mulutnya. Mereka lebih fokus akan hal yang akan terjadi di setiap perjalanan yang di lewati. Sebab perjalanan yang mereka lalui tak akan mudah. Maka mereka sangat berhati-hati.


Di tengah perjalanan melewati hutan rimba yang penuh dengan pohon besar dan semak belukar mereka berhenti sejenak untuk mewaspadai adanya musuh karena hutan yang kini mereka injak begitu gelap sebab langit tertutupi oleh pohon-pohon besar. Raisa mendengar suara desisan ular. Raisa mencoba untuk mengamati sekelilingnya dengan was-was. Begitu juga dengan ketiga sahabatnya. Mereka turun dari tunggangan kuda dan berjalan melewati setapak demi setapak sambil melihat sekeliling mereka.


Waktu berjalan Damon dikejutkan sebuah ular cukup besar dengan menjulurkan lidahnya membuat Damon berteriak. Pinky yang berada di belakang Damon ikut berteriak membuat Raisa dan Asura menoleh akibat teriakan mereka berdua.


“Kalian jangan terlalu berisik” peringatan Asura.


“I’m sorry, aku tak berniat untuk membuat gaduh atau bising, aku hanya kaget saja dengan kedatangan ular secara tiba-tiba di hadapanku dengan bergelantungan” ucap Damon.


“Aku berteriak karena kaget dengan suara teriakan Damon” ucap Pinky.


“Biar aku mengusir mereka” ucap Asura dengan berjalan membawa sebatang kayu ranting untuk menyingkirkan ular tersebut sambil tetap memegang tali kudanya agar tidak pergi menghilang.


Usai Asura menyingkirkan ular tersebut, ular-ular itu berdatangan entah dari mana semua ular itu muncul. Raisa mengambil pedang untuk mencoba menyingkirkan ular-ular tersebut. Namun ular-ular tersebut tak kunjung berkurang membuat mereka kewalahan apalagi para kuda yang dibawa oleh mereka terus merintih karena ular-ular tersebut seakan akan ingin memangsa mereka.


“Kapan ular-ular ini berkurang?!” seru Damon sambil mengibaskan pedangnya menepis para ular yang mengepungnya.


“Raisa, apakah ada cara lain menyingkirkan mereka?” tanya Pinky.


“Raisa coba kamu keluarkan air suci tersebut. Lalu kamu cipratan ke mereka sedikit demi sedikit” seru Asura.


“Baiklah” Raisa mengeluarkan air suci dari tas selempangnya. Lalu ia mencipratkan air suci tersebut ke arah ular-ular yang mengepungnya. Satu persatu para ular menghilang lalu Damon, Asura, dan Pinky ikut mencipratkan air suci tersebut ke arah ular-ular tersebut.


Beberapa lama kemudian akhirnya mereka bernafas lega.


“Akhirnya...” Damon mengusap pilu di dahinya sambil menghembuskan nafas leganya.


“Semua sudah berakhir” ucap Pinky dengan lega.


“Ini bukan akhir bagi kita gaes” seru Asura.


“Ap..apa maksudmu?” tanya Raisa.


“Lihatlah ke depan” ucap Asura.


“Siapa mereka?” tanya Raisa.


“Mereka adalah iblis. Mereka merupakan pengikut astaroth” jawab Asura.


“Bukankah iblis pembawa ular itu Medusa?” tanya Pinky.


“ Medusa itu dicerita mitologi sebagai dewi pelindung atau penjaga. Sebelum dinyatakan sebagai dewi bahkan dibilang monster ia itu merupakan seorang wanita biasa yang menjadi korban percintaan. Pokoknya itu ceritanya sangat panjang. Jika aku ceritakan kita malah yang terbunuh oleh pemburu iblis. Sebaiknya kita melawan dia dulu, baru kita bisa cerita” seru Asura.


“Baiklah” ucap Pinky.


Mereka maju mengibaskan pedangnya yang sudah diberkati oleh para imam agung. Satu persatu para iblis lenyap dengan teriakan yang mengerikan ketika pedang itu menusuk, atau hanya mengenai kulit mereka. Asura, Damon, dan Pinky kewalahan melenyapkan para iblis. Apalagi mereka belum melawan antik raja iblis.


Raisa mencoba mengambil tenaga dalam untuk melenyapkan semua iblis meskipun dalam keadaan luka akibat spirit yang dikeluarkan oleh para iblis yang ia lawa. Raisa merentangkan kedua tangannya sambil membaca mantra yang telah diajari oleh Basudewa. Iblis yang tengah berperang merasakan kekuatan besar dari dewa yang muncul membuat mereka berteriak seakan tubuhnya tercabik-cabik. Teriakan itu membuat para manusia yang mendengarkan merasa ngeri.


Asura yang tengah mengibas pedang melawan iblis melihat Raisa bercahaya tersenyum.


“Gadis itu sangat istimewa” puji Asura dalam hati.


“Ayo kita binasakan iblis-iblis agar tidak menghambat perjalanan kita! Semangat!!!” teriak Asura.


“Semangat!!!” teriak Damon dan Pinky bersamaan.


Para iblis satu persatu lenyap kecuali raja iblis. Ia hanya kesakitan pada kulitnya yang hampir akan terkelupas. Sebelum pergi ia memperingati Raisa dan kawan-kawannya. “Kalian akan aku balas atas apa yang kalian lakukan kepada keluargaku. Permainan belum selesai. Lihat saja”. Lalu ia menghilang.


“Akan kami tunggu” seru Damon.


...


Usai menyelesaikan pertarungan dengan para iblis mereka melanjutkan perjalanan mencari tempat peristirahatan.


Tak butuh waktu lama mereka mendapatkan tempat untuk istirahat. Mereka berhenti disekitaran danau. Mereka turun dari tunggangan kuda. Lalu mengikat pelana di dahan pohon. Setelah itu mereka membasuh wajah dengan air dan meminumnya. Usai mendapatkan penyegaran mereka berlanjut berkemah dengan mencari ranting-ranting pohon untuk menerangi kawasan kemah mereka.


“Guys, kita cari ranting-ranting pohon. Kemudian mencari makanan untuk perut kita” ucap Raisa.


“Baiklah” ucap Asura.


“Ini sudah cukup banyak” ucap Damon.


“Kalau begitu kita pembagian tugas. Raisa dan aku mencari makanan sedangkan Pinky dan Damon kalian berjaga di sini sambil membuat api unggun siapa tahu kita mendapatkan daging untuk kita makan” ucap Asura.


“Baiklah” ucap Pinky.


Sementara Asura dan Raisa mencari makanan, Damon dan Pinky mencoba bersama membuat api unggun.


“Damon tolong di tata kayu ranting-rantingnya” seru Pinky.


“Terus kamu mau kemana?”


“Aku mau ambil air” jawab Pinky dengan berjalan menuju tas ransel mengambil sebuah kendi.


“Aku ikut” seru Damon.


“Tidak perlu” tolak Pinky.


“Aku tetap ikut” seru Damon dengan kekeuh.


“Gak per.lu” tekan Pinky.


Damon menarik lengan Pinky sehingga membuat tubuh Pinky terhuyung ke depan menabrak dada bidang milik Damon.


“Auw” rintih Pinky.


Damon mendorong sedikit tubuh Pinky. Pinky menghembuskan nafas kasar sambil menatap mata Damon. Pinky tersenyum menyeringai seakan-akan ia tahu harus bagaimana menjahili Damon.


“Hum..humm.. Aku sebenarnya ingin mengajakmu. Namun bagaimana dengan tempat ini. Kita mendapatkan amanah dari Asura untuk menjaga tempat ini. Apa kau takut?”


“Ma..mana mungkin aku takut” gugup Damon.


“Ma..mana mungkin aku gugup?” tiru Pinky.


“Emang aku gak tahu..kalau kamu itu penakut” ejek Pinky dengan menunjuk-nunjuk Damon di dada.


“Oh ya.. aku gak akan pernah takut” ucap Damon dengan menyangkalnya.


“Kalau begitu tunggulah di sini” ucap Pinky dengan berjalan meninggalkan Damon sendirian.


“Baiklah! Fine!” teriak Damon.


“Jika ada sesuatu jangan salahkan aku!” teriak Damon.


...


Raisa dan Asura masih mencari hewan liar untuk diburu sebagai santapan makan malam mereka.


Asura dan Raisa berjalan dengan mengendap-endap untuk mendapatkan perburuan liar. Raisa melihat seekor kijang berlarian. Raisa menepuk punggung Asura.


“Asura, lihatlah di depan sana” bisik Raisa.


“Lihatlah” ucap Raisa.


“Iya, ada” ucap Asura.


“Kita berdoa saja, semoga kita mendapatkan kali ini” ucap Asura kembali.


Raisa menelan ludah dengan sedikit tercekat. Raisa gugup seakan-akan ia tengah ikut berlomba berburu hewan. Raisa menutup matanya ketika Asura telah menembakkan panahnya pada kijang tersebut. Raisa membuka satu matanya dan melihat Asura tengah berlari ke arah panah yang ia tembakkan. Asura berteriak, “Raisa! Aku mendapatkannya!”


“What?!” terkejut Raisa dengan menyusul Asura.


“Wao..” sambil menutup mulutnya yang menganga.


“Malam ini kita bisa makan sekenyang mungkin untuk pesta kemah kita” ucap Raisa dengan girang.


“Baiklah, kita kembali ke tempat kita” ajak Asura.


Mereka berjalan dengan membawa santapan besar di tempat mereka singgah.