The Only Time

The Only Time
Sembilan



Aku mengerjapkan mataku,silau mentari pagi tanpa sadar memasuki gua.


Aku kemudian mendudukkan diriku sembari mengusap mata.


Kulirik sekilas Alan yang tengah terlelap sembari bersandar di dinding gua.


Perlahan aku mendekatkan wajahku ke arahnya,ku amati baik-baik setiap garis wajahnya.


Tiba-tiba saja Alan membuka matanya sehingga membuatku terlonjak kaget.


"Hm,Apa kau jatuh cinta padaku nona?" kata Alan dengan nada mengoda.


"Cih,apa kau mengigau?Jangan bercanda." Sahutku dengan nada ketus.


Aku kemudian menyilangkan tangan di dada,sembari mendengus.


Alan tersenyum,lalu ia bangkit berdiri sembari mengusap wajahnya.


Aku menengadah menatap dirinya yang melihat kearah luar.


"Sepertinya sudah pagi,dan juga hujan sudah berhenti." Ia berkata sembari melemparkan pandangannya padaku,"Ayo kembali."


Aku hanya mengangguk menyetujui,ia kemudian mengendongku di punggungnya.


Dengan langkah panjang kami keluar dari gua.


Aku menyipitkan mataku ketika berada di bibir gua,mentari sudah terbit dari timur,burung-burung kecil bertengger di dahan pepohonan.


Dalam hati aku berfikir, ternyata tempat ini tidak segelap yang aku lihat kemarin.


Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah dedaunan.


Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan.Tak satu pun dari kami berdua membuka mulut untuk berbicara.


Hingga akhirnya kami tiba di jalan setapak yang akan membawa kami kembali menuju sekolah.


Jalan setapak yang menanjak,di tambah licin karena hujan,membuat Alan berhati-hati dengan langkahnya.


"Hei,kau bisa menurunkanku.Aku berat."Aku bicara sembari mendekatkan bibirku ke telinganya.


"Hentikan!Jangan berbicara dengan nada seperti itu di dekat telingaku,"tegur Alan dengan nada kesal.Dalam hati Alan bergidik mendengarnya,jika Reindra berkata seperti itu lagi di dekat telinganya,ia takut akan menjatuhkan Reindra saat itu juga.


"Cih,dasar menyebalkan,"sungut Reindra.


"Hei,apa kau tidak apa-apa?Kita sudah berjalan sangat lama,apa kau baik-baik saja?" Reindra berkata dengan nada cemas.


Mengingat mereka telah berjalan jauh tanpa istirahat,"Bisakah kita beristirahat sebentar?"pinta Reindra dengan nada memelas.


Alan akhirnya mengalah,ia kemudian mendudukkan Reindra di dekat sebuah pohon,lalu ia meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Reindra lagi.


Namun,Alan hanya menatap kearahnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Katakan sesuatu," desak Reindra sembari menatap Alan dengan jengkel.


"Aku hanya kelelahan,selebihnya aku baik-baik saja." Jawab Alan singkat.


"Haruskah kita tetap disini untuk sementara waktu?Pihak sekolah akan segera mencari kita,jadi bisakah kita tetap tinggal?"ujar Reindra mengusulkan.


"Tidak,kita tidak bisa melakukan itu,"kata Alan dengan tegas.


"Kita akan berjalan lagi setelah sepuluh menit." Putus Alan.


Reindra tidak menjawab,ia hanya memalingkan wajahnya dari Alan,Alan hanya bersikap acuh lalu duduk di sebelah Reindra dan merebahkan diri sembari menatap langit.


Setelah sepuluh menit mereka kembali berjalan,mau tidak mau Reindra harus kembali di gendong oleh Alan.


Tak lama setelahnya kami sampai di gerbang depan sekolah,Alan kemudian melanjutkan langkahnya memasuki gerbang sekolah.


Tak jauh dari tempat kami berada,segerombolan murid dan guru tengah berkumpul di depan teras sekolah,aku mengernyit dengan bingung.


Kinan yang tengah berbicara dengan guru,tanpa sengaja menangkap dari ekor matanya siluet diriku.


Ia kemudian memutar tubuhnya dan menghadap ke arah ku.


"Rein!"


Kinan berteriak sembari berlari ke arahku,"apa kau baik-baik saja?maaf karena aku tidak bisa menarik tanganmu saat itu,jika saja aku sedikit lebih cepat kau tidak akan jatuh."Ia berbicara sembari menetes air mata.


"Sudahlah,jangan menangis.Aku tidak apa-apa."


"Apa maksudmu kau tidak apa-apa? Hei,nona kakimu terluka dan kau mengatakan bahwa kau tidak apa-apa?Apa kau bodoh?atau hanya berpura-pura bodoh?"


Alan mencela dengan nada ketus,karena kesal aku mencubit perutnya dengan kuat.


"Akh,itu sakit!" protesnya sembari menahan rasa sakit yang ada.


Ia menahan dengan sekuat tenaga,jika tidak kemungkinan aku akan jatuh di rerumputan dengan sangat keras.


"Alan,Reindra,kalian baik-baik saja?" tanya Pak Hendra.


"Ya,namun kami harus segera ke UKS,kaki Reindra terluka dan perlu di obati," tutur Alan dengan suara pelan.


"Aku akan mengantarkan kalian,lewat sini," sela Kinan dengan cepat.


"Baiklah,syukurlah jika kalian baik-baik saja.Untuk yang lainnya segera kembali ke kelas karena Reindra dan juga Alan sudah kembali." Perintah Pak Hendra dengan suara lantang.


Dengan enggan,para murid bergegas membubarkan diri,dan hanya tersisa teman-teman Alan dan juga teman Reindra.


"Hei,kau yakin baik-baik saja?Kau bisa menurunkan sekarang."


Reindra hanya mendengus, sedangkan Kinan yang berada di depan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Sesampainya di UKS, seorang perawat segera berjalan mendekati kami.


Alan mendudukkan diriku di salah satu ranjang,perawat itu berjongkok dan membuka kain yang menutupi kakiku yang patah.


"Syukurlah ini tidak parah," ia berkata sembari mengobati kakiku dan melilitkan perban.


"Em,kapan setidaknya aku bisa berjalan?"


"Butuh dua hingga empat minggu agar kakimu sembuh,jadi aku menyarankan bahwa kau menghentikan aktivitas fisik yang berat,seperti olahraga."Jelasnya panjang lebar.


"Begitukah?"


Perawat itu mengangguk,lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju mejanya.


"Haruskah aku memberimu tongkat?" tanyanya.


"Tentu," jawabku singkat.


"Apa perlu aku mengantarkanmu menuju asrama?" tawar Alan dengan raut wajah serius.


Aku mendelik kearahnya,"bukankah sudah saatnya kau pergi?"kataku dengan datar,sembari menyilangkan tangan di dada.


"Hei,aku berbaik hati menawarkan,namun kau menolak?" ujarnya dengan raut wajah tak percaya.


"Sejak awal aku tidak pernah meminta bantuanmu,bukankah kau sendiri yang menawarkan diri dan datang kepadaku?"


Aku berkata tanpa pikir panjang,sedetik kemudian raut wajahnya berubah menjadi lebih dingin.


"Ya,aku juga tidak bisa menyangkal.Jadi maaf jika aku benar-benar mengganggumu."


"Baiklah,karena kau sudah di obati jadi aku akan pergi," ia berkata sembari berjalan menuju pintu,ia kemudian melirik sekilas ke arah Kinan yang berada di dekat ku."Aku serahkan dia padamu,"setelah berkata demikian Alan berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Aku dan Kinan saling pandang,dengan raut wajah bingung.


"Apa maksudnya itu?" tanya Kinan dengan heran.


Aku hanya bisa mengendikan bahu,tanda tak mengerti.


Setelah menerima tongkat dari perawat,aku di antar oleh Kinan menuju asrama.


"Hei Bagaiman kau bisa mengenal Alan?" tanya Kinan di sela-sela perjalanan kami menuju asrama.


Ia menatapku dengan tatapan mata penuh rasa penasaran,aku bergidik kemudian mendesah pelan.


"Aku tidak mengenalnya,kami hanya pernah bertemu sekali,dan itupun sudah lama."Jelasku.


Kinan menyipitkan matanya,"kau mengatakan yang sebenarnya?" tanyanya penuh selidik.


"Te-Tentu saja," sahutku terbata.


Kinan menyerah,ia kemudian tidak mengajukan pertanyaan apapun lagi,hingga akhirnya kami tiba di kamar asramaku.


"Terimakasih karena sudah mengantarku,"


"Jangan bersikap seperti itu,kau terlalu berlebihan."


"Begitukah?" kataku sembari terkekeh pelan.


"Sudahlah kau bisa beristirahat,aku tidak akan mengganggumu lagi," tutur Kinan pelan."Sebelum itu,aku minta maaf karena tidak bisa segera menolongmu,maafkan aku."


Kinan berbicara sembari menundukkan kepalanya dengan penuh rasa bersalah.


"Sudahlah,lagipula aku sudah kembali,bukankah itu yang penting?" aku berkata sembari mencoba menenangkannya.


Ia mengangguk, dan tersenyum manis ke arahku.


"Rein," rengeknya sembari memelukku dengan erat.


Aku membalas pelukannya,setelahnya aku mendorongnya agar menjauh.


"Sudahlah,bukankah kau harus pergi ke kelas?Cepatlah pergi."


Kinan mengangguk mengerti,ia kemudian berlalu pergi sembari sesekali menoleh kebelakang.


Setelah kepergian Kinan,aku memasuki kamar asrama,dan menganti seragam kotorku dengan kaos hitam pendek dan juga rok kotak-kotak selutut,sembari berusaha agar tidak mengenai kakiku yang terluka.


Setelah selesai berganti,aku melemparkan seragam kotorku di keranjang kecil di sebelah ranjang ku.


Aku kemudian duduk di tepi ranjang,sembari melemparkan pandangan ke arah jendela.


Langit tampak cerah,angin bertiup perlahan mengoyangkan pepohonan.


Semilir angin berhembus perlahan,mengusap wajahku yang putih kekuningan.


Perlahan aku memejamkan mata,menikmati keheningan yang ada.


"Seperti sudah lama sejak aku kembali kesekolah."


Aku kemudian tersadar,"Ah,aku lupa menghubungi kakak!"pekik ku dengan nada panik.


"Bagaimana ini?"


Aku menengadah menatap langit-langit kamar,sembari menahan air mataku,"kameraku rusak dan sekarang ponselku menghilang?ini tidak lucu!"


Aku terus meneriakkan kata-kata frustasi,karena kelelahan aku merebahkan diri di ranjang,setelah sebelumnya meletakkan tongkat-ku di tepi ranjang.


Perlahan mataku terpejam,dan akhirnya aku terlelalap tanpa bermimpi.