
Aku dan kakakku menempuh perjalanan bersama hingga Jakarta,tempat kami memutuskan selamat tinggal di stasiun Jakarta Kota.
"Baik-baik lah di sana Rein." Kakakku tersenyum. "Dan jangan lupa untuk menghubungi kemudian." pesannya.
"Tentu.Setiap sore di hari kamis."
"Rein..." Kakak ku ragu-ragu."Jaga dirimu baik-baik.Jangan terluka,lalu jangan sakit juga.Makanlah dengan teratur serta kurangi begadang.Kau tumbuh terlalu cepat,kau membuatku takut."
"Aku baik-baik saja,aku akan menjaga diriku dengan sebaik-baiknya.Aku janji."Aku naik dan kereta mulai bergerak pergi.
Aku menjulurkan badan keluar jendela dan melambai ketika peron tertinggal di belakang dan Kakak ku semakin mengecil,semakin mengecil,hingga tak terlihat lagi di kejauhan.
"Aku akan baik-baik saja," bisikku,lalu kujatuhkan diriku ke kursi,dan menghela napas berat.
Setidaknya kali ini aku tidak sendiri lagi: aku memiliki tiga teman perempuan.Kumpulan manusia normal yang pernah kukenal,di luar jajaran murid-murid Bhyangkara yang sombong dan egois.Setidaknya itulah menurut penilaian ku.
Aku merindukan mereka.Mereka bukan sekedar teman-teman ku saja,namun mereka adalah rumah tempatku pulang jika aku terlalu lelah dengan pelajaran yang ada.
Terikat serta berkenalan secara tidak sengaja, hingga menjadi akrab dan selalu bersama-sama.
Tidak mudah pada awalnya untuk akrab dengan mereka.
Namun,seiring berjalannya waktu,aku semakin mengenal mereka dengan baik.
Terlepas dari latar belakang yang kami miliki,kami benar-benar berteman baik.
Aku benar-benar tidak sabar untuk kembali.
"Cepatlah tiba,aku sangat tidak sabar." aku bergumam pelan pada kereta yang tengah melaju.
Aku harus segera menyelesaikan teka-teki yang hampir mencapai titik terang.
....
Aku berdiri "Segelas cappucino panas mungkin akan meredakan kantukku." Aku merogoh dompet dari tasku, lalu berjalan menuju gerbong berikutnya.
Keretanya berbelok-belok di jalurnya dan aku terhuyung dalam perjalanan ke tempat makanan dan minuman ringan di sajikan,kepalaku berdenyut.
Setelah membayar minuman ku,aku berjalan kembali menuju ke kursi ku.
Menatap keluar jendala dan mengamati pohon-pohon yang berjejer berurutan,membiarkan diriku hanyut dalam pikiranku sendiri,saat kereta bergerak semakin jauh dari kota tempat aku dibesarkan,menuju daerah timur yang jauh dan terkesan mistis.
....
Aku tersentak dari lamunanku.Seseorang sedang berbicara padaku.
"Permisi... Apakah kau akan menuju Bhayangkara?"
Seorang pemuda,kira-kira seusiaku,sedang menunggu dengan canggung di dekat kursiku di dalam kereta.
Ia mengenakan sweter hitam dengan mantel abu-abu serta celana jins.
"Kuharap aku tidak mengagetkanmu," katanya mengisyaratkan permintaan maaf.
"Aku baik-baik saja dengan itu,aku hanya sedikit terkejut." Aku berkata seraya meluruskan punggungku.
"Apa kau akan menuju Bhayangkara?" Pemuda bertanya seraya menunjuk kearah koperku.Yang memiliki label alamat Bhayangkara High Scholl.
Aku menghela napas kemudian tersenyum "ya begitulah,kurasa Kakakku sengaja menuliskan alamat itu tanpa kusadari."
Aku tersenyum,mencoba bersikap ramah.
"Bolehkah aku duduk bersamamu?" ia memiliki suara yang berat dan sangat nyaman untuk di dengar.
"Aku terpisah dari rombonganku dan tidak dapat menemukan mereka,bisakah aku tetap bersamamu hingga perjalanan ini berakhir?"
"Ya,Baiklah." Aku mempersilahkan nya untuk duduk di kursi seberang.
"Apakah ini semester pertamamu?"
"Bukan,ini merupakan semester keduaku."
"Begitukah?" ucapku tanpa sadar.
Pemuda itu tersenyum, entah bagaimana senyumannya terlihat sangat menarik.
Harus ku akui,dirinya memang memiliki wajah tampan dengan kulit putih dan memiliki tubuh jangkung.
"Lalu bagaimana denganmu?" ia balik bertanya kepadaku.
"Aku?Ini juga merupakan semester keduaku." Aku menjawab dengan antusias.
"Ini mengejutkan," ia berkata sembari melemparkan pandangannya keluar jendela dan tersenyum.
"Mengapa demikian?"
"Ya,aku tidak tahu jika di tempat itu ada seseorang sepertimu,padahal kita berada di tahun yang sama. Namun bagaimana bisa kita tidak saling mengenal?" ia mengoceh sembari menggelengkan kepalanya.
"Itu memang murni sebuah kebetulan menurutku,lagipula kau tidak akan menghabiskan berjam-jam waktumu hanya untuk mencari seseorang yang bahkan kau sendiri belum mengenalnya."
Ia menatap ku dengan intens,seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
"Baiklah.Ku akui bahwa aku mungkin tidak akan melakukan hal semacam itu."ia berkata sembari menghembuskan napas panjang.
Aku menatapnya sebentar,kemudian mengalihkan perhatianku darinya,merogoh saku tas dan mengambil ponselku.
"Aku lupa bertanya,siapa namamu?" tanyanya.
"Rein,kau bisa memanggil ku Rein atau semacamnya." jawabku sembari sibuk dengan ponselku.
"Rein dan Rain itu berdekatan,jika di artikan itu adalah hujan.Apa kau menyukai hujan?"
"Ya,aku menyukainya."
"Begitukah?"
"Lalu siapa namamu?" aku bertanya tanpa sadar.
"Alan,kau bisa memanggil ku demikian." jawabnya.
Aku hanya mengangguk tanpa menjawab,dan masih terus sibuk dengan ponselku.
Tanpa aku sadari pemuda itu terus mengamati ku sembari tersenyum penuh arti.
....
Sopir taksi baru saja menurunkan kami di gerbang jeruji besi yang mengarah ke pekarangan pribadi sekolah.
"Sudah lama sejak terakhir kali aku berada disini,"
Alan berkata sembari menyeret kopernya.
Hari telah beranjak gelap.Dengan menyeret koper,kami berjalan menuju jalan setapak.Pohon mangga dengan dedaunan rindang berjejer di tepian jalan setapak.
Dengan bermodal cahaya lampu yang tidak terlalu terang,bunga tulip juga tumbuh di sekitar memberikan daya tariknya sendiri.
Tempat ini menarik dengan caranya nya sendiri,setidaknya begitulah pikirku.
Bangunan sekolah berlantai tiga itu sangat luas dan besar,mereka memiliki bangunan asrama putri di selatan sayap gedung dan asrama putra di barat sayap gedung.
Tempat yang sangat misterius, begitulah aku menyebutnya.
Kami kemudian berjalan mendekat ke bangunan yang besar.Menyeret koper,kami berjalan menuju pintu depan yang besar dan melangkah masuk ke aula yang sangat besar,lampu menyala dengan terangnya di dalam aula.
Dinding-dinding yang tinggi dengan berbagai lukisan berbingkai serta lemari-lemari yang penuh dengan piala-piala.
Para murid sedang berada di sekitaran aula dan berjalan tergesa-gesa di koridor,sibuk dengan urusan dan kepentingan hari pertama sekolah.
Saat aku berada di sana,mengamati semua yang terjadi,seorang pemuda berambut cepak dan bermata hitam berjalan dengan cepat kearah kami.
"Alan!Akhirnya aku menemukanmu!Aku sempat berpikir bahwa dirimu masih berada di stasiun.Kami sempat berfikir untuk kembali dan mencarimu."
"Kau terlalu berlebihan Angga," Alan berkata sembari menjauh dari Angga yang berusaha untuk memeluknya.
"Kau berkata seolah-olah itu bukan masalah besar untukmu,apa kau tahu bagaimana paniknya kami ketika mengetahui bahwa kau tidak terlihat dimanapun?Valen bahkan berniat untuk menghubungi polisi karenamu." Angga berbicara dengan nada gusar sembari mengacak-acak rambutnya.
"Baiklah aku minta maaf karena telah membuat keributan." Alan menjawab dengan ekspresi kusut di wajahnya.
Aku hanya mengamati mereka dalam diam,tidak berniat untuk ikut campur.
Pehatian Angga kemudian teralihkan,ia berjalan mendekat kearahku aku hanya berdiri dengan kikuk.
Ia mengamati ku dari atas kebawah kemudian memiringkan kepalanya.
"Apa kau pacar Alan?" lontarnya tanpa pikir panjang.
"Bukan," jawabku singkat.
Aku kemudian berniat pergi dari tempat itu,namun dengan cepat Akan mencegatku.
"Bisakah aku memiliki nomormu?" ia bertanya sembari menyodorkan ponselnya kearahku.
"Maaf,tapi aku tidak tertarik untuk memberikannya." Jawabku dengan acuh,kemudian berjalan cepat meninggalkan Angga dan Alan di koridor aula.
"Sepertinya kau baru saja ditolak." Seru Angga sembari meletakkan tangan dibahu Alan.
"Kurasa begitu,ini pertama kalinya bagiku." Sahut Alan,ia masih mengamati Reindra yang berjalan semakin jauh dari pandangannya.
....
Aku menuju asrama untuk membongkar bawaanku,mengangkat koperku menaikki tangga porselen besar yang memutar menuju lantai atas.
Aku berhenti sejenak untuk mengambil napas sesaat setelah berada di lantai dua dan melihat kebawah pada pinggiran pegangan tangga yang berukir.
Tirai-tirai biru gelap di jendela besar yang berada di lorong,terlihat jauh di bawah.
Ketinggiannya terkadang membuatku bergidik ngeri,terutama ketika melihat jauh kebawah.
Aku memejamkan mataku sejenak,sebelum melangkahkan kakiku menuju asrama.
Bel berbunyi nyaring.Itu adalah bel peringatan.Aku bergegas menuju asrama ku yang berada di lantai tiga.
Koridor-koridor berdinding pintu yang panjang membentang di kedua sisi tangga.
Aku berjalan menuju asramaku dengan cepat.
Ada tiga ranjang di kamar itu masing-masing disertai tirai putih tipis yang dapat di tarik untuk membuat privasi.
Tidak ada hal yang menarik dari tempat ini,kecuali kenyataan bahwa aku cukup menyukai ruangan ini.
Meskipun tidak ada yang menarik.
Terdapat jendela di dekat ranjangku yang menampilkan pemandangan perbukitan dan perkarangan.
Ku buka koperku dan bergegas menganti kaos panjang dan celana panjang ku dengan pakaian sekolah.
Setelah mengikat kuncir kuda rambut panjang berwarna coklat milikku dengan rapi dan memasangkan dasi,aku memeriksa diriku di cermin.
Rambut coklat dan kulit putih kekuningan serta mata coklat gelap,mirip sangat mirip seperti Rena.
Dalam seragam ku.Aku tampak seperti seorang murid Bhayangkara yang sempurna.
Namun,hatiku mengkhianati hal tersebut.
Aku kemudian berjalan menuju pintu keluar asramaku,ketika tanpa sengaja berpas-pas dengan gadis berambut pendek sebahu dengan baju yang kelihatannya sangat mahal berdiri di hadapanku.
"Bukankah kau Reindra?Oh, ya ampun.Aku sempat berfikir bahwa aku berjalan menuju asrama yang salah."
"Hah,maaf jika keberadaanku membuatmu tidak nyaman Vera." jawabku,"Aku tidak memiliki waktu untuk mengurusimu,bisakah kau menyingkirkan dari jalanku?"
Vera menatapku dengan geram,namun ia menahan dirinya untuk tidak berbuat sesuatu yang akan mencoreng nama baiknya.
"Ya,tentu." ia kemudian menyingkir dari hadapanku dengan tatapan tak suka.
Aku berjalan melewatinya dengan cepat,dan melangkahkan kakiku di koridor.
Para murid berjalan menuju tangga dengan kelompok-kelompok kecil,mulai bergosip.
Aku menangkap sebagian percakapan mereka "Mereka masih belum menemukannya...." "Orang-orang terus menerus membicarakan hal itu..."
"Kuharap mereka segera memecahkan kasusnya..."
Aku mendengarkan dengan seksama, berharap dapat menemukan informasi lebih.
Aku menduga-duga bahwa itu mungkin berkaitan dengan 'The Five Rumors' yang tengah kami selidiki.
Aku menyadari bahwa sejak melangkahkan kaki di ambang pintu Bhayangkara,aku masih belum bisa menemukan teman-temanku.
'Apa mereka berada di ruang klub?'tanyaku dalam hati.
Aku bergegas menuruni tangga,dan menuju aula makan yang besar dan dingin.