
Keesokan harinya, setelah kelas pagi aku bergegas mencari Kinan dan Syakira.
"Dimana mereka berdua?" gumamku.
Setelah mengirimkan pesan singkat aku pergi menuju asramaku dan mengambil kamera baru yang belum sempat aku sentuh sejak sekolah dimulai.
Aku kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di hutan yang berada di belakang sekolah.
Di sepanjang perjalanan, banyak pohon besar berjejeran dan semak belukar.
Aku terus berjalan hingga aku tiba di tepi danau.
Air danau yang jernih dan tenang.
Aku mendongakkan kepalaku,langit biru yang sangat cerah.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Aku terlonjak kaget,lalu memutar badanku kebelakang.
Aku menyipitkan mataku,di antara bayang-bayang
pepohonan,Alan berdiri sembari bersedekah dada dan melihatku dengan tatapan dingin.
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya?" kataku dengan datar.
Alan kemudian keluar dari bayang-bayang berjalan menghampiriku.
"Ya,seperti yang kau tahu tempat ini memiliki pemandangan yang sangat indah,jadi aku kemari untuk mengambil beberapa foto." Jawab Alan sembari melemparkan pandangannya ke arah danau.
Aku mengikuti arah pandangannya,di langit terlihat segerombolan burung bangau terbang.
Aku mengambil kameraku,dan memfokuskannya pada gerombolan bangau yang lewat.
Tanpa sadar aku tersenyum seraya memeriksa hasil dari tangkapan fotoku.
"Kau bisa memotret?" lontar Alan sembari melihat kearahku.
"Ya,begitulah." Jawabku .
"Bisakah kau membantuku?"
"Hm,tentang apa itu?"
Alan kemudian mendudukkan dirinya di rerumputan hijau,lalu membaringkan tubuhnya.
"Bantu aku untuk mengambil foto." Katanya sembari meletakkan tangannya di belakang kepala.
Aku menatap dirinya yang tengah berbaring dengan bingung,"Kau ingin aku mengambil fotomu?"tanyaku dengan raut wajah ragu.
"Ya." Jawabnya singkat.
Dengan terpaksa aku mengarahkan kameraku padanya,dan mulai memotret.
"Sudah." Kataku sembari menyodorkan kameraku padanya.
"Lalu bisakah kau mengirimkannya padaku?"Alan berbicara sembari mendongakkan kepalanya menatapku penuh harap.
Aku berdecak kesal,mengeluarkan ponselku dari saku,lalu menyodorkan padanya dengan raut wajah masam.
"Beritahu aku nomormu,aku akan mengirimkan nya nanti."Kataku dengan enggan.
Alan tersenyum penuh arti,lalu mengambil ponselku dan mengetikkan sesuatu di atas keyboard.
Tak lama setelahnya,ia mengembalikan ponsel itu padaku,setelah mengambil ponselku darinya aku berjalan menjauh,meninggalkan danau itu.
Berjalan terus ke dalam hutan,tanpa menolehkan kepala ku kebelakang.
Sepeninggal Reindra,Alan tertawa dengan raut wajah penuh kemenangan.
"Waktu untuk mencairkan Gunung Es,akhirnya tiba." Alan menyeringai lebar,terdengar sangat tertantang.
....
Aku kembali ke sekolah,setelah berjalan beberapa waktu untuk memotret.
Di taman belakang sekolah,dari kejauhan aku melihat Syakira, Kinan, dan juga Astella tengah berbicara sembari tertawa dengan riang di bangku taman.
Agak sakit ketika aku melihat pemandangan itu.
Aku menyayangi mereka,namun aku tidak tau apapun tentang mereka.
Tidak sedikitpun.
Aku mendesah,dengan langkah berat aku berjalan kearah mereka bertiga.
Syakira yang melihatku,melambaikan tangannya.
Dengan menyunggingkan senyum canggung,aku menyembunyikan kegelisahan yang datang secara tiba-tiba dengan sebaik mungkin.
"Hei,darimana saja dirimu?"tanya Syakira ketika aku sudah berada di hadapan mereka.
Aku mengangkat kamera yang mengantung di leherku.
Kinan kemudian mengajak kami,menuju aula makan,karena bel akan segera berdering.
Aku berjalan mengekori ketiganya dari belakang,aku kemudian menolehkan kepalaku kebelakang,menatap jalan setapak yang mengarah ke hutan dengan perasaan aneh.
'Apa dia sudah kembali?''Batinku.Aku kemudian menepis pikiran itu,dan berjalan menyusul mereka.
Di sepanjang perjalanan menuju aula makan,tampak beberapa para murid yang tengah berbicara dengan berkelompok.
Mereka berbicara dengan berbisik-bisik, sesekali mencuri-curi kandang kearahku.
Aku mengerutkan dahi dengan tatapan bingung.
Aku kemudian menepuk pelan bahu Kinan yang berjalan di depanku.
Kinan kemudian memberhentikan langkahnya den menoleh kearahku,aku pun memberhentikan langkahku dan berdiri di depannya.
"Ada apa?"tanyanya.
"Apa mereka tengah membicarakan ku atau itu hanya perasaan ku saja?"
Kinan kemudian menatap ke sekeliling koridor panjang itu.
"Sepertinya kau benar."
Aku menatap Kinan dengan bingung.
"Apa artinya itu?"lontarku begitu saja.
Kinan kemudian menjentikkan jarinya ke dahiku.
Aku memekik kesakitan sembari mengusap-usap dahiku.
"Itu menyakitkan,"Ketusku."Mengapa kau menjentikku?" aku berkata dengan nada kesal.
"Kau sangat pintar dalam pelajaran.Namun,sangat bodoh untuk memahami situasi."Kata Kinan dengan raut wajah masam.
Aku menghembuskan napas panjang,lalu mengendikkan bahu dengan acuh.
"Biarkan saja mereka."Kataku "Ayo pergi,aku ingin tau apa menu makan siang hari ini."
Aku kemudian menyeret Kinan untuk pergi dari tempat itu,menyusul Syakira dan juga Stella yang telah berada di persimpangan koridor.
"Apa kau yakin tidak ingin tau alasan mereka membicarakanmu?" tanya Kinan dj sela-sela perjalanan kami menuju aula makan.
"Ya,lagipula aku tidak peduli." Jawabku dengan acuh.
....
Aku dan Kinan tiba di aula makan tak lama setelahnya.
Syakira yang melihat kami yang berada di ambang pintu,bergegas menghampiri kami.
"Ya,tuhan.Kemana saja kalian?" tanya Syakira dengan nada cemas.
"Maaf,kami pergi ke kamar mandi sebentar," bohongku.
Syakira hanya bisa menghembuskan napas kesal,"Kalian benar-benar, sudahlah aku tidak ingin membicarakannya lagi.Ayo duduk para guru akan segera memasuki aula makan,"kata Syakira sembari menarik tangan kami berdua menuju ke tempat Stella yang berada di barisan paling belakang.
Di sepanjang perjalanan kami menuju tempat Stella,para murid-murid itu masih terus memperhatikanku.
Aku benar-benar merasa risih dengan tatapan yang terus mengarah ke arahku.
Entah di sengaja atau tidak seorang gadis berambut hitam pendek sebahu dengan wajah yang tidak bersahabat,berjalan menuju ke arahku dan dengan sengaja menyenggol lengan ku.
"Hei,apa kau buta?" bentak Kinan,suaranya menggema di aula itu,sontak perhatian para murid yang lain segera terfokus pada ku
Gadis itu kemudian membalikkan badannya, dan menatap kami bertiga dengan tatapan meremehkan.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu." Ia berkata seolah-olah ia tidak melakukan kesalahan.
Aku merasa sangat tidak nyaman,aku kemudian menarik-narik lengan baju Kinan.
"Sudahlah,biarkan saja." Aku berkata dengan nada berbisik mencoba untuk menenangkannya.
Kinan kemudian melihat kearahku dan juga melihat kearah murid itu.
"Apa kau bodoh Rein?Kau tidak melakukan kesalahan! Dia melakukan hal itu dengan sengaja!" Kata Kinan berapi-api.
"Lihatlah sekeliling mu." Bisikku pada Kinan.
Kinan kemudian hanya bisa menahan marahnya.
Ia menatap dengan tajam ke arah gadis berambut hitam sebahu itu,sedangkan yang di tatap mengembangkan senyum mengejek.
"Ayo pergi." Ajak ku sembari menarik tangannya.
Dengan enggan Kinan mengiyakan ajakan ku,dan pergi dari tempat itu menuju tempat Stella yang berada di pojokan.
Syakira hanya diam sembari mengamati situasi,lalu berjalan mengikutiku.