The Only Time

The Only Time
tujuh belas



Aku terbangun dengan panik,sembari menyapu pandanganku di sekeliling."UKS?"monologku bingung.


"Dimana?dimana benda itu?"pekik ku sembari meraba-raba tubuhku untuk mencari gulungan yang telah ku ambil dari gua.


Jantungku berdegup kencang,aku melepaskan dengan kasar jarum infus yang berada di tanganku dan turun dari ranjang dengan tergesa-gesa.


"Jaket!di mana jaketku?" aku berjalan dengan susah payah karena rasa sakit yang tak tertahan kan di sekujur tubuhku.


"Pertama-tama aku harus menemukan jaket itu dulu,dan baru memikirkan bagaimana aku bisa berada di sini."Aku menghentikan langkahku tiba-tiba," tapi siapa yang membawaku kembali?"aku melemparkan pandanganku ke luar jendela,langit masih gelap dengan awan hitam yang bergerak perlahan.


'Sepertinya akan segera hujan' batinku.


Aku menggeleng dengan cepat lalu menampar kedua pipi ku."Fokus Reindra,jangan pedulikan hal lain terlebih dulu."


Setelah semua usaha yang ku lakukan aku akhirnya berada di lorong sekolah."Aku...harus mulai dari mana?"aku mengacak-acak rambutku frustasi.


"Bagaimana aku bisa pingsan di saat-saat terakhir?" geramku.Lalu sebuah kilas ingatan melesat di depan mataku bagaikan bintang jatuh.


"A-aku berharap aku salah melihatnya," aku menutup mulutku,tubuhku gemetar tiba-tiba.


Aku menjatuhkan diriku di lantai yang dingin sembari menutup kedua telingaku dan menunduk dalam-dalam.


"Tidak!tidak!aku yakin itu hanyalah imajinasinya,tidak mungkin...itu tidak mungkinkan?" tanyaku dengan ragu.


Suara langkah kaki yang mendekat dari belakang membuatku terperajat,aku menolehkan kepalaku dengan ragu-ragu.


"Rain?apa yang kau lakukan di sini?"Alan berjalan mendekatiku dengan membawa sebuah paper bag di tangannya.Aku menghembuskan napas lega sembari mengelus dadaku."Ah...Alan,"seruku dengan canggung.


"Apa yang terjadi?"tanyanya sembari berjongkok di depanku."Bukan apa-apa,"elak ku sembari mengibaskan tangan dengan kikuk.


Alan kemudian membantu berdiri."Terima kasih," Alan mengangguk,"aku akan mengantarkanmu ke bangsal."Aku hanya mengangguk patuh.


Alan kemudian mebawaku kembali ke UKS dan mendudukkanku di salah satu bangsal.


"Ada apa?" tanya Alan,aku membuka mulutku untuk berbicara,namun tak ada satupun kata yang keluar.


"Bagaimana aku bisa berada di sini?" tanyaku.


"Aku yang membawamu kemari," tanpa sadar aku sangat ingin meneriakinya.


'Apa?bagaimana bisa?lalu apakah kau melihat jaketku?atau apa kau menemukan sesuatu?'aku ingin menanyakan semua pertanyaan yang terbersit di benak ku namun aku menahannya dengan sekuat tenaga.


"Ambil ini,sepertinya sangat penting.Jangan khawatir tidak ada yang mengetahui hal ini selain aku," Alan menyodorkan paper bag di depanku,aku melihatnya dengan tatapan bingung.


"Apa ini?" tanyaku,"kau akan tau jika kau membukanya,"dengan ragu aku mengambil alih paper bag itu dari tangannya,aku menutup mulutku dengan tangannya tak percaya,perasaan senang dan lega bercampur menjadi satu.


"Bagaimana bisa barang-barang ini berada di tanganmu?"tanyaku sembari menyipitkan mata ke arahnya,aku mengambil jaketku yang berada di dalam paper bag dan memeriksanya beberapa gulungan dan surat yang ada tersimpan dengan rapi dan utuh.


Alan mengendikkan bahu dengan acuh lalu menjatuhkan dirinya di kursi kecil,"awalnya aku ingin memberikannya pada para profesor,namun aku mengurungkan niatku.Lalu bagaimana caramu berterima kasih padaku?"


Aku menatapnya sinis,"baiklah,karena kau sudah berbaik hati membantuku menyembunyikan hal ini bagaiman jika aku membawamu ke suatu tempat untuk memastikan sesuatu?"


Alan menatap dalam-dalam mataku,seolah ia berbicara 'jangan berfikir yang aneh-aneh,kau baru saja melewatkan jam malam dan kau masih berfikir untuk keluar?'


Aku menepis pikiran bodoh itu dari benakku,"lalu bagaimana jawabanmu?"


Aku merengut,"sudahlah kau sangat lambat,terima kasih karena sudah membawaku kembali."Ujarku sembari mengenakan jaketku dan akan beranjak pergi.


Dengan cepat Alan menahan tanganku,aku menatapnya heran."Ada apa?"tanyaku bingung.


Alan memejamkan matanya sembari menghembuskan napas kesal."Baiklah,baiklah,aku akan ikut denganmu,"putusnya.Aku tersenyum simpul.


"Sebelum itu kita harus pergi ke suatu tempat,"


Ujarku bersemangat.


Kami berdua menyusuri lorong sekolah yang gelap dengan hanya di temani cahaya dari ponsel Alan.


"Kemana kita akan pergi?" tanyanya dengan suara kecil.


"Loteng," jawabku singkat.


"Tapi,bukankah tempat itu tidak dapat di masukki?lalu bagaimana kita bisa ke atas sana?"


Aku mendengus."Kau pikir aku pergi ke tempat itu tanpa persiapan?"


Alan mengendik."Baiklah,baiklah,terserah padamu saja."Perdebatan itu berakhir begitu saja dan kami memutuskan untuk tidak membahasnya lagi.


Kami berdua berhenti di depan sebuah tangga tua yang sudah tak terurus dan di tumbuhi oleh semak kan belukar yang masuk jendela besar yang telah pecah dan hancur yang berada di salah satu gedung sekolah yang sudah tak terpakai lagi.


Aku mengambil ponsel Alan dan menyoroti tangga itu.


"Apa kau yakin tangga ini terhubung dengan loteng?"tanya Alan yang berdiri di sebelahku sembari melemparkan pandangannya pada tangga tua itu sembari mengerutkan alis.


Aku mengangguk,"bagaimana jika kita naik sekarang?aku akan menunjukkan sesuatu yang menarik untukmu." Aku kemudian berjalan di depan sembari menundukkan kepalaku menghindari palang kayu yang melintang menutupi tangga itu.


"Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" tanya Alan penasaran sembari menginjakkan kakinya di anak tangga paling atas.


"Ah,itu...aku tak sengaja menemukannya saat aku mencari Buggy,"tuturku.


"Buggy?" Aku mengangguk,"seekor kelinci milik sekolah yang lepas dan kebetulan aku melihatnya berlarian di sekitar area ini,"jelasku panjang lebar.


"Baiklah kita sampai," aku menyorot sebuah pintu kayu tua yang masih kokoh dan membukanya perlahan."Aku belum sempat memeriksa tempat ini karena terlalu banyak kejadian yang terjadi beberapa minggu ini,tapi aku tidak menyangka jika aku akan pergi denganmu bukan dengan Syakira."


"Apa tidak masalah bagimu membawaku kemari?bukankah tempat ini merupakan tempat rahasia bagimu?"


"Lagipula aku tidak bisa membiarkanmu terus menerus menyelidikiku atau menguntit kemana pun aku pergi,"


"Hei,apa maksudnya itu?"


"Bukankah aneh?kau selalu muncul di mana pun dan selalu berada di sekitarku,jika kau tidak mengikutiku lalu apa itu?"


Alan bungkam,aku mengabaikannya dan berjalan masuk dan mendekati rak dan mengambil beberapa lilin dan meletakkannya di lantai.


Alan hanya diam dan melihat apa yang tengah aku lakukan.


"Apa kau membawa pemantik?"Alan mengangguk dan merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah pemantik.Aku mengambilnya dan menyalakan lilin- lalu mengambil surat-surat yang aku sembunyikan di balik jaket dan mendekatkannya ke arah lilin.