
Di atas pedih ini...
Aku sendiri...
Selalu sendiri...
Ku tak bisa menggapaimu tak kan pernah bisa...
Walau sudah letih aku tak mungkin lepas lagi...
Kau hanya mimpi bagiku...
Tak untuk jadi nyata,dan s'gala rasa buatmu harus memendam dan berakhir...
Aku bernyanyi sembari mengikuti lirik,menenggelamkan diriku dalam emosi bersama dengan musik yang kuputar.
Dari arah belakang terdengar suara tepukan tangan, dengan sigap aku membalikkan tubuhku ke belakang.
Dan kemudian menatap datar seseorang yang berada sekitar lima meter dari tempatku berada.
Aku membalikkan badanku kemudian,mengacuhkannya.
"Hei suaramu sangat bagus,apa kau ingin berduet denganku?" ujar Alan dari kejauhan sembari berlari kecil ke tempat ku berada.
"Aku tidak tertarik berhentilah menggangguku,kita tidak sedekat itu untuk saling berbicara." Aku berkata dengan nada ketus dan dingin.
Tanpa di persilahkan,Alan kemudian duduk di sebelah ku dengan tampang tak berdosa.
Aku hanya diam,menyibukkan diriku dengan ponselku.
"Apa kau tidak tau siapa aku?" Alan bertanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Mengapa aku harus tau siapa dirimu?" jawab ku dengan sinis.
"Padahal para gadis yang aku temui di koridor berdesak-desakan untuk bisa berbicara denganku,walaupun hanya sekedar sapa." Ujar Alan sembari melirik ke arahku.
Aku berhenti memainkan ponselku,dan menoleh ke arahnya,menatap langsung ke pupil matanya yang berwarna cokelat hazel.
Hanya menatapnya dalam diam,tanpa berkata apapun.Alan hanya bisa membalas tatapan mataku dan tersenyum manis.
Aku kemudian mengalihkan pandanganku darinya,mendongakkan kepalaku menatap langit yang cerah.
Alan meniruka apa yang tengah aku lakukan,tinggal hal itu membuatku merasa jengkel karenanya.
"Dengar aku tidak tertarik tentang apapun yang berkaitan denganmu,dan aku benar-benar tidak peduli." Aku berkata dengan datar,lalu beranjak berdiri.
Dan kemudian berjalan meninggalkannya tanpa menoleh ke belakang.
"Wah,ini benar-benar tidak terduga.Bagaimana bisa seorang Alan Bagaskara yang tampan dan populer ini di tolak?Apa pesonaku telah menurun?"ujar Alan sembari berfikir.
Alan hanya tersenyum mengingat kembali semua hal yang berkaitan dengan Reindra.
"Rein?Hah,gadis itu benar-benar sesuatu.Tidak peduli tentang apapun aku akan mendapatkannya dan dia hanya untukku.Tidak akan kubiarkan satupun bajingan mendekatinya." Alan berkata dengan serius di ikuti ekspresi wajahnya yang berubah menjadi lebih dingin.
....
Setelah meninggalkan Alan sendirian,Reindra melangkahkan kakinya menuju ruang 'Klub misteri."
Klub yang hampir di bubarkan karena tidak memiliki anggota yang cukup.
Namun,aku dengan segenap tenaga mencoba bernegosiasi dengan para guru dan karena usahaku akhirnya klub ini tetap di biarkan ada.
Aku berjalan menuju pintu klub yang terbuka,dan berjalan memasukinya.
Syakira dan Stella telah berada disana,sembari membereskan ruang klub yang terlihat berantakan.
"Akhirnya kau disini,kemari lah dan bantu kami membereskannya." Stella berkata sembari memasukan beberapa buku yang terlihat usang kedalam lemari kayu yang tidak terlalu besar.
Setelah membereskan ruang klub,kami berkumpul dan mendudukkan diri di kursi yang ada.
"Siapa yang ingin berbicara terlebih dahulu?"tanyaku seraya menatap kearah Stella dan juga Syakira.
Keduanya saling memandang,Syakira kemudian mengalah dan bangkit dari duduknya berjalan kearah papan tulis yang ada di ruang klub.
"Sebelum itu aku akan menjelaskan tentang hal-hal yang tengah kita selidiki."Ujar Syakira menjelaskan.
"Yang pertama'Misteri koridor dunia lain'.Di Utara bangunan sekolah ini terdapat sebuah bangunan tua yang terpisah.Tidak di jelaskan dengan detail mengapa tempat itu tidak digunakan lagi.
Namun,banyak yang mengatakan bahwa tempat itu banyak memakan korban.Setiap murid yang berjalan menuju ruangan itu akan menghilang secara misterius,dan tidak pernah kembali lagi."
Aku dan Stella mendengarkan dengan seksama, tentang hal yang di jelaskan oleh Syakira.
Belum sempat Syakira menerangkan lebih lanjut,dari arah pintu terdengar suara berisik.
Terlihat kerumunan para murid,memenuhi koridor sekolah.
Kami bertiga pun berjalan menghampiri kerumunan itu.
"Ada apa ini?" tanyaku segera setelah cukup dekat dengan mereka.
"Ah,itu seseorang berniat untuk memberikan sebuah pengakuan."
"Begitukah?Siapa kira-kira pria itu?"
"Apa kau tidak mengenalnya,Rein?" tanya Stella dengan tatapan tak percaya.
"Kau tau aku tidak terlalu tertarik akan hal semacam itu." Sahutku dengan datar.
Stella hanya bisa ternganga mendengar jawaban ku.
Syakira hanya diam tak menanggapi percakapan kami berdua dan fokus dengan seorang gadis yang berdiri di koridor dengan seorang pria di depannya.
Gadis itu berbicara dengan wajah yang tertunduk.
Aku yang penasaran, langsung menerobos kerumunan itu dengan paksa.
Membuat beberapa murid mengumpat ke arahku.
Namun,aku tidak terlalu mempedulikannya.
Segera setelah aku berada cukup dengan dengan mereka,aku hanya bisa menatap dengan malas pemandangan yang ada di depanku.
Alan berdiri sembari menunggu gadis yang berada di depannya berbicara.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanyanya dengan dingin.
Dengan gugup gadis itu memberanikan diri untuk mengaku.
"Aku menyukaimu.Berkencanlah denganku senior!" ia berkata sembari mengumpulkan keberanian nya.
Aku yang menyaksikan hal tersebut kagum akan keberanian gadis itu.
'Namun aku tidak berniat mengejar seseorang.'batin ku dalam hati.
"Maaf tapi aku sudah memiliki seseorang yang ku sukai." Sahut Alan sembari mengaduk tengkuknya.
Gadis itu tampaknya kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Alan,sambil menangis gadis itu berlari menjauhi tempat itu.
Para murid kemudian membubarkan diri,dengan pendapat masing-masing.
"Ayo kembali." Ajakku pada Stella dan Syakira.
Keduanya menganggukan kepala menyetujui,dan kami berjalan kembali menuju ruang klub.
"Ah,aku haus.Aku akan kembali segera setelah aku membeli minuman.Tunggulah di ruang klub." Tiba-tiba saja Stella berlari menjauhi kami dan mengatakan akan segera kembali.
Aku dan Syakira memandang satu sama lain dengan bingung,aku hanya bisa menghela napas panjang melihat punggung Stella yang semakin menjauh.
"Kita kembali?" tanya Syakira memastikan.
"Ya,tentu." Jawabku.
Kami berdua berjalan berdampingan menuju ruang klub.
Sesampai kami di sana,terlihat Kinan yang duduk di dalam ruang klub dan melambaikan tangannya kearah kami.
"Hei,akhirnya kalian disini." Ujar Kinan sembari tersenyum kearah kami.
"Maaf.Apa kau sudah menunggu terlalu lama?"
"Tidak,aku baru saja datang tidak lama setelah kalian pergi." tuturnya.
"Kau tau kami pergi tapi kau tidak memanggil kami?Astaga Kinan apa yang salah denganmu?" Syakira berujar sembari menatap Kinan dengan tatapan kesal.
"Lalu dimana Stella?bukankah dia pergi bersama kalian?" tanya Kinan seraya melihat kearah pintu.
"Ia berkata akan segera kembali,kita tunggu saja." Sahutku.
"Begitukah?" ujar Kinan dengan nada tak yakin.
Kami pun menghabiskan setengah jam berikutnya bertukar informasi satu sama lain.
Hingga bel jam makan siang berbunyi,kami memutuskan untuk mendiskusikannya di lain waktu.
Dan berjalan bersama menuju aula makan.