The Only Time

The Only Time
Tujuh



Berbeda dengan aku yang tidak peduli dengan perempuan itu,Kinan bersikeras agar aku membalas perempuan itu.Namun,aku menolaknya dengan lembut dan berkata bahwa aku tidak peduli tentang hal itu.


Mendengar jawaban ku Kinan hanya bisa menahan emosinya.


Setelah makan siang berakhir,aku memutuskan untuk pergi lapangan basket,Kinan memutuskan untuk ikut denganku.


Namun, Syakira berkata ia memiliki tugas yang harus di selesaikan dan Stella memiliki janji.


Aku hanya bisa mengmaklumi,setelah keluar dari aula makan,kami pun pergi ke arah berlawanan.


"Rein,kau yakin tidak ingin membalas perempuan itu?" tanya Kinan dengan wajah cemberut.


Aku menatapnya dengan tatapan lucu,"Ayolah bisakah kita berhenti membahasnya?Bukankah sudah kukatakan tak apa?"sahutku sembari menggelengkan kepala.


"Kau terlalu baik,"ujar Kinan sembari menatap lurus ke depan.


'Aku tidak sebaik yang kau katakan,asal kau tau saja.'Batinku dalam hati sembari melirik kearahnya yang fokus menatap ke arah depan.


Kami kemudian berbelok di persimpangan koridor, dan berjalan lurus menuju Utara,tempat lapangan basket berada.


Kami kemudian melewati jalan setapak,dan memasuki lapangan basket yang lumayan luas.


Beberapa murid laki-laki tengah melakukan pemanasan di tepi lapangan.


Banyak murid perempuan bersorak-sorai dari Tribun penonton.


Aku dan Kinan berjalan menuju Tribun,dan memilih


tempat duduk di barisan ke tiga dari bawah.


Aku mengamati,sembari memotret dengan kameraku,yang nantinya akan dimuat di majalah sekolah.


Dan juga,situs resmi dari Bhayangkara High Scholl.


Aku kemudian meletakkan kameraku di pangkuan ku,dan mengambil ponsel dari dari dalam saku.


Aku membuka aplikasi chat,dan melihat kakakku mengirim pesan.


Aku membaca dan segera membalasnya.


Aku kemudian keluar dari aplikasi chat,dan beralih ke situs sekolah.


Aku mencari di pencarian,dan terkejut.


Sontak aku langsung berdiri dari dudukku,Kinan yang tengah duduk di sebelah ku mendongakkan kepalanya melihat lurus kearahku.


"Ada apa?Apa terjadi sesuatu?" tanyanya dengan raut wajah cemas.


"Bu-Bukan apa-apa,"Sahutku dengan gugup.


Kinan kemudian berdiri,dan segera meraih ponsel yang ada di tangan ku dengan cepat.


Aku berusaha menghalanginya,namun Kinan terlanjur melihat berita itu.


"Apa-apaan ini?!" tanyanya dengan marah,"omong kosong macam apa ini?Didorong oleh rasa iri dengan kecantikan 'Ratu Bhyangkara' Reindra Az-zahra di duga melakukan pembullyan terhadap Vera,dan membuatnya terluka sehingga di rawat di rumah sakit terdekat?!!!"Kinan menara layar ponsel ku dengan amarah yang meluap-luap.


"Siapa yang berani menerbitkan berita bohong seperti ini?Hei,kalian apa kalian tau siapa yang sudah menerbitkan berita ini?" tanya Kinan dengan suara lantang.


Para murid saling pandang,dan kompak menggeleng.


"Ck,dasar hama." Umpat Kinan dengan suara yang sengaja di keras kan.


Ia kemudian dengan paksa menarik tanganku meninggalkan lapangan basket,aku tidak tau kemana ia akan membawaku.


Di sepanjang perjalanan,aku hanya diam,begitupula dengan Kinan.


Di sepanjang koridor, masih banyak siswa maupun siswi yang menatapku dengan tatapan tak suka.


"Kita akan kemana?" tanyaku.


Kinan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap lurus kearahku.


"Ah,kau benar.Kemana kita akan pergi?" Kinan balik bertanya dengan bodohnya.


"Aku pikir kau tau akan kemana." Ujarku dengan datar.


Kinan mengaruk tengkuknya yang tak gatal,sembari menyunggingkan senyum yang di paksakan.


"Dasar bodoh,kau menarik ku pergi tapi tidak tau akan kemana?Apa yang ingin kau lakukan sebenarnya?!" aku berkata dengan agak ketus.


Ia hanya bisa berdiri dengan kikuk sembari menunduk kepalanya.


"Sudahlah,aku bosan.Apa kau ingin pergi ke danau?"ajak ku sembari menunggu jawaban dari Kinan.


" Ya,kurasa itu bukan ide yang buruk."Ujarnya menyetujui.


Karena tidak bisa melihat pertandingan basket yang diselenggarakan oleh para guru,kami berjalan menyusuri jalan setapak yang berbatu menuju danau,karena datnau itu terletak di dekat perbukitan di tepian jalan itu terdapat lereng yang curam.


Oleh karena itu para guru memberikan peringatan agar berhati-hati jika melewati jalan itu.


Sebenarnya kami bisa mengambil jalan memutar yang kulalui sebelumnya,namun kami terlanjur melewati jalan ini.


"Hei,apa kau baik-baik saja?" tanya Kinan dengan raut wajah cemas.


"Ya,lagipula aku benar-benar tidak peduli tentang hal itu."


Sejenak karena berita itu,aku merasa seperti melupakan sesuatu.


Namun,aku tidak ingat apa itu.


"Kau sangat bodoh Rein,aku heran bagaimana bisa ada orang seperti mu?Kau tau bahwa mereka sengaja membuat berita tentang hal yang bahkan tidak pernah terjadi."


Aku hanya diam mendengarkan ocehan Kinan,aku mendongakkan kepalaku ke atas.


Menatap langit biru,bersama burung-burung yang terbang secara berkelompok.


Karena terlalu asik mendogak,aku sampai tidak menyadari bahwa aku semakin berjalan mendekat ke arah lereng yang miring.


Kinan yang berada di depan ku menghentikan langkahnya, dan berbalik kebelakang.


"Rein,apa kau tid-" perkataannya terpotong kala ia melihat aku yang berjalan semakin ketepian yang cukup terjal.


"Rein!Berhenti!" pekiknya sembari berlari mendekat ke arahku.


Diatas Kinan terus memanggil namaku sembari terisak,dan berteriak agar aku tetap berada di tempat itu dan tidak pergi ke mana.


Dari bawah,aku menatap siluet tubuh Kinan yang tampak mengecil dan jauh,samar-samar aku melihat dirinya berlari dengan tergesa-gesa dari tempat itu.


Sekujur tubuhku sangat sakit,aku kemudian mencoba untuk bangkit berdiri,namun sepertinya kakiku patah aku hanya bisa mendudukkan diriku di tanah,dan menyandarkan kepalaku pada batang pohon.


Tempat itu sangat rimbun,cahaya yang masuk juga sangat sedikit,agak menyeramkan jika di lihat pada malam hari.


Aku berusaha untuk tetap menjaga kesadaranku,dan mencoba merogoh saku untuk mencari ponselku.


Namun,aku tidak menemukannya,sepertinya itu terlempar saat aku jatuh.


Kameraku pun sudah rusak parah,aku melepaskannya dari leherku dan meletakkannya di sampingku.


"Apa aku akan mati?" tanyaku pada diri sendiri.


Aku melihat sekeliling tempat itu,tampaknya aku jatuh di sekitar kaki bukit.


Hari semakin beranjak senja,namun Kinan tidak juga menampakkan diri.


Aku memaksa diriku sendiri untuk berdiri,dan berjalan dengan tertatih-tatih sembari menyeret kakiku yang patah.


Aku berjalan terus tanpa tujuan,aku kemudian berdiri di depan sebuah goa yang lumayan besar, dengan perasaan campur aduk aku berjalan memasuki goa sembari memberanikan diri.


Aku kemudian mendudukkan bokongku di tanah yang berada di bibir goa,dari situ aku menatap langit yang terlihat mendung.


Aku duduk sembari memeluk erat kedua kaki ku dan berharap agar Kinan segera kembali mencari ku.


Perlahan rintik hujan berjatuhan dari langit,dengan perasan gelisah aku terus mencoba untuk menenangkan diriku sendiri.


"Tidak apa-apa,semua akan baik-baik saja."


Monologku dengan nada lirih.


Hari semakin gelap,di tambah hujan yang turun lumayan deras,menyebabkan jalan di sekitar bukit sangat licin.


Dari atas lereng bukit,Kinan berserta para guru dan beberapa orang murid laki-laki mencari jejak Reindra di sekitar lereng.


Namun,karena hujan pencarian harus di tunda.


"Kita akan berhenti mencari disini.Karena kuatnya curah hujan kita harus kembali kesekolah dan mencarinya lagi segera setelah hujan reda." Kata Pak Harto dengan tegas sembari memandangi para murid yang imut serta dalam pencarian.


"Tapi pak,Reindra hilang dan jatuh pak!Saya tidak bisa meninggalkan teman saya tanpa hati nurani." Seru Kinan dengan suara lantang di balik mantelnya.


"Saya tau,saya mengerti.Tapi,kita tidak bisa mengambil resiko.Bagaimana jika ada murid lain yang ikut jatuh juga kala kita sedang fokus mencari temanmu?Pertama-tama kita harus menunggu bukannya reda dan untuk sekarang kita kembali kesekolah."Perintah Pak Harto dengan suara keras.


Mau tak mau Kinan hanya bisa menurut,ia melirik dari bahunya ke bawah lereng.


Sangat gelap,Ia bahkan tidak tau apakah Reindra akan baik-baik saja.


"Kau harus bertahan Rein,harus."Ujar Kinan dengan suara lirih.


Ia menarik tudung mantelnya,dan berjalan bersama murid lain kembali menuju sekolah.


Alan yang juga ikut serta dalam kegiatan mencari Reindra,diam-diam menyelinap pergi dari rombongan.


Hanya ditemani dengan cahaya senter yang temaram,Alan turun kebawah dengan hati-hati sembari menjaga langkah kakinya.


Beberapa kali ia hampir terjatuh,namun sekuat tenaga ia tahan.


Tak lama setelahnya ia telah berada di bawah, malam semakin larut yang hanya menyisakan suara deru hujan yang deras.


"Rain,hei jika kau mendengar suaraku tolong jawablah!" teriak Alan sembari berjalan di jalanan bukit yang gelap dan hanya di terangi oleh cahaya senter.


Sedangkan di tempat lain,Reindra meringkuk sembari menahan dinginnya udara dan juga hujan.


Ia berusaha keras untuk tidak tertidur atau pingsan.


Samar-samar mata Reindra menangkap cahaya temaram dari kejauhan,ia segera mendudukkan dirinya,bersikap waspada.


"Tenanglah,Rein." monolog nya.


Ia mengamati cahaya itu dengan penuh rasa penasaran,namun ia juga bersikap waspada disaat yang bersamaan.


Cahaya itu terus berjalan kearahnya,di iringi suara samar-samar yang memanggilnya.


"Hei,Rain!Kau dimana?!" teriak Alan dengan nada cemas.


"Alan?Apa itu Alan?"


"Alan!Aku disini!" teriak Reindra dengan kencang.


Alan menoleh ke sana kemari,mencari darimana datangnya suara itu.


"Rain!Kau dimana!"


"Aku disini!"


Alan kemudian berlari kencang mendekat kearah gua yang berada sekitar lima meter di depannya.


Alan kemudian menemukan Reindra yang tengah duduk di tanah yang berlumpur sembari melihat dirinya dengan tatapan senang.


"Aku akhirnya menemukanmu."Ucapnya sembari mendekat kearah Reindra.


Reindra yang sudah lelah kemudian melemparkan dirinya pada Alan dan memeluk Alan sembari terisak.


"Aku tidak terlalu suka hujan dan gelap,tidak suka.


Itu menakutkan."Reindra menangis sembari mengeluarkan semua isi hatinya.


Alan hanya bisa diam sembari menepuk-nepuk punggung Reindra dan menenagkannya.


"Sudahlah,jangan menangis. Sekarang kau aman. Aku akan membawamu kembali saat hujannya reda.Istirahatlah."


Perlahan Isak tangis Reindra terhenti di iringi oleh suara dengkuran halus yang keluar darinya.


Alan tersenyum kecil,lalu mengendong Reindra dan berjalan memasuki gua.


Selagi Reindra tertidur,dengan hati-hati Alan memberikan pertolongan pertama pada kaki Reindra yang patah.