
Pintu paviliun di dorong hingga terbuka dengan keras.
Aku menahan napasku saat langkah kaki itu berjalan mendekat.
Langkah kaki itu kemudian berhenti tepat di depan sofa tempatku bersembunyi.
'Haruskah aku menyerangnya duluan?'
'Tapi bagaimana jika serangan ku tidak berhasil melukainya dan ia balik menyerang?'
Aku mengurungkan niatku untuk menyerangnya,keringat dingin membasahi pelipisku dan jatuh hingga leher.
Rasa takut membuatku gugup.
Aku bahkan tak berani bergerak sedikitpun karena takut.
Perlahan langkah kaki itu berjalan menjauh,cahaya yang bersamanya pun kian meredup.
Aku menunggu sosok itu keluar dari paviliun,aku baru memberanikan diri untuk mengintip.
Aku melengos saat sosok itu tidak lagi berada di dalam paviliun.
Lalu aku keluar dari persembunyian dan menghidupkan senter.
Dengan cepat aku menyambar lilin yang masih tersisa setengah di atas meja dan bergegas menyembunyikannya.
Aku berjalan menuju perapian tua yang berada di tengah ruangan lalu meletakkan lilin itu di balik tanaman hias yang berada di atasnya.
Setelah selesai,aku bergegas keluar dari paviliun dan berjalan kembali menuju sekolah.
Aku mengendap-endap di tengah kegelapan menuju kamar asrama.
Sesampainya di kamar aku segera menganti pakaianku yang kotor terkena debu.
Setelahnya aku membaringkan diriku dan perlahan rasa kantuk menghampiriku dan aku pun tertidur pulas.
Pagi harinya aku pergi kekelas seperti biasa,setelah kelas siang berakhir aku pergi menuju ruang guru.
Sesampainya aku di sana,tak ku dapati seorangpun guru.
Aku menoleh ke kiri dan kanan,namun tidak juga menemukan para guru mau pun staf lain.
Aku mengaruk tengkukku yang tak gatal,aku memutuskan untuk kembali nanti.
Baru saja aku melangkahkan kaki keluar dari ruang guru,aku berpas-pas an dengan Pak Hidan,guru olahraga.
"Siang pak," sapaku dengan sopan.
"Ya siang," jawabnya dengan suara bariton "ada urusan apa kamu datang kesini?" tanyanya.
"Saya kehilangan ponsel saya pak,jadi saya mau keluar buat beli yang baru soalnya saya tidak bisa menghubungi kakak saya." Kataku menjelaskan.
"Ya sudah,kamu bisa pergi besok." Ujarnya.
Aku tersenyum senang,"Terimakasih pak."Kataku.
Setelah berpamitan aku tidak kembali ke asrama,aku memutuskan untuk melihat pertandingan bola di lapangan.
Aku berjalan menuju tempat yang masih kosong dan mendudukkan diriku di barisan kursi yang berada di tengah-tengah.
Bisik-bisik tak mengenakkan tentangku terdengar begitu jelas di sekitarku,aku mengacuhkan mereka dan fokus menikmati pertandingan bola yang sedang berlangsung.
Untuk sejenak,mataku terpaku pada Alan yang berlari sembari menggiring bola menuju gawang lawan.
Sorakkan dan teriakkan menyemangati terdengar dengan jelas di sekitarku.
Aku menggelengkan kepalaku dengan heran.
"Apa mereka tidak lelah melakukan hal itu?" gumamku pelan sembari melirik ke arah para siswi yang berada di sebelah kiri ku.
Seorang pria dengan seragam yang sama denganku menyunggingkan senyum hangat ke arahku.
"A-Anda siapa?" tanyaku dengan kaku.
"Angga Fairus,kau bisa memanggilku Angga."
"Em,apa kita pernah bertemu sebelumnya?"tanyaku ragu-ragu.
"Ah,ternyata kau mengingatnya."Ujarnya dengan senyum senang.
"Yap kita pernah bertemu sebelumnya.Kita bertemu di hari pertama kedatanganmu dan juga Alan," jelasnya.
"Saat itu aku lupa untuk memperkenalkan diriku dengan benar,sekali lagi perkenalkan nama ku Angga."Angga mengulurkan tangannya kepada kepadaku,masih dengan rasa terkejut aku menyambut uluran tangan itu.
"Reindra," jawab ku dengan singkat.
Aku kemudian melepaskan jabat tangan itu dan kembali duduk.
"Apa aku mengejutkanmu?"
"Sedikit," Sahutku dengan enggan.
"Maaf,aku tidak bermaksud melakukan itu."
"Sudahlah,aku tidak ingin membahasnya."
"Aku harap kita bisa berteman."Kata Angga dengan penuh harap.
"Em,tentu." Aku tersenyum menanggapinya.
Lalu tak ada lagi obrolan di antara kami,kami kembali fokus pada pertandingan yang sedang berlangsung.
Alan yang merupakan salah satu pemain paling menonjol di timnya,sedangkan di tim lawan ada seorang pria bernama William yang tak kalah menonjol dari Alan.
Pertandingan menjadi sangat sengit kala Alan kembali mencetak gol dan membuat skor mereka lebih tinggi satu angka di bandingkan dengan lawan.
Terlihat raut wajah tak senang dari William,ia kemudian mengumpulkan anggotanya dan mendiskusikan sesuatu.
Tak lama setelahnya pertandingan kembali di lanjutkan.
William dengan sengaja mengincar Alan,menyebabkan keributan di tengah lapangan.
Hingga hal itu terjadi dengan tiba-tiba,teman William yang bernama Rean dengan sengaja menendang kaki Alan menyebabkannya berguling sembari memegang kakinya.
Aku sontak berdiri,anggota dari tim Alan berjalan kearahnya dan membuat keributan dengan anggota tim lawan.
Alan kemudian di bawa menuju UKS,aku tanpa sadar turun ke lapangan dan berlari ke arah Alan yang di bawa pergi dengan tandu.
"Kau disini," Alan tersenyum lembut saat melihatku yang berada di dekatnya.
"Apa maksudnya itu?"omelku."Apakah parah?" tanyaku dengan cemas.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan,ini hanya sekedar luka ringan."Ia berkata dengan nada lembut berusaha untuk menenangkan diriku.
"Syukurlah." Aku bernapas lega kala mendengarnya.
Aku berjalan dengan kecepatan yang sama dengan mereka yang membawa Alan,Alan kemudian mengapai tanganku dan menggenggamnya.
"Hei lepaskan,apa yang kau lakukan?" tanyaku dengan nada ketus sembari berusaha melepaskan tanganku yang di genggaman olehnya.
"Bukankah kau disini karena mengkhawatirkanku? Tetap seperti ini untuk sementara,"Aku mengembungkan pipiku dengan kesal,karena tak bisa melepaskan tangannya yang menggenggam tanganku dengan erat.
"Aku akan membiarkannya untuk kali ini."Tuturku dengan nada sinis.
Alan tersenyum hangat dan terus menggenggam tanganku hingga akhirnya kami tiba di UKS.