
Sudah hampir tiga minggu sejak kakiku di gips,dan hari ini akhirnya dilepas.
Senang rasanya,aku akhirnya bisa belajar dikelas dan bukannya di kamar ataupun di ruang baca.
"Sekarang coba gerakkan kakimu perlahan,"kata perawat itu dengan suara lembut.
Aku mengangguk dan melakukan apa yang ia pinta.
Setelah memastikan bahwa kakiku sudah membaik ia kemudian mengatakan bahwa aku harus tetap berhati-hati karena masih dalam tahap pemulihan.
" Datanglah ke tempatku jika kau merasakan sakit di kakimu,"katanya."Ya tentu.Aku akan melakukannya nanti."Sahutku sembari tersenyum.
Setelah perawat itu pergi,aku segera menganti kaosku dengan seragam sekolah lalu bergegas turun.
"Akhirnya aku bisa berjalan lagi,sangat tidak menyenangkan jika harus tinggal selama itu tanpa melakukan apapun."Gerutuku.
Aku menampakkan kakiku di ruang kelas dengan perasaan senang.
Perhatian para murid yang berada di sana sejenak terfokus padaku.
Mereka menatapku seakan-akan aku adalah sejenis parasit atau hama yang mematikan.
Aku mengabaikan pandangan mata tak bersahabat itu dan berjalan menuju tempat duduk yang kosong.
Aku memilih tempat duduk paling belakang dan berada tepat di samping jendela,guru yang mengajar kelas ini masih belum datang.
Para murid kembali sibuk akan urusan masing-masing.Aku menghela napas,seandainya saja aku mengambil kelas yang sama dengan Kinan dan Juga Syakira pasti aku tidak akan sendirian.
Aku hanya berdiam diri sembari melihat keluar jendela,dari arah kelasku lapangan basket terlihat dengan jelas,beberapa anak laki-laki berlarian kesana kemari sembari mengiring bola basket.
Aku memangku dagu," ini sudah hampir jam makan siang.Tapi mengapa Miss terlambat?"kataku bertanya-tanya.
Hingga pada akhirnya kelas berakhir tanpa adanya materi yang di ajarkan.
Aku melangkah keluar dari ruang kelas menuju koridor.Para murid sedang berjalan berkelompok menuju aula makan."Apa yang sebenarnya terjadi?" "entahlah,bukankah ini aneh?lagi-lagi Miss ataupun profesor tidak datang untuk mengajar...."
Aku diam-diam menguping pembicaraan mereka dari belakang,"....Hei apa kalian berfikir kalau semua ini hanyalah kebetulan?" "....Tentu saja tidak!Aku takut aku harap mereka segera menemukan pelakunya."
Aku menghentikan langkahku,lalu mengedarkan pandanganku ke sekeliling.
Awan-awan bergerak menutupi matahari, perlahan langit menjadi mendung karenanya.
"Aku penasaran apa yang sudah terjadi selama aku tidak menghadiri kelas."
"Aku bisa memberitahumu semuanya." Aku terlonjak kaget tanpa sadar aku memukul orang yang berada di belakang ku dengan kuat.
"Hei,berhenti!Ini aku,Alan!" teriaknya sembari berusaha menghindari pukulan yang aku layangkan.
Aku menghentikan pukulanku yang membabi buta dan secara spontan menjauh.
Alan bangun dengan susah payah, sedangkan aku hanya bisa berdiri menahan tawa.
"Maaf."Cicitku singkat berusaha bersikap biasa saja.
"Kenapa langsung memukul?"
"Refleks."
"Lain kali jangan lakukan itu,beruntung itu aku dan bukannya Rafael."
"Temanku.Jika dia yang terkena pukulanku mungkin saja kau akan terkena masalah yang besar."
"Tapi aku tidak mengenalnya,lagipula aku selalu melihatmu sendiri dan berfikir bahwa kau sama sekali tidak memiliki teman."
"Aku tidak bisa menyalahkanmu.Aku memang memiliki teman,hanya saja akhir-akhir ini sikap mereka sangat menganggu jadi aku memutuskan untuk tidak menemui mereka semen waktu."
"Memangnya apa yang sedang terjadi?"
"Apa kau tidak melihatnya di forum sekolah?"
Aku menggeleng pelan sedangkan Alan menatapku penuh selidik.
"Aku kehilangan ponselku."Seruku.
Alisnya terangkat,sorot matanya terus tertuju padaku.
"Begitukah?"katanya pada akhirnya.
"Sudahlah,aku sampai lupa untuk menanyakan mengapa kau disini?" tanya ku menatapnya dengan tangan yang menyilang di dada.
Ia membalas tatapan ku dengan senyuman aneh yang tercetak di bibirnya.
Aku tidak tahu apa itu senyuman tulus atau meremehkan.
"Bukankah kau ingin tau apa yang sedang terjadi?Maka aku bisa memberi tahumu."Alan berkata dengan sorot mata yang sulit di tebak.
"Benarkah?" tanyaku memastikan.
"Ya.Tapi,itu tidaklah gratis." Sambungnya.
"Sudah kuduga."Ujarku dengan datar.
"Aku akan memberitahumu,dengan syarat kau akan berkencan denganku seharian"
Ia berkata dengan percaya diri,aku menatapnya dengan senyuman palsu.
"Aku menolak."Sahutku cepat.
"Tidak bisakah kau mempertimbangkannya?" tanyanya penasaran.
"Tidak." Jawabku singkat.
"Ah,sayang sekali.Padahal jika kau melakukan apa yang ku minta,aku bisa saja tidak mengganggumu lagi."
Aku melirik kearahnya dari balik bahu,menimbang-nimbang akan tawaran yang Alan berikan.
Di sisi lain aku ingin ia menjauhiku namun di sisi lainya aku juga tidak ingin melakukan apa yang dirinya minta.
Seakan-akan tau jika aku sedang dalam pemikiran yang sulit,Alan berdiri di depanku sembari memasukkan tangannya kedalam saku.
"Baiklah pikirkan saja dulu jawabanmu,aku akan menunggu."
Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan Alan berjalan mendahuluiku sembari melambaikan tangannya.
Aku menghentakkan kakiku dengan kesal,dengan wajah cemberut aku berjalan dengan langkah cepat menuju aula makan.
"Pria aneh." Umpatku di sela-sela langkahku menuju aula.