The Only Time

The Only Time
enam belas



Usai makan malam,aku pun memisahkan diri dari kelompok Alan,walaupun Alan bersikeras memintaku untuk tinggal sedikit lebih lama.Namun dengan lembut aku menolaknya dan mengatakan bahwa aku memiliki sesuatu untuk di kerjakan.


Beruntung malam itu malam minggu jadi para siswa-siswi diperbolehkan untuk melakukan apapun yang mereka inginkan karena besok hari libur.Namun jam malam tetap berlaku di tempat ini jadi sebisa mungkin para siswa-siswi di minta untuk menyelesaikan urusan mereka sebelum jam malam berlaku.


Aku kembali ke kamar guna mengambil jaket yang aku letakkan di atas ranjang,aku mengenakannya di tangga dan berjalan keluar menuju jalan setapak yang mengarah ke hutan dari pintu belakang.Dengan hanya berbekalkan senter dan tekad aku terus menelusuri area itu hingga aku tiba di pinggir danau,di bawah cahaya bulan aku bisa melihat pantulan bayangan yang di hasilkannya.


Aku memutari danau itu untuk mencapai seberangnya,seingatku saat semester pertama aku pernah menemukan sesuatu yang menarik disana.Namun kala itu aku tidak sempat memeriksanya karena Kinan yang terus mendesak agar kami segera kembali ke sekolah.


Dari arah belakang aku merasakan sebuah kehadiran yang mengancam.


Aku mematikan senterku dan tetap berjalan di bawah bayang-bayang pepohonan dan terus memastikan agar tidak menimbulkan suara seminimal mungkin.


Aku terus mempercepat langkahku dan sesekali menoleh ke dari bahu ku,sekilas tertangkap ekor mataku sebuah siluet hitam yang bergerak dengan cepat guna menyamai langkahku.


'Ya tuhan!Jangan lagi!'jeritku dalam hati.


Aku merasakan keringat dingin terus membasahi dahiku.


Aku terus memanjatkan berbagai doa yang ku hapal sembari memastikan bahwa sosok itu masih jauh di belakangku.


Karena merasa kehadirannya semakin membuatku tidak tenang,dengan mengerahkan kekuatan di kaki ku aku berlari sekuat tenaga menerobos masuk kedalam hutan,melupakan niat awalku untuk memastikan sesuatu yang menurutku terasa mengganjal.


Sosok itu masih mengejar ku,cahaya lentera yang ia bawa semakin mendekat.


Semakin menambah ketakutan ku,"pergi!pergi!jangan ganggu aku!"aku berteriak dengan putus asa,keringat mulai membasahi dahiku.


Hanya bermodalkan cahaya bulan yang menerobos masuk ke hutan melalui celah-celah pohon aku terus berlari sekencang-kencangnya dan tidak lagi memikirkan tentang ular atau hewan yang mungkin saja berbahaya yang mungkin bisa menyerang diriku.


"Persetanan dengan misteri sekolah atau apapun itu!mengapa sosok itu mengejarku?mengapa?!"ujarku frustasi.


Tanpa aku sadari aku mulai memasuki hutan lebih jauh dan lebih dalam lagi.


Setelah beberapa lama aku memberhentikan lariku dan menoleh kebelakang,sosok itu menghilang.Ia menghilang persis seperti saat ia datang.


Aku mencari-cari keberadaan sosok itu dengan ekspresi ketakutan yang terpancar jelas di wajahku.


Aku mengatur kembali napasku yang memburu dan menyeka keringat yang membasahi wajahku sembari menyandarkan tubuhku pada sebuah pohon.


Detik berikutnya aku menyadari kesalahan besar yang sudah aku lakukan.


"REINDRA BODOH!Apa yang kau lakukan?mengapa kau lari ke arah hutan antah berantah ini?!" aku tersentak,dengan frustasi aku menjambak rambutku dengan kasar.


Aku merogoh saku jaket ku dan mengambil senter.


Tubuhku membeku.Aku meringis sembari mengigit bibir bawah ku,"brengsek kemana perginya senter itu?!"dengan langkah gontai aku memberanikan diri untuk berjalan menembus gelapnya hutan.


Suara binatang yang ada di hutan membuat bulu kuduk ku meremang,"aku seharusnya tidak bertindak nekat seperti ini,"


Di bawah cahaya bulan purnama,aku terus berjalan sembari menyapu pandangan ku di sekeliling.


Tanpa sadar kakiku melangkah menuju suara air yang mengalir deras di bebatuan.


Dengan tergesa-gesa aku berlari menuju arah selatan.


Aku berhenti tepat di tepi sungai yang di penuhi oleh berbagai bebatuan.


Menatap bayangan diriku yang berada di atas air.


Aku mengulurkan tangan dan membasuh wajahku,aku menyeka sisa air yang ada di wajahku dengan lengan jaket.


Tanpa sengaja sudut mataku menangkap cahaya remang-remang dari kejauhan,aku menegadah dan mendapati sebuah gua yang di terangi oleh cahaya api yang terletak di seberang sungai.


Aku melangkahkan kakiku dan melewati satu persatu bebatuan untuk mencapai seberang sungai.


Dengan langkah lebar aku berjalan menuju gua.


"Apa ada orang di sana?" panggilku kala aku berdiri tepat di bibir gua.


Hening.Tak ada sahutan mau pun jawaban yang ku dapatkan.


Cahaya api yang aku lihat ternyata berasal dari obor-obor yang berjejer di ceruk dinding gua.


Saat memasuki lebih dalam,aku menemukan sebuah tempat yang lumayan lapang dengan berbagai macam peralatan berburu,bahkan aku juga menemukan pisau serta panah yang tergeletak begitu saja di antara bebatuan kasar.


Aku memeriksa tempat itu dengan seksama, tanpa sengaja jariku menyentuh sebuah panel di dinding gua,aku lalu menekannya terdapat sebuah ruang rahasia di dalamnya.


Aku mengambil obor yang berada di dinding gua dan berjalan masuk,terdapat setumpuk surat yang belum di buka namun sudah terlihat usang.


Terdapat juga beberapa gulungan yang berserakan.


Aku mengambil beberapa surat tebal yang masih belum di buka dan tampaknya belum lama sejak surat itu berada di tempat ini.


Aku pun memungut beberapa gulungan yang menarik perhatianku.


Aku menyembunyikan mereka di balik jaketku dan dengan terburu-buru aku menutup kembali tempat itu dengan hati-hati kemudian bergegas keluar.


Aku kemudian memutuskan untuk kembali ke sekolah.Di sepanjang perjalanan hanya terdapat hutan lebat yang tak bertuan.


Akar-akar pohon yang besar menjalar di sekitar membuatku kesulitan untuk menjaga agar kakiku tidak tersandung akar pohon.


Aku menatap area sekelilingku dengan was-was.


Binatang seperti ular bisa saja menyerang ku yang tengah di liputi oleh kegelapan ini.


Aku menggeleng dengan keras,mencoba untuk tetap berfikir positif.


"Aku penasaran mengapa sosok itu mengincarku?Apa ia sedang mencari sesuatu?" karena terlalu lama berfikir,tanpa sadar kakiku tersandung sesuatu,membuatku jatuh terjerembab ke tanah.


"Aw!Apa-apaan itu?" aku meringis sembari bangkit dan mengibaskan celanaku yang kotor.


Beruntung obornya tidak padam.


Aku berbalik untuk melihat benda apa yang membuatku tersandung.


Aku mendekatkan oborku agar aku dapat melihatnya dengan jelas.


"Ya tuhan!A-apa ini?!"suaraku tercekat mataku terbelalak melihat apa yang ada di bawahku.


Aku berjalan mundur sembari menutup mulutku,tangan dan tubuhku bergetar hebat.


Rasa takut menjalari tubuhku,jantungku berpacu dengan cepat,napasku menjadi tidak teratur.


Rasa takut mulai mengusaiku,tanpa aku sadari waktu berikutnya yang aku ingat adalah aku berlari sekencang-kencangnya menembus hutan.


Aku bahkan mengabaikan tentang semua hewan yang akan menyerang ku di kegelapan.


"A-aku t-tidak melihatnya,a-aku tidak melihatnya!"


Dengan ekspresi panik aku terus meneriakkan kata-kata yang sama.


Mungkin karena terlalu lama berlari kakiku kram dan aku tersandung kakiku sendiri dan jatuh tepat di dekat danau.


Aku buru-buru bangkit dan tidak lagi mempedulikan rasa sakit yang ada di kakiku.


Obor yang ku pegang pun sudah hilang entah sejak kapan.


Tanpa sadar aku menghembuskan napas lega,dan berjalan dengan terhuyung-huyung.


Pandanganku kian mengabur,napasku pendek.


Tubuhku limbung dan aku terjatuh sebelum aku sampai di area sekolah.


Sepasang kaki dari kejauhan berlari dengan cepat ke arahku,samar-samar aku mendengar ia memanggil namaku berulang kali.


Aku tidak tau lagi apa yang terjadi,pandanganku gelap dan aku jatuh pingsan tanpa aku sadari.